Kangjeng Prebu sendiri menangis dalam hati, tidak tega menyaksikan rakyattersiksa oleh pemerintah kolonial. Untuk mengurangi nestapa rakyat, agar selama bekerja tanam paksa tidak sampai perasaan kehilangan kerabat itumengharu biru setiap waktu, dilakukanlah pembangunan berupa pembuatanbeberapa saluran air dan bendungan, yang sekarang disebut saluran tersier dansekunder termasuk dam yang kokoh. Sampai kini masih ada saluran air Garawangi yang dibangun tahun1839, Cikatomas tahun1842, Tanjungmanggu
yang lebih terkenal dengan sebutan
Nagawiru
(berarti Naga biru) dibangun tahun1843, dan saluran air Wangunreja tahun1862.
Selanjutnya bupati yang kaya akan ilmu pengetahuan dan tidak bisa tidur sebelum berbakti pada rakyat itu membuka lahan persawahan baru dan kebunkelapa di berbagai tempat. Malah untuk sosialisasi kelapa, setiap pengantin lelakisaat
seserahan
diwajibkan untuk membawa tunas kelapa, yang selanjutnyaharus ditanam di halaman rumah tempat mereka mengawali perjalanan bahterarumah tangga.Dari jaman Kangjeng Prebu, perkebunan kelapa di Galuh Ciamis menjadi sangatsubur, dengan produksinya yang menumpuk (
ngahunyud
) di setiap pelosokkampung. Dalam waktu tak terlalu lama, Ciamis tersohor menjadi gudang kelapapaling makmur di Priangan timur. Banyak pabrik minyak kelapa didirikan olehpara pengusaha, terutama Cina. Yang paling tersohor adalah
Gwan Hien
, yangoleh lidah orang Galuh menjadi Guanhin. Lalu pabrik Haoe Yen dan pabrik diPawarang yang terkenal disebut Olpado (Olvado). Olpado ini musnah tertimpabom saat Galuh dibombadir oleh Belanda. Guanhin juga tinggal nama, demikian juga yang lainnya. Saat ini, minyak kelapa terdesak oleh minyak kelapa sawit danminyak goreng jenis lainnya.
Sekolah Sunda
Dari tahun1853Kangjeng Prebu tinggal di keraton Selagangga yang dibuat darikayu Jati yang kokoh. Luas lahan tempat keraton itu berdiri adalah satu hektar,dengan kolam ikan, air mancur, dan bunga-bunga di pinggirnya. Di bagian laindari keraton, ada kaputren, tempat para putri Bupati. Di komplek keraton jugaada mesjid. Tahun1872di komplek keraton ini dibangun Jambansari danpemakaman keluarga Bupati. Di sebelah timur pemakaman ada situ yang sangatdikeramatkan. Dulu tidak ada yang berani melanggarnya, orang Galuh percayaair situ itu mengandung khasiat seperti yang dituliskan oleh Kangjeng Prebudalam
guguritan
yang dibuatnya, "
Jamban tinakdir Yang Agung, caina tanba panyakit, amal jariah kaula, bupati Galuh Ciamis, Aria Kusumahdiningrat, medali mas pajeng kuning.
" Artinya kurang lebih, "Jamban takdir dari Yang Agung,airnya penyembuh penyakit, amal jariah saya, bupati Galuh Ciamis, AriaKusumahdiningrat, medali mas pajeng kuning."Menurut para menak Galuh jaman sekarang, terutama keturunan KangjengPrebu, jaman dulu
guguritan
yang disusun dalam pupuh Kinanti ini sukadinyanyikan oleh anak-anak sekolah rakyat. Selain bangunan untuk kepentingankeluarga Bupati, Kanjeng Prebu juga membangun gedung-gedung pemerintahan