Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
9Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Konsep Kafaah

Konsep Kafaah

Ratings: (0)|Views: 697 |Likes:
Published by maestro_taichi3591

More info:

Published by: maestro_taichi3591 on Jan 19, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/01/2013

pdf

text

original

 
KRITERIA KAFA’AH DALAM PEMIKIRAN FIQIH KLASIK 
(Studi tentang Pandangan Mazhab yang Empat tentang Kafa’ah)
PENDAHULUAN
Islam sebagai
ad-di>n
 
tentu sarat dengan ajaran-ajaran yang universaldan abadi. Ajaran-ajaran itu tertuang dalam dua sumber resmi, yaitu
al-Qur’a>n dan al-H}adis}
yang isinya mencakup berbagai aspek. Salah satuaspek yang terdapat dalam ajaran Islam tersebut adalah hukum Islam yangmerupakan bagian penting ajaran Islam.Hukum Islam memiliki daya lentur yang tampak dari minimnya ayat-ayathukum (
a>ya>t al-ah}ka>m
) dalam Qur’an dan hadis-hadis hukum(
h}adis} al-ah}ka>m
). Di sini terlihat bahwa ada peluang adaptabilitashukum Islam.Kelenturan Hukum Islam ini terbukti dengan terjadinya interpretasi yang berbeda-beda di kalangan fuqaha’. Hal ini menimbulkan munculnya madzhab-madzhab dalam bidang fiqh. Perbedaan ini terlihat jelas khususnya pada hukummu’amalah (hubungan horizontal). Perbedaan ini disebabkan oleh perbedaanlingkungan sosial para imam madzhab fiqh tersebut. Maka lahirlah Imam-Imammadzhab seperti Imam Abu Hanifah yang terkenal sebagai sosok rasionalis(menggunakan rasio dengan porsi yang lebih banyak) karena beliau hidup ditengah-tengah masyarakat yang heterogen. Sedangkan Imam Malik yang tinggaldi tempat dimana hadits bersumber menjadi sosok yang tekstualis. Namundemikian, mereka tidak sedikitpun memonopoli penafsiran wahyu Allah, bahkanmembuka pintu seluas-luasnya untuk memahami dan menafsirkan syari’ah.Dari sini, penulis mencoba mengulas sedikit tentang kafa’ah dalam perkawinan dengan melihat kepada pendapat mazhab yang empat, yaitu MazhabHanafi, Mazhab Maliki, Mazhab Syafi’i, dan Mazhab Hambali.1
 
PEMBAHASANPandangan Fuqaha Mengenai Kriteria Kafa’ah
Islam adalah agama yang fitrah yang condong kepada kebenaran. Islamtidak membuat aturan secara eksplisit tentang
kafa’ah,
dalam artian tidamenyebutkan secara detail kriteria kafa’ah dalam perkawinan. Dengan demikian,tugas manusialah yang menetapkannya secara terperinci, tentunya inidiperuntukkan bagi mereka yang telah mampu untuk menafsirkan ayat-ayat Allahdan hadits-hadits Rasulullah SAW. Dengan kata lain, ini merupakan tugas paraalim ulama’, para mujtahid untuk memikul beban tersebut. Disebabkan olehtingkat kecerdasan dan kepekaaan manusia berbeda-beda, maka dengan demikianmereka berbeda pendapat tentang hukum
kafa’ah
. Perbedaan kadar intelektual,latar belakang dan kondisi dimana mujtahid itu hidup mendjadikan perbedaan pendapat dalam menentukan kadar untuk seorang pria itu sederajat atau sepadandengan seorang wanita atau dengan sebaliknya.Muhammad Jawad Mughniyah menyatakan bahwa para ulamamemandang penting adanya kafa’ah dalam menentukan pasangan dalam perkawinan, namun hanya pada kaum laki-laki saja dan tidak pada wanita. Hal inidisebabkan kaum laki-laki berbeda dengan kaum wanita, ia tidak direndahkan jikamengawini perempuan yang lebih rendah derajatnya dari dirinya.
1
Ada beberapa kriteria yang dapat dilihat untuk menentukan kafa’ah atautidaknya pasangan perkawinan, yang masing memiliki persamaan dan perbedaankriteria kafa’ah.
1
Muhammad Jawad Mughniyah,
 Fiqih Lima Mazhab (penerj. Masykur A.B, dkk),
(Jakarta: Lentera, 2001), hal. 349-350. Namun demikian, menurut hemat penulis, baik laki-lakimaupun perempuan berhak untuk menentukan ukuran kafa’ah bagi dirinya. Hal ini dikarenakan bahwa kesejahteran dan keberlangsungan bahtera kehidupan akan diarungi bersama, baik laki-lakimaupun perempuan, sehingga diak bisa dikatakan bahwa hanya laki-laki saja yang berhak menetukan ukuran kafaah dengan alasan tersebut di atas. Wahbah Zuhaili juga mengatakan bahwa para fuqaha telah bersepakat bahwa kafa’ah merupakan hak bagi setiap perempuan dan jugawalinya (maksudnya adalah menentukan suami yang sekufu’ dengannya), lihat Wahbah Zuhaili,
al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuhu Juz 7,
(Damskus: Dar al-Fikr, 1984), hal. 237.
2
 
Mazhab Hanafi menyebutkan bahwa kafa’ah adalah kesejajaran lak-lakidan perempuan pada hal-hal tertentu, yaitu nasab (keturunan), Islam (harus beragama Islam), hirfah, merdeka, agama, dan harta.
2
Mazhab Maliki sendiri menyebutkan bahwa kafa’ah hanya mencakup duasaja, yaitu agama, yaitu hendaklah laki-laki tersebut muslim yang taat dan tidak fasik, dan yang kedua adalah hendaklah laki-laki itu bebas dari cacat atau ‘aibyang merupakan penyebab sang perempuan bebas memilih lelaki idamannya.
3 
Mazhab Maliki juga mengakui kriteria kafa’ah dilihat dari segi harta, keturunan,merdeka dan hirfah.Mazhab Syafi’i sendiri menyebutkan kriteria kafa’ah itu mencakup empathal, yaitu nasab, agama, merdeka, dan hirfah,
4
 Mazhab Hambali sendiri juga memiliki kriteria yang harus dipenuhi agar seseorang mencapai derajat kafa’ah, yaitu ada lima hal yang harus diperhatikanyang pertama adalah agama, shina’ah, harta, merdeka, dan yang kelima adalahnasab.
5
 Berikut penjelasan tentang perbedaan para fuqaha: Mazhab Hanafi,Mazhab Syafi’i, Mazhab Maliki, dan Mazhab Hambali mengenai kafa’ah.
a. Nasab (keturunan)
Orang Arab adalah
kufu’ 
antara satu dengan lainnya. Begitu pula halnyadengan orang Quraisy sesama Quraisy lainnya. Karena itu orang yang bukan Arabtidak sekufu’ dengan perempuan Arab. Orang arab tetapi bukan dari golonganQuraisy, tidak sekufu’ dengan/bagi perempuan Quraisy, alasannya adalah sebagai berikut:Riwayat Bazar dari Muadz bin Jabal bahwa Rasulullah SAW bersabda:
2
Abdurrahman ibn Muhammad ‘Audl al-Jaziri,
 Kitab al-Fiqh ‘ala al-Mazhab al-Arba’ah jilid 4.
(Kairo: Maktabah Dar at-Turats, 2005), hal. 45.
3
 
 Ibid,
hal. 47-48.
4
 
 Ibid,
hal 48-49.
5
 
 Ibid,
hal. 50.
3

Activity (9)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
Muhammad Hamzah added this note
boleh tuh bahasan makalah'y, menarik cuy
Andi Maulana liked this
Ajier Ali liked this
Zulfa Kar liked this
BuNg RoMa liked this
guncakes liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->