Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
3Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Pendidikan Berkarakter Lingkungan Dalam Pendekatan Perspektif Holistik Ekologis

Pendidikan Berkarakter Lingkungan Dalam Pendekatan Perspektif Holistik Ekologis

Ratings: (0)|Views: 263 |Likes:
Published by Rahmi Wulandiani

More info:

Published by: Rahmi Wulandiani on Jan 12, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/16/2014

pdf

text

original

 
 
PENDIDIKAN BERKARAKTER LINGKUNGAN DALAMPENDEKATAN PERSPEKTIF HOLISTIK EKOLOGIS
 Ditujukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Filsafat Ilmu
(Prof. DR. Achmad Munandar, M.Pd.)
Oleh:Rahmi Wulandiani, S.Pd.PROGRAM PENDIDIKAN BIOLOGISEKOLAH PASCASARJANAUNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA2011
 
 
BAB IPENDAHULUAN
 Kelestarian dan kehidupan mahluk hidup sangat bergantung kepadalingkungan. Itulah sebabnya lingkungan selalu menjadi isu penting yangdibicarakan dunia dari waktu ke waktu. Masalah lingkungan mulai dibicarakan ditingkat internasional pada tahun 1982. Ketika itu UNEP (United NationsEnvironment Program) menyelenggarakan sidang istimewa dalam memperingati10 tahun gerakan lingkungan (1972-1982) di Nairobi, Kenya. Dalam sidangistimewa tersebut terbentuklah Komisi Internasional yang dinamakan KomisiDunia untuk Pembangunan dan Lingkungan. Komisi ini menghasilkan programyang bernama ³Pembangunan Berkelanjutan´ atau
³
Sustainable Development´
.Konsep pembangunan berkelanjutan tersebut mengandung makna bahwa segalaupaya pemanfaatan sumber daya alam, pengembangan teknologi, perubahantatanan kelembagaan, serta peningkatan investasi harus diarahkan secara harmonisdan terpadu untuk memenuhi kebutuhan generasi masa kini dan mendatang(Surtikanti: 2009).Pada kenyataannya, Setiadi (2007:2) menyatakan bahwa implementasi paradigma pembangunan berkelanjutan belum mencapai tingkat yang optimal, bahkan terkesan ³jalan di tempat´. Banyak pihak yang melihat bahwa pola-pola pembangunan di berbagai negara tidak berubah secara fundamental. Pertumbuhanekonomi tetap dijadikan sebagai tujuan utama oleh banyak negara. Berbagaiukuran yang digunakan dalam pembangunan lebih berorientasi pada standar kehidupan material daripada kualitas kehidupan yang lebih holistik. Demikian juga dengan kepentingan manusia yang masih ditempatkan sebagai prioritasutama, sementara alam hanya diposisikan sebagai instrumen demi memenuhikebutuhan manusia. Dengan kata lain, sumberdaya alam masih dipandang sebagaisumberdaya ekonomis (sebagai sumber pendapatan negara dan dayatarik investasi) daripada sumberdaya ekologis.Pada masa ini manusia telah menjadi salah satu spesies organisme heterotrof yang paling dominan di planet bumi ini. Kemajuan IPTEK yang selalu mengalami
 
 inovasi memungkinkan manusia untuk mengeksploitasi, mengolah danmemanfaatkan segala sesuatu yang terdapat di lingkungannya untuk memenuhikebutuhan hidupnya. Kondisi ini menggeser kesadaran manusia bahwalingkungan mempunyai daya toleransi (daya lenting) yang apabila telahterlampaui maka kualitas lingkungan terus merosot dan berdampak padamalapetaka dan ancaman terhadap keberlangsungan hidup manusia di muka bumi.Jika sudah demikian, maka tak ada lagi warisan alam yang dapat dinikmati olehanak cucu kita kelak. Adapun dampak yang tidak dikehendaki sebagai akibat perlakuan manusia terhadap lingkungannya bisa beranekaragam, misalnya:terjadinya pencemaran oleh tumpahan minyak dan oleh limbah buangan industri,kelangkaan dan kepunahan spesies-spesies berbagai organisme, serta perubahan pola cuaca dan iklim akibat penciutan luas bentangan hutan tropika.Untuk mencegah dan memperbaiki lingkungan diperlukan pemahaman yangcukup luas serta program yang terencana dan jelas yang dilakukan secara bertahapdan sistematis. Namun demikian, upaya memperbaiki lingkungan tidak cukupdengan pengetahuan saja, tetapi harus didukung dengan mental, perilaku dansikap yang sungguh-sungguh dari setiap komponen masyarakat. Untuk membentuk masyarakat yang memiliki kepedulian lingkungan yang tinggitersebut, maka dalam bidang pendidikan ke depan diperlukan pendidikan yang berwawasan lingkungan sejak dari pendidikan dasar sampai pada pendidikantinggi.Pendidikan memberikan peluang yang besar dalam pembentukan wawasansecara holistik yang dapat membentuk pola pikir manusia untuk lebih memahamilingkungan dengan lebih bijaksana. Setiadi (2007: 7) mengatakan bahwa saat inidunia tidak dapat lagi dipandang seperti pohon yang cenderung bersifatsentralistik, hirarkis, birokratis, namun kini harus dilihat seperti layaknyatumbuhan merambat yang dinamis, majemuk, dan sistimik. Dengan demikian pola pemikiran yang fragmentik, strukturalis, mekanistik, serta deterministik perludigeser ke pola pemikiran yang ekologis-holistik.

Activity (3)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
Sa Sa liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->