Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
12Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Developmental is Me & Redupnya Pendidikan Lokal

Developmental is Me & Redupnya Pendidikan Lokal

Ratings:

4.0

(3)
|Views: 5,017|Likes:
Published by Irfan Noor, M.Hum

More info:

Published by: Irfan Noor, M.Hum on Nov 06, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

10/27/2012

pdf

text

original

 
DEVELOPMENTALISME DAN REDUPNYA ORIENTASI PENDIDIKAN LOKALOleh: Irfan Noor, M.Hum.Pengantar
 Jika refleksi tentang hegemoni negara atas keberadaan lembaga pendidikan lokaldiletakkan dalam konteks perjalanan pendidikan lokal di Kalimantan Selatan, maka problemnyaadalah hilangnya ruang gerak bagi kontekstualisasi dan pengembangan pendidikan yang lebihrelevan dan sesuai dengan kondisi sosial dan budaya yang ada di daerah ini. Ketika ruang gerak itu telah hilang dari tubuh lembaga pendidikan lokal, maka apapun lembaga pendidikannyatentunya bisa dipastikan akan gagal menjawab dan merespon realitas yang berkembang ditengah-tengah masyarakat.Oleh karena itu, jika persoalan ini dikembalikan pada situasi lokal masyarakatKalimantan Selatan, tentunya kondisi sosio-kultural masyarakat yang seharusnya menjadi ruang gerak bagi kontekstualisasi dan pengembangan pendidikan yang ada di daerah ini adalahstruktur sosio-kultural masyarakat ini yang sangat terkait dengan sistem keberagamaanmasyarakat di daerah ini. Pengidentifikasian masyarakat Banjar terhadap Islam merupakanbentuk kecenderungan dari masyarakat ini sejak berabad-abad lamanya, sehingga telahmenjadikan Islam sebagai bentuk identitas sosial dari masyarakat ini di hadapan komunitaslainnya di daerah ini.
1
 Muara dari bentuk kecenderungan yang terjadi pada masyarakat Banjar seperti initentunya diiringi oleh suatu kecenderungan untuk menempatkan figur ulama dalam posisi yang sangat sentral dalam struktur masyarakat di daerah ini. Posisi sentral yang diberikan masyarakatatas ulama ini tidak lain karena mereka merupakan bagian sentral dari proses reproduksi nilai-nilai yang menjadi pegangan bersama masyarakat di daerah ini.
2
 Gambaran historis yang bisadikemukan terhadap posisi ulama seperti itu bisa dirujuk pada perjalanan panjang Syekh
1
Lihat penjelasan Alfani Daud,
Islam dan Masyarakat Banjar; Diskripsi dan Analisa Kebudayaan Banjar 
, (Jakarta: Rajawali Press, 1997), hlm. 4.
2
Lihat penjelasan Irfan Noor, “Ulama dan Masyarakat Banjar”, dalam Jurnal Kebudayaan
KANDIL 
, Edisi 1, Thn. I, Mei 2003, hlm. 18-25; Irfan Noor, “Arus Balik Perilaku Politik UlamaBanjar”, dalam Jurnal Kebudayaan
KANDIL 
, Edisi 2, Thn. I, Sept. 2003, hlm. 33-45.
1
 
Muhammad Arsyad al-Banjari (1710-1812) dan Syekh Muhammad Nafis al-Banjari (1735 w.) didaerah ini. Kecenderungan seperti ini terjadi pula pada figur-figur ulama lain pasca kedua figurulama besar di atas.Namun sayangnya, seiring dengan diterapkannya berbagai kebijakan negara terhadapsemua bentuk penyelenggaraan pendidikan formal di masyarakat ke dalam Sistem PendidikanNasional, maka telah terjadi proses pemandulan dan pendegradasian kontekstualisasi danpengembangan lembaga pendidikan yang lebih relevan dan sesuai dengan kondisi sosio-kulturalyang ada di tingkat lokal. Pemerintah, khususnya era Orde Baru, memiliki kecenderungan lebihmengutamakan kebutuhan-kebutuhan yang sifatnya ekonomis sebagai bagian daripengejawantahan paham developmentalisme yang dianutnya. Refleksi terhadap “apa” dan“bagaimana” bentuk kebijakan negara terhadap penyelenggaraan pendidikan di tingkat lokalyang memiliki dampak dalam proses pemandulan dan pendegradasian inilah yang menjaditujuan penulisan artikel ini.
Pendidikan dan Masyarakat Banjar
Berbicara tentang penyelenggaraan pendidikan formal dalam masyarakat Banjar tidak bisa dilepaskan masuknya agama Islam ke daerah ini.
3
  Jika berbicara tentang kapan Islammasuk ke daerah ini, maka ada beberapa asumsi yang menunjukkan bahwa agama ini telahmasuk ke daerah ini jauh sebelum berdirinya Kerajaan Islam Banjar.
4
Namun demikian,sebagaimana yang diakui oleh banyak ahli, momentum intensitas penyebaran Islam di daerahini baru terjadi pada abad ke-16 ketika Sultan Demak membantu Pangeran Samudera dalammenundukkan pamannya, Pangeran Tumenggung, dalam perebutan kekuasaan yang terjadi.Bentuk Bantuan itu berupa pengiriman tenaga prajurit bersama tokoh Islam yang bernamaKhatib Dayyan. Atas bantuan Demak ini, Pangeran Samudera berhasil menaklukkanKesultanan Negaradaha yang dikuasai oleh Pangeran Tumenggung dan, berdasarkan perjanjian,Pangeran Samudera masuk Islam. Pada momentum peralihan kekuasaan dari Pangeran Tumenggung kepada Pangeran Samudera yang kemudian berganti gelar menjadi Sultan
3
Pengidentifikasian geneologi penyelenggaraan pendidikan formal di tingkat lokal KalimantanSelatan kepada masuknya Islam ke daerah ini didasarkan atas asumsi bahwa masyarakat di daerah inisecara kultural bersifat Islami, di samping tidak ada bukti-bukti historis yang bisa menjelaskan bahwapenyelenggaraan pendidikan formal telah ada jauh sebelum Islam masuk ke daerah ini.
4
 A. Hafiz Anshary AZ.,
Islam di Selatan Borneo Sebelum Kerajaan Banjar 
, [Orasi Ilmiah yang disampaikan dalam rangka pembukaan kuliah semester ganjil tahun 2002/2003 IAIN Antasari, Senin 2September 2002], (Banjarmasin: IAIN Antasari, 2002), hlm. 14-24.
2
 
