Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kehidupan Pada Masa Kini

Kehidupan Pada Masa Kini

Ratings: (0)|Views: 227 |Likes:
Published by IzZat Slowbutsure

More info:

Categories:Types, Reviews, Book
Published by: IzZat Slowbutsure on Jan 10, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/10/2012

pdf

text

original

 
KEHIDUPAN PADA MASA KINI
Kemajuan teknologi telah merambah ke pelosok-pelosok negeri . Satelit atau parabolayang dapat menangkap banyak channel-channel televisi , mulai dari ujung timur sampaidengan ujung barat. Internet sudah mulai memasuki di kafe-kafe, di warung-warung bahkan di rumah-rumah. Banyak hal positif yang dapat kita ambil dari merebaknyainternet tersebut. Namun, tidak sedikit hal-hal negatif yang akan memperngaruhikehidupan masyarakat, terutama kalangan remaja.Di samping itu maraknya sinetron-sinetron dan film-film layar lebar yang mengupastentang kehidupan remaja turut pula memberikan andil yang besar terhadap perkembangan remaja dewasa ini. Hal itu disebabkan karena keingintahuan mereka yangsangat tinggi terhadap apa yang mereka lihat. Karena itulah mereka cenderung inginmengikuti apa yang mereka lihat di televisi, film, dan internet. Padahal yang mereka lihattidak lain adalah film-film orang dewasa, yang kebanyakan mengajarkan untumengkonsumsi narkoba, rokok, pergi ke diskotik, meminum minuman beralkohol, pulangsampai larut malam dan lain sebagainya.Kita dapat melihat dengan jelas bagaimana kehidupan remaja Indonesia sekarang.Kehidupan remaja Indonesia sekarang sangat berbeda dengan kehidupan remaja padamasa lalu. Kalau orang-orang tua kita mengatakan bahwa dahulu ketika remaja merekamasih tahu bertata krama dan bersopan santun kepada kedua orangtuanya dan kepadaorang lain yang lebih tua maka hal itu sudah banyak yang bergeser.Remaja sekarang banyak yang sudah tidak mengerti akan tata krama dan sopan santun.Mereka cenderung lebih berani melanggar peraturan orang tua mereka. Dari cara berpakaian pun antara remaja masa lalu dengan masa kini sudah sangat berbeda.
DALAM
sejarah filsafat Barat, ada sebuah narasi menarik yang menceritakan sebuahadegan tentang pertarungan dua pahlawan peradaban yakni Mitos dan Logos.Pertarungan inilah yang kemudian dikenal dalam sejarah Yunani Kuno telah ikutmemberikan pengaruh besar terhadap lahirnya filsafat. Karena dari pertarungan- pertarungan itu, logos adalah sosok pahlawan yang selalu memenangkannya.Kemenangan logos yang ditandai dengan kematian mitos selanjutnya membawaimplikasi positif bagi eksistensi dan legistemasi dirinya (logos). Dalam waktu yang tidak terlalu lama, akhirnya logos mampu menunjukkan perkembangannya dengan cepat, yang pada akhirnya dikenal dengan rasio manusia.Kematian antagonis (mitos) pada akhirnya berimplikasi positif bagi kehidupan rasiomanusia ke alam pikir yang spektakuler. Lebih-lebih, protagonis (logos) dalam sejarahmodernitas dewasa ini, muncul sebagai bentuk rasionalisasi- bahwa di mana sang protagonis terbungkus dalam baju sains, yang kemudian menjadi saintisme.
 
Perkembangan sains yang hampir dapat dipastikan mengarah kepada kehidupan manusia pada posisi yang paling tinggi, ternyata rasio manusia menunjukkan dirinya sebagai“mitos baru”. Akibatnya, muncul sebuah perlawanan terhadap saintisme- yang dianggapgagal mewujudkan cita-cita awal dari sains modern, yakni “janji pencerahan” yangsemestinya menggiring kepada kebahagiaan totalitas manusia.Kecenderungan inilah dalam kajian mutakhir menjadi perhatian bagi sekian banyak pakar atau ilmuan, yang masing-masing terlibat secara langsung atau tidak, dalam rangkamemberikan respons dan tanggapan positif terhadap masa depan ilmu pengetahuan danteknologi. Sebab pada kenyataannya, saintisme tidak hanya dianggap telah melahirkan basis pengetahuan yang semu dan nihil, tetapi juga harus bertanggung jawab atas segalakerusakan yang telah dihasilkan selama perkembangan itu.Berbagai kasus dan fenomena kehancuran pada dekade terakhir ini merupakan salah satuakibat dari terbentuknya “mitos baru” tersebut. Di mana sains diletakkan pada posisiyang tidak terbatas, bahkan sains dengan sendirinya telah menggantikan peran-peranyang disakralkan selama ini, yakni Tuhan.Begitu pula kerusakan ekologi dan lahirnya bentuk-bentuk ideologi lain yangmengarahkan kepada jurang kehancuran masa depan manusia. Berkat kemajuan sains, juga tidak sedikit telah melahirkan krisis nilai-nilai kemanusiaan. Maka pertanyaanmendasar yang perlu dikemukakan adalah apakah hakikat dan kemafaatan sains bagikelangsungan hidup manusia? Dan kemanakah arah sains sebenarnya?Bertolak dari pertanyaan di atas, setidaknya ada kemungkinan perlu untuk meninjauulang tentang eksistensi sains, yang pada gilirannya diharapkan dapat memberikansumbangsih bagi peradaban post-modernisme. Untuk itu, upaya yang sangat diperlukanadalah perenungan kembali tentang hakikat sains secara mendalam guna memperolehsuatu jawaban kebenaran hakiki dibalik sebuah sains tersebut. Mendalam tidak hanyaterpusat pada hakikatnya, tetapi juga mempertimbangkan masa depan sains bagikelangsungan hidup manusia. Lebih-lebih memasuki era post-modernisme saat ini, bahwa kecenderungan kehidupan sangat ditentukan oleh sains. Post-modernismesekarang, bukan hanya menjadi sebuah wacana, namun sudah menjadi kenyataan yang benar-benar terjadi. Kenyataan tersebut ditandai dengan banyaknya manusia telahkehilangan hakikat hidup sebenarnya. Bahkan kehidupan yang mereka geluti di mana punia berada, berubah menjadi sebuah bentuk ancaman bukan keselamatan, kecemasan bukan kedamaian.Pengetahuan manusia yang didasarkan pada sains selalu membenarkan sesuatu sesuaidengan ukuran sains pula. Rasionalisasi adalah cara pebenaran yang selalu dipakai untuk menentukan segala-galanya, dan bukan lagi menyertakan nilai-nilai intrinsik yang bercermin pada diri manusia. Karena itu, rasionalitas perlu dicurigai sebagai unsur yangmemainkan kekuasaannya. Foucault misalnya, telah membahas persoalan ini secaramendalam. Dari hasil temuanya, dinyatakan bahwa pengetahuan manusia secara tidak sadar ada kekuasaan. Hal serupa juga dicetuskan oleh Sigmund Freud yang dikenaldengan sebutan Psikoanalisa.
 
