Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
5Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Pembelajaran Matematika Realistik Dalam Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif Dan Kritis, Serta Komunikasi MatematikSiswa Sekolah Dasar

Pembelajaran Matematika Realistik Dalam Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif Dan Kritis, Serta Komunikasi MatematikSiswa Sekolah Dasar

Ratings: (0)|Views: 1,423|Likes:
Published by Rifki Nur Riyadi
Pembelajaran_Matematika_Realistik_dalam_Meningkatkan_Kemampuan_Berpikir_Logis,Kreatif,_dan_Kritis,_Serta_Komunikasi_MatematikSiswa_Sekolah_Dasar.pdf
Pembelajaran_Matematika_Realistik_dalam_Meningkatkan_Kemampuan_Berpikir_Logis,Kreatif,_dan_Kritis,_Serta_Komunikasi_MatematikSiswa_Sekolah_Dasar.pdf

More info:

Published by: Rifki Nur Riyadi on Jan 07, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

11/09/2012

pdf

text

original

 
JURNAL,
 
Pendidikan Dasar
Nomor: 8 - Oktober 2007
Pembelajaran Matematika Realistik dalamMeningkatkan Kemampuan Berpikir Logis,Kreatif, dan Kritis, Serta Komunikasi MatematikSiswa Sekolah Dasar
Husen Windayana Abstrak 
Kurikulum matematika yang diimplementasikan ke dalam kegiatan belajar mengajar matematika menuntut siswamemiliki sejumlah kemampuan atau kompetensi matematik. Kemampuan tersebut diantaranya adalah berpikir logis,berpikir kreatif, berpikir kritis, dan komunikasi secara matematik. Pendekatan belajar mengajar matematika konvensionayang menekankan kepada penyajian langsung dan hanya menekankan latihan kurang memberi kesempatan siswamembentuk kemampuan-kemampuan di atas. Melainkan harus sebuah pendekatan belajar mengajar yang memberi keleluasaan siswa mengkonstruk sendiri pengetahuan melalui interaksinya dengan lingkungan. Salah satu pendekatanyang mampu memberi ruang kepada siswa mengkonstruk pengetahuan sendiri adalah pembelajaran matematikarealistik. Atas dasar keadaan tersebut kajian penelitian ini adalah bagaimana pembelajaran matematika realistik dapat meningkatkan kemampuan berpikir logis, berpikir kreatif, berpikir kritis, dan komunikasi matematik siswa sekolahdasar.Kajian ini dilakukan melalui sebuah penelitian kualitatif menggunakan model dari Kemmis dan Mc. Taggart denganempat tahap kegiatan yaitu, perencanaan, tindakan, observasi, dan reeksi. Penelitian dilaksanakan di Sekolah Dasar Laboratorium UPI Kampus Cibiru dengan subjek penelitian siswa kelas tiga. Alat pengumpul data terdiri dari instrumenobservasi model perencanaan pembelajaran dan model pengelolaan belajar, instrumen observasi kemampuanmatematik, instrumen wawancara, catatan lapangan, soal tes, serta LKS.
Kata Kunci:
matematika realistik, berpikir logis, kritis, kreatif, dan komunikasi matematik 
PENDAHULUAN
 P
embelajaran matematika di sekolah merupakansalah satu komponen pendidikan yang tidak hanyamengembangkan kemampuan dan keterampilanmenerapkan matematika, melainkan mengembangkankemampuan memecahkan masalah (Soedjadi, 1994:44).Salah satu cara untuk mengembangkan kemampuanpemecahan masalah adalah melalui pembelajaran yangtidak hanya memposisikan siswa sebagai pendengar,pemerhati, dan pencatat apa yang diterangkan, diragakan,dan ditulis guru, tetapi pembelajaran yang melibatkan siswasebagai individu aktif dalam mengkonstruk pengetahuanmelalui proses belajar interaktif. Siswa sebagai aktor yangmenyusun sendiri pengetahuan melalui pemahaman,pengalaman, dan kemampuan yang dimilikinya.Pendekatan belajar-mengajar yang dapat membantu
siswa belajar secara aktif baik sik maupun mental
diantaranya adalah matematika realistik. Matematikarealistik adalah pendekatan belajar-mengajar yangmemberi kesempatan siswa menemukan kembali konsep-konsep matematika melalui bimbingan (
guide reinvenstion
).Guru membimbing siswa untuk menemukan konsepmatematik melalui proses matematisasi
horizontal 
dan
vertical 
melalui
contextual problem
. Siswa merepresentasigagasan dan ide ke dalam model-model sehinggapaham konsep matematik. Belajar matematika denganpendekatan matematika realistik memungkinkan siswamengembangkan berpikir logis, kreatif dan kritis, sertamengembangkan kemampuan komunikasi matematik.
RUMUSAN MASALAH
Atas dasar uraian di atas permasalahan yang dikemukakandalam penelitian ini adalah “bagaimana meningkatkankemampuan berpikir logis, kreatif, kritis, dan komunikasimatematik, siswa sekolah dasar melalui pembelajaranmatematika realistik ?”. Masalah tersebut dirinci ke dalampertanyaan-pertanyaan penelitian berikut:
1. Bagaimana merancang persiapan dan mengelolapembelajaran matematika sesuai dengan prinsip-prinsippembelajaran matematika realistik ?2. Bagaimana meningkatkan kemampuan berpikir logis melaluipembelajaran matematika realistik ?3. Bagaimana meningkatkan berpikir kreatif melaluipembelajaran matematika realistik ?4. Bagaimana meningkatkan berpikir kitis melalui pembelajaranmatematika realistik ?5. Bagaimana meningkatkan kemampuan komunikasimatematik siswa sekolah dasar melalui pembelajaranmatematika realistik ?
LANDASAN TEORI
Matematika realistik merupakan pendekatan belajar-mengajar matematika yang memanfaatkan pengetahuansiswa sebagai jembatan untuk memahami konsep-konsepmatematika. Siswa tidak belajar konsep matematikadengan cara langsung dari guru atau orang lain melaluipenjelasan, tetapi siswa membangun sendiri pemahamankonsep matematika melalui sesuatu yang diketahui
 