Suriansyah inilah yang menandai berdirinya sebuah Kerajaan Islam Banjar pada tahun 1526.
5 
Sejak itulah, Islam menjadi agama resmi Kerajaan dan masyarakat Banjar menggantikan agamaHindu.
6
 Walau telah diakui bahwa proses intensifikasi penyebaran Islam di daerah ini terjadisejak berdirinya Kesultanan Banjar, tetapi proses peningkatan pengetahuan keislaman secaralebih intensif di masyarakat Banjar itu sendiri baru terjadi ketika Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari kembali dari Mekkah
7
pada tahun 1772 (dalam usia 64 tahun) atau masa pemerintahanSultan Tamjidillah I, setelah 30 tahun lamanya belajar di sana.
8
 Konon kepulangan Syekh Arsyad dari Mekkah disambut penuh antusias oleh pihak kesultanan dan warga Kerajaan Banjar. Sultan Tamjidillah I (1745-1778) sangatmenghormatinya dan mengawinkannya dengan salah seorang kerabat dekatnya, Ratu Aminah,anak dari Pangeran Thaha, saudara sepupu Sultan. Selain itu juga, Sultan menghadiahkansebidang tanah perbatasan + 5 km dari Martapura, tempat kedudukan Keraton pada saat itu. Tanah pemberian itu kemudian dibangun oleh Syekh Arsyad sebagai wilayah pemukiman dantempat diselenggarakannya pengajian-pengajian agama yang beliau asuh. Tempat inilah yang dikemudian hari berkembang menjadi kampung “Dalam Pagar”. Dilihat dari sudut prosesbelajar-mengajar pada masa itu, bentuk pengajian di dalam satu komplek yang ada musholla,tempat belajar dan asrama untuk para santri merupakan suatu tradisi yang baru bagi modelbelajar-mengajar di daerah ini. Hal ini karena, sebelumnya, pengajian-pengajian dilaksanakan dirumah, musholla, atau istana saja.
9
Pola pembelajaran yang dikembangkan oleh Arsyad inilahyang nantinya sebagai cikal-bakal pendidikan formal Islam di daerah ini pada akhir abad ke-18
5
 Azyumardi Azra, “Interaksi dan Akomodasi Islam dengan Budaya Melayu Kalimantan”,dalam Aswab Mahasin (dkk),
Ruh Islam dalam Budaya Bangsa; Aneka Budaya Nusantara,
(Jakarta: YayasanFestival Istiqlal, 1996), hlm. 188.
 
6
 Alfani Daud,
Islam dan Masyarakat Banjar 
…, hlm. 48.
7
Emroni, “Pembaharuan Pendidikan Islam di Kalimantan Selatan Abad XX”, dalam
 JurnalPenelitian IAIN Antasari
, No. 5, Thn. V 2001, hlm. 3. Intensitas ini terkait dengan polapembelajaran yang dikembangkan oleh Syekh Arsyad melalui model pembelajaran yang mengambiltempat khusus semacam pondok pesantren (jika boleh dikatakan demikian). Selama rentang waktuantara Khatib Dayyan dengan Syekh Arsyad yang memakan waktu kurang lebih satu setengah abad,agama Islam cenderung diajarkan/disyi’arkan berdasarkan model
ngaji duduk
yang diselenggarakan dirumah,
langgar 
(mushola) atau istana. Lihat A. Hafiz Anshari, “Peran Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari di dalam Pengembangan Islam di Kalimantan Selatan”, dalam Majalah Ilmiah Keagamaan danKemasyarakatan
Khazanah 
, Vol. I, No. 1, Januari-Februari 2002 (Banjarmasin: IAIN Antasari), hlm. 19.
8
 Alfani Daud,
Islam dan Masyarakat Banjar 
…, hlm. 54.
9
 A. Hafiz Anshari, ZA., “Peran Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari …, hlm. 18.
3

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->