Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Terbentuknya International Parliamentarians for West Papua

Terbentuknya International Parliamentarians for West Papua

Ratings: (0)|Views: 86 |Likes:
Published by Telius Yikwa
Pemberontakan bersenjata, meskipun bertingkat rendah dan sporadis, merupakan masalah yang terus menerus muncul mengganggu pemerintah Indonesia. Banyak orang dalam Pemerintah nasional dan angkatan bersenjata melihat Papua sebagai salah satu faktor yang mengancam integritas keseluruhan wilayah Indonesia. Pada tanggal 17 bulan November 2006 kelompok-kelompok bersenjata di wilayah Papua berkumpul di bawah kerangka sebuah payung kesatuan untuk mengadakan Kongres Pertama Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN-PB). Dalam pertemuan ini TPN-PB memperbaharui komitmen TPN-PB untuk "mempersiapkan diri untuk perang melawan kolonialisme, imperialisme, dan eksploitasi global yang hendak dimulai di Papua Barat
Pemberontakan bersenjata, meskipun bertingkat rendah dan sporadis, merupakan masalah yang terus menerus muncul mengganggu pemerintah Indonesia. Banyak orang dalam Pemerintah nasional dan angkatan bersenjata melihat Papua sebagai salah satu faktor yang mengancam integritas keseluruhan wilayah Indonesia. Pada tanggal 17 bulan November 2006 kelompok-kelompok bersenjata di wilayah Papua berkumpul di bawah kerangka sebuah payung kesatuan untuk mengadakan Kongres Pertama Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN-PB). Dalam pertemuan ini TPN-PB memperbaharui komitmen TPN-PB untuk "mempersiapkan diri untuk perang melawan kolonialisme, imperialisme, dan eksploitasi global yang hendak dimulai di Papua Barat

More info:

Published by: Telius Yikwa on Jan 13, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/13/2012

pdf

text

original

 
TERBENTUKNYA
 INTERNATIONAL PARLIAMENTARIANS FOR WEST PAPUA
 (IPWP)
 Pemberontakan bersenjata, meskipun bertingkat rendah dan sporadis, merupakan masalah yangterus menerus muncul mengganggu pemerintah Indonesia. Banyak orang dalam Pemerintahnasional dan angkatan bersenjata melihat Papua sebagai salah satu faktor yang mengancamintegritas keseluruhan wilayah Indonesia. Pada tanggal 17 bulan November 2006 kelompok-kelompok bersenjata di wilayah Papua berkumpul di bawah kerangka sebuah payung kesatuanuntuk mengadakan Kongres Pertama Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN-PB).Dalam pertemuan ini TPN-PB memperbaharui komitmen TPN-PB untuk "mempersiapkan diriuntuk perang melawan kolonialisme, imperialisme, dan eksploitasi global yang hendak dimulaidi Papua Barat.
1
 Papua senantiasa menjadi ³masalah´ dan ³gangguan´ bagi stabilitas keamanan dan politik Indonesia berskala nasional maupun internasional. Oleh karenanya mayoritas rakyat Indonesia bersikap apatis, dalam rangka usaha mencari solusi penyelesaian berbagai konflik sosial politik di Papua Barat secara bermartabat. Bahkan masalah ini luput dari perhatian dan kepedulianapalagi simpati dan empati, atas masalah yang dihadapi Papua Barat.Pembentukan Kaukus Parlemen Internasional yang mendukung upaya kemerdekaan dan pemisahan diri Papua Barat dari NKRI, membuat Pemerintah dan DPR-RI menjadi terkejut.Upaya pihak asing (pendukung gerakan Papua) yang mensponsori kampanye itu dilakukananggota parlemen Inggris Andrew Smith dan Lord Harries yang membentuk InternationalParlementarians for West Papua
.
2
Pembentukan kaukus tersebut bekerja sama dengan tokohOrganisasi Papua Merdeka (OPM), Beny Wenda.Anggota Parlemen Inggris dan
 House of Lords
Inggris seperti Addrew Smith, Lord Harris (Revd.Bishop Richard Harries), dan Ibu Dr. Caroline Lukas anggota Parlemen Uni Eropa secara aktif dan terus-menerus mendesak Pemerintah mereka di London untuk mendukung PerjuanganRakyat Papua Barat mengenai Hak Penentuan Nasib Sendiri (
the Rigth to Self Determination
).Hal yang menjadi pendirian Adrew Smith, Lord Harris dan Caroline Lucas dan beberapa anggotaParlemen bahwa ³Masa depan rakyat dan Bangsa Papua Barat harus dibicarakan pada tanggal 15Oktober 2008 di London melalui Peluncuran Parlemen Internasional´.Hal di atas menarik untuk dikaji lebih jauh, yakni mengenai faktor-faktor apa yangmelatarbelakangi terbentuknya International Parliamantarians for West Papua.
Masalah
 Sejak jatuhnya pemerintahan Soeharto pada tahun 1998, kondisi Papua semakin menghangat.Pemberlakuan Undang Undang Pemerintahan daerah yang dikenal dengan Undang UndangOtonomi daerah No 22 Tahun 1999, juga diberlakukan di Papua. Dalam Undang Undang
 
