Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
16Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Makalah NII Untuk UNJ Jakarta 9 Mei 2007

Makalah NII Untuk UNJ Jakarta 9 Mei 2007

Ratings:

4.0

(2)
|Views: 1,649 |Likes:
Published by alchaidar

More info:

Published by: alchaidