Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
7Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
analisa IKLAN KONDOM

analisa IKLAN KONDOM

Ratings: (0)|Views: 779 |Likes:
Published by Boy Manurung

More info:

Published by: Boy Manurung on Jan 07, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/21/2013

pdf

text

original

 
analisa IKLAN KONDOM (SUTRA)
IKLAN KONDOM (SUTRA)Permasalahan AIDS saat ini adalah isu global yang sedang marak, bukan terkait permasalahanmedisnya semata tetapi justru juga permasalahan sosial. AIDS adalah sekumpulan penyakitkompleks yang mematikan dan memang belum ada obat yang mampu menghentikannya 100%.Jadi obat terampuh bagi AIDS adalah pencegahan. Dari sini saya mengambil iklan SUTRA yangmenurut saya menarik karena ada Julia Pereznya sebagai bintang iklan dan cara penyampaian pesannya yang berbeda karena menggunakan media lagu terlebih lagi lagu dangdut yang sudahmemasyarakat pada Negara Indonesia. Menurut saya iklan tersebut membawa dampak positif karena terbukti kondom dapat menurunkan penularan AIDS melalui hubungan seksual secaranyata. Sudah saatnya kita mendukung kehadiran kondom dalam pencegahan AIDS.Disini ada beberapa manfaat dari pemakaian kondom :1.Menggunakan atau mendukung pemakaian alat kontrasepsi yang dapat mengkontrol jumlahdan waktu kehamilan;2.Mendorong perempuan untuk menda-patkan gizi yang seimbang selama kehamilan sertamenyediakan kebutuhan-kebutuhan fisik, keuangan dan dukungan emosional;3.Mendukung perempuan selama masa kehamilan, persalinan dan periode setelah persalinan;4.Mendukung kebutuhan fisik dan emosional perempuan pasca aborsi;5.Mencegah penyebaran penyakit menular seksual (PMS) kepada pasangan seksualnya;Disamping itu kelemahan dari penayangan iklan SUTRA ini mengajarkan masyarakat tentang beberapa hal yang meresahkan dan merugikan konsumen sebagai pemakai kondom, diantaranya:1.Memperbesar Seks BebasKondom bukan jalan keluar yang menuntaskan, malah memperbesar terlibat seks bebas. Soalnya,kondom tidak sekadar disosialisasikan kepada pelanggan PSK, tetapi kepada para pelajar danmasyarakat umum. Kecenderungan orang bermain seks dengan memakai kondom, membuatmereka leluasa melakukan seks bebas yang memicu bahaya HIV/AIDS. Tak seratus persen pemakaian kondom aman. Masyarakat yang tak ingin terjangkit penyakit yang mematikan ini,caranya menjauhkan diri dari penyebab penularan HIV/AIDS.2.Banyak yang Kumpul KeboPemakaian kondom banyak disalahgunakan. Lembaga perkawinan memberi isyarat kapanseseorang boleh melakukan hubungan seksual yakni saat sudah menikah. Seseorang akan mampumengendalikan diri jika mendalami ajaran agama. Kenyataannya, generasi muda banyak yangkumpul kebo. Tersedianya ³jajanan´ di luar dapat merangsang orang untuk melakukan seks bebas meski awalnya sekadar coba-coba. Inilah peluang penyebaran penyakit ini.Menurut saya penyebaran kondom haruslah pada tempatnya, dimana kondom merupakan salahsatu alat kontrasepsi bagi orang yang sudah berumah tangga dan tidak diperkenankan untuk yang belum berumah tangga apalagi pada kaum remaja yang notabene adalah masa dimana tingkatkeingintahuan dan mencoba sangat tinggi. Sehingga dari situ akan muncul banyaknya pergaulan
 
 bebas. Sehingga seks bebas bukan dengan ada tidak kondom semata tetapi terutama kepribadiandan komitmen tiap pasangan
Pe
ndahuluan
 Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Farida Hatta Swasono menghimbau agar masyarakat menjadikan iklan rokok sebagai musuh bersama, karena berdampak pada kesehatandan menyebabkan kematian. Tidak hanya itu, iklan rokok juga meningkatkan prevalensi perokok usia dini dan ini mengancam sumber daya manusia Indonesia pada masa mendatang.³Kita tidak boleh toleran terhadap sponsorship industri rokok. Kita harus menyadarkanmasyarakat dan mengubah pola pikir, bahwa merokok adalah proses pemiskinan. Jangan populerkan lagi pandangan agama bahwa merokok itu makruh, karena mudaratnya lebih banyak daripada manfaat,´ kata Meutia ketika membuka workshop Perlindungan Anak dari Dampak 
 
