Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
1Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Panduan Praktis Praktik Mengajar

Panduan Praktis Praktik Mengajar

Ratings: (0)|Views: 435|Likes:

More info:

Published by: Luthfi Yansyah El Sanusy on Jan 06, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

01/06/2012

pdf

text

original

 
PEDOMAN PRAKTIS PRAKTIK MENGAJAROleh: Luthfi Yansyah El Sanusy
Mengajar pada hakikatnya ialah suatu proses mengatur danmengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar anak didik, sehinggadapat menumbuhkan dan mendorong anak didik melakukan
 proses
belajar.Mengajar juga merupakan proses memberikan bimbingan/bantuan kepadaanak didik dalam melakukan proses belajar.Mengajar merupakan kegiatan yang mutlak memerlukanketerlibatan individu anak didik. Bila tidak ada anak didik atau objek didik,siapa yang diajar. Hal ini perlu sekali guru sadari agar
tidak 
terjadikesalahan tafsir terhadap kegiatan pengajaran. Karena itu, belajar danmengajar merupakan istilah yang sudah baku dan menyatu di dalamkonsep pengajaran.Kegiatan belajar dan mengajar adalah suatu kondisi dengan sengajadiciptakan. Gurulah yang menciptakannya guna membelajarkan anakdidik. Guru yang mengajar dan anak didik yang belajar. Perpaduan darikedua unsur manusiawi ini lahirlah interaksi edukatif denganmemanfaatkan bahan sebagai mediumnya. Di sanalah semua komponenpengajaran diperankan secara optimal guna mencapai tujuan pengajaranyang telah ditetapkan sebelum
 pengajaran
dilaksanakan.Peranan guru sebagai pembimbing bertolak dari cukup banyaknyaanak didik yang bermasalah. Dalam belajar ada anak didik yang cepatmencerna bahan. Ada anak didik yang sedang dalam
mencerna
bahan. Danada pula anak didik yang lamban mencerna bahan yang diberikan olehguru. Ketiga tipe belajar anak didik ini menghendaki agar guru mengaturstrategi pengajarannya yang sesuai dengan gaya-gaya belajar anak didik.
EMPAT STRATEGI DASAR DALAM MENGAJAR
1.
Mengidentifikasi serta menetapkan spesifikasi dan kualifikasiperubahan tingkah laku dan kepribadian anak didik sebagaimana yangdiharapkan. Apakah yang dijadikan sasaan dalam kegiatan belajarmengajar. Sasaran yang dituju harus jelas dan terarah.2.Memilih sistem pendekatan belajar mengajar yang dianggap palingtepat dan efektif untuk mencapai sasaran.3.Memilih dan menetapkan prosedur, metode, dan teknik belajarmengajar yang dianggap paling tepat dan efektif sehingga dapatdijadikan pegangan oleh guru dalam menunaikan kegiatanmengajarnya.4.Menetapkan norma-norma dan batas minimal keberhasilan ataukriteria serta standar keberhasilan sehingga dapat dijadikan pedomanoleh guru dalam melakukan evaluasi hasil kegiatan belajar mengajaryang selanjutnya akan dijadikan umpan balik untuk penyempurnaansistem instruksional yang bersangkutan secara keseluruhan.
1
 
MENETAPKAN SASASARAN/TUJUAN KEGIATAN BELAR MENGAJAR
Setiap kegiatan belajar mengajar mempunyai sasaran atau tujuan. Tujuanitu bertahap dan berjenjang mulai dari yang sangat operasional dankonkret, yakni tujuan instruksional khusus (TIK) dan tujuan instruksionalumum, tujuan kurikuler, tujuan nasional, sampai kepada tujuan yangbersifat universal. Tujuan dalam pengajaran adalah suatu cita-cita yang bersifatnormatif. Dengan kata lain, dalam tujuan terdapat sejumlah nilai yangharus ditanamkan kepada anak didik. Nilai-nilai itu nantinya akanmewarnai cara anak didik bersikap dan berbuat dalam lingkungansosialnya, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Tujuan pengajaran yang berjenjang dari yang umum/luas sampaikepada yang khusus/sempit, haruslah berhubungan antara yang satudengan yang lainnya, dan tujuan di bawahnya menunjang tujuan diatasnya. Bila tujuan terendah tidak tercapai, maka tujuan di atasnya jugatidak tercapai, sebab rumusan tujuan terendah biasanya menjadikantujuan di atasnya sebagai pedoman. Ini berarti bahwa dalam merumuskantujuan harus benar-benar memperhatikan kesinambungan setiap jenjangtujuan dalam pendidikan dan pengajaran. Tujuan adalah komponen belajar mengajar yang dapatmempengaruhi komponen pengajaran lainnya seperti bahan pelajaran,kegiatan belajar mengajar, pemilihan metode, alat, sumber, dan alatevaluasi. Semua komponen itu harus bersesuaian dan didayagunakanuntuk mencapai tujuan seefektif dan seefisien mungkin. Bila salah satukomponen tidak sesuai dengan tujuan, maka pelaksanaan kegiatanbelajar mengajar tidak akan dapat mencapai tujuan yang telahditetapkan.Karena itu, rumusan tujuan yang operasional dalam belajarmengajar mutlak dilakukan oleh guru sebelum melakukan tugasnya disekolah.
BERBAGAI PENDEKATAN DALAM MENGAJAR
Ketika kegiatan belajar mengajar berproses, guru harus ikhlas dalambersikap dan berbuat, serta mau memahami anak didiknya dengan segalakonsekuensinya. Semua kendala yang terjadi dan dapat menjadipenghambat jalannya proses belajar mengajar, baik yang berpangkal dariperilaku anak didik maupun yang bersumber dari luar diri anak didik,harus guru hilangkan, dan bukan membiarkannya. Karena keberhasilanbelajar mengajar lebih banyak ditentukan oleh guru dalam mengelolakelas.Dalam mengajar, guru harus pandai menggunakan pendekatansecara arif dan bijaksana, bukan sembarangan yang bisa merugikan anakdidik. Pandangan guru terhadap anak didik akan menentukan sikap danperbuatan. Setiap guru tidak selalu mempunyai pandangan yang samadalam menilai anak didik. Hal ini akan mempengaruhi pendekatan yangguru ambil dalam pengajaran.Sebaiknya seorang guru memandang anak didiknya sebagaiindividu dengan segala perbedaannya, sehingga mudah melakukanpendekatan dalam pengajaran. Ada beberapa pendekatan dalam
2
 