22/1999 hanya berlaku masalah umum pada pemerintahan daerah di seluruh Indonesia termasuk Papua. Dalam perjalanan dan penerapannya di Papua, undang undang ini banyak mendapat protes terutama mengenai Undang Undang No 24/1999 mengenai perimbangan keuangan pusatdan daerah, dimana hanya 60 persen hasil sumber daya alam Papua yang kembali ke daerah.Papua pada waktu itu menuntut 75 % hasil kekayaan alam Papua yang harus dikembalikan kedaerah.
3
 Pada perjalanannya kondisi di Papua mulai memanas. Sebagian tokoh-tokoh mulai menentangkebijakan pusat. Gerakan OPM mulai beraksi dan banyaknya perlawanan dari kelompok  pengacau keamanan(OPM) banyak menyerang pos-pos kemanan di Papua. Pengibaran BenderaPapua mulai marak. Dengan kondisi seperti ini Undang Undang No 22/1999 tidak dapat berlakusecara efektif di bumi Papua. Melihat kondisi seperti itu, Pemerintahan Presiden AbdurrahmanWahid melahirkan Otonomi dan mengupayakan pemekaran wilayah agar percepatan pembangunan dapat terjadi. Disamping itu Gusdur juga mengupayakan Undang undang khusus bagi Papua, yang selanjutnya menjadi UU No 21 tahun 2001.Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua diberikan oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia melaluiUndang-undangNomor 21 Tahun 2001 yang telah diubah denganPerpuNo. 1 Tahun 2008. UU 21/2001 yang terdiri dari 79 pasal ini mengatur kewenangan-kewenanganProvinsiPapuadalam menjalankanOtonomi Khusus. Garis-garis besar kewenangan dan pokok pikiran merupakan kerangka dasar yang dimasukan kedalam Undang-undang Otonomi Khusus Papua.Pokok-pokok pikiran tersebut dikembangkan dengan memadukan nilai-nilai dasar pelaksanaanOtonomi Khusus Papua dengan pendekatan-pendekatan yang perlu dilakukan untuk memenuhikebutuhan-kebutuhan riil dan mendasar rakyat Papua dalam pengertian yang seutuhnya danseluas-luasnya. Kewenangan dan pokok pikiran tersebut meliputi aspek-aspek berikut ini : Salahsatu inti pelaksanaan Otonomi Khusus Papua adalah pembagian kewenangan pemerintah antaraPusat dan Provinsi Papua. Pembagian kekuasaan dan kewenangan. Kewenangan PemerintahPusat antara lain masalah Politik Luar Negeri, pertahanan terhadap ancaman eksternal, moneter dan peradilan.
4
 Dari penjelasan di atas, disadari pula bahwa di luar keempat kewenangan pemerintahan pusatsebagaimana dikemukakan diatas, masih ada hal-hal lain yang karena sifatnya memerlukanketerlibatan Pemerintahan Pusat, terutama hal-hal yang menyangkut standarisasi dankesepakatan-kesepakatan luar negeri dan kerjasama antar negara. Pembagian kekuasaan (
 sharing of power 
) dalam konteks Otonomi Khusus Provinsi Papua tidak saja menyangkut hubungan pusat dan daerah, tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana kekuasaan dankewenangan itu dibagi secara baik di dalam Provinsi Papua sendiri.Untuk menyelenggarakan pemerintahan yang demokratis, profesional dan bersih, dan sekaligusmemiliki ciri-ciri kebudayaan dan jati diri rakyat Papua, serta mengakomodasikan sebanyak mungkin kepentingan penduduk asli Papua, perlu dibentuk empat badan/lembaga, yaitu LembagaEksekutif (Bagian Ketiga UU No.21 tahun 2001) Lembaga ini di tingkat provinsi dipimpin olehseorang gubernur dan di tingkat Kabupaten/kota dipimpin oleh Bupati atau Walikota.Selain hal-hal yang diatur secara khusus dalam Undang Undang Otonomi Khusus Papua ini,Provinsi Papua tidak lagi menggunakan Undang Undang No 32/2004 (
berlaku azas lex spesialis
)
 
tentang Pemerintahan Daerah yang berlaku secara umum bagi seluruh daerah di Indonesia. DiPapua sendiri juga diberlakukan Undang undang daerah yang lazim disebut Perda, namun diPapua sendiri disebut Peradasus dan Perdasi (Peraturan Daerah Khusus dan Peraturaran DaerahIstimewa).Otonomi Khusus Papua telah terjadi pergeseran paradigma dalam penyelenggaraan pemerintahandi provinsi Papua. Pemerintahan yang semula diselenggarakan atas duet pemerintah dan DPRDkini berubah menjadi trio alias "
hree in One
". Artinya, keputusan terhadap penyelenggaraan pembangunan diatur oleh tiga komponen utama, yakni Pemerintah, Dewan Perwakilan RakyatPapua (sebelumnya, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) dan Majelis Rakyat Papua (MRP).Jelaslah, pemerintahan dengan model tiga komponen yang menjadi pilar utama seperti ini dari 32Provinsi di Indonesia, baru hanya terdapat di Provinsi Papua. Sebelum hadirnya Majelis RakyatPapua (MRP), DPRD (kini DPRP) adalah lembaga penetap berbagai Peraturan Daerah (Perda).Adapun Pemerintah dalam hal ini Gubernur dan berbagai perangkatnya sebagai Badan Eksekutif yang bertanggung jawab penuh dalam penyelenggaraan pemerintahan di Provinsi Papua. MajelisRakyat Papua (MRP) hadir sebagai sebuah lembaga baru yang merupakan representasi KulturalOrang Asli Papua. Meskipun secara
de jure
dan
de facto
lembaga ini hadir agak terlambat, yakni3 tahun setelah adanya UU Otsus, yakni tahun 2004 melalui Keputusan Presiden RI Nomor 54Tahun 2004, tertanggal 23 Desember 2004. Lembaga ini memiliki wewenang utama dalamrangka perlindungan hak-hak Orang Asli Papua dengan berlandaskan pada penghormatanterhadap adat dan budaya, pemberdayaan perempuan, dan pemantapan kerukunan hidup beragama (pasal 1 butir ke-6).Sebelum Perdasus (Perda otonomi khusus) dan Perdasi (Perda Istimewa) diberlakukan di Papua,Perda yang pernah diberlakukan tetap menganut pada Undang Undang Pemerintahan Daerahyakni UU 5/1974, UU No. 22/1999 dan UU 32/2004 yang kesemuanya mengatur tentang pemerintahan daerah. Pembentukan parlemen di Papua juga menganut undang undang tersebutdisamping Undang undang Susduk (Susunan dan Kedudukan DPR, DPRD). Parlemen tadi berfungsi sebagai badan legislatif daerah seperti tertuang dalam UU 5/1974 dan parlemen berfungsi sebagai lembaga legislatif daerah dalam UU No 22/1999.Istilah ³otonomi´ dalam Otonomi Khusus diartikan sebagai kebebasan bagi rakyat Papua untuk mengatur dan mengurus diri sendiri, sekaligus pula berarti kebebasan untuk berpemerintahansendiri dan mengatur pemanfaatan kekayaan alam Papua untuk sebesar-besarnya kemakmuranrakyat Papua dengan tidak meninggalkan tanggung jawab untuk ikut serta mendukung penyelenggaraan pemerintahan pusat dan daerah-daerah lain di Indonesia yang memangkekurangan. Hal lain yang tidak kalah penting adalah kebebasan untuk menentukan strategi pembangunan sosial, budaya, ekonomi dan politik yang sesuai dengan karakteristik dankekhasan sumberdaya manusia serta kondisi alam dan kebudayaan orang Papua.
5
 Pada saat otonomi khusus belum dilaksanakan secara optimal, pada 15 Oktober 2008 di London,Inggris diselenggarakan pertemuan sekitar 30 aktivis Papua Merdeka dan beberapa anggota parlemen (2 dari Inggris dan masing-masing 1 dari Vanuatu dan Papua Nugini). Pertemuan inimembentuk forum yang disebut
 International Parliamentarians for West Papua (IPWP)
. Nampaknya, para aktivis penyelenggara mencoba mengulang sukses
 International  Parliamentarians for East 
imor (IPE 
 )
yang sukses mendorong kemerdekaan Timor Leste.
6
 

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->