JURNAL,
 
Pendidikan Dasar
Nomor: 8 - Oktober 2007
oleh siswa itu sendiri. Matematika realistik memberikesempatan siswa mengkonstruk sendiri konsep-konsepmatematika melalui sesuatu yang diketahuinya. Darisesuatu yang diketahui, siswa melakukan, berbuat,mengerjakan, menginterpretasikan, dan semacamnya,yang akhirnya siswa memahami konsep matematika.Menurut Freudenthal (1973), matematika sebagaiaktivitas manusia atau
mathematics as a human activity 
.Pandangan ini mengharuskan matematika dipelajarisecara aktif.Gagasan kunci dari matematika realistik adalahmemberi kesempatan kepada siswa menemukan kembalikonsep-konsep matematika melalui bimbingan guru(
guide reinvention
). Melalui pengetahuan informal siswa,guru membimbing siswa sampai menemukan konsep-konsep matematika sebagai pengetahuan formal. Melaluimemecahkan
contextual problem
yang dipahami, siswamenggunakan pengetahuan informal untuk menemukankonsep-konsep matematik. Proses seperti ini mendorongsiswa belajar secara interaktif, karena guru hanyaberperan membangun ide dasar siswa.Belajar matematika menurut pendekatan matematikarealistik berarti bekerja secara matematik melaluimemecahkan masalah yang berkaitan dengan kehidupansehari-hari (
contextual problem
). Keberadaan
contextual 
 problem
dalam matematika realistik sesuatu yang sangatpenting. Melalui
contextual problem
siswa membangunkonsep matematika dari cara informal ke formal.Prinsip-prinsip pembelajaran dengan pendekatanmatematika realistik menurut Gravemeijer (1994) adalah:1)
reinvention
, 2) fenomena didaktik, dan 3) model yangdikembangkan searah dengan falsafah
constructivism
.
Reinvention
adalah prinsip belajar matematikarealistik dimana siswa menemukan kembali konsep-konsepmatematika melalui bimbingan guru. Siswa memecahkanmasalah konteks (
contextual problem
) dengan cara-carainformal melalui pembuatan model-model kemudiandibimbing oleh guru sampai siswa menemukan konsep-konsep matematika formal. Model adalah jembatanyang menghubungkan siswa dari dunia real (
contextual 
 problem
) ke konsep-konsep yang akan ditemukannya.Prinsip
reinvention
menuntut siswa
doing mathematics
 sehingga siswa dapat mempelajari matematika secaraaktif dan bermakna.Fenomena didaktik adalah adanya pemanfaatankonteks sebagai media belajar siswa. Melalui konteksyang dikenal siswa mengembangkan model-model, mulaidari model level rendah atau sederhana (
model of 
) sampaimodel level tinggi (
model for 
), yang akhirnya siswa sampaimenemukan konsep formal matematik. Pemilihan kontekssebagai media awal siswa dalam belajar harus benar-benar nyata atau dipahami siswa. Guru harus memeriksasoal-soal kontekstual yang akan dijadikan media belajar siswa, karena hal ini terkait dengan 1) berbagai prosedur informal yang mungkin akan dibuat siswa dan 2) sesuaitidaknya dengan matematisasi vertical.Model yang dikembangkan searah denganconstructivism maksudnya adalah, ketika gurumemberikan contextual problem yang kemudiandiselesaikan siswa dengan menggunakan cara-carainformal melalui pembuatan model-model sendiri olehsiswa sampai ke menghasilkan prosedur formal melaluibimbingan guru sejalan dengan falsafah constructivism.Pendekatan realistik matematik memberi kesempatansiswa mengkonstruk sendiri pengetahuan formalmelalui cara atau prosedur informal. Gravemeijer (1994)mengemukakan skema pembentukan model dalammatematika realistik sebagi berikut,Pembelajaran matematika dengan pendekatanrealistik memiliki karakteristik berikut:1. Menggunakan masalah kontekstual (
