disinilah seharusnya kita melakukan terobosan-terobosanbaru. Apabila ini yang kita lakukan dan kita memang telahmemenuhi persyaratannya maka pantaslah kita dianggap sebagaimujtahid di abad modern ini yang akan didukung semua pihak.Sebaliknya ulama telah bersepakat bahwa ijtihad tidakberlaku atau tidak dibenarkan pada:1. Hukum Islam yang telah ditegaskan nash al-Qur'an atauSunnah yang statusnya qath'iy (ahkamun manshushah), yangdalam istilah ushul fiqih dikenal dengan syari'ah atau"ma'ulima min al-din bi al-dlarurah." Atas dasar itu maka muncullah ketentuan, "Tidak berlakuijtihad pada masalah-masalah hukum yang ditentukanberdasarkan nash yang status dalalah-nya qath'i dan tegas." Bila kita telaah, kaidah itulah yang menghambat aspirasisementara kalangan yang hendak merombak hukum-hukum Islamqath'i seperti hukum kewarisan al-Qur'an.2. Hukum Islam yang telah diijma'i ulama.3. Hukum Islam yang bersifat ta'abbudy/ghairu ma'quli'lma'na (yang kausalitas hukumnya/'illat-nya tidak dapatdicerna dan diketahui mujtahid).Disamping ijtihad tidak berlaku atau tidak mungkin dilakukanpada ketiga macam hukum Islam di atas, demikian juga ijtihadakan gugur dengan sendirinya apabila hasil ijtihad ituberlawanan dengan nash. Hal ini sejalan dengan kaidah,"Tidak ada ijtihad dalam melawan nash."PERBEDAAN YANG DITOLERIR Ijtihad dilegalisasi bahkan sangat dianjurkan oleh Islam.Banyak ayat al-Qur'an dan Hadits Nabi yang menyinggungmasalah ini. Islam bukan saja memberi legalitas ijtihad,akan tetapi juga mentolerir adanya perbedaan pendapatsebagai hasil ijtihad. Hal ini antara lain diketahui dariHadits Nabi yang artinya,"Apabila seorang hakim akan memutuskan perkara, lalu iamelakukan ijtihad, kemudian ijtihadnya benar, maka iamemperoleh dua pahala (pahala ijtihad dan pahalakebenarannya). Jika hakim akan memutuskan perkara, dan iaberijtihad, kemudian hasil ijtihadnya salah, maka iamendapat satu pahala (pahala ijtihadnya)." (Riwayat BukhariMuslim).Hadits di atas bukan saja memberi legalitas ijtihad, akantetapi juga menunjukkan kepada kita bahwa adanya perbedaanpendapat sebagai hasil ijtihad ditolerir. Prinsip ini