Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
4Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Pendekatan Metakognitif Sebagai Alter Nat If Pembelajaran Matematika Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa PGSD

Pendekatan Metakognitif Sebagai Alter Nat If Pembelajaran Matematika Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa PGSD

Ratings: (0)|Views: 317 |Likes:
Published by Martha Holmes

More info:

Published by: Martha Holmes on Jan 18, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/23/2013

pdf

text

original

 
JURNAL,
 
Pendidikan Dasar
Nomor: 10 - Oktober 2008
Pendekatan Metakognitif Sebagai AlternatifPembelajaran Matematika Untuk MeningkatkanKemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa PGSD
Maulana Abstract 
This study is focused at revealing some efforts in improving students’ critical thinking skill through metacognitiveapproach in mathematics learning. The research is urged to conduct with consideration that critical thinking skill is amust for students in tertiary level; nonetheless, reality shows that critical thinking skill among students in tertiary level canbe considered as low. This is an experimental study with randomize pretest-posttest control group design. The subjectsof the research are students of PGSD Kampus Sumedang West Java province as the experiment group and studentsof PGSD Kampus Serang Banten province as the control group. In teaching and learning process, experimental groupwas treated with metacognitive approach meanwhile control group was treated conventionally. The instruments involved to obtain the data are critical thinking skill test, students’ attitude scale-questionnaire, interview guidance, observation
sheet,andll-inlistforlecturers.Dataanalysiswereperformedbothquantitativelyandqualitatively.Quantitativeanalysiswasappliedtothetestresulttodisplaythedifferenceofmeansbetweentwosamplegroups.Qualitativeanalysiswas
applied to explain teaching and learning activity, students’ attitude and lecturers’ attitude toward the process of teaching and learning. The result has shown that: (1) students’ critical thinking skill is improved better among them who weretaught by metacognitive approach comparing to those who were taught by conventional approach; (2) Metacognitiveapproach is effective in improving the critical thinking skill of high-achiever, middle-achiever as well as low-achiever students in experiment group; (3) Students’ activities were also improved in quality; (4) Both students and lecturers have positive and strong-supported attitude toward the learning.
Kata Kunci:
critical thinking skill, metacognitive approach
PENDAHULUAN
 B
erpikir merupakan satu keaktifan pribadimanusia yang mengakibatkan penemuanyang terarah kepada suatu tujuan. Berpikir  juga merupakan suatu kegiatan mental untuk membangundan memperoleh pengetahuan. Dalam suatu prosespembelajaran, kemampuan berpikir peserta didik dapatdikembangkan dengan memperkaya pengalaman yangbermakna melalui persoalan pemecahan masalah.Pernyataan tersebut sejalan dengan apa yangdikemukakan oleh Tyler (Mayadiana, 2005) mengenaipengalaman atau pembelajaran yang memberikankesempatan kepada peserta didik untuk memperolehketerampilan-keterampilan dalam pemecahan masalah,sehingga kemampuan berpikirnya dapat dikembangkan.Betapa pentingnya pengalaman ini agar peserta didikmempunyai struktur konsep yang dapat berguna dalammenganalisis serta mengevaluasi suatu permasalahan.Salah satu kemampuan berpikir yang termasukke dalam kemampuan berpikir tingkat tinggi adalahkemampuan berpikir kritis. Kemampuan berpikir kritisdapat dikembangkan melalui pembelajaran matematika disekolah ataupun perguruan tinggi, yang menitikberatkanpada sistem, struktur, konsep, prinsip, serta kaitan yangketat antara suatu unsur dan unsur lainnya. Matematikadengan hakikatnya sebagai ilmu yang terstruktur dansistematis, sebagai suatu kegiatan manusia melaluiproses yang aktif, dinamis, dan generatif, serta sebagaiilmu yang mengembangkan sikap berpikir kritis, objektif,dan terbuka, menjadi sangat penting dikuasai oleh pesertadidik dalam menghadapi laju perubahan ilmu pengetahuandan teknologi yang begitu pesat.Kenyataannya, seperti yang diungkapkan oleh Begle(Darhim, 2004), Maier (1985) dan Ruseffendi (1991),tidak dapat dipungkiri bahwa anggapan yang saat iniberkembang pada sebagian besar peserta didik adalahmatematika bidang studi yang sulit dan tidak disenangi.Hanya sedikit yang mampu menyelami dan memahamimatematika sebagai ilmu yang dapat melatih kemampuanberpikir kritis.
 
JURNAL,
 
Pendidikan Dasar
Nomor: 10 - Oktober 2008
Bersandar pada alasan yang dikemukakan di atas, jelaslah bahwa kemampuan berpikir kritis peserta didiksangat penting untuk dikembangkan. Oleh karena itu, guruatau dosen hendaknya mengkaji dan memperbaiki kembalipraktik-praktik pengajaran yang selama ini dilaksanakan,yang mungkin hanya sekadar rutinitas belaka.Ironisnya, kemampuan berpikir kritis pesertadidik di satu sisi memang sangat penting untuk dimilikidan dikembangkan, akan tetapi di sisi lain ternyatakemampuan berpikir kritis peserta didik tersebut masihkurang. Hal ini dapat dilihat dari hasil studi pendahuluanyang dilakukan oleh Maulana (2005) selama beberapasemester terhadap mahasiswa program D-2 PGSD yangberasal dari SMA, SMK, MA, dan SPG (khusus pada kelaskaryawan), dengan program studi IPA dan NON-IPA. Hasilyang diperoleh dari studi tersebut, baik untuk mahasiswayang berlatar belakang IPA maupun NON-IPA, ternyatakurang memuaskan. Tampak dari nilai mereka dengan
rata-rata kurang dari 50% dari skor maksimal untuk
kedua kelompok tersebut. Tinjauan yang lebih mendalampada studi pendahuluan tersebut memberikan gambaranbahwa kebanyakan mahasiswa masih terlihat kesulitandalam memahami konsep matematika maupun dalampemahaman prosedural. Indikasi lainnya, mahasiswa juga cenderung takut memberikan gagasan, komentar, juga kurang percaya diri dalam melakukan komunikasimatematik (Maulana, 2005).Fakta yang mendukung studi pendahuluan tersebutadalah laporan penelitian Mayadiana (2005), bahwakemampuan berpikir kritis mahasiswa calon guru SD masih
rendah, yakni hanya mencapai 36,26% untuk mahasiswaberlatar belakang IPA, 26,62% untuk mahasiswa berlatar belakang non-IPA, serta 34,06% untuk keseluruhan
mahasiswa. Semua informasi yang ditemukan di lapangantersebut—mengenai rendahnya kemampuan berpikir kritis mahasiswa PGSD—tidak selayaknya dibiarkanbegitu saja. Akan tetapi, perlu kiranya dilakukan sebuahupaya untuk menindaklanjutinya dalam rangka perbaikan,salah satu alternatifnya adalah dengan menerapkansuatu strategi dan pendekatan pembelajaran yang lebihinovatif.Menyadari pentingnya suatu strategi dan pendekatanpembelajaran untuk mengembangkan kemampuanberpikir mahasiswa, maka mutlak diperlukan adanyapembelajaran matematika yang lebih banyak melibatkanmahasiswa secara aktif dalam proses pembelajaranitu sendiri. Hal ini dapat terwujud melalui suatu bentukpembelajaran alternatif yang dirancang sedemikian rupasehingga mencerminkan keterlibatan mahasiswa secaraaktif yang menanamkan kesadaran metakognisi.Penulis memandang bahwa pendekatan metakognitif memiliki banyak kelebihan jika digunakan sebagai alternatif pembelajaran matematika untuk mengembangkankemampuan berpikir kritis mahasiswa. Pandangan initentu saja berdasar, yakni dengan mengembangkankesadaran metakognisinya, mahasiswa terlatih untukselalu merancang strategi terbaik dalam memilih,mengingat, mengenali kembali, mengorganisasi informasiyang dihadapinya, serta dalam menyelesaikan masalah.Melalui pengembangan kesadaran metakognisi,mahasiswa diharapkan akan terbiasa untuk selalumemonitor, mengontrol dan mengevaluasi apa yang telahdilakukannya.Dari uraian di atas, sangat menarik dan perludilakukan suatu studi mengenai alternatif pembelajaranmatematika dengan pendekatan metakognitif untukmeningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswaPGSD, sikap mahasiswa dan tanggapan dosen terhadappembelajaran matematika yang menggunakan pendekatanmetakognitif, serta faktor-faktor apa saja yang dapatmendukung atau menghambat pembelajaran matematikayang menggunakan pendekatan metakognitif.
RUMUSAN DAN BATASAN MASALAH
Bertolak dari pemikiran di atas, maka permasalahandalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:1. Apakah kemampuan berpikir kritis mahasiswayang mendapat pembelajaran matematika denganmenggunakan pendekatan metakognitif lebih baikdaripada mahasiswa yang mendapat pembelajarankonvensional?2. Apakah terdapat perbedaan peningkatan kemampuanberpikir kritis antara subkelompok rendah,subkelompok sedang, dan subkelompok tinggi padakelompok mahasiswa yang mendapat pembelajaranmatematika dengan menggunakan pendekatanmetakognitif?
3.
Bagaimanakah sikap mahasiswa terhadappembelajaran matematika yang menggunakanpendekatan metakognitif?4. Bagaimanakah tanggapan dosen terhadappembelajaran matematika yang menggunakanpendekatan metakognitif?5. Faktor-faktor apa saja yang dapat mendukungatau menghambat pembelajaran matematika yangmenggunakan pendekatan metakognitif?
 
JURNAL,
 
Pendidikan Dasar
Nomor: 10 - Oktober 2008
HIPOTESIS PENELITIAN
Hipotesis yang akan diuji pada penelitian ini adalahsebagai berikut:1. Kemampuan berpikir kritis mahasiswa yangmendapat pembelajaran matematika denganmenggunakan pendekatan metakognitif lebih baikdaripada mahasiswa yang mendapat pembelajarankonvensional.2. Terdapat perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kritis antara subkelompok rendah, subkelompoksedang, dan subkelompok tinggi pada kelompokmahasiswa yang mendapat pembelajaran matematikadengan menggunakan pendekatan metakognitif.
STUDI LITERATUR
1. Berpikir Kritis
Kemampuan manusia menyesuaikan diri denganlingkungan untuk mempertahankan kelangsunganhidupnya sangat bergantung pada kemampuanberpikirnya. Hal inilah yang disebutkan oleh Purwanto(1998) bahwa berpikir merupakan daya saing yang palingutama.Proses berpikir juga merupakan suatu kegiatanmental yang disadari dan diarahkan untuk maksudtertentu. Maksud yang mungkin dicapai dari berpikir selainuntuk membangun dan memperoleh pengetahuan, jugauntuk mengambil keputusan, membuat perencanaan,memecahkan masalah, serta untuk menilai tindakan(Liputo, 1996).Berpikir merupakan suatu proses yang mempengaruhipenafsiran terhadap rangsangan-rangsangan yangmelibatkan proses sensasi, persepsi, dan memori (Sobur,
2003). Pada saat seseorang menghadapi persoalan,
pertama-tama ia melibatkan proses sensasi, yaitumenangkap tulisan, gambar, ataupun suara. Selanjutnya iamengalami proses persepsi, yaitu membaca, mendengar,dan memahami apa yang diminta dalam persoalantersebut. Pada saat itu pun, sebenarnya ia melibatkanproses memorinya untuk memahami istilah-istilah baruyang ada pada persoalan tersebut, ataupun melakukanrecall dan recognition ketika yang dihadapinya adalahpersoalan yang sama pada waktu lalu (Matlin, 1994).Dalam proses berpikir, termuat juga kegiatanmeragukan dan memastikan, merancang, menghitung,mengukur, mengevaluasi, membandingkan,menggolongkan, memilah-milah atau membedakan,menghubungkan, menafsirkan, melihat kemungkinan-kemungkinan yang ada, menganalisis, sintesis, menalar atau menarik kesimpulan dari premis yang ada,
menimbang, dan memutuskan (Sobur, 2003).
DePorter dan Hernacki (1999: 296) mengelompokkancara berpikir manusia ke dalam beberapa bagian, yaitu:berpikir vertikal, berpikir lateral, berpikir kritis, berpikir analitis, berpikir strategis, berpikir tentang hasil, danberpikir kreatif. Menurut keduanya, berpikir kritis adalahberlatih atau memasukkan penilaian atau evaluasi yangcermat, seperti menilai kelayakan suatu gagasan atauproduk.
Sementara itu, Presseisen (Angeli, 1997; Liliasari,
1996) membedakan kemampuan berpikir menjadidua bagian, yakni kemampuan berpikir dasar dankemampuan berpikir tingkat tinggi yang merupakanperpaduan antara beberapa kemampuan berpikir dasar.
Presseisen (Liliasari, 1996: 31) menyebutkan bahwa
yang termasuk kemampuan berpikir tingkat tinggi adalahkemampuan pemecahan masalah (problem solving),pengambilan keputusan (decision making), berpikir kreatif (creative thinking), dan berpikir kritis (critical thinking).Masing-masing tipe berpikir tersebut dapat dibedakanberdasarkan tujuannya, dan dalam hal ini berpikir kritisbertujuan untuk memberi pertimbangan atau keputusanmengenai sesuatu.Semua kemampuan berpikir tingkat tinggi yangdiungkapkan di atas dapat dikembangkan melaluipembelajaran, dan salah satu dari kemampuan tersebutadalah kemampuan berpikir kritis. Penulis merangkum
beberapa denisi berpikir kritis yang dikemukakan oleh
Norris (Fowler, 1996), Paul dan Scriven (1996), Ennis(2000), Quina (Syukur, 2004), Swartz dan Perkins(Hassoubah, 2004), Gerhand (Mayadiana, 2005), danSplitter (Mayadiana, 2005), yaitu bahwa berpikir kritis:
(1) adalah berpikir secara beralasan dan reektif dengan
menekankan pembuatan keputusan tentang apa yang
harus dipercayai atau dilakukan; (2) merupakan proses
kompleks yang melibatkan penerimaan dan penguasaan
data, analisis data, evaluasi, serta membuat seleksi; (3)
bertujuan untuk mencapai penilaian yang kritis terhadapapa yang akan kita terima atau apa yang akan kita lakukan
dengan alasan yang logis; (4) memakai standar penilaiansebagai hasil dari berpikir kritis dalam membuat keputusan;
(5) menerapkan berbagai strategi yang tersusun danmemberikan alasan untuk menentukan dan menerapkan
standar tersebut; dan (6) mencari dan menghimpun
informasi yang dapat dipercaya untuk dipakai sebagaibukti yang dapat mendukung suatu penilaian.Berpikir kritis sangat diperlukan oleh setiap oranguntuk menyikapi permasalahan dalam realita kehidupanyang tak bisa dihindari. Dengan berpikir kritis, seseorangdapat mengatur, menyesuaikan, mengubah, ataumemperbaiki pikirannya, sehingga ia dapat mengambilkeputusan untuk bertindak lebih tepat. Ungkapan sejalanmengenai orang yang berpikir kritis dikemukakan oleh

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->