Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Pembatasan Hak Menguasai Negara Atas Tanah

Pembatasan Hak Menguasai Negara Atas Tanah

Ratings: (0)|Views: 89 |Likes:

More info:

Published by: Yulianto Dwi Prasetyo on Jan 21, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/21/2012

pdf

text

original

 
PEMBATASAN HAK MENGUASAI NEGARA ATAS TANAH
 Yulianto Dwi Prasetyo, Aptnh, M.H.
Latar Belakang
 Hak Menguasai Negara Atas Tanah (HMNAT) adalah salah satu jenis Hak PenguasaanAtas Tanah (HPAT). Dalam tata jenjang HPAT di Indonesia, posisi HMNAT berada di bawahHak Bangsa. Terjadinya HMNAT adalah sebagai pelimpahan unsur publik dari Hak Bangsasebagai HPAT yang tertinggi di Indonesia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).Pelimpahan itu dilakukan dengan maksud agar Bangsa Indonesia yang diproklamasikan padatanggal 17 Agustus 1945 dapat mencapai tujuan pendiriannya yakni untuk mencapai Indonesiayang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Fakta empiris menunjukkan bahwa pemaknaan HMNAT berkembang penuh dinamika. Menjelang jatuhnya pemerintahan OrdeBaru, berbagai pihak mengusulkan agar HMN atas tanah dalam Undang-undang Pokok Agraria(UUPA) direvisi karena ditengarai telah menjadikan kewenangan di bidang pertanahan, terutama pengadaan tanah (baik dari tanah hak maupun tanah ulayat) menjadi eksesif. Bahkan, pada awal pemerintahan Orde Reformasi gagasan untuk melakukan perubahan konsep Hak Menguasai Negara (HMN) dilontarkan secara terbuka oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) pada tanggal4 Nopember 1999 di Surat Kabar Harian Republika. Pada waktu itu, otoritas pertanahanmeyakini bahwa berbagai ekses negatif yang timbul dalam proses pengadaan tanah, sepertimudahnya terjadi peralihan hak atas tanah dan hak ulayat kepada pihak lain bersumber pada besarnya kekuasaan negara atas tanah sebagaimana diatur dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945dan ditafsirkan secara otentik dalam Pasal 2 ayat (2) UUPA.Muhammad Bakri menjelaskan, peraturan perundang-undangan di Indonesia memberikekuasaan yang besar dan tidak jelas batas-batasnya kepada negara untuk menguasai semuatanah yang ada di wilayah Indonesia. Akibatnya terjadi dominasi hak menguasai negara atastanah (penulis buku mengistilahkan hak menguasai tanah oleh negara) terhadap hak ulayat dan
 
hak perorangan atas tanah sehingga memberi peluang kepada negara untuk bertindak sewenang-wenang dan berpotensi melanggar hak ulayat dan hak perorangan atas tanah. Oleh karena itu hak menguasai negara perlu dibatasi.[1]Merujuk uraian di atas terlihat ada perbedaan-perbedaan penafsiran atas Hak Menguasai Negara Atas Tanah; dengan menggunakan metode penelitianempiris,
 socio legal studies
tulisan ini berupaya menelusuri, mengungkap, dan menganalissubstansi hak menguasai negara atas tanah, substansi kewenangan pengadaan tanah dan substansi pembatasan hak menguasai negara.
Rumusan Masalah
Bertitik tolak dari uraian di atas, dirumuskan permasalahan sebagai berikut:1.
 
Hak Menguasai Negara Atas Tanah2.
 
Kewenangan Pengadaan Tanah3.
 
Pembatasan Hak Menguasai Negara
Analisis
 
Hak Menguasai Negara (HMN) Atas Tanah
 Di dalam konstitusi negara, keberadaan hak menguasai negara
 
disebutkan secara eksplisitdalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 yang menentukan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yangterkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Secara teoretis, pengaturan itu sesungguhnya bersifat deklaratif. Artinya,dengan atau tanpa ketentuan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 di atas, negara Indonesia tetap sebagai pemegang hak menguasai negara atas bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya. Dengan jalan pemikiran yang seperti itu dapat dipahami pandangan van Vollenhovenyang menyatakan: ´... sebenarnya hak negara atas tanah untuk mengatur dan sebagainya itu tidak lain daripada kekuasaan negara terhadap segala sesuatu; dan tanah adalah suatu
 speciment 
, suatuhal khusus saja; jika di dalam hal ini kita perlu memberi bentuk lain, maka sudah barang tentutidak boleh mengurangkan dan merobah kedudukan negara terhadap segala sesuatu itu.´[2]  Namun demikian, penyebutan secara tegas kewenangan negara atas tanah dengan hak menguasainegara tetap lebih bersifat positif, karena dengan penyebutan itu berarti dilakukan ¶penegasan¶
 
 bahwa hak menguasai negara melekat pada seluruh tanah yang ada dalam lingkungan hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Di dalam Pasal 2 ayat (2) UUPA secara tegas puladijabarkan isi kewenangan dari hak menguasai negara tersebut. Salah satu isinya adalah¶mengatur dan menyelenggarakan persediaan tanah¶. Substansi Pasal 2 ayat (2) dapat ditafsirkantermasuk persediaan tanah bagi keberlanjutan pembangunan untuk kepentingan umum.Pengadaan tanah bagi persediaan tanah dapat dilakukan secara sukarela
(v
oluntary)
seperti jual beli, penyerahan atau pelepasan hak; dapat pula dilakukan secara wajib
compulsory)
seperti pencabutan hak dan nasionalisasi. Oleh karena pengadaan tanah secara wajib pada hakikatnyamerupakan cara paksa (sepihak), maka pengaturan pengadaan tanah secara wajib harus dilakukanatas dasar undang-undang. Dalam perspektif teoretis, terjadinya hak menguasai negara yangditegaskan dalam konstitusi negara adalah karena pelimpahan unsur publik dari hak bangsasebagai hak penguasaan atas tanah yang tertinggi dalam hukum tanah nasional (Pasal 1 UUPA).Karena yang dilimpahkan adalah unsur publik, maka secara otomatis isi kewenangan hak menguasai negara pun semata-mata berunsur publik sebagaimana yang secara eksplisit tampak  pada Pasal 2 ayat (2) UUPA. Muhammad Bakri menyatakan bahwa kewenangan unsur publik hak menguasai oleh negara itu meliputi kewenangan negara mengadakan kebijakan
(b
eleid),
 tindakan pengurusan
(b
estuursdaad),
pengaturan
regelen daad),
pengelolaan
(b
eheersdaad),
 dan pengawasan
toezichtoudensdaad).
 [3] 
 Dalam perkembangan selanjutnya, pengaturan hak menguasai negara dalam peraturankeagrariaan dan sumberdaya alam berlangsung tanpa arah yang jelas. Kalau dicermati sistem pengaturan hak penguasaan atas sumber-sumber agraria di Indonesia, seyogianya UUPAmerupakan induk dari semua aturan keagrariaan dan sumberdaya alam. Sebagai contoh, hak  penguasaan atas kekayaan alam yang terkandung di dalam tubuh bumi pun diatur di dalam Pasal8 UUPA. Dalam Pasal 8 UUPA ditentukan:
´A
tas dasar hak menguasai dari negara se
b
agai yang dimaksud dalam Pasal 2 diatur pengam
b
ilan kekayaan alam yang terkandung dalam
b
umi,air dan ruang angkasa
´
.
Seharusnya, undang-undang yang mengatur tentang pertambanganmenjadikan Pasal 8 UUPA ini sebagai landasan penyusunannya. Namun kenyataan hukumIndonesia menunjukkan bahwa hampir semua undang-undang sektoral mengenai keagrariaan dansumberdaya alam disusun tanpa mengindahkan UUPA. UUPA memang masih berlaku, tetapidalam praksis hukumnya hanya dipandang sebagai landasan pengelolaan pertanahan semata.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->