Suriansyah inilah yang menandai berdirinya sebuah Kerajaan Islam Banjar pada tahun 1526.
Sejak itulah, Islam menjadi agama resmi Kerajaan dan masyarakat Banjar menggantikan agamaHindu.
Walau telah diakui bahwa proses intensifikasi penyebaran Islam di daerah ini terjadisejak berdirinya Kesultanan Banjar, tetapi proses peningkatan pengetahuan keislaman secaralebih intensif di masyarakat Banjar itu sendiri baru terjadi ketika Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari kembali dari Mekkah
pada tahun 1772 (dalam usia 64 tahun) atau masa pemerintahanSultan Tamjidillah I, setelah 30 tahun lamanya belajar di sana.
Konon kepulangan Syekh Arsyad dari Mekkah disambut penuh antusias oleh pihak kesultanan dan warga Kerajaan Banjar. Sultan Tamjidillah I (1745-1778) sangatmenghormatinya dan mengawinkannya dengan salah seorang kerabat dekatnya, Ratu Aminah,anak dari Pangeran Thaha, saudara sepupu Sultan. Selain itu juga, Sultan menghadiahkansebidang tanah perbatasan + 5 km dari Martapura, tempat kedudukan Keraton pada saat itu. Tanah pemberian itu kemudian dibangun oleh Syekh Arsyad sebagai wilayah pemukiman dantempat diselenggarakannya pengajian-pengajian agama yang beliau asuh. Tempat inilah yang dikemudian hari berkembang menjadi kampung “Dalam Pagar”. Dilihat dari sudut prosesbelajar-mengajar pada masa itu, bentuk pengajian di dalam satu komplek yang ada musholla,tempat belajar dan asrama untuk para santri merupakan suatu tradisi yang baru bagi modelbelajar-mengajar di daerah ini. Hal ini karena, sebelumnya, pengajian-pengajian dilaksanakan dirumah, musholla, atau istana saja.
Pola pembelajaran yang dikembangkan oleh Arsyad inilahyang nantinya sebagai cikal-bakal pendidikan formal Islam di daerah ini pada akhir abad ke-18
5
Azyumardi Azra, “Interaksi dan Akomodasi Islam dengan Budaya Melayu Kalimantan”,dalam Aswab Mahasin (dkk),
Ruh Islam dalam Budaya Bangsa; Aneka Budaya Nusantara,
(Jakarta: YayasanFestival Istiqlal, 1996), hlm. 188.
6
Alfani Daud,
Islam dan Masyarakat Banjar
…, hlm. 48.
7
Emroni, “Pembaharuan Pendidikan Islam di Kalimantan Selatan Abad XX”, dalam
JurnalPenelitian IAIN Antasari
, No. 5, Thn. V – 2001, hlm. 3. Intensitas ini terkait dengan polapembelajaran yang dikembangkan oleh Syekh Arsyad melalui model pembelajaran yang mengambiltempat khusus semacam pondok pesantren (jika boleh dikatakan demikian). Selama rentang waktuantara Khatib Dayyan dengan Syekh Arsyad yang memakan waktu kurang lebih satu setengah abad,agama Islam cenderung diajarkan/disyi’arkan berdasarkan model
ngaji duduk
yang diselenggarakan dirumah,
langgar
(mushola) atau istana. Lihat A. Hafiz Anshari, “Peran Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari di dalam Pengembangan Islam di Kalimantan Selatan”, dalam Majalah Ilmiah Keagamaan danKemasyarakatan
Khazanah
, Vol. I, No. 1, Januari-Februari 2002 (Banjarmasin: IAIN Antasari), hlm. 19.
8
Alfani Daud,
Islam dan Masyarakat Banjar
…, hlm. 54.
9
A. Hafiz Anshari, ZA., “Peran Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari …, hlm. 18.
3