Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
25Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Islam-Kristen Di Indonesia

Islam-Kristen Di Indonesia

Ratings:

4.25

(4)
|Views: 2,864 |Likes:
Published by Irfan Noor, M.Hum

More info:

Published by: Irfan Noor, M.Hum on Nov 10, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/09/2014

pdf

text

original

 
MENGURAI "BENANG KUSUT"SEJARAH HUBUNGAN ISLAM DAN KRISTEN DI INDONESIA 
Oleh: Irfan Noor
 Abstrak:
Indonesia sejak lama telah dikenal sebagai sebuah bangsayang memiliki keragaman dalam bidang budaya, etnik,bahasa juga agama. Keragaman yang telah menjadi cirimasyarakat Indonesia tersebut, tentunya bisa dikatakanmerupakan berkah tersendiri. Namun, di balik berkah yang ada tersebut, Indonesia pada dasarnya memiliki potensikonflik yang sangat tinggi di tingkat hubungan sosial, antarasesama warganya. Dalam sejarah panjangnya, konflik sosialyang sering terjadi di negeri ini tidaklah bisa dilepaskan dariberbagai keterlibatan agama sebagai sumber pemicumeluasnya eskalasi konflik tersebut. Realitas potensi konflik seperti itulah yang akan menjadi fokus kajian dalam artikelini. Melalui refleksi kritis atas buku
Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia 
yang ditulis Jan S. Aritonang, penulismenyimpulkan bahwa konflik antar agama (Islam-Kristen)yang sering terjadi di Indonesia sering terkait dengandinamika kehidupan politik dan kekuasaan di negeri ini.
Kata-Kata Kunci:
 Multikulturalisme, Kristenisasi, Misionaris, Pergumulan, Hard Encounter 
.
Pendahuluan
Indonesia, yang sebelumnya dikenal dengan sebutan Hindia Belanda, dilihat darisudut pandang mana saja – geologis, historis, dan kultural -- merupakan sebuah negara danbangsa yang kompleks. Karena itu, bukanlah tanpa alasan jika "Bhinneka Tunggal Ika"yang merupakan semboyan resmi negara ini dirumuskan oleh para pendiri bangsa ini untuk tujuan menegaskan keragaman etnis dan kesatuannya. Terlepas dari keragaman etnisnya,
  
Tulisan ini merupakan pengembangan dari makalah yang telah dipresentasikan untuk Seminar dan Bedah Buku “Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia” dalam rangka DiesNatalis ke-73 STT Gereja Kalimantan Evangelis pada tanggal 02 Februari 2005 di Aula STT GKEBanjarmasin.
  
Irfan Noor adalah Dosen Fakultas Ushuluddin IAIN Antasari Banjarmasin. Alumniprogram strata-satu (S-1) jurusan Aqidah Filsafat fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta dan strata-dua (S-2) program studi Ilmu Filsafat Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Jogjakarta ini juga merupakan staf peneliti Lembaga Kajian Keislaman & Kemasyarakatan (LK-3)Banjarmasin.
1
 
termasuk terdapatnya lebih dari 250 bahasa daerah, masyarakat Indonesia juga memilikikeragaman agama-agama yang dianut oleh penduduknya.
1
Keragaman yang telah menjadi ciri masyarakat Indonesia tersebut, tentunya, bisadikatakan merupakan berkah tersendiri yang tidak semua Negara di dunia ini dapatmemilikinya. Namun demikian, di balik berkah yang ada tersebut, Indonesia pada dasarnyamemiliki potensi untuk terjadinya konflik di tingkat hubungan sosial, antara sesama warganya. Dalam sejarah panjangnya, konflik sosial yang sering terjadi di negeri ini sering tidaklah bisa dilepaskan dari berbagai keterlibatan agama sebagai sumber pemicu meluasnyaeskalasi konflik tersebut. Sebut saja di sini, sebagai contoh, adalah konflik Ambon danPoso.Oleh karena itu, penelusuran kembali perjalanan historis perjumpaan agama-agama di Indonesia merupakan tema penting yang patut untuk diangkat sebagai salah satucara untuk mengurai "benang kusut" carut-marut perjalanan agama-agama di tengah-tengahdinamika sosial bangsa ini. Realitas keagamaan seperti di atas sangatlah kontekstual ketikadijadikan titik-tolak untuk memberikan penilaian atas terbitnya buku
Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia 
yang ditulis oleh Jan S. Aritonang,
2
 sebuah buku yang padadasarnya adalah upaya untuk melakukan penelusuran historis atas dinamika perjalananagama-agama, dengan fokus telaah pada perjumpaan Kristen dan Islam yang terkait dengankehidupan politik dan kekuasaan di Indonesia.
3
Bahasan buku yang mencakup sekitar limaabad (abad 16-21) perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia ini menunjukkan bahwaperjumpaan yang terjadi antar kedua agama tersebut sering kali justru menampilkan"pergumulan" ( 
strunggle 
 ) yang banyak terkait dengan kehidupan politik dan kekuasaan.
 Agama di antara Realitas Transendental dan Historisitas Keberagamaan Manusia
 Jika memang konflik sosial yang terjadi di negeri ini sering tidak bisa dilepaskandari berbagai keterlibatan agama, lalu bagaimana sesungguhnya realitas agama itu sendiri ? Apakah, secara struktural, agama pada dirinya berdimensi tunggal atau justru berdimensiplural ?
1
Alwi Shihab,
 Membendung Arus; Respon Gerakan Muhammadiyah terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia 
, (Bandung: Mizan, 1998), hlm. 16.
2
Jan S. Aritonang,
Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia 
, (Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia, 2004). Buku yang ditulis setebal 666 halaman dan ditambah 27 halaman untuk "Kata Pengantar" yang ditulis oleh Azyumardi Azra (termasuk indeks dan daftar singkatan) inimerupakan buah karya seorang Pendeta yang sangat
concern 
atas perwujudan kesaling-pemahamanantar agama, khususnya Islam-Kristen.
3
Ibid., hlm. 2.
2
 
 Agama atau fenomena agama merupakan "pelembagaan" pengalaman religiusitas(pengalaman iman), pengalaman disapa oleh Yang Ilahi, yakni Sang Sumber Hidup,Pencipta Yang Maha Mengatasi Dunia, Sang Arah dan Tujuan Hidup yang dialami manusia.Oleh karena itu, iman sebagai tanggapan manusia terhadap "disapa" itu merupakan relasimanusia dengan Yang Ilahi. Dalam relasi ini, manusia menanggapi dengan penuhpenyerahan dan mengarahkan hidupnya agar mendapatkan arti dari Yang Ilahi. Karenapengalaman iman itu biasanya dihayati bersama dengan umat (sesama), maka manusiaberagama mempunyai lingkup sosial dan penampilan sosialnya yang secara "lembagawi"tampil dalam agama.
4
 Walaupun Agama selalu berhubungan dengan pengalaman dan perjumpaandengan "Yang Ilahi" (Rudolf Otto, F. Heiler, M. Eliade, G. Mensching). Entah kenyataan Yang Ilahi itu dipikirkan sebagai satu kekuatan tunggal, sebagai kekuatan-kekuatan (roh-roh, setan-setan, malaikat) atau sebagai "seorang" pribadi Allah; sebagai keilahian yang impersonal atau sebagai suatu kenyataan yang definitif ( 
 Nirwana, kasunyutan, Tao
 ). Agamajuga, pada dasarnya, merupakan suatu realisasi sosio-individu yang hidup (dalam ajaran,tingkah laku, ritus/upacara keagamaan) dari suatu relasi dengan yang melampaui kodratmanusia (Yang Ilahi) dan dunianya dan berlangsung lewat tradisi manusia dan dalammasyarakatnya.
5
 Pada konteks inilah, agama menjadi suatu konstanta dalam pengalaman manusia.Ia bergumul di antara kategori-kategori manusia yang terhingga yang cenderung untuk membatasinya dan dengan keterbukaannya terhadap transendensi yang cenderung melampauinya. Secara dalam, agama tertanam dalam kehidupan manusia yang fana, tetapiagama juga menyatu ke dalam kehidupan Ilahi yang abadi.
6
Oleh karena itu, agama menjadisangat eksistensial dan sangat pribadi. Karena karakteristiknya yang sangat eksistensial dansangat pribadi inilah, agama mampu mengikat komitmen pribadi secara total dari manusia. Agama, akhirnya, tidak hanya menjadi soal "percaya" ( 
to believe 
 ) melainkan juga soal"mempercayakan diri" ( 
to trush 
 ),
7
sehingga dalam sejarah perjalanan manusia agama begitu
4
Mudji Sutrisno, "Agama, Harkat Manusia dan Modernisme", dalam TH. Sumartana, dkk (ed.),
Dialog: Kritik dan Identitas Agama 
, (Yogyakarta: DIAN/INTERFIDIE, 1993), hlm. 199.
5
YB. Sudarmanto,
 Agama dan Politik Kekerasan 
, (Yogyakarta: Kanisius, 1989), hlm. 17.
6
William McInner, "Agama di Abad Duapuluh Satu", diterjemahkan oleh Dewi Yaminah, dalam Jurnal
Ulumul Qur'an 
, No. 5, Vol. II, 1990, hlm. 63.
7
Eka Darmaputra, "Spiritualitas Baru dan Kepedulian terhadap Sesama", dalam TH.Sumartana, dkk (ed.),
Spiritualitas Baru: Agama dan Aspirasi Rakyat,
(Yogyakarta: DIAN /INTERFIDIE, 1994), hlm. 55.
3

Activity (25)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
marhaendy liked this
Putroe2 liked this
Afhend Giry liked this
Benis Gosoma liked this
Evelyn Naomi liked this
hsoerockbaja liked this
Qotmira Rizki liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->