Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
6Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Model Pemecahan Masalah Melalui Pendekatan Realistik Pada Pembelajaran Matematika SD

Model Pemecahan Masalah Melalui Pendekatan Realistik Pada Pembelajaran Matematika SD

Ratings: (0)|Views: 399 |Likes:
Published by Fi Goz

More info:

Published by: Fi Goz on Jan 13, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/11/2014

pdf

text

original

 
JURNAL,
 
Pendidikan Dasar
Volume : V - Nomor : 7 - April 2007
Model Pemecahan Masalah MelaluiPendekatan RealistikPada Pembelajaran Matematika SD
Komariah
 Abstrak 
Penelitian ini dilatar belakangi oleh perlunya kemampuan pemecahan masalah matematika siswa sekolah dasar 
sejak dini untuk mempersiapkan siswa menghadapi perubahan keadaan didalam kehidupan yang selalu berkembang.Model pemecahan masalah yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah pembelajaran yang berbasiskan masalah.Pemecahan masalah mengembangkan kemampuan-kemampuan reasoning, penemuan pola, generalisasi, komunikasi matematik, penggunaan aturan pada masalah tidak rutin, estimasi dan menduga, pada diri siswa secara optimal.Pendekatan realistic yang dikembangkan adalah pendekatan pembelajaran yang bercirikan 1) menggunakan konteks,2) siswa menggunakan model-model, 3) siswa memproduksi dan mengkonstruksi model-model, 4) pembelajarannyainteraktif, dan 5) proses keterhubungan antar konsep atau antar pokok bahasan. Metoda yang dipergunakan metodeKualitatif Penelitian Tindakan Kelas di kelas IV SD Laboratorium UPI Kampus Cibiru.
Kata Kunci:
 
Pendekatan Realistik pada Pembelajaran Matematika SD
I. Pendahuluan
 M
ateri matematika yang diberikan padasiswa Sekolah Dasar (SD) pada dasarnyabersifat elementer dan memuat konsepdasar untuk memahami konsep yang lebih tinggi, olehkarena itu diperlukan penguasaan yang memadai terhadapkonsep matematika di tingkat SD agar tidak menimbulkankesulitan siswa dalam belajar matematika berikutnya.Beberapa penelitian melaporkan bahwa kesulitansiswa SD pada umumnya dalam belajar matematikaadalah dalam memahami soal pengukuran, soal-soalpecahan, soal-soal geometri dan menyelesaikan soalcerita. Hudoyo (dalam Soekisno 2002 :3) menyatakanbahwa soal-soal yang berkaitan dengan bilangantidaklah begitu menyulitkan siswa, namun soal-soal yangmenggunakan kalimat sangat menyulitkan bagi siswayang memiliki kemampuan kurang. Kesulitan-kesulitanyang dihadapi siswa bukan disebabkan tidak mampumelakukan perhitungan saja melainkan siswa tidakmemahami permasalahan.Salah satu tujuan pembelajaran matematikamenurut kurikulum 2004 (Depdiknas 2003) adalah “mengembangkan kemampuan memecahkan masalah “.Pembelajaran pemecahan masalah merupakan salah satualternatif pembelajaran yang dipandang dapat mendukungtercapainya tujuan pembelajaran matematika SD.Pemecahan masalah sangat penting dalam pembelajaranmatematika karena siswa akan memperoleh pengalamanmenggunakan pengetahuan dan keterampilan yang sudahdimiliki siswa untuk diterapkan pada pemecahan masalahyang bersifat tidak rutin.Salah satu strategi pada model pembelajaranpemecahan masalah matematika yang dapat diterapkanadalah dengan pendekatan realistik. Pendekatan realistikmerupakan salah satu usaha meningkatkan kemampuansiswa memahami matematika dengan cara pembelajaransecara ` reality`, kepada siswa diberikan tugas-tugas yangmendekati kenyataan.Sehubungan dengan diberlakukannya kurikulum 2004yang pada dasarnya proses pembelajaran lebih diarahkanpada pengembangan kemampuan pemecahan masalah,maka penelitian tindakan kelas ini akan mencobakanmodel pemecahan masalah melalui pendekatan realistikpada pembelajaran matematika SD.Berdasarkan latar belakang masalah di atasmaka pertanyaan penelitian yang dikemukakan adalah“Bagaimana model pemecahan masalah melaluipendekatan realistik pada pembelajaran matematikaSD”? Sub pertanyaan yang akan dijadikan fokus penelitianadalah:1. Bagaimana guru mengelola perencanaan danaktivitas kelas selama pembelajaran matematikaberlangsung dengan model pemecahan masalahmelalui pendekatan realistik ?2. Bagaimana aktivitas diskusi kelompok siswa padapembelajaran matematika dengan model pemecahanmasalah melalui pendekatan realistik ?3. Bagaimana prestasi belajar siswa pada pembelajaranmatematika dengan model pemecahan masalahmelalui pendekatan realistik ?4. Bagaimana tanggapan siswa terhadap pembelajaran
 
JURNAL,
 
Pendidikan Dasar
Volume : V - Nomor : 7 - April 2007
matematika dengan model pemecahan masalahmelalui pendekatan realistik ?Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauhmanamodel pemecahan masalah melalui pendekatan realistik.Secara khusus penelitian ini bertujuan:1. Menelaah model pemecahan masalah melaluipendekatan realistik pada pembelajaran matematikaselama proses pembelajaran berlangsung.2. Menelaah aktivitas diskusi kelompok siswa selamaberlangsung pembelajaran matematika denganmodel pemecahan masalah melalui pendekatanrealistic.3. Menelaah prestasi belajar siswa dalam pembelajaranmatematika dengan model pemecahan masalahmelalui pendekatan realistik.4. Menelaah tanggapan siswa terhadap pembelajaranmatematika dengan model pemecahan masalahmelalui pendekatan realistik.Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagidosen, guru dan siswa SD Laboratorium UPI KampusCibiru Bandung sebagai berikut:1. Menambah pengetahuan, mengelola perencanaandan aktivitas siswa selama proses pembelajaranmatematika dengan model pemecahan masalahmelalui pendekatan realistik.2. Memberikan peranan yang mendukungpengembangan peranan guru sebagai peneliti.3. Meningkatkan prestasi belajar siswa dalampembelajaran matematika dengan model pemecahanmasalah melalui pendekatan realistik.
II. Kajian Pustaka
 Istilah pemecahan masalah ditemui dalam berbagaiprofesi dan dalam disiplin ilmu yang berbeda sertamempunyai banyak arti. Hudoyo dan Sutawidjaya(1996/1997:189) menyatakan bahwa pemecahan masalahdapat diartikan sebagai penggunaan matematika baikuntuk matematika itu sendiri maupun aplikasi matematikadalam kehidupan sehari-hari dan llmu pengetahuanyang lain secara kreatif untuk menyelesaikan masalah-masalah yang belum diketahui penyelesaiannya ataupunmasalah-masalah yang belum dikenal. Branca (1980:3) mengemukakan bahwa kegiatan-kegiatan yang
diklasifkasikan sebagai pemecahan masalah dalam
matematika diataranya menyelesaikan soal cerita dalambuku teks, menyelesaikan soal-soal tidak rutin ataumemecahkan masalah teka-teki, penerapan matematikapada masalah yang dihadapi dalam kehidupan nyata,menciptakan dan menguji konjektur.Kurikulum berbasis kompetensi menyarankanpemecahan masalah harus menjadi fokus pembelajaranmatematika di sekolah. Dengan pembelajaran modelpemecahan masalah, kemampuan-kemampuan siswadalam matematika seperti reasoning, penemuan pola,generalisasi, komunikasi matematik, penggunaan aturanpada masalah tidak rutin, estimasi, dan menduga dapatberkembang optimal (Windayana, 2005: 23).Menurut Windayana (2005: 26) bahwa matematikarealistik adalah pendekatan pembelajaran matematikayang berdasarkan pandangan kontruktivism. Yaitu prosesbelajar matematika yang memberi keleluasaan kepadasiswa mengkonstruksi konsep-konsep matematka melaluikonteks (kontekstual problem). Ciri pembelajaran denganpendekatan realistik yaitu 1) menggunakan konteks, 2)siswa menggunkan model-model, 3) memproduksi danmengkonstruksi model-model, 4) pembelajaran interaktif,dan 5) terjadi proses keterhubungan antar konsep atauantar pokok bahasan.Model pembelajaran pemecahan masalah yaitupembelajaran yang berbasiskan masalah, pada prosespembelajarannya siswa dihadapkan pada masalah yangharus diselesaikan sendiri.Pemecahan masalah yang peneliti ajukan dalampenelitian tindakan kelas ini menggunakan pembelajarandiskusi kelompok siswa sebagai upaya mengembangkankemampuan pemecahan masalah matematika siswamelalui pendekatan realistik. Beberapa indicator yangberkenaan model pemecahan masalah dan pendekatanrealistik:a. Menerjemahkan masalah dengan menggunakankonteks, dan model kedalam ide / bahasa/simbolmatematika.b. Memberi penjelasan dengan menggunakan konteks,model, sifat dan hubungan dalam proses solusi/memberikan jawaban.c. Menemukan dan menggunakan pola denganmenggunakan model dalam menyelesaikanmasalah.d. Menjelaskan ide, situasi dan relasi matematikasecara lisan atau tulisan dengan menggunakankonteks, model, gambar, diagrame. Ber argumentasi secara matematik
III. Metode
Metode penelitian yang digunakan adalah metodekualitatif Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian inidirancang empat siklus :1. Siklus 1 bertujuan agar siswa mampu melakukan danmenggunakan operasi hitung dalam memecahkanmasalah, menaksir hasil operasi hitung dua bilangan,dan mengevaluasi pembelajaran tindakan I dan II2. Siklus II bertujuan siswa mampu menggunakanfactor dan kelipatan dalam memecahkan masalah,dan mengevaluasi / meninjau kembali pembelajaranpada tindakan I dan tindakan II.3. Siklus III bertujuan siswa memahami satuan dengandimensi lebih dari satu, dimensi lebih dari dua, danmengevaluasi / meninjau kembali pembelajaranpada tindakan I dan tindakan II.4. Siklus IV bertujuan siswa mampu menentukankesetaraan antar satuan, yaitu menggunakankesetaraan satuan dalam perhitungan ataupemecahan masalah sehari - hari denganmenggunakan konsep keliling, luas, danmengevaluasi / meninjau kembali pembelajarantindakan I dan tindakan II.
Berdasarkan hasil reeksi survai awal maka disusun
 
JURNAL,
 
Pendidikan Dasar
Volume : V - Nomor : 7 - April 2007
rencana kegiatan siklus I. Hasil reeksi I disusun rancangansiklus II. Hasil reeksi siklus II disusun rancangan siklusIII. Hasil reeksi siklus III, disusun rancangan siklus
IV. Hasil siklus IV diputuskan bagaimana hasil prosespembelajaran model pemecahan masalah matematikamelalui pendekatan realistik .Instrumen yang digunakan untuk melihat pelaksanaansetiap kegiatan berupa rencana pembelajaran. lembar kerja siswa (LKS), lembar observasi, pedomanwawancara, dan perangkat instrument lainnya. Kriteriaatau ukuran keberhasilan ditentukan oleh hasil belajar siswa, analisis hasil observasi, analisis hasil wawancara,dan hasil triangulasi.
IV. Hasil dan Pembahasan
Hasil Siklus I pada tanggsl 16 Agustus 2005 tersajisebagai berikut:Salah satu contoh permasalahan pada pembelajarantindakan 1Sebuah pesawat terbang hanya mampu membawabarang seberat 1000 kg. Ada sejumlah kotak barangmasing-masing beratnya 28 kg. Hitunglah berapakotak yang dapat dimuat ke dalam pesawat agar pesawat tidak jatuh?Salah satu contoh permasalahan pada pembelajaranrindakan 2:Deni akan pergi dari SD Laboratorium Cibiru ke Alun-Alun Bandung, perjalanan yang akan ditempuhnyadengan berkendaraan umum yaitu ongkos naikojek dari SD Laboratorium ke Jalan Raya CibiruRp 1.500,00, dari jalan Raya Cibiru naik angkot keCicaheum ongkosnya Rp 2.000,00, dari Cicaheumke Alun-Alun Bandung ongkosnya Rp 1.200,00.Taksirlah kira-kira berapa ongkos yang harus dibawaoleh Deni?Hasil LKS yang dikerjakan oleh siswa dari limakelompok untuk soal yang pertama tentang 10 permendibagi 3, semua kelompok siswa sudah dapat membaginyadengan benar secara konsep pembagian, namun dalampembulatan siswa kurang menyimak bahwa soal tersebutadalah masalah yang ditemukan sehari-hari yang tidakselalu harus sama dengan konsep pembagian, tetapiharus disesuaikan dengan realita bahwa 10 permen dibagi3 masih bersisa 1 yang tidak mungkin 1 permen dibagi3,hasilnya akan hancur. Begitupun soal yang lainnyaseperti soal tentang beban pesawat terbang, siswa padaumumnya sudah dapat mengali dan membagi satuanberat dengan benar namun dalam membulatkannya tidakmenyimak soal, apabila dibulatkan keatas pesawat akan jatuh. Selanjutnya pada soal tentang ongkos kendaraanumum, seperti ongkos naik ojeg Rp 1.500,00 dibulatkanmenjadi Rp 2.000,00, ongkos naik bis kota Rp 1.200,00dibulatkan menjadi Rp 1.000,00. Dalam menyelesaikansoal tersebut siswa masih berprinsip pada konsep bahwakurang dari lima dibulatkan ke bawah dan lebih dari limadibulatkan ke atas, mereka kurang menyadari bahwa soalyang ada dalam cerita itu merupakan kejadian sehari-hari yang dialaminya yang pada kenyataannya bahwapembulatan tidak selamanya bisa diterapkan sepenuhnyadalam kehidupan sehari-hari.Hasil pengamatan, dalam pembelajaran tindakan1 tidak mencerminkan pembelajaran pemecahanmasalah, pertama guru menjelaskan materi pelajaran danselanjutnya dalam membimbing diskusi kelompok, gurumemberitahukan cara-cara menyelesaikan permasalahanyang dihadapi siswa, tidak memberi kesempatan kepadasiswa untuk mencari sendiri penyelesaiannya sehinggasiswa mengikuti cara-cara penyelesaian yang dijelaskanguru dan pendapat siswa tidak berkembang, Komunikasimatematika baik antar siswa dengan kelompoknyamaupun secara klasikal siswa kurang ber argumentasidengan idenya sendiri. Pada pembelajaran tindakan 2,ketika kegiatan diskusi kelompok siswa berlangsung,guru tidak begitu banyak menjelaskan cara-caramenyelesaikan masalah, namun pada waktu membimbingdiskusi setiap kelompok diarahkan pada jawaban yangbenar, guru kurang memberi kesempatan kepada siswauntuk belajar mencari dan menemukan sendiri cara-carapenyelesaiannya sehingga jawaban siswa benar sesuaidengan jawaban guru. Aktivitas siswa pada pembelajarantindakan 1 dan tindakan 2 responnya biasa-biasa saja,diskusi kelompok siswa kurang berjalan lancar siswa yangpintar diperkirakan dapat membantu siswa yang lemah,namun justru siswa yang pintar tidak mau bekerjasamamalahan bekerja sendiri-sendiri, siswa yang lemah diamsendiri tidak ada kegiatan karena sudah dikerjakan siswayang pintar yang akhirnya suasana kelas ramai sibukmasing-masing.Hasil pengamatan pada model pemecahan masalah: 1) reasoning belum begitu muncul secara maksimal, 2)penemuan pola, siswa berusaha menemukan pola caramenghitung walaupun dibantu oleh guru, 3) generalisasi,secara sederhana siswa dapat menyimpulkan denganmenggunakan konteks dan model, 4) komunikasimatematika, belum nampak maksimal masih didominasiguru, 5) penggunaan aturan pada masalah tidak rutin,nampak ada tetapi belum maksimal, 6) estimasi danmenduga, nampak ada muncul dalam materi menaksir.Hasil pengamatan pada pendekatan realistik 1 )siswa berkesempatan menggunakan konteks kedalamide matematika, dan 2) menggunakan model-modelseperti menggunakan permen; pipa plastik, kendaraanumum dan kotak kapur, gambar pesawat terbang, 3)siswa mengkonstruksi model-model sesuai denganmateri yang dibahas di kelas 4, 4) pembelajaran interaktif,muncul namun hanya didominasi oleh siswa tertentu saja,5) terjadi proses keterhubungan antar konsep atau antar bahasan, soal cerita berkaitan dengan operasi perkalian,pembagian dan hitung campuran. Kegiatan diskusikelompok secara heterogen pada siklus I tidak berjalandengan lancar, kelas menjadi tidak kondusif, maka padapembelajaran siklus II pengelompokkan dicoba dengancara homogen.Hasil Siklus II pada tanggsl 25 Agustus 2005 tersajisebagai berikutSiswa dibentuk menjadi 5 kelompok setiapkelompok terdiri dari 5 orang siswa secara homogen,pengelompokkan siswa berdasarkan pada prestasibelajar siswa yang baik disatu kelompokkan dengan

Activity (6)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
Bumi Hatta liked this
Jen Gan'z Hoppus liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->