Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
43Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Perda Syari'at Islam Di Indonesia (Edisi PDF)

Perda Syari'at Islam Di Indonesia (Edisi PDF)

Ratings:

4.83

(6)
|Views: 8,975|Likes:
Published by Irfan Noor, M.Hum

More info:

Published by: Irfan Noor, M.Hum on Nov 10, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/09/2014

pdf

text

original

 
PERDA SYARI'AT ISLAM(Kajian tentang Geneologi Penerapan Syari'at Islamdi Indonesia)Oleh: Irfan Noor, M.Hum
.
 Abstrak:
Maraknya gerakan formalisasi syari'at Islam di berbagaidaerah di Indonesia ke dalam bentuk Perda berbasissyari'at Islam bukanlah tanpa konteks tertentu.Penelusuran atas berbagai kecenderungan yang terjadi diIndonesia menunjukkan bahwa lahirnya gerakan initerkait dengan buruknya pelayan negara akibat prosesreformasi yang mengalami pembusukan dari dalam. Olehkarena itu, ketika muncul tawaran ideologi alternatiberbasis Islam mampu berkelindan dengan semangatidentitas lokal, maka wacana penerapan syari'at Islam inidirespon sebagai antitesa bagi hegemoni negara pascaOrde Baru yang mulai menurun intensitas atas masyarakatsipil.
Kata-Kata Kunci:
Syari'at Islam ,Formalisasi Agama, Reformasi, Hegemoni, dan Identitas Lokal 
.
Pendahuluan
Salah satu arus balik gerakan reformasi yang bisa disaksikan saat ini, selainkembalinya kekuatan Orde Baru dan militer dalam panggung politik, jugamaraknya gerakan formalisasi Syari'at Islam di berbagai daerah.
1
Gerakan ini bisadianggap sebagai arus balik reformasi karena ia bertendensi ke arah terbentuknya"komunalisme agama" yang bercorak teokratik ke dalam pluralitas masyarakat,sesuatu yang sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip demokrasi yang menjadi"spirit" awal gerakan reformasi. Asumsi ini bisa dipahami karena munculnya gerakan formalisasi agama itusendiri bertepatan dengan runtuhnya rezim Orde Baru pada tahun 1998,
2
tetapimenjadi bola polemik nasional ketika MPR menggelar Sidang Tahunan pada tahun1999 dan terus menggelinding pada Sidang Tahunan berikutnya. Ketika itu,sebagian kelompok umat Islam mendesakkan dicantumkan kembali tujuh kata yangpernah dicoret dari Piagam Jakarta, yakni "dengan kewajiban menjalankan Syari'atIslam bagi pemeluknya", ke dalam konstitusi Republik Indonesia, UUD 1945.Dengan demikian, di Indonesia, pembicaraan tentang posisi Syari'at Islam dalam
  
 
Irfan Noor, M.Hum adalah Dosen fakultas Ushuluddin IAIN Antasari Banjarmasin danstaff peneliti pada Lembaga Kajian Keislaman & Kemasyarakatan (LK-3) Banjarmasin.
1
 
