/  4
 
 
Catatan Kajian
Topik: KebaikanTanggal: 9 Januari 2012Fasilitator: Bapak MuchlisinE-Mail: emuchtar@gmail.comBlog: http://chippingin.wordpress.com
TOPIK: KEBAIKAN – MENILIK AL BAQARAH(2):177
 Laysa albirra an tuwalloo wujoohakum qibalaalmashriqi wa
a
lmaghribi walakinna albirra man amanabi 
 A
llahi wa
a
lyawmi al-akhiri wa
a
lmala-ikatiwa
a
lkitabi wa
al 
nnabiyyeena waataalmala AAala hubbihi thawee alqurbawa
a
lyatama wa
a
lmasakeena wa
bnaalssabeeli wa
al 
 ssa-ileena wafee a
rriqabiwaaqama a
 ssalata waataa
 zzakata wa
a
lmoofoona biAAahdihim ithaAAahadoo wa
al 
 ssabireena fee alba/sa-iwa
al 
ddarra-i waheena alba/si ola-ikaallatheena sadaqoo waola-ika humualmuttaqoon
a.
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainyakepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir dan orang-orang yang meminta-minta; dan hamba sahaya,mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yangsabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar; dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.
Catatan
: Tulisan berikut merupakan catatan kajian yang saya hadiri plus komentar-komentar yang tebersit di benak saya ketikamengingat kembali dan menuliskan catatan tersebut.Mari kita lihat bagian per bagian ayat ini.
 Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan
Kebaikan, dalam bahasa arabnya adalah al-birr(un), tak dapat dimaknai sebagai sekedar simbol. Ayat ini turunketika terjadi perselisihan ke mana kita harus menghadap untuk melakukan sembahyang, apakah ke barat atauke timur. Ayat ini turun sebagai tanggapan dari perselisihan tersebut. Barat atau timur bukanlah inti kebaikan.
akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah,
Sebenarnya, orang-orang berkebaikan adalah orang-orang yang beriman kepada Tuhan. Dalam arti, merekayang merasa aman dan tenteram damai di jalan Tuhan. Orang-orang yang memutuskan untuk hidup di jalan
 
2Tuhan atau bisa dikatakan telah memilih Tuhan sebagai tujuan hidupnya. Sehingga, setiap pikiran, ucapan,tindakan atau segala aspek kehidupannya memiliki Tuhan sebagai patokan dan tujuannya. Tauhid.Dikatakan dalam hadits: bila kita menetapkan atau berikrar “Tuhan, aku ingin hidup di jalan-Mu”, makaTuhan akan menggenapkannya.
hari akhir,
Keyakinan terhadap hari akhir memiliki beberapa implikasi:(1)
 
Kita sadar akan keterbatasan kita atau segala yang ada di dunia ini. Kita menyadari bahwa semuaakan memiliki akhir dan akan sirna. Dengan demikian, kita tak akan menyia-nyiakan apa yang adapada kita sekarang.(2)
 
Kita menyadari bahwa semua perbuatan perlu kita pertanggungjawabkan. (Seperti yang kita mungkinpernah mendengar bahwa di hari akhir semua amal kita akan ditimbang). Sehingga kita akan berhati-hati dalam berpikir, berucap, dan bertindak.(3)
 
Kita menyadari bahwa kita akan bertemu dengan Tuhan.Semua ini terjadi di akhir (dalam bahasa Arab, kata “akhir” bisa berarti “nanti”, tidak melulu setelah dunia berakhir dan sebagainya). Untuk mencapai ‘akhirat’ ini, kita terlebih dulu harus fana, harus hilang. Keegoanini perlu lenyap sehingga memberikan ruang bagi Diri sejati untuk muncul. Sehingga, kita tak lagimengandalkan mata fisik yang terbatas untuk melihat, melainkan menggunakan hati nurani.Kata-kata ini mengingatkan saya pada kutipan di novel “The Forty Rules of Love” karya Elif Shafak: “Ketikaseorang pecinta sejati Tuhan masuk ke dalam sebuah kedai, kedai itu menjadi ruang doanya, namun ketikaseorang peminum masuk ke dalam ruang yang sama, ruang itu menjadi kedai minumnya. Dalam setiaptindakan, hatilah yang menentukan dan membuat perbedaan, bukan tampak luarnya. Seorang Sufi tak menilaiatau menghakimi orang atas tampilan atau siapa orang itu. Ketika seorang Sufi memandang seseorang, Ia akanmenutup kedua matanya, dan membuka mata ketiga—mata yang dapat melihat realita jiwa seseorang.”
 Malaikat-malaikat,
Beriman kepada malaikat. Malaikat merupakan simbol kebaikan; makhluk yang senantiasa melaksanakanperintah Allah, tak pernah mendurhakai-Nya. Dalam diri yang tauhid, akan sirna sifat-sifat pembangkangmanusia dan yang timbul atau tersisa adalah sifat-sifat merupa malaikat, sehingga sifat, sikap danperbuatannya semua tak lain tak bukan adalah Cahaya.
 Kitab-kitab,
Beriman kepada kitab-kitab yang dapat kita jadikan sebagai buku petunjuk kita. Karena niat menuju kebaikanterasa abstrak, maka bagi kita tersedia buku-buku petunjuk (menuju tujuan hidup kita) yang dapat kita gunakandalam melangkah.Karena itu pun, Rukun Islam menjadi penting karena membantu mengekspresikan Rukun Iman yang relatif abstrak tersebut. Bila mau bertemu Tuhan, shalatlah. Bila mau berbagi, zakatlah. Bila mau mengakseskekuatan Tuhan, maka berpuasalah. Dalam arti: bila mau menggunakan kekuatan Tuhan, maka kekuatan(atau mungkin lebih tepatnya keakuan) kita perlu dilemahkan terlebih dulu. Saya pernah menulis tentang berpuasa di: http://chippingindo.wordpress.com/2011/08/04/puasa-latihan-tanpa-laku/
 Nabi-nabi 
Selain dibekali petunjuk, kita juga dibekali contoh-contoh nyata, prototipe-prototipe manusia yang memahamidan menjalankan Al Qur’an, yaitu para nabi. (Dikatakan bahwa akhlak Rasulullah SAW adalah Al Qur’an).Karena itu, pelajarilah kisah-kisah para nabi. #note2self 5 Februari 2012 adalah Maulud Nabi.Bila keimanan di atas telah diterapkan dan tumbuh di dalam diri, yaitu menjadikan Tuhan sebagai tujuanhidup, bertemu dengan Tuhan dengan menihilkan diri, menumbuhkan sifat malaikat dalam diri, mempelajari buku petunjuk, mengikuti teladan nabi-nabi, maka bagian berikut merupakan
output 
dari keimanan tersebut;akan muncul secara otomatis.
 