Iklan, Promosi, dan Sponsor Rokok yang diadakan Komisi Nasional Perlindungan Anak (KNPA), Senin (28/1/2008) di Jakarta.Menurut Meutia, seperti dikutip harian Kompas (29/1/2008), Indonesia berada di urutan ke-5 diantara negara-negara dengan konsumsi tembakau tertinggi di dunia. Jumlah perokok aktif dewasa di Indonesia 34,4 persen dari total penduduk 234 juta jiwa. Perokok pada kelompok anak  berumur 13-15 tahun pada tahun 2007 mencapai 24,5 persen. Menurut dia, besarnya angkamerokok ini diperparah dengan kecenderungan meningkatnya prevalensi perokok pemula di usia5-9 tahun dari 0,4 persen (2001) menjadi 1,8 persen (2004).
Kontrov
e
rsi Ef 
ek 
I
lan
 Sebenarnya, kontroversi sekitar persoalan efek iklan kian flamboyan sejak diproklamirkannyahasil penelitian µ¶Pengaruh Iklan TV Swasta terhadap Pola Konsumsi Anak¶¶ oleh LP2K Semarang (Kompas, 10 Februari 1995). Sehari kemudian, harian Kompas (11 Februari 1995)menayangkan opini bertajuk µ¶Cara Penayangan Iklan yang Etis¶¶. Benang kusut seputar dampak iklan pada masyarakat dan kebudayaan, didasarkan pada kenyataan bahwa iklan memiliki pengaruh pada perilaku individu, sosial bahkan kesenjangan sosial. Kekhawatiran umumterutama bersendi pada pendapat bahwa motivasi memperoleh keuntungan merupakan motif utama dari aktivitas periklanan yang dengan sendirinya akan menyebabkan manipulasi-manipulasi informasi dan menimbulkan kultur konsumtif.Selain itu, tampilan iklan tidak sekadar berupaya menarik perhatian masyarakat untuk menonton.Yang lebih penting, menggiring mereka untuk memiliki produk-produk yang ditawarkan. Iklantidak menghimbau calon konsumen, tetapi konsumen diposisikan sebagai massa.Terlepas pro dan kontra dari fenomena tersebut, yang pasti, para psikolog sosial dan penelitikomunikasi massa sudah lama mengetahui bahwa secara kejiwaan iklan dapat memotivasi perilaku dan mengubah apa yang sebelumnya hanya sekadar keinginan
(wants)
menjadikebutuhan
(needs)
. Bahkan lebih jauh lagi, iklan dapat menciptakan keinginan-keinginan barudengan terus menerus mengarahkan hirarki kebutuhan konsumen. Kenyataan semacam itudipertegas lagi lewat kritiknya Guy Debord yang dikemas dalam
Society of the Spectacle.
 Menurut pemikir Perancis seperti disitir Yasraf Amir Piliang (1998:300) mengatakan, iklan,televisi, media cetak dan pameran dagang, kini tidak lagi sekadar wacana untuk mengkomunikasikan produk dan trend baru. Tetapi lebih berkembang menjadi sebentuk tontonanmassa. Maka, wacana produksi dan konsumsi di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya,Semarang, Yogyakarta, Bandung, adalah sebuah teater konsumerisme. Dengan mal sebagai panggung katedralnya, iklan sebagai media komunikasinya, konsumen sebagai aktornya dangaya hidup sebagai temanya.Pada gilirannya, perang melawan iklan pun meletus. Masing-masing kubu berseteru untuk mempertahankan kepentingannya sendiri. Lalu para pemasang iklan dituduh sebagai
creator of dissatisfaction.
Karena iklan yang dirancang membentuk 
unreal picture
terhadap kehidupansehari-hari. Tetapi menurut Tika Bisono seperti dikutip harian Media Indonesia (18 April 1994), pihak pengiklan berkilah perihal tuduhan tersebut. Mereka (pengiklan) berkeyakinan bahwanilai-nilai seperti materialistis, individualistis, dan konsumtif bukanlah hasil dari pengaruh iklan.

Activity (7)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Vhira Vhirong liked this
anggela_039 liked this
Lolla Moniica liked this
Bazz Roni liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->