pengajaran guna membantu guru dalam memecahkan berbagai masalahdalam kegiatan belajar mengajar.
1.Pendekatan Individual
Masing-masing anak didik memiliki karakteristik tersendiri yangberbeda dari satu anak didik dengan anak didik lainnya. Mereka belajardengan gaya yang berbeda-beda. Perilaku mereka juga bermacam-macam. Perbedaan individual anak didik tersebut memberikan wawasankepada guru bahwa strategi pengajaran harus memperhatikan perbedaananak didik pada aspek individual ini. Dengan kata lain, guru harusmelakukan pendekatan individual dalam melakukan kegiatan belajarmengajarnya. Contoh, untuk menghentikan anak didik yang suka bicara,caranya adalah dengan memisahkan/memindakan salah satu dari anakdidik tersebut pada tempat yang terpisah dengan jarak yang cukup jauh.Anak didik yang suka bicara ditempatkan pada kelompok anak didik yangpendiam.
2.
Pendekatan Kelompok 
Pendekatan kelompok suatu waktu diperlukan dan perlu digunakanuntuk membina dan mengembangkan sikap sosial anak didik. Denganpendekatan kelompok, diharapkan dapat ditumbuhkembangkan rasasosial yang tinggi pada diri setiap anak didik. Mereka dibina untukmengendalikan rasa egois yang ada dalam diri mereka masing-masing.Sehingga terbina sikap kesetiakawanan sosial di kelas. Anak didikdibiasakan hidup bersama, bekerja sama dalam kelompok, akanmenyadari bahwa dirinya memiliki kekurangan dan kelebihan. Yangmemiliki kelebihan mau membantu yang memiliki kekurangan, danmereka yang memiliki kekurangan dengan rela hati mau belajar darimereka yang memiliki kelebihan, tanpa ada rasa minder. Persaingan yangpositif pun terjadi di kelas dalam rangka untuk mencapai prestasi belajaryang optimal. Inilah yang diharapkan, yakni anak didik yang aktif, kreatif dan mandiri.
3.
Pendekatan
 
Bervariasi
Pendekatan bervariasi bertolak dari konsepsi bahwa permasalahanyang dihadapi oleh setiap anak didik dalam belajar bermacam-macam.Kasus yang biasanya muncul dalam pengajaran dengan berbagai motif,sehingga diperlukan variasi teknik pemecahan untuk setiap kasus. Makakiranya pendekatan bervariasi ini sebagai alat yang dapat guru gunakanuntuk kepentingan pengajaran.
4.
Pendekatan Edukatif 
Apa pun yang guru lakukan dalam pendidikan dan pengajaran,hendaknya dengan tujuan untuk mendidik, bukan karena motif-motif lainseperti karena dendam, gengsi, ingin ditakuti, dan lain sebagainya. Anakdidik yang telah melakukan kesalahan, misalnya, tidak tepat diberikansanksi hukum dengan cara memukul badannya hingga luka atau cidera.Ini adalah tindakan sanksi hukum yang tidak bernilai pendidikan. Gurutelah melakukan pendekatan yang salah. Guru telah menggunakan teoripower, yakni teori kekuasaan untuk menundukkan orang lain. Dalampendidikan, guru akan kurang arif dan bijaksana jika menggunakankekuasaan, karena hal itu bisa merugikan pertumbuhan danperkembangan kepribadian anak didik.
3

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->