3
dan memberikan harta yang dicintainya (dalam bahasa Arab: waataalmala) 
ata
= memberikan dengan senang hati
mal 
= Harta, sesuatu yang kita condong kepadanya, yang dicintainya.Menarik sekali, bila kita menilik kembali kata-kata yang digunakan dalam bahasa Arabnya, maka adapenekanan pada “senang hati” ketika memberi, dan kata “harta” pun menjadi lebih luas ke segala hal yang kitacondong kepadanya. Perhatikan, apa yang menjadi kecintaan kita, apa yang menjadi kesombongan kita.Harta? Ilmu? Waktu? Semua ini yang bila saatnya, akan kita berikan dengan senang hati.
kepada kerabatnya,
Mulai dari yang terdekat. Dikatakan bahwa medan jihad ada di sekeliling kita. Yang tidak seimbang disekeliling kita, misalnya kebodohan, kemiskinan, dan kesedihan, itu medan jihad kita. Berikanlah padanyakecondongan kita (ilmu, harta, waktu, dan sebagainya) dengan senang hati.
anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) 
Termasuk menyantuni orang-orang yang yatim iman, yatim akhlak, dan yatim kasih sayang. Dikatakan barangsiapa yang di dalam keluarganya terdapat anak yatim, maka malaikat akan turun terus menerus.Catatan: saya perlu mencari sumber tepatnya lebih lanjut, namun pada intinya, siapa pun yang menyantunianak yatim, termasuk yang yatim iman, maka kebaikan pun akan tercurah kepada dan melalui dirinya.
dan orang-orang yang meminta-minta; 
Tanpa pandang bulu. Ada peribahasa Arab yang mengatakan “Berikan kepada orang yang meminta walaupunia berkuda.” Jadikan berbagi sebagai hobi. Harta tidaklah berarti sampai orang lain pun merasakanmanfaatnya. Berbagi atau memberi perlu dilakukan dengan tulus, senang hati dan bermanfaat/bernilai.
dan hamba sahaya,
Budak. Termasuk orang-orang agar tidak diperbudak oleh dirinya sendiri; orang-orang yang menghambakandirinya terhadap selain Tuhan. (Ya, termasuk saya. Kita saling membantu kalau demikian.)Selain ketauhidan dan nilai-nilai sosial di atas, kebaikan juga memiliki sisi ritual (syariat) dan muamalat(hubungan antar manusia). Dikatakan “Masuklah ke dalam Allah secara keseluruhan,” perlu mencakup keempat aspek tersebut. Dua sudah dijabarkan di atas, dua lagi berikut ini.
mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; 
Shalat dan zakat disebutkan secara berdampingan dalam Al Qur’an sebanyak 63 kali; menekankan betapapentingnya kedua ibadah/syariat tersebut dilakukan. Syariat penting, karena merupakan ekspresi keinginankita untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.Shalat (antara lain) merupakan simbol vertikal manusia-Tuhan (
habluminaallah
), sementara zakat merupakansimbol horizontal manusia-manusia (
habluminanaas 
).
dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji,
Aspek muamalat. Hubungan antar manusia. Walau biasanya dikaitkan dengan perdagangan/harta,sebenarnya muamalat terkait dengan hubungan atau janji yang dibuat dalam bentuk apa pun.
dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan.
Kesabaran merupakan akhlak yang mendasar. (Kayaknya saya pernah mencatat tentang kesabaran, nanti yasaya cari lagi. Untuk sementara, saya kutip kembali kata-kata Shams-i-Tabrizi dari novel Elif Shafak:“Kesabaran tak berarti bertahan secara pasif. Ia berarti memiliki pandangan yang cukup jauh sehingga yakinakan hasil akhir dari suatu proses. Apa makna kesabaran? Kesabaran berarti menatap duri dan melihat bungamawar, menatap malam dan melihat subuh. Ketidaksabaran berarti hanya memiliki pandangan jangka pendek 

Share & Embed

More from this user

Add a Comment

Characters: ...