Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
0Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
13_Chapter7

13_Chapter7

Ratings: (0)|Views: 90|Likes:
Published by Karunia Rohadhi

More info:

Published by: Karunia Rohadhi on Jan 14, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

01/14/2012

pdf

text

original

 
328
BAB VIIMEKANISME PENEGAKAN HAK ASASI MANUSIA NASIONALA.
 
Pendahuluan
Perkembangan pengaturan hukum hak asasi manusia di dunia internasionalmemberikan dampak besar bagi Indonesia. Seakan tidak ingin tertinggal dengan negara-negara lain, Indonesia dengan cepat membangun mekanisme penegakan hak asasimanusia, di samping serangkaian proses legislasi yang telah dilakukan. Pada BAB iniakan diuraikan mekanisme penegakan hak asasi manusia di Indonesia secara detilmenyangkut beberapa institusi yaitu Mahkaham Konstitusi, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Komisi Nasional Perempuan danKomisi Ombudsman Nasional.
B.
 
Mahkamah Konstitusi
Perkembangan pengaturan hak asasi manusia di Indonesia telah dipengaruhi olehperubahan politik setelah kejatuhan Presiden Soeharto tahun 1998. Sidang IstimewaMPR bulan November 1998, misalnya, menghasilkan Ketetapan No. XVII/MPR/1998tentang Hak Asasi Manusia dan disusul dengan penerbitan Undang-Undang Nomor 39Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Ketentuan lebih ekstensif tentang hak asasimanusia dicantumkan pula dalam
Perubahan Ketiga Undang-undang Dasar 1945
 (tahun 2000), meskipun terdapat kemiripan rumusan antara hasil amandemen konstitusidengan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 dan Ketetapan No. XVII/MPR/1998.Menurut Pasal 28I ayat (4) Undang-Undang Dasar 1945, negara berkewajibanuntuk melindungi, memajukan, menegakkan dan memenuhi hak asasi manusia(rumusan yang dalam instrumen interasional dirumuskan sebagai kewajiban
to protect,to promote, to implement or enforce and to fulfill human rights
). Bagaimana hak asasimanusia ditegakkan di hadapan ancaman-ancaman kekuasaan yang tak perlu danberlebihan, apa lagi yang bersalah-guna (
corrupt 
)? Dalam kaitan ini penting pula untuk memeriksa mekanisme penyampaian keluhan public (
 public complaints procedure
),
439
 
439
Berbagai ketentuan dalam kedudukan sebagai konsumen dari layanan pemerintahan.
 
329peradilan administrasi/tata-usaha negara,
440
peradilan di bawah Mahkamah Agung(MA), peradilan hak asasi manusia,
441
komisi kebenaran dan rekonsiliasi (KKR),
442
 maupun pengujian undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar 1945 olehMahkamah Konstitusi (MK).
443
 Pada dasarnya, secara
strict 
wewenang Mahkamah Konstitusi menguji undang-undang terhadap konstitusi merupakan uji konstitusionalitas sehingga dikenal sebagai
constitutional review
. Dalam pelaksanaannya di Indonesia, dan berbagai negara, ujikonstitusionalitas itu disandarkan kepada suatu alas hak (
legal standing
) bahwa undang-undang yang diuji telah merugikan hak dan/atau wewenang konstitusional pemohon
constitutional review
.
444
Rumusan ini perlu sedikit dijelaskan.
Pertama
, dirumuskansebagai “hak dan atau wewenang”. Wewenang konstitusional lebih terkait dengankewenangan lembaga negara yang berhak pula untuk memohon
constitutional review
 terhadap undang-undang dalam hal suatu undang-undang dinilai bertentangan dengankonstitusi (dalam hal ini menyangkut kewenangan lembaga negara pemohonpengujian).
445
 
Kedua
, hak konstitusional lebih dekat dengan jaminan perlindungan hak asasi manusia bagi warga negara. Sudut pandang kedua ini akan dibahas lebih lanjut.
440
UU No. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, diubah dengan UU No. 9 Tahun2004.
441
Pasal 28 jo. UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM.
442
UU No. 27 Tahun 2004 tentang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi disetujui bersama olehDPR dan Pemerintah, September 2004. Tetapi keseluruhan UU KKR 2004 dibatalkan oleh MK dalamPutusan No. 006/PUU-IV/2006.
443
Pasal 24C UUD RI jo. UU No. 18 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. Pengujianundang-undang merupakan salah satu wewenang MK. Wewenang lainnya adalah memutus sengketakewenangan antarlembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh konstitusi, memutus perselisihanhasil pemilihan umum, memutus pembubaran partai politik, serta memutus dugaan DPR bahwa Presidendan atau Wakil Presiden telah melanggar hukum.
444
Pasal 51 UU No. 18 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. Pengertian “operasional”kerugian konstitusional tersebut ditentukan oleh MK, dalam Putusan No. 006/PUU-III/2005 dan PutusanNo. 010/PUU-III/2005, sebagai berikut: (a). harus ada hak konstitusional pemohon yang diberikan olehUUD 1945; (b). hak konstitusional tersebut dianggap dirugikan oleh berlakunya suatu undang-undang;(c). kerugian hak konstitusional tersebut bersifat spesifik dan aktual, atau setidak-tidaknya bersifatpotensial yang menurut penalaran yang wajar dapat dipastikan akan terjadi; (d). ada hubungan sebabakibat (causal verband) antara kerugian hak konstitusional dengan undang-undang yang dimohonkanpengujian; (e). ada kemungkinan bahwa dengan dikabulkannya permohonan, maka kerugian hak konstitusional yang didalilkan tidak akan atau tidak lagi terjadi.
 
445
UU MK 2003.
 Ibid 
.
 
330Secara kategoris, jaminan hak asasi manusia dalam Undang-Undang Dasar 1945mencakup hak-hak sosial-politik, hak-hak kultural dan ekonomi, hak-hak kolektif, hak atas pembangunan dan lain-lain. Jaminan hak asasi manusia dalam UUD RI tersebardalam sejumlah pasal antara lain 18B (2), 26, 27-28, 28A-28J (Bab XA), 29 (BabAgama), 31-32 (Bab Pendidikan dan Kebudayaan), 33-34 (Bab Ekonomi danKesejahteraan Sosial), 30 (Bab Pertahanan dan Keamanan). Jadi, pengaturankonstitusional mengenai hak asasi manusia tidak terbatas pada Bab XA tentang HAM.Di sini perlu diberikan catatan tentang perumusan hak asasi manusia dalamUndang-Undang Dasar 1945.
Pertama
, pada umumnya hak tersebut dirumuskan sebagaihak setiap orang atau
individual rights
. Hanya beberapa hak saja yang dirumuskansebagai hak warga negara, misalnya tentang kesempatan yang sama dalampemerintahan, hak dalam usaha pertahanan dan keamanan negara, dan hak memperolehpendidikan (berturut-turut lihat Pasal 28D ayat (3), Pasal 30 ayat (1) dan Pasal 31 ayat(1) UUD 1945).
Kedua
, perbedaan perumusan ini membawa implikasi. Perumusan hak asasimanusia sebagai hak perseorangan (individual) berarti memberi peluang untuk dijamindalam sistem hukum manapun (berdasarkan prinsip universalitas hak asasi manusia),meskipun peluang ini dapat terhalang oleh ketentuan prosedural hukum acara yanghanya memberi akses peradilan nasional kepada warga negara. Di sisi lain, perumusanhak-hak konstitusional sebagai hak warga negara hanya terbatas bagi warga negara yangbersangkutan (bukan sebagai hak semua orang).
Ketiga
, meskipun dirumuskan sebagai hak asasi manusia tetapi pelaksanaan hak konstitusional tertentu memang terkait dengan hubungan konstitusional (
constitutionaland political relations
) pemegang hak yang bersangkutan dengan konstitusi dan negara.Ini mencakup, misalnya, hak untuk memperoleh kesempatan yang sama (
equalopprtunity and treatment 
) di muka pemerintahan. Sebagai hak asasi manusia, hak seperti ini hanya dapat dipenuhi kepada warga negara. Begitu pula, “hak konstitusional”untuk menikmati kewajiban negara dalam menyediakan anggaran pendidikan sebesar 20persen dalam APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) maupun APBD(Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah), merupakan hak warga negara (perhatikanbahwa besaran anggaran merupakan pilihan politik dan hanya beberapa negara yangmenentukan besaran tersebut).

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->