3
wa-in jaahadaaka 'alaa an tusyrika bii maa laysa laka bihi 'ilmun falaa tuthi'humaa washaahibhumaa fii alddunyaa ma'ruufan waittabi' sabiila man anaaba ilayya tsumma ilayya marji'ukum fa-unabbi-ukum bimaa kuntum ta'maluuna
15. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku,kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
Kita bisa bilang tidak kepada ortu, bila ajakannya menuju syirik kepada Allah. Bagaimanapun Allah tetapyang utama. Tetapi sikap kita terhadap orang tua, harus tetap ihsan (baik, layak) dan tanpa memutuskansilaturahmi.
yaa bunayya innahaa in taku mitsqaala habbatin min khardalin fatakun fii shakhratin aw fii alssamaawaati aw fii al-ardhiya/ti bihaa allaahu inna allaaha lathiifun khabiirun
16. (Luqman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit ataudi dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.
Ayat ini menekankan pada kesadaran akan Tuhan (God consciousness), atau dalam bahasa yang kita kenal“ketakwaan terhadap Tuhan”. Takwa itu 24/7, 24 jam terus menerus tanpa henti, menjaga kesadaran akanAllah. Sikap merasa aman, tenteram, dan damai dengan Allah, yang akan berbuah iman. Menyerahkan dirisepenuhnya kepada Allah (Islam), yang buahnya kedamaian (Islam). Dan hal ini diterapkan dalam kehidupansehari-hari, dan buahnya pun akan tampak di kehidupan sehari-hari kita.
yaa bunayya aqimi alshshalaata wa/mur bialma'ruufi wainha 'ani almunkari waishbir 'alaa maa ashaabaka inna dzaalika min 'azmi al-umuuri
17. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar danbersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)
Kembali berbicara tentang hubungan vertikal. Menarik bolak baliknya, vertikal, horizontal, vertikal lagi. Inimemang diperlukan dalam kehidupan agar berimbang dan menyeluruh. Setelah shalat (vertikal), kembalimenyebutkan horizontalnya – mengajak (mengerjakan; menjadi contoh) mengerjakan yang baik, mencegak yang mungkar, dan bersabar. Seperti ada kita dalam hubungan horizontal kita merupakan indikasi shalat kita.Shalat sendiri bisa dilihat sebagai syariat (lima waktu wajib) dan bisa dilihat dari makna katanya “Shalat— seperti kalau melihat kata shilaturahmi” yang berarti menyambung = bersilaturahmi dengan Allah.*merinding* Seperti yang disebutkan dalam QS20:14)
innanii anaa allaahu laa ilaaha illaa anaa fau'budnii wa-aqimi alshshalaata lidzikrii
Add a Comment