Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
4Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Pengaruh Pembelajaran Matematika Kontekstual Terhadap Hasil Belajar Siswa Sekolah Dasar

Pengaruh Pembelajaran Matematika Kontekstual Terhadap Hasil Belajar Siswa Sekolah Dasar

Ratings: (0)|Views: 191 |Likes:
Published by vievie_evy

More info:

Published by: vievie_evy on Jan 13, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/14/2012

pdf

text

original

 
 Darhim, Pengaruh Pembelajaran Matematika
No. 2/XXIV/2005Mimbar Pendidikan
10
Pengaruh Pembelajaran Matematika KontekstualTerhadap Hasil Belajar Siswa Sekolah Dasar
 
Darhim
(Universitas Pendidikan Indonesia)
 Abstrak 
Penelitian ini adalah eksperimen dengan kontrol. Kelompok eksperimen diberi perlakuan PMK (Pembelajaran Matematika Kontekstual) yang menerapkan tiga karakteristik RME (Realistic Mathematics Education) yaitu menggunakan masalah kon- tekstual, model, dan kontribusi siswa. Kelompok kontrol diberi perlakukan PMB (Pembelajaran Matematika Biasa). Tujuan  penelitian adalah menelaah hasil belajar siswa dengan PMK dan PMB. Sampelnya adalah 120 siswa Sekolah Dasar kelas II terdiri dari 4 kelas pada 4 sekolah (2 sekolah baik dan 2 sekolah sedang) yang ditetapkan dengan stratified purposive random sampling. Data diperoleh melalui 4 tes matematika kontekstual. Temuan penelitian ini adalah ditinjau dari keseluruhan maupun dari kelompok sekolah (baik dan sedang) PMK berpengaruh lebih baik terhadap hasil belajar siswa daripada PMB untuk siswa lemah.
Kata-kata kunci: 
realistic mathematics education (RME), pembelajaran matematika kontekstual (PMK), dan pembelajaran matematika biasa (PMB).
idaklah sederhana untuk mengetahuitinggi-rendahnya kualitas hasilpendidikan, termasuk untuk menentukankualitas pembelajaran matematika sekarang. Bell(1978) mengatakan bahwa sangat susahsebenarnya menentukan apakah pembelajaranmatematika modern berhasil atau gagal. Lebihlanjut Bell mengatakan bahwa untuk menimbang penilaian positif dan negatifnyarevolusi matematika modern, kebanyakanorang-orang yang betul-betul mengetahuimatematika modern sampai kepada kesimpulanbahwa matematika modern itu bukan sesuatukegagalan yang suram, bukan pula keberhasilanyang berlimpah ruah. Pendapat inimenggambarkan bahwa kualitas hasil belajarmatematika belum menggembirakan.Dampak dari kualitas pembelajaranmatematika tersebut dan kesadaran semuapihak akan pentingnya pembelajaranmatematika yang berkualitas, telahmendongkrak berbagai upaya pembenahanpembelajaran matematika. Namun sayang,upaya tersebut sampai saat ini belum sesuaidengan yang diharapkan. Hampir tiga dekadepelaksanaan kurikulum bermuatan matematikamodern, tetapi keberhasilan belajar siswabelum tercapai secara optimal. Kualitaspembelajaran matematika sekolah, masihmemprihatinkan baik dalam hasil belajar siswamaupun dalam proses pembelajarannya (Soedjadi,2000). Hal ini tergambar pula dari rerata hasil belajarsiswa dalam
level 
nasional, yaitu Nilai EBTANASMurni (NEM) dan Ujian Akhir Nasional (UAN),dari tahun 1984 sampai dengan tahun 2001 selalu dibawah 6 dalam skala 1 sampai 10. Sedangkan dalampelaksanaannya di dalam kelas, pembelajaranmatematika masih cenderung didominasi dengancara konvensional yang lebih terpusat pada guru(Marsigit, 2000). Masih banyak pendapat beberapakalangan yang senada dengan pendapat di atas,seperti Marpaung (2001); Zulkardi (2001); Sumarmo(1999a).Sebenarnya hasil belajar matematika siswaSekolah Dasar saat ini tidak terlalu memprihatinkan.Namun demikian, masih sering terdengar keluhanguru matematika di SMP, siswa dengan nilaimatematika Sekolah Dasar yang cukup baik, masihmengalami kesulitan dalam belajar matematika diSMP dan hasil belajar matematika mereka pada awaltahun pelajaran cenderung menurun (Sumarmo,1999b).Dalam penelitian lain, Sumarmo (1999a) yang lebih memfokuskan kepada aspek kesulitan siswa
 T
 
No. 2/XXIV/2005
 Darhim, Pengaruh Pembelajaran Matematika
Mimbar Pendidikan
11
Sekolah Dasar dalam belajar matematikamenemukan bahwa, terdapat cukup banyak siswa Sekolah Dasar yang masih mengalamikesulitan dalam belajar matematika. Ditinjaudari keterlibatan siswa dalam belajarmatematika, sekitar 50% siswa Sekolah Dasarkelas III dan sekitar 40% siswa kelas V dankelas VI mengalami kesulitan belajarmatematika. Terdapat sejumlah topik matematika Sekolah Dasar sulit untuk dipahami siswa dan diajarkan guru.Di samping itu, menurut Begle (1979)rata-rata siswa Sekolah Dasar bersikap netralterhadap matematika. Lebih lanjut Beglemengatakan bahwa apabila siswa Sekolah Dasarditanya tentang mata-mata pelajaran yang diajarkan di sekolah (seperti matematika,bahasa, ilmu pengetahuan alam, ilmu-ilmusosial, dan sebagainya), maka pelajaranmatematika ada di pertengahan. Inimemberikan petunjuk bahwa pelajaranmatematika tidak disukai para siswa SekolahDasar.Kurang disukainya pelajaran matematikaoleh siswa mungkin dipengaruhi oleh faktormateri atau proses pembelajarannya. Dari segimateri, matematika merupakan ilmu yang abstrak (Gravemeijer, 1994). Pandangan bahwamatematika itu abstrak juga dikemukakanErnest (1991) dan Ruseffendi (1979b). Bagianak-anak matematika akan semakin terasaabstrak jika materinya dibuat jauh darikehidupan sehari-hari. Oleh karena ituRuseffendi (1979a) menyarankan agar dalammenerangkan pengerjaan hitung sedapatmungkin supaya dimulai dengan menggunakanbenda-benda real, gambarnya atau diagramnyayang ada kaitannya dengan kehidupan nyatasehari-hari. Kemudian dilanjutkan ke tahapkedua yaitu berupa modelnya dan akhirnya ketahap simbol.Isu tentang 
Realistic Mathematics Education 
(RME) pada beberapa tahun terakhir telahmenarik perhatian kalangan para ahlipendidikan matematika di Indonesia. RMEsering dijadikan tema pokok dalamseminar-seminar nasional pendidikan matematika.Melalui seminar-seminar tersebut banyak kalanganyang menaruh perhatian dan memperlihatkan sikappositif untuk mengetahui lebih jauh tentang RMEtersebut. Bahkan ada kalangan yang sudahmempertanyakan, apakah RME akan berhasil biladilaksanakan di Indonesia? Pertanyaan itu sangat wajar muncul, karena RME di negara asalnyamempunyai catatan keberhasilan yang menggembirakan.Menurut sejarahnya RME merupakan suatupendekatan pembelajaran matematika yang dikembangkan di Belanda sekitar 30 tahun lalu olehFreudenthal Institute (Streefland, 1991;Gravemeijer, 1994). Perubahan mendasar lebihdifokuskan kepada mengganti pembelajaranmatematika yang bersifat mekanistik menjadirealistik (Streefland, 1991). RME banyak diwarnaioleh pandangan Freudenthal tentang matematika. Ada dua pandangan penting menurut Freudenthalyaitu matematika dihubungkan dengan realitas danmatematika dipandang sebagai aktivitas manusia(Freudenthal, 1991). Berkaitan dengan duapandangan di atas Gravemeijer (1994) mengatakanbahwa matematika harus diusahakan dekat dengankehidupan siswa, harus dikaitkan dengan kehidupansehari-hari, dan bila memungkikan real bagi siswa.Di samping itu siswa harus diberi kesempatan yang leluasa untuk belajar melakukan aktivitas bekerjamatematik atau matematisasi.Di negara asalnya, Belanda, RMEmemperlihatkan hasil belajar matematika siswa yang menggembirakan. Ini terbukti dari laporan TIMSStahun 1999, Belanda ada pada posisi ke-7 dari 38negara peserta (Mullis et al, 2000). Posisi inimengalahkan posisi Amerika Serikat dan Inggrisyang berturut-turut ada pada urutan ke-19 dan ke-20yang sistem pembelajaran matematikanya menjadiacuan pembelajaran matematika di Indonesia.Di Indonesia, RME disebut PembelajaranMatematika Realistik (PMR) (Turmudi, 2000;Ruseffendi, 2001; Suwarsono, 2001) atauPembelajaran Matematika Realistik Indonesia(PMRI) (Hadi, 2001; Fauzan, 2001; Sembiring,2001). Pendekatan ini dipandang sebagai pendekatan
 
