Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
1Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Cinta di Kota Terlarang

Cinta di Kota Terlarang

Ratings: (0)|Views: 353|Likes:
Published by Ngarto Februana
Tersesat di kota sihir yang serba indah, Geraldinne dan Antony memadu kasih. Tapi, "Ini fatamorgana cinta, kita telah terlena..." Mereka pun mencari jalan keluar sebelum kota jadi neraka. "Maafkan aku, Din, kita berpisah sampai di sini...."
Tersesat di kota sihir yang serba indah, Geraldinne dan Antony memadu kasih. Tapi, "Ini fatamorgana cinta, kita telah terlena..." Mereka pun mencari jalan keluar sebelum kota jadi neraka. "Maafkan aku, Din, kita berpisah sampai di sini...."

More info:

Published by: Ngarto Februana on Jan 07, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

01/07/2012

pdf

text

original

 
Cinta di Kota Terlarang
Cerpen Ngarto Februana
Perjalanan malam itu seperti tak pernah berujung sejak kereta meninggalkan stasiunkeberangkatan di tengah kota. Kereta
commuter 
berlari, berhenti, dan berlari lagi. Stasiundemi stasiun terlewati, penumpang berebut naik dan terburu-buru turun. Tapi kami tak  peduli karena terbenam dalam asyiknya obrolan.Ngobrol bersama seorang teman, wanita cantik berkerudung merah jambu, waktuterasa cepat berlalu dan perjalanan terasa asyik. Seperti hari-hari lalu, setiap naik kereta bersama, Geraldinne Anderson suka bercerita tentang apa saja. Kali ini ia banyak curhattentang bosnya, Patrick Jefferson, yang suka menjilat atasan dan menindas bawahan,yang terlalu pelit menghargai kerja keras anak buahnya, yang mengecilkan bawahan yang potensial menjadi rival, yang plin-plan mengambil keputusan.“Mr Jefferson kerjanya cuma utak-atik program kerja melulu tapi nggak konsistendalam implementasi program,” kata Geraldinne.“Mungkin dia bakatnya administrator, bukan manajer yang jeli dalam detail-detailkonsekuensi implementasi program,” aku memberi komentar.“Dia tidak fokus. Maunya nyuruh anak buahnya bikin sebanyak-banyaknya programkerja supaya kelihatan hebat di depan direksi,kata Geraldinne. “Ide-ide dan pemikirannya sendiri nggak ada.”Pembicaraan beralih ke hal-hal ringan, cerita pengalaman kepergok kondektur ketikanaik kereta tak beli karcis. “Tahu nggak. waktu aku naik, langsung disamperin kondektur.Aduh, panik aku,” tuturnya.“Terus? Gimana rasanya disuruh
 push up
?” godaku.“Enggaklah kalau sampai disuruh
 push up
. Aku
keluarin
karcis-karcis bekas daritasku, sudah bolong-bolong. Satu yang masih utuh, eh, jurusannya beda. Lalu aku bilangsaja karcisku jatuh.”Kereta terus berlari dan kami makin terbenam ke dalam asyiknya ngobrol sana sini.Penumpang makin sedikit. Tinggal beberapa orang di gerbong kami. Tapi kami tak pedulihingga lupa entah kereta sampai di mana. Aku terlena sampai aku lupa seharusnya akuturun di Stasiun C.Suara lembut petugas wanita mengganggu keasyikan kami. “Penumpang yangterhormat, sesaat lagi kereta akan memasuki perbatasan Kota Terlarang….”Aku terbelalak. Kulihat Geraldinne terheran-heran, “Kota Terlarang?”“Jangan-jangan kita salah naik kereta, Din,” kataku. Tak ada nama Kota Terlarang di benua ini.“Tidak mungkin. Aku lahir dan besar di negeri ini,” ujar Geraldinne, keturunan sukuChiricahuaApache itu
. “
Bahkan sebelum benua ini ditemukan oleh Colombus, tak adanama Kota Terlarang.”Aku melongok ke luar melalui kaca jendela. Suasana sekitar tak lagi kukenali. Akumemanggil seorang petugas yang berdiri di sambungan antar-gerbong.“Tuan, stasiun C sudah lewat belum?” tanyaku.“Sudah sejak tadi, Tuan,” jawab petugas kulit hitam berwajah imut-imut itu.“Kalau Stasiun B?” tanya Geraldinne, yang mestinya turun di Stasiun B.
 