contextual 
 problem
)
Masalah kontekstual sebagai pembuka belajar siswa danharus diselesaikan siswa dengan cara atau prosedur informal. Syarat dalam memilih masalah kontekstualadalah harus nyata atau dipahami siswa. Melalui masalahkontekstual ini siswa akan membuat model-model, mulaidari model sederhana (
model of 
) sampai model tingkattinggi atau
model for 
.
2. Menggunakan model-model
Ketika siswa menghadapi permasalahan kontekstual siswaakan menggunakan strategi-strategi pemecahan untukmerepresentasikan permasalahan kontekstual menjadipermasalahan matematik, representasi inilah yang disebutsebagai model. Bentuk model bisa berupa lambing-
lambang matematik, skema, grak, diagram, manipulasi
aljabar, dan sebagainya. Model digunakan siswa sebagai jembatan untuk mengantarkan mereka dari matematikainformal (matematisasi horizontal) ke matematika formal(matematisasi vertical). Dalam membuat model siswa mulaidengan membuat model dari permasalahan kontekstualyang disebut dengan
model of 
. Selanjutnya melalui proses
reeksi dan generalisasi akan diperoleh model yang lebih
umum, ini yang disebut dengan
model for 
.
3. Menggunakan produksi dan konstruksi model
Produksi dan konstruksi model dilakukan oleh siswa sendirisecara bebas dan melalui bimbingan guru siswa mampu
mereeksi bagian-bagian penting dalam belajar yang
akhirnya mampu mengkonstruksi model formal. Strategi-strategi informal siswa yang berupa prosedur pemecahanmasalah kontekstual sebagai sumber inspirasi dalammengkonstruk pengetahuan matematika formal.
4. Interaktif 
Interaksi antara siswa dengan siswa dan siswa denganguru merupakan bagian penting dalam matematika realistikBentuk interaksi yang akan terjadi dalam pembelajarandiantranya adalah negosiasi, penjelasan, pembenaran,
setuju, tidak setuju, pertanyaan atau reeksi. Bentuk
interaksi ini digunakan siswa untuk memperbaiki ataumemperbaharui model-model yang dikonstruksi. Sedangkanoleh guru digunakan untuk menuntun siswa sampai kepadakonsep matematika formal yang diperkenalkan.
5.
Intertwinment Intertwinment 
adalah keterkaitan antara konsep-
konsep matematika, hubungan antara satu konsep dengankonsep lainnya, atau keterkaitan antara matematikadengan mata pelajaran lain. Misalnya keterkaitan antarakonsep penjumlahan dengan pengurangan, penjumlahandengan perkalian, atau perkalian dengan pembagian.Hubungan pola bilangan dengan bentuk umumnya danlain sebagainya. Matematika realistik menyadarkan siswatentang keterkaitan dan hubungan satu dengan yanglainnya.
Treffers (1991) mengemukakan lima prinsippasangan belajar-mengajar matematika realistik yaitu:
konstruksi dan kongkrit, level dan model, reeksi dan
tugas khusus, konteks sosial dan interaksi, struktur dan keterkaitan. Kelima prinsip tersebut digambarkanke dalam matrik berikut.
Pengetahuan formal
Model for Model of 
Situasi
gambar 1
 
JURNAL,
 
Pendidikan Dasar
Nomor: 8 - Oktober 2007
BelajarMengaja
Konstruksi
Ide atau konsep-konsep matematika dikonstruksi siswa melaluimatematisasi
Konkret
Agar siswa dapat melakukan konstruksi, guru memilihkanmasalah kontekstual yang kongkret/realistic yang berhubungandengan konsep-konsep matematika yang akan diperkenalkan
Level
Karena siswa mempunyai level kemampuan yang berbedamaka kualitas matematisasi yang dilakukan siswa juga akanberbeda
Model
Dari berbagai model yang dibuat siswa guru memilihkan model
yang paling esien
Refeksi
Siswa melakukan reeksi melalui membandingkan model yang
dibuat sendiri dengan model yang dibuat teman atau hasildiskusi, dll.
Tuas Khusus
Guru memberi tugas khusus, misalnya dimaksudkan untukmenimbulkan konplik dalam rangka memperkaya model
Konteks Sosial
Siswa belajar dalam suasana kebersamaan, saling berbagidan saling mengadopsi model yang terbaik
Interaksi
Guru mengatur agar terjadi interaksi antar siswa
Struktur 
Siswa menstrukturisasi konsep baru ke dalam pikirannya
Keterkaitan
Guru berusaha mengaitkan konsep baru dengan konsep-konsep lain yang sudah dipelajari sebelumnya
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakankelas dengan model siklus dari Kemmis dan Mc Taggartyang terdiri dari komponen: perencanaan, tindakan,
observasi, dan reeksi (Hopkins, 1993). Instrumen yang
dikembangkan adalah: perencanaan pembelajaran,bahan ajar, alat peraga, instrumen observasi, instrumenwawancara, catatan lapangan, dan soal tes. Subyekpenelitian adalah siswa kelas III Sekolah Dasar Laboratorium UPI Kampus Cibiru. Pelaksanaan tindakandilakukan sebanyak 17 kali yang termuat ke dalam 4siklus.Pengolahan dan analisis data dalam penelitianini menggunakan aturan pengolahan dan analisis datapenelitian kualitatif. Data yang terkumpul terlebih dahuludikelompokkan berdasarkan jenis dan sifatnya, kemudiandiolah dan dianalisis berdasarkan kebutuhannya. Untuk
mencek keabsahan data dilakukan triangulasi, konrmasi
kepada pihak-pihak terkait, untuk memperoleh keteranganatau informasi tentang keabsahan data yang dimaksud.Kriteria kaberhasilan ditentukan dengan melihat hasilkemajuan atau peningkatan dari setiap aspek yangmenjadi focus penelitian. Membandingkan peningkatanimplementasi model perencanaan dan model pengelolaanpembelajaran setiap tindakan atau siklus, begitu pulauntuk aspek berpikir logis, kritis, kreatif, dan komunikasimatematik
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian dapat dilihat pada Tabel 1 yangmenggambarkan keadaan setiap tindakan dalam setiapsiklus
KESIMPULAN DAN SARAN
1. KesimpulanDari apa yang telah dipaparkan di atas maka dapat ditarikbeberapa kesimpulan sebagai berikut:
a. Model perencanaan pembelajaran yang dapatmengembangkan pembelajaran matematika realistikadalah persiapan mengajar yang dapat mengakomodasiprinsip-prinsip belajar matematika realistik seperti bahanajar disusun secara problem konteks dan langkah-langkahpembelajaran menggambarkan belajar interaktif.b. Model pengelolaan yang dapat memfasilitasi prinsip-prinsipbelajar mengajar matematika realistik adalah belajar denganmenggunakan pengelompkan siswa, memanfaatkan LKSsebagai media untuk menyampaikan problem konteks,siswa diberi waktu untuk memecahkan masalah,
sharing 
 ide dari setiap kelompok, pembimbingan atau memintapersertujuan untuk menemukan konsep, memberi problemkonteks baru bila mungkin, pembimbingan, penyimpulan,dan tes formatif.c. Pendekatan matematika realistik dapat meningkatkankemampuan berpikir logis siswa hal tersebut dapat dilihatdari siswa teramati cukup baik dalam menyelesaikanpermasalahan. Walau penyelesaian problem konteksyang dilakukan kurang memberi gambaran representasimodel bertahap dari sederhana meningkat ke representasimodel formal. Selain itu kemampuan menerjemahkankonteks ke dalam bentuk representasi model matematik,kelogisan model yang dibuat dengan problem konteks, dankemampuan memberi alasan secara logis ketika ditanyaguru teramati cukup baik serta siswa mampu dengan baikmenunjukkan kemampuan berpikir induktif dan deduktif,misalnya membuat kesimpulan dari fakta-fakta yangdiketahui.d. Pendekatan matematika realisrtik dapat meningkatkankemampuan komunikasi matematik siswa, diantaranyasiswa mampu membuat representasi problem konteks kedalam simbol-simbol matematik tanpa harus dibantu guru.Siswa mampu menyatakan situasi dan relasi matematiksecara tulisan dan lisan tentang nilai tempat bilangan,membaca simbol matematik lambang bilangan. Beberapasiswa mampu berargumentasi secara matematik tentangmenjumlah bersusun ke bawah dua bilangan ratusan ribumenurut nilai tempatnya, siswa mampu berargumentasisecara lisan terhadap penyelesaian problem konteks ataspertanyaan mengapa. Terdapat 12 dari 23 siswa mampumenjelaskan ide tertulis dengan benar tentang penyelesaianproblem konteks secara akurat.e. Pendekatan matematika realistik dapat meningkatkankemampuan berpikir kritis siswa dilihat dari indikator menganalisis permasalahan, memecahkan permasalahan,dan membandingkan. Misalnya siswa mampu menganalisisdan memecahkan permasalahan. Siswa mampumenunjukkan kemampuannya dalam menganalisispermasalahan, memecahkan permasalahan, danmembandingkan.
2. SaranUntuk memperoleh kualitas proses dan hasil belajar matematika yang sesuai tuntutan kompetensi baik yangtertuang dalam kurikulum standar maupun tuntutansituasi dan perkembangan kehidupan masa kini makapara praktisi pendidikan, khususnya di tingkat sekolahdasar seyogyanya pendekatan matematika realistik dipilihsebagai salah satu pendekatan pembelajaran dalam

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->