Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
80Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Ijtihad

Ijtihad

Ratings:

4.86

(7)
|Views: 8,293 |Likes:
Published by amar009
Tugas Mata Kuliah Ushul Fiqih
Tugas Mata Kuliah Ushul Fiqih

More info:

Published by: amar009 on Nov 04, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/14/2013

pdf

text

original

 
http://members.tripod.com/abu_fatih/Ijtihadhosen.htmIJTIHAD - Beberapa Pengertian Dasar 
Oleh KH. Ibrahim Hosen
1. IJTIHADPENGERTIAN IJTIHADMenurut bahasa, ijtihad berarti "pengerahan segala kemampuanuntuk mengerjakan sesuatu yang sulit." Atas dasar ini makatidak tepat apabila kata "ijtihad" dipergunakan untukmelakukan sesuatu yang mudah/ringan.Pengertian ijtihad menurut bahasa ini ada relevansinyadengan pengertian ijtihad menurut istilah, dimana untukmelakukannya diperlukan beberapa persyaratan yang karenanyatidak mungkin pekerjaan itu (ijtihad) dilakukan sembarangorang.Dan di sisi lain ada pengertian ijthad yang telah digunakanpara sahabat Nabi. Mereka memberikan batasan bahwa ijtihadadalah "penelitian dan pemikiran untuk mendapatkan sesuatuyang terdekat pada Kitab-u 'l-Lah dan Sunnah Rasul, baikyang terdekat itu diperoleh dari nash -yang terkenal denganqiyas (ma'qul nash), atau yang terdekat itu diperoleh darimaksud dan tujuan umum dari hikmah syari'ah- yang terkenaldengan "mashlahat."Dalam kaitan pengertan ijtihad menurut istilah, ada duakelompok ahli ushul flqh (ushuliyyin) -kelompok mayoritasdan kelompok minoritas- yang mengemukakan rumusan definisi.Dalam tulisan ini hanya akan diungkapkan pengertian ijtihadmenurut rumusan ushuliyyin dari kelompok mayoritas.Menurut mereka, ijtihad adalah pengerahan segenapkesanggupan dari seorang ahli fxqih atau mujtahid untukmemperoleh pengertian tingkat dhann terhadap sesuatu hukumsyara' (hukum Islam).Dari definisi tersebut dapat ditarik beberapa kesimpulansebagai berikut:1. Pelaku utihad adalah seorang ahli fiqih/hukum Islam(faqih), bukan yang lain.2. Yang ingin dicapai oleh ijtihad adalah hukum syar'i,yaitu hukum Islam yang berhubungan dengan tingkah laku dan
 
perbuatan orang-orang dewasa, bukan hukum i'tiqadi atauhukum khuluqi,3. Status hukum syar'i yang dihasilkan oleh ijtihad adalahdhanni.Jadi apabila kita konsisten dengan definisi ijtihad diatasmaka dapat kita tegaskan bahwa ijtihad sepanjang pengertianistilah hanyalah monopoli dunia hukum. Dalam hubungan inikomentator Jam'u 'l-Jawami' (Jalaluddin al-Mahally)menegaskan, "yang dimaksud ijtihad adalah bila dimutlakkanmaka ijtihad itu bidang hukum fiqih/hukum furu'. (Jam'u'l-Jawami', Juz II, hal. 379).Atas dasar itu ada kekeliruan pendapat sementara pihak yangmengatakan bahwa ijtihad juga berlaku di bidang aqidah.Pendapat yang nyeleneh atau syadz ini dipelopori al-Jahidh,salah seorang tokoh mu'tazilah. Dia mengatakan bahwa ijtihad juga berlaku di bidang aqidah. Pendapat ini bukan sajamenunjukkan inkonsistensi terhadap suatu disiplin ilmu(ushul fiqh), tetapi juga akan membawa konsekuensipembenaran terhadap aqidah non Islam yang dlalal. Lantaranitulah Jumhur 'ulama' telah bersepakat bahwa ijtihad hanyaberlaku di bidang hukum (hukum Islam) denganketentuan-ketentuan tertentu.MEDAN IJTIHADDi atas telah ditegaskan bahwa ijtihad hanya berlaku dibidang hukum. Lalu, hukum Islam yang mana saja yang mungkinuntuk di-ijtihad-i? Adakah hal itu berlaku di dunia hukum(hukum Islam) secara mutlak?Ulama telah bersepakat bahwa ijtihad dibenarkan, sertaperbedaan yang terjadi sebagai akibat ijtihad ditolerir, danakan membawa rahmat manakala ijtihad dilakukan oleh yangmemenuhi persyaratan dan dilakukan di medannya (majalulijtihad). Lapangan atau medan dimana ijtihad dapat memainkanperanannya adalah:1. Masalah-masalah baru yang hukumnya belum ditegaskan olehnash al-Qur'an atau Sunnah secara jelas.2. Masalah-masalah baru yang hukumnya belum diijma'i olehulama atau aimamatu 'l-mujtahidin.3. Nash-nash Dhanny dan dalil-dalil hukum yangdiperselisihkan.4. Hukum Islam yang ma'qulu 'l-ma'na/ta'aqquly (kausalitashukumnya/'illat-nya dapat diketahui mujtahid).Jadi, kalau kita akan melakukan reaktualisasi hukum Islam,
 
disinilah seharusnya kita melakukan terobosan-terobosanbaru. Apabila ini yang kita lakukan dan kita memang telahmemenuhi persyaratannya maka pantaslah kita dianggap sebagaimujtahid di abad modern ini yang akan didukung semua pihak.Sebaliknya ulama telah bersepakat bahwa ijtihad tidakberlaku atau tidak dibenarkan pada:1. Hukum Islam yang telah ditegaskan nash al-Qur'an atauSunnah yang statusnya qath'iy (ahkamun manshushah), yangdalam istilah ushul fiqih dikenal dengan syari'ah atau"ma'ulima min al-din bi al-dlarurah." Atas dasar itu maka muncullah ketentuan, "Tidak berlakuijtihad pada masalah-masalah hukum yang ditentukanberdasarkan nash yang status dalalah-nya qath'i dan tegas." Bila kita telaah, kaidah itulah yang menghambat aspirasisementara kalangan yang hendak merombak hukum-hukum Islamqath'i seperti hukum kewarisan al-Qur'an.2. Hukum Islam yang telah diijma'i ulama.3. Hukum Islam yang bersifat ta'abbudy/ghairu ma'quli'lma'na (yang kausalitas hukumnya/'illat-nya tidak dapatdicerna dan diketahui mujtahid).Disamping ijtihad tidak berlaku atau tidak mungkin dilakukanpada ketiga macam hukum Islam di atas, demikian juga ijtihadakan gugur dengan sendirinya apabila hasil ijtihad ituberlawanan dengan nash. Hal ini sejalan dengan kaidah,"Tidak ada ijtihad dalam melawan nash."PERBEDAAN YANG DITOLERIR Ijtihad dilegalisasi bahkan sangat dianjurkan oleh Islam.Banyak ayat al-Qur'an dan Hadits Nabi yang menyinggungmasalah ini. Islam bukan saja memberi legalitas ijtihad,akan tetapi juga mentolerir adanya perbedaan pendapatsebagai hasil ijtihad. Hal ini antara lain diketahui dariHadits Nabi yang artinya,"Apabila seorang hakim akan memutuskan perkara, lalu iamelakukan ijtihad, kemudian ijtihadnya benar, maka iamemperoleh dua pahala (pahala ijtihad dan pahalakebenarannya). Jika hakim akan memutuskan perkara, dan iaberijtihad, kemudian hasil ijtihadnya salah, maka iamendapat satu pahala (pahala ijtihadnya)." (Riwayat BukhariMuslim).Hadits di atas bukan saja memberi legalitas ijtihad, akantetapi juga menunjukkan kepada kita bahwa adanya perbedaanpendapat sebagai hasil ijtihad ditolerir. Prinsip ini

Activity (80)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
hubbal liked this
Yulia Harini liked this
Saya Diyahalima liked this
Saya Diyahalima liked this
Chaswazie Ask liked this
Winda Raharti liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->