konstitusi, setidak-tidaknya, pernah dibicarakan dalam lima kali kesempatan,yakni: pada sidang BPUPKI-PPKI tahun 1945, sidang Majelis Konstituante tahun1956-1959, Sidang Umum MPRS tahun 1966-1968, Sidang Tahunan MPR tahun 2000,dan Sidang Tahunan MPR tahun 2001. Dengan pengalaman kegagalan di tingkatnasional ini, muncul skenario baru dalam perjuangan formalisasi Syari'at Islam,yakni perjuangan di tingkat daerah melalui pencantuman ke dalam PeraturanDaerah (Perda) atau peraturan perundang-undangan lain di tingkat daerah.Di Kalimantan Selatan, fenomena formalisasi syari'at Islam ke dalam bentukPerda mulai menggejala secara khusus di kabupaten Banjar, Martapura. Sebagaiupaya meningkatkan citra Martapura sebagai kota Serambi Mekkah, maka PemkabBanjar dan DPRD-nya mulai tahun 2001 mengeluarkan Perda Puasa Ramadhan dankemudian disusul Perda Khatam Qur'an dan Perda Pengelolaan Zakat tahun 2004,serta Raperda Jum'at Khusu' tahun 2005.
3
Dengan terbitnya Perda-perda semacamitu, akhirnya kota Banjarmasin
4
dan Amuntai,
5
kab. Hulu Sungai Utara pun danbeberapa kabupaten di Kalimantan Selatan turut mengikuti gejala yang terjadi dipemerintahan kabupaten Banjar di atas.
Geneologi Penegakan Syari'at Islam
 Ada sebagian pendapat mengatakan munculnya gerakan formalisasi Syari'atIslam di wilayah politik bangsa ini sesungguhnya tidak bisa dilepaskan darikemunculan kelompok-kelompok Islam garis keras di tanah air akhir-akhir ini.Sementara kemunculan kelompok-kelompok Islam garis keras di Indonesia,menurut beberapa pakar, terkait dengan lahirnya kelompok-kelompok Islam gariskeras di dunia Sunni umumnya saat ini, yang merupakan bentuk metamofosissalafisme abad ke-19.
6
Adapun karakter khas yang berkembang dalam salafismeabad 21 ini adalah suatu gerakan yang tidak hanya bentuk purifikasi keagamaansemata, tapi menjadi ideologi perlawanan terhadap berbagai paham yang tidaksesuai dengan nilai-nilai agama, seperti modernisme, sekularisme, kapitalisme,dan lain-lain. Dengan demikian, gerakan salafisme abad 21 ini merupakan gerakanyang pada mulanya gerakan pemurnian agama kemudian mengalami perumusanulang dan menjadi sebuah ideologi untuk merespon perkembangan-perkembangan yang terjadi pada abad ini.
7
Namun demikian, gerakan salafi radikal di Indonesia tidak hanyadisebabkan oleh faktor-faktor di atas. Gerakan ini juga muncul sebagai responterhadap buruknya pelayanan negara terhadap masyarakat. Oleh karena kuatnya
2
 
kontrol negara atas masyarakat pada masa rezim Orde Baru, maka gerakan ini barubisa muncul bersamaan dengan ditiupkannya "angin kebebasan" di masa-masareformasi saat ini.
8
 Pengerasan identitas Keislaman yang mendasari gerakan formalisasi syari'atIslam di Indonesia, dengan demikian, terjadi sebagai akibat dari pola relasinegara-masyarakat sipil yang buruk. Oleh karenanya, jika pelusuran atas polarelasi negara-masyarakat sipil tersebut diarahkan kepada mekanismepemerintahan yang berjalan selama Orde Baru, maka sesungguhnya pola relasinegara-masyarakat sipil yang buruk itu tidak bisa dilepaskan dari bagiankecenderungan rezim ini untuk menempatkan negara sebagai kekuatandeterminan dalam rangka mendukung kebijakan utamanya untuk “pembangunan”bangsa ini.
9
Penekanan pada kebijakan pembangunan ini memang mempunyailandasan dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Hal ini karena dari duadekade perjalanan bangsa ini, sejak kemerdekaan, aspek pembangunancenderung terabaikan akibat dinamika politik yang tidak terkendali.
Sejak adanya kebijakan yang demikian inilah, maka sejak tahun 1970-an,seluruh organisasi sosial politik secara ketat dikontrol melalui sejumlah regulasi.Oleh karenanya, seiring dengan kebijakan itu, masa “politik aliran” yang telahmendominasi politik Indonesia sampai awal tahun 1970-an menjadi berakhir.
11 
Puncaknya adalah melalui sebuah kebijakan tentang asas tunggal PancasilaIndonesia memasuki “era purifikasi ideologi” yang merupakan tahapan paling barudari perkembangan masyarakat bangsa ini saat itu.
Dengan sendirinya posisi agama di negeri ini secara pelan-pelan tidak lagimengalami politisasi. Berbagai kebijakan di bidang politik dan ideologi yangdigerakkan oleh negara inilah yang akhirnya berimplikasi pada kebijakandepolitisasi Islam dalam sistem politik Orde Baru. Agama dan kaum agamawan,karenanya, berada dalam suatu posisi depensif berhadapan dengan kekuasaanNegara dan hegemoni ideologinya. Jika kembali kepada persoalan kebijakan negara atas keberadaanmasyarakat sipil berbasis Islam yang telah mengakar di beberapa daerah diIndonesia, maka lahirnya kebijakan negara yang cenderung memarjinalisasikanmasyarakat sipil berbasis Islam ini sesungguhnya merupakan perwujudan darikecenderungan negara Orde Baru kepada “purifikasi ideologi” tersebut. Apa yang sesungguhnya tampak dari perwujudan kecenderungan negara iniadalah wujud hegemoni negara terhadap keberadaan masyarakat sipil di negeri
3

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->