tentang Pemerintahan Daerah yang berlaku secara umum bagi seluruh daerah di Indonesia. DiPapua sendiri juga diberlakukan Undang undang daerah yang lazim disebut Perda, namun diPapua sendiri disebut Peradasus dan Perdasi (Peraturan Daerah Khusus dan Peraturaran DaerahIstimewa).Otonomi Khusus Papua telah terjadi pergeseran paradigma dalam penyelenggaraan pemerintahandi provinsi Papua. Pemerintahan yang semula diselenggarakan atas duet pemerintah dan DPRDkini berubah menjadi trio alias "
T
hree in One
". Artinya, keputusan terhadap penyelenggaraan pembangunan diatur oleh tiga komponen utama, yakni Pemerintah, Dewan Perwakilan RakyatPapua (sebelumnya, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) dan Majelis Rakyat Papua (MRP).Jelaslah, pemerintahan dengan model tiga komponen yang menjadi pilar utama seperti ini dari 32Provinsi di Indonesia, baru hanya terdapat di Provinsi Papua. Sebelum hadirnya Majelis RakyatPapua (MRP), DPRD (kini DPRP) adalah lembaga penetap berbagai Peraturan Daerah (Perda).Adapun Pemerintah dalam hal ini Gubernur dan berbagai perangkatnya sebagai Badan Eksekutif yang bertanggung jawab penuh dalam penyelenggaraan pemerintahan di Provinsi Papua. MajelisRakyat Papua (MRP) hadir sebagai sebuah lembaga baru yang merupakan representasi KulturalOrang Asli Papua. Meskipun secara
de jure
dan
de facto
lembaga ini hadir agak terlambat, yakni3 tahun setelah adanya UU Otsus, yakni tahun 2004 melalui Keputusan Presiden RI Nomor 54Tahun 2004, tertanggal 23 Desember 2004. Lembaga ini memiliki wewenang utama dalamrangka perlindungan hak-hak Orang Asli Papua dengan berlandaskan pada penghormatanterhadap adat dan budaya, pemberdayaan perempuan, dan pemantapan kerukunan hidup beragama (pasal 1 butir ke-6).Sebelum Perdasus (Perda otonomi khusus) dan Perdasi (Perda Istimewa) diberlakukan di Papua,Perda yang pernah diberlakukan tetap menganut pada Undang Undang Pemerintahan Daerahyakni UU 5/1974, UU No. 22/1999 dan UU 32/2004 yang kesemuanya mengatur tentang pemerintahan daerah. Pembentukan parlemen di Papua juga menganut undang undang tersebutdisamping Undang undang Susduk (Susunan dan Kedudukan DPR, DPRD). Parlemen tadi berfungsi sebagai badan legislatif daerah seperti tertuang dalam UU 5/1974 dan parlemen berfungsi sebagai lembaga legislatif daerah dalam UU No 22/1999.Istilah ³otonomi´ dalam Otonomi Khusus diartikan sebagai kebebasan bagi rakyat Papua untuk mengatur dan mengurus diri sendiri, sekaligus pula berarti kebebasan untuk berpemerintahansendiri dan mengatur pemanfaatan kekayaan alam Papua untuk sebesar-besarnya kemakmuranrakyat Papua dengan tidak meninggalkan tanggung jawab untuk ikut serta mendukung penyelenggaraan pemerintahan pusat dan daerah-daerah lain di Indonesia yang memangkekurangan. Hal lain yang tidak kalah penting adalah kebebasan untuk menentukan strategi pembangunan sosial, budaya, ekonomi dan politik yang sesuai dengan karakteristik dankekhasan sumberdaya manusia serta kondisi alam dan kebudayaan orang Papua.
5
Pada saat otonomi khusus belum dilaksanakan secara optimal, pada 15 Oktober 2008 di London,Inggris diselenggarakan pertemuan sekitar 30 aktivis Papua Merdeka dan beberapa anggota parlemen (2 dari Inggris dan masing-masing 1 dari Vanuatu dan Papua Nugini). Pertemuan inimembentuk forum yang disebut
International Parliamentarians for West Papua (IPWP)
. Nampaknya, para aktivis penyelenggara mencoba mengulang sukses
International Parliamentarians for East
T
imor (IPE
T
)
yang sukses mendorong kemerdekaan Timor Leste.
6