 Darhim, Pengaruh Pembelajaran Matematika
No. 2/XXIV/2005Mimbar Pendidikan
12
yang banyak memberikan harapan bagipeningkatan hasil pembelajaran matematika.Karakteristik PMR secara garis besarnyatertuang dalam lima karakteristik RME (deLange, 1987, 1996; Treffers, 1991;Gravemeijer, 1994) yaitu menggunakanmasalah kontekstual, menggunakan model,menggunakan kontribusi siswa, terjadiinteraktivitas, dan terintegrasi.Diduga terdapat tiga karakteristik PMR yang dominan mempengaruhi keberhasilanpembelajaran matematika. Ketiga karakteristik dimaksud adalah menggunakan masalahkontekstual, menggunakan pemodelan, danmenggunakan kontribusi siswa. Oleh karena ituketiga karakteristik PMR tersebut perlu dikajikontribusinya dalam proses pembelajaranterutama terhadap hasil belajar siswa. Untuk selanjutnya, model pembelajaran matematikayang diadaptasi dengan menggunakan ketigakarakteristik PMR tersebut akan disebutPembelajaran Matematika Kontekstual (PMK). Walaupun PMK hanya menggunakantiga karakteristik PMR, tetapi prosesmatematisasi, yaitu matematisasi horizontal dan vertikal, seperti tuntutan PMR tetap dilakukandalam pembelajaran. Di samping ituprinsip-prinsip pembelajaran yang diawalidengan masalah kontekstual, penemuankembali ( 
reinvention 
 ),
 
penemuan ( 
invention 
 ),pemecahan masalah, dan pembelajaran harusberlangsung demokratis tetap merupakanbagian dari PMK. Pertanyaan-pertanyaan bisamuncul sehubungan dengan PMK tersebutadalah: Dapatkah PMK berpengaruh positif terhadap hasil belajar siswa?Hasil belajar siswa tersebut didugaterkait kemampuan awal siswa atau kelompok siswa yang dikelompokkan ke dalam kelompok siswa pandai dan lemah di kelasnya.Pengelompokan tersebut berdasarkan kepadahasil belajar matematika siswa yang diambildari nilai rapor mata pelajaran matematikasemester terakhir dan berpedoman kepadapengelompokan siswa yang dibuat guru kelas.Selain dikaitkan dengan kelompok siswa (lemahdan pandai) seperti di atas, hasil belajar siswa jugadiduga terkait dengan klasifikasi atau kelompok sekolah (baik dan sedang).Berdasarkan hal-hal tersebut, dirasakan perluupaya untuk mengungkap apakah PMK mempunyaiperbedaan kontribusi terhadap hasil belajar siswabila dibandingkan dengan PMB (PembelajaranMatematika Biasa) menurut Kurikulum 1994. Halitulah yang mendorong dilakukan suatu penelitianyang memfokuskan diri pada kontribusi PMK terhadap hasil belajar siswa Sekolah Dasar ditinjausecara menyeluruh, berdasarkan klasifikasi ataukelompok sekolah, dan berdasarkan klasifikasikemampuan awal siswa atau kelompok siswa.
Masalah dan Tujuan Penelitian
Berdasarkan kajian latar belakang masalah diatas, permasalahan penelitian ini adalah: Adakahperbedaan hasil belajar siswa yang belajarnya denganPMK dan PMB ditinjau dari (a) keseluruhan, (b)kelompok sekolah, dan (c) kelompok siswa?Sesuai permasalahan tersebut, makapenelitian ini bertujuan: Menelaah tentang perbedaan hasil belajar siswa yang belajarnya denganPMK dan PMB ditinjau dari keseluruhan, kelompok sekolah, dan kelompok siswa.
Hipotesis
Berdasarkan kajian permasalahan seperti telahdikemukakan pada bagian terdahulu, makapenelitian ini mengajukan sejumlah hipotesis sebagaiberikut.1.
 
Siswa yang belajarnya dengan PMK hasilbelajar matematikanya lebih baik daripadasiswa yang belajarnya dengan PMB ditinjau dari(a) keseluruhan dan (b) kelompok siswa (lemahdan pandai).2.
 
Siswa sekolah baik yang belajarnya denganPMK hasil belajar matematikanya lebih baik daripada siswa sekolah baik yang belajarnyadengan PMB ditinjau dari (a) keseluruhan dan(b) kelompok siswa (lemah dan pandai).3.
 
Siswa sekolah sedang yang belajarnyadengan PMK hasil belajar matematikanyalebih baik daripada siswa sekolah sedang 

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->