Dengan demikian, jika kebenaran hanya disandarkan pada kebenaran rasio, maka sangatmungkin untuk dilakukan sebuah “dekonstruksi”. Seperti yang pernah diungkapkan olehJaques Derida jauh hari, bahwa dekonstruksi adalah pembongkaran cara berpikir yangkita anggap benar karena rasional. Membongkar di sini dimaksudkan untumengembalikan pemikiran itu pada bentuk kesadaran. Sekali lagi, bahwa dekonstruksimerupakan salah satu penyadaran logis apa yang selama ini dianggap dominan, yang justru bertolak belakang dengan janji-janji manisnya, bahkan tidak membahagiakan danmemberi kepastian hidup manusia. Dengan demikian, kalau membongkar pemikiran- pemikiran yang dominan, maka sebaiknya mendengar semua pemikiran yang selama inidianggap marginal, tidak logis, atau tidak saintifik.Sebuah ilustrasi yang barangkali dapat dijadikan acuan adalah betapa pun canggihnyailmu kedokteran, ia juga harus mendengar pengobatan tradisional. Pandangan kedokteranyang menganggapnya tidak ilmiah harus didekonstruksikan. Sebab, kebenaran dalam peradaban post-modernisme sekarang ini semakin komplek, dan tidak bisa didasarkan pada satu kebenaran. Titik puncak kebenaran sangat tergantung pada epistimologisebagai jalan untuk meraih kebenaran itu.Sebagai sebuah jalan, epistemologi merupakan proses yang memungkinkan untuk membantu dalam mendapatkan kebenaran. Antara sains dan peradaban post-modernismeadalah realitas yang sama-sama nyata. Karena itu, persoalan yang diakibatkan sainsdalam post-modernisme semakin hari semakin kompleks. Maka di sinilah perlunyaepistemologi dan sekaligus axiologi untuk menelusuri dinding-dinding realitas tersebut.Jika dalam tataran axiologisnya sains tidak menunjukkan kemanfaatan bagi manusia,maka dapat dipastikan bahwa keresahan hati dan kecemasan manusia akan semakin bertambah. Kecemasan dan pergolakan hati akan muncul di era post-modernisme apabilatidak ditemukan sebuah keseimbangan, antara saintisme dengan daya atau potensi yang paling hakiki dalam diri manusia. Martin Heidegger misalnya, menyatakan bahwamasyarakat pasca-modern adalah apa yang disebut
 stimmung.
Yakni sebuah “suasana hatiyang menggejala.” Apa yang disebut
 stimmung 
merupakan pemikiran-pemikiran post-modern yang melakukan serangan tanpa bentuk yang pasti, majemuk dan liar. Sebagai pasukan yang tidak menggunakan seragam (saintisme), serangannya justru lebih hebatdan membahayakan bagi keselamatan manusia. Dengan senjata intelektualnya,serangannya dapat menempus benteng-benteng yang abstrak sekalipun.Dalam hal ini, sains tidak saja bertujuan menghancurkan martabat manusia, tetapi jugamenyeret dirinya tanpa bentuk dan harga diri. Nilai moral yang semestinya menjadi spiritdan sumber aktivitas manusia, justru lenyap akibat tereduksi oleh sains. Secara moral, perkembangan sains seharusnya tetap memiliki tujuan dan cita-cita hidup manusia, dan bukan menjadi perusak. Karena itu, sains dalam peradaban post-modernisme merupakanera yang mustakhil akan kembali kebelakang, melainkan akan terus berjalan ke depandengan segala resiko dan akibatnya. Sehingga upaya yang perlu dilakukan adalahmembangun konsep nilai yang berlaku secara universal guna menjaga keselamatan danmemberikan kepastian hidup manusia.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->