“Juga sudah lewat, Nyonya.”“Bagaimana mungkin? Bukankah kereta ini berhenti di stasiun akhir di Stasiun B diKota B untuk kembali ke Kota J?” tanyaku.“Tujuan akhir kereta ini adalah Kota Terlarang dan tak akan pernah kembali lagi.”Melalui pengeras suara, terdengar lagi suara lembut petugas, “Penumpang yangterhormat, kereta telah melewati Gerbang Kota Terlarang. Selamat menikmati indahnyacinta di Kota Terlarang.”“Absurd! Apa maksudnya semua ini?” tanyaku. Aku kembali melongok ke luar. Ya,Tuhan, ini kota luar biasa indah. Cahaya lampu warna-warni, gedung-gedung, istana-istana dan taman-taman yang sangat indah seperti di negeri dongeng. Aku betul-betulterbuai oleh keindahannya.Tiba-tiba suasana kereta berubah total begitu memasuki Kota Terlarang, yangdiperintah oleh raja sihir itu. Ruangan gerbong tiba-tiba harum semerbak mewangi.Segalanya terasa sangat indah. Empat pasang wanita-pria di gerbong itu terlihat mesrasatu sama lain. Dan, ketika kulirik rekan seperjalananku, yang selama ini selalu bersamadi kereta itu, ia seperti berubah. Rupanya dia pun melihat ada perubahan pada diriku, berbeda dari biasanya, teman yang biasa berjumpa di kereta.“Geraldinne?” panggilku, yang terasa berbeda kedengarannya dibanding hari-harikemarin. Terdengar mesra.Ia melirik ke arahku dan tersenyum—senyum paling manis yang pernah aku lihat.“Mas Antony….”Suara dia pun jadi berubah sangat lembut dan mesra menyentuh di hati. Baumulutnya sangat harum—tidak seperti biasanya, yang kurang sedap sehingga kala berdekatan dia kadang menutup mulutnya dengan ujung jilbabnya.Wajahnya tampak lebih cantik dari biasanya, yang memang sudah cantik dariasalnya. Mungkin Geraldinne adalah wanita tercantik di kalangan orang-orang yangmasih berdarah suku Indian Apache, campuran Latino. Apalagi kala anggota
 
The UnitedAmerican Muslim Association itu mengenakan
 
 jilbab merah jambu dipadu baju biru bermotif bunga seperti batik yang biasa dipakai orang Indonesia. Sinar matanya begituindah. Lirikan matanya manja. Senyumnya sangat manis. Aku terpesona. Kurasa ada benih-benih cinta di hatiku, dan aku menatapnya dengan penuh kemesraan yang syahdu.Kami saling pandang dari jarak dekat. Kulihat ia pun tampak jatuh cinta kepadaku.Begitu mesra pandangan matanya. Diam-diam kami bergenggaman tangan dan kubiarkania merebahkan kepalanya di bahu kiriku.Kereta pun terus berlari, kami berpacu dalam gejolak asmara. Kulihat empat pasang pria-wanita—yang bukan suami-istri—di gerbong itu juga tengah bermesraan. Mungkin juga di gerbong lain ada pasangan yang tiba-tiba dilanda cinta membara.Seorang petugas menghampiri kami dan dengan ramah berkata, “Maaf, Anda turundi stasiun mana? Ada tiga stasiun di Kota Terlarang, tinggal pilih Stasiun Rindu, StasiunKasih, atau Stasiun Cinta.”“Stasiun Cinta,” kataku.“O, itu stasiun paling indah buat orang yang sedang kasmaran,” kata si petugas.“Kalau Stasiun Rindu hanya cocok untuk remaja yang baru pertama kali jatuh cinta.Sedangkan Stasiun Kasih, untuk pemuda dan pemudi yang ingin berkasih-kasihan.”Apakah aku sedang kasmaran? Astaga, ini cinta terlarang! Tapi, aku makintenggelam dalam gejolak cinta membara.
 
Tak pernah terbayang, Stasiun Cinta di Kota Terlarang begitu indah, rapi, teratur,dan suasana romantis, penuh dengan bunga. Dinding stasiun berwarna-warni cerah ungu, pink, merah jambu. Petugas cantik-cantik dan ganteng; mereka berpasang-pasangandengan seragam warna-warni cinta serta bunga mawar merah di dada mereka. Sangat jauh berbeda dengan kondisi stasiun di negeri nenek moyangku: kumuh, sumpek, jorok, pesing bau kencing, petugasnya tidak ramah.Turun dari kereta, dengan bergandengan tangan, kami disambut ramah para petugasseperti layaknya tamu terhormat.“Selamat datang di Stasiun Cinta,” sapa petugas wanita, seraya menyerahkan seuntaimawar merah. “Selamat menikmati indahnya cinta di Kota Terlarang.”Geraldinne melirik ke arahku seraya tersenyum. Kubalas senyumnya dan makin eratmenggenggam tanganku. Ia menempelkan kepalanya di bahu kiriku dan kami punmelangkah ke luar stasiun.Begitu keluar stasiun yang wangi itu, terbentang Taman Cinta yang luas dan sangatindah. Pepohonan beraneka ragam, bunga-bunga beraneka jenis sedang pada mekar,rumput hijau, kolam-kolam, sungai-sungai, bukit-bukit kecil, lembah-lembah, tebing-tebing batu. Semua itu diterangi lampu beraneka warna, menjadikan taman semakinindah seperti di negeri dongeng.Sepanjang malam di taman Stasiun Cinta di Kota Terlarang kami menikmati taman bersama, berjalan-jalan dari ujung ke ujung taman, duduk-duduk sambil ngobrol di tepisungai, atau berlarian berkejaran di halaman rumput hijau seperti di film-film India.Segalanya terlupakan, yang ada hanya cinta dan kemesraan.Kulihat beberapa pasang kekasih gelap melakukan hal yang sama. Inikah pemandangan khas Kota Terlarang?Hingga menjelang subuh, aku tersadar—tepatnya antara sadar dan tidak—ketika akumerasakan seperti mendengar celoteh anak-anakku, mendengar suara bisikan istriku,yang keluar dari hati yang bersih. Terlintas dalam benakku wajah istriku yang cantik— kurasa lebih cantik dari Geraldinne. Istriku yang sangat sabar dan penyayang serta sangatsetia itu ….Ini pengkhianatan! Aku tersentak.Duduk di atas batu, di pinggir kali di taman itu, kulepaskan genggaman tangannyadan kutatap wajah Geraldinne. “Akankah kita begini selamanya?”“Iya. Kenapa?” bibirnya bergetar.Aku menggeleng. Bulan di langit kelam disapu awan. “Tidak, Din. Kita tidak mungkin selamanya di Kota Terlarang. Jangan-jangan ini semua fatamorgana.”“Ini nyata, Mas. Aku bahagia.”“Kebahagiaan yang sementara. Aku takut saat matahari terbit nanti, semuanya berubah jadi neraka. Dan kita tak akan kuat menahan panasnya. Ini kota dibangun oleh para penyihir, dipimpin dan dikendalikan raja sihir.”Mata Geraldinne berkaca-kaca.“Kita telah tersihir. Kita harus keluar dari kota ini sebelum matahari terbit. Kitakembali kepada kenyataan. Kembali kepada orang-orang tercinta yang setia menunggu dirumah.”“Aku mencintaimu, Mas,” bisik Geraldinne.“Ini cinta terlarang, Din,” kataku.Geraldinne tertunduk.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->