Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
12Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Pembelajaran Berbasis Masalah Untuk Meningkatkan Kemampuan Berfikir Matematis Tingkat Tinggi Sekolah Menengah Pertama

Pembelajaran Berbasis Masalah Untuk Meningkatkan Kemampuan Berfikir Matematis Tingkat Tinggi Sekolah Menengah Pertama

Ratings: (0)|Views: 479 |Likes:
Published by mr_septian26

More info:

Published by: mr_septian26 on Jan 22, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/27/2013

pdf

text

original

 
47
EDUCATIONIST
 
No. I Vol. I Januari 2007ISSN : 1907 - 8838
PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH UNTUK MENINGKATKANKEMAMPUAN BERPIKIR MATEMATIS TINGKAT TINGGISISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA
Pembelajaran Berbasis Masalah untuk MeningkatkanKemampuan Berpikir Matematis Tingkat TinggiSiswa Sekolah Menengah Pertama
Tatang Herman
Pendidikan memiliki peranan yang sangat sentral dalammeningkatkan kualitas sumber daya manusia. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), misal-nya, menunjukkan akan peran strategis pendidikan dalampembentukan SDM yang berkualitas. Karakter manusiaIndonesia yang diharapkan menurut undang-undangtersebut adalah manusia yang beriman dan bertaqwa,berbudi pekerti luhur, berkepribadian, maju, cerdas, kre-atif, terampil, disiplin, profesional, bertanggung jawab,produktif, serta sehat jasmani dan rohani. Upaya efektif untuk membentuk karakter manusia seperti ini dapat di-lakukan melalui peningkatan kaulitas pendidikan.Pada era informasi global seperti sekarang ini,semua pihak memungkinkan mendapatkan informasi se-cara melimpah, cepat, dan mudah dari berbagai sumber dan dari berbagai penjuru dunia. Untuk itu, manusia di-tuntut memiliki kemampuan dalam memperoleh, memilih,mengelola, dan menindaklanjuti informasi itu untuk diman-faatkan dalam kehidupan yang dinamis, sarat tantangan,dan penuh kompetisi. Ini semua menuntut kita memilikikemampuan berpikir kritis, kreatif, logis, dan sistematis.Kemampuan ini dapat dikembangkan melalui kegiatanpembelajaran matematika karena tujuan pembelajaranmatematika di sekolah menurut Depdiknas (2004) adalah:(1) melatih cara berpikir dan bernalar dalam menarik kes-impulan, (2) mengembangkan aktivitas kreatif yang meli-batkan imajinasi, intuisi, dan penemuan dengan mengem-bangkan pemikiran divergen, orisinil, rasa ingin tahu,membuat prediksi dan dugaan, serta mencoba-coba, (3)mengembangkan kemampuan memecahkan masalah,dan (4) mengembangkan kemampuan menyampaikaninformasi dan mengkomunikasikan gagasan. Dengandemikian, matematika sebagai bagian dari kurikulum pen-didikan dasar, memainkan peranan strategis dalam pen-ingkatan kualitas SDM Indonesia.Mengingat peranannya yang sangat penting dalamproses peningkatan kualitas SDM, maka upaya peningka-tan kualitas pembelajaran matematika, khususnya padatingkat pendidikan dasar, memerlukan perhatian yangserius. Upaya ini menjadi sangat penting mengingat be-berapa penelitian yang menerangkan bahwa hasil pembe-lajaran matematika di sekolah belum menunjukkan hasilyang memuaskan (Djazuli, 1999). Rendahnya hasil yangdicapai dalam evaluasi nasional matematika ini, menun- jukkan bahwa kualitas pemahaman siswa dalam matema-tika masih relatif rendah. Pemahaman dalam matematika
ABSTRACT
In this reform era, high level thinking ability is a necessary. This ability is however, not well-nurtured,since most lessons at school, especially math, does not provide students with the ability to developtheir high thinking ability. This experiment study, therefore, is conducted to explore SMP students’high level mathematical thinking and disposition through problem-based learning. The samples of this study are year 2 students in three SMPs in Bandung whereas the instruments in the study are
test, mathematical disposition scale, and observation sheet. The ndings, among others, suggestthat open problem-based and structured problem-based learning are signicantly better than con
-ventional learning in improving students’ high level mathematical thinking ability based on school
qualication difference and students’ intelligence. This different high level mathematical thinking abil
-
ity is not gender based. In addition, the ndings also suggest that the mathematical disposition ability
of students who received open problem-based learning is better than that of those who receivedstructured problem-based learning.
Key words:
problem-based learning, high level thinking, open problem, structured problem.
 
48
EDUCATIONIST
 
No. I Vol. I Januari 2007ISSN : 1907 - 8838
Tatang Herman
sudah sejak lama menjadi isu penting. Tidak sedikit ha-sil riset dan pengkajian dalam pembelajaran matematikaberkonsentrasi dan berupaya menggapai pemahaman,namun sudah diyakini oleh kebanyakan bahwa untukmencapai pemahaman dan pemaknaan matematika tidaksegampang membalik telapak tangan.Salah satu penyebab rendahnya kualitas pemaha-man matematika siswa di SD dan SMP menurut hasil sur-vey IMSTEP-JICA (1999) di kota Bandung adalah karenadalam proses pembelajaran matematika guru umumnyaterlalu berkonsentrasi pada latihan menyelesaikan soalyang lebih bersifat prosedural dan mekanistis daripadapengertian. Dalam kegiatan pembelajaran guru biasan-ya menjelaskan konsep secara informatif, memberikancontoh soal, dan menberikan soal-soal latihan. MenurutArmanto (2002) tradisi mengajar seperti ini merupakankarakteristik umum bagaimana guru melaksanakan pem-belajaran di Indonesia. Pembelajaran matematika konven-sional bercirikan: berpusat pada guru, guru menjelaskanmatematika melalui metode ceramah (
chalk-and-talk 
),siswa pasif, pertanyaan dari siswa jarang muncul, berori-entasi pada satu jawaban yang benar, dan aktivitas kelasyang sering dilakukan hanyalah mencatat atau menyalin.Kegiatan pembelajaran seperti ini tidak mengakomodasipengembangan kemampuan siswa dalam pemecahanmasalah, penalaran, koneksi, dan komunikasi matematis.Akibatnya, kemampuan kognitif tingkat tinggi siswa san-gat lemah karena kegiatan pembelajaran yang biasa di-lakukan hanya mendorong siswa untuk berpikir pada tata-ran tingkat rendah.Kondisi ini secara kasat mata ditunjukkan oleh hasilsurvey internasional
The Third International Mathematicsand Science Study 
(TIMSS) bahwa kemampuan siswaSMP kelas dua Indonesia dalam menyelesaikan soal-soaltidak rutin (masalah matematis) sangat lemah, namunrelatif baik dalam menyelesaikan soal-soal tentang faktadan prosedur(Mullis, Martin, Gonzales, Gregory, Garden,O’Connor, Krostowski, & Smith, 2000). Hal ini membukti-kan bahwa terhadap masalah matematika yang menuntutkemampuan berpikir tingkat tinggi, siswa SMP kelas duaIndonesia jauh di bawah rata-rata internasional, bahkandengan beberapa negara tetangga sekalipun, seperti Ma-laysia, Singapura, dan Thailand. Melihat keadaan sepertiini, upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran ter-utama dalam pengembangan kemampuan berpikir tingkattinggi siswa menjadi penting dan esensial.Untuk menjawab permasalahan di atas, pemerintah,dalam hal ini Depdiknas, telah memperbaharui kurikulumsekolah. Perubahan dilakukan tidak saja dalam restruk-turisasi substansi matematika yang dipelajari, namunyang sangat mendasar adalah pergeseran paradigma daribagaimana guru mengajar ke bagaimana siswa belajar.Belajar tidak lagi dipandang sebagai proses transfer pen-getahuan untuk kemudian disimpan dalam sistem memorisiswa melalui praktek yang diulang-ulang dan penguatan.Siswa harus diarahkan agar mendekati setiap persoalan/tugas baru dengan pengetahuan yang telah ia miliki (
 prior knowledge
), mengasimilasi informasi baru, dan mengkon-struksi pemahaman sendiri.Dalam Kurikulum 2004 disebutkan bahwa standar kompetensi matematika yang harus dicapai siswa dalam/dari kegiatan pembelajaran. Standar kompetensi yang di-maksud, bukanlah penguasaan matematika sebagai ilmu,melainkan penguasaan akan kecakapan matematika yangdiperlukan untuk dapat memahami dunia sekitar, mampubersaing, dan berhasil dalam kehidupan. Standar kompe-tensi yang dirumuskan dalam Kurikulum 2004 mencakuppemahaman konsep matematika, komunikasi matematis,koneksi matematis, penalaran, pemecahan masalah,serta sikap dan minat yang positif terhadap matematika.Dengan demikian, model pembelajaran konvensionalyang dilakukan oleh kebanyakan guru, seperti yang telahdikemukakan di atas, tidak sesuai lagi dengan target dantujuan kurikulum ini. Dalam Kurikulum 2004 (Depdiknas,2004), secara eksplisit dikemukakan,
Diharapkan, dalam setiap kesempatan, pembelajaranmatematika dimulai dengan pengenalan masalah yangsesuai dengan situasi (contextual problem). Dengan men-gajukan masalah-masalah yang kontekstual, siswa secarabertahap, dibimbing untuk menguasai konsep-konsepmatematika (h. 5).
Menyikapi permasalahan-permasalahan yang timbuldalam pendidikan matematika sekolah kita, terutama yangberkaiatan dengan perstasi belajar siswa, praktek pem-belajaran di kelas, pentingnya meningkatkan kemampuanberpikir matematis tingkat tinggi (Henningsen & Stein,1997; Suryadi, 2005), dan fokus Kurikulum 2004, makaupaya inovatif untuk menanggulanginya perlu segeradilakukan. Salah satu alternatif solusi yang dapat men-gentaskan permasalahan dalam pendidikan matematikaini adalah dengan meningkatkan kualitas pembelajaranmelalui Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM). Fokusutama dalam upaya peningkatan kualitas pembelajaranini adalah memposisikan peran guru sebagai perancangdan organisator pembelajaran sehingga siswa mendapatkesempatan untuk memahami dan memaknai matematikamelalui aktivitas belajar.PBM merupakan suatu pendekatan pembelajaranyang diawali dengan menghadapkan siswa dengan ma-salah matematika. Dengan segenap pengetahuan dankemampuan yang telah dimilikinya, siswa dituntut untukmenyelesaikan masalah yang kaya dengan konsep-kon-sep matematika. Karakteristik dari PBM di antaranya
 
49
EDUCATIONIST
 
No. I Vol. I Januari 2007ISSN : 1907 - 8838
PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH UNTUK MENINGKATKANKEMAMPUAN BERPIKIR MATEMATIS TINGKAT TINGGISISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA
adalah: 1) memposisikan siswa sebagai
self-directed  problem solver 
melalui kegiatan kolaboratif, 2) mendo-rong siswa untuk mampu menemukan masalah dan men-gelaborasinya dengan mengajukan dugaan-dugaan danmerencanakan penyelesaian, 3) memfasilitasi siswa un-tuk mengeksplorasi berbagai alternatif penyelesaian danimplikasinya, serta mengumpulkan dan mendistribusikaninformasi, 4) melatih siswa untuk terampil menyajikan
temuan, dan 5) membiasakan siswa untuk mereeksi
tentang efektivitas cara berpikir mereka dalam menyele-saikan masalah.Pemilihan tipe masalah yang menguntungkan untukdisuguhkan kepada siswa dalam PBM sangatlah pent-ing. Tipe masalah yang digunakan dalam PBM dianta-ranya adalah masalah terbuka (
open-ended problem
 atau
ill-structured problem
) dan masalah terstruktur (
well-structured problem
). Dalam masalah terstruktur, un-tuk menjawab masalah yang diberikan siswa dihadapkandengan sub-submaslah dan penyimpulan. Sedangkandalam masalah terbuka, siswa dihadapkan dengan ma-salah yang memiliki banyak alternatif cara untuk menyele-saikannya dan memiliki satu jawaban atau multijawabanyang benar.Mengacu pada latar belakang di atas, masalah yangdikaji dalam penelitian ini dapat dirumuskan menjadi be-berapa submasalah berikut.1. Apakah terdapat perbedaan peningkatan kemampuanberpikir tingkat tinggi dari kelompok siswa yang mengi-kuti PBM terstruktur, PBM terbuka, dan pembelajarankonvensional?2. Apakah dalam peningkatan kemampuan berpikir tingkattinggi siswa terdapat suatu interaksi antara pembelaja-
ran yang digunakan dengan kualikasi sekolah?
3. Apakah dalam peningkatan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa terdapat suatu interaksi antarapembelajaran yang digunakan dengan kemampuanmatematika siswa?4. Apakah dalam peningkatan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa terdapat suatu interaksi antarapembelajaran yang digunakan dengan perbedaangender?5. Apakah dalam peningkatan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa terdapat suatu interaksi antara
kualikasi sekolah dengan perbedaan gender?
6. Apakah terdapat perbedaan disposisi matematis darikelompok siswa yang mengikuti PBM terbuka danPBM terstruktur?Berdasarkan rumusan masalah dan kajian teoritis diatas, selanjutnya diajukan beberapa hipotesis penelitianberikut ini.1. Terdapat perbedaan peningkatan kemampuan berpikir matematis tingkat tinggi, antara siswa yang mendapat-kan Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) terbuka,PBM terstruktur, dan pembelajaran konvensioanal.2. Terdapat interaksi antara pembelajaran dan tingkatkemampuan matematika siswa dalam peningkatan ke-mampuan berpikir matematis tingkat tinggi siswa.
3. Terdapat interaksi antara pembelajaran dan kuali
-kasi sekolah dalam peningkatan kemampuan berpikir matematis tingkat tinggi siswa.4. Terdapat interaksi antara pembelajaran dan perbe-daan gender dalam peningkatan kemampuan berpikir matematis tingkat tinggi siswa.
5. Terdapat interaksi antara kualikasi sekolah dan per 
-bedaan gender dalam peningkatan kemampuan ber-pikir matematis tingkat tinggi siswa.6. Terdapat perbedaan disposisi matematis antara siswayang mendapatkan PBM terbuka dengan siswa yangmendapatkan PBM terstruktur.Untuk kepentingan penelitian ini, keenam hipotesisdi atas selanjutnya diuji dan dianalisis sehingga diperoleh
kejelasan faktor-faktor yang berpengaruh secara signi
-kan terhadap peningkatan kemampuan berpikir matematistingkat tinggi siswa. Berdasarkan inferensi statistik ini, se-lanjutnya dapat dilakukan analisis lebih lanjut sehinggadiperoleh hasil penelitian yang lebih rinci.Sesuai dengan rumusan masalah yang dikemuka-kan di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagaiberikut.1. Tersusunnya deskripsi hasil penelitian secara kom-prehensif tentang perbedaan kemampuan berpikir matematis tingkat tinggi menurut penggunaan pem-belajaran berbasis masalah terbuka, pembelajaranberbasis masalah terstruktur, dan pembelajaran kon-vensional, serta kaitan antara model pembelajarantersebut dengan kemampuan matematika siswa, kuali-
kasi sekolah, dan perbedaan gender.
2. Tersusunnya deskripsi hasil penelitian secara kompre-hensif tentang perbedaan disposisi matematis siswamenurut penggunaan pembelajaran berbasis masalahterbuka dan pembelajaran berbasis masalah terstruk-tur.3. Tersusunnya kesimpulan dan implikasi teoritis pene-litian yanh bermanfaat bagi guru, calon guru, dosen,atau insan pendidikan lainnya untuk meningkatkankemampuan berpikir matematis siswa pada khusus-

Activity (12)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Yusuf liked this
Ana Setiani liked this
Fazil Muhammad liked this
Diana Yanthi liked this
Elda Herlina liked this
irwandi_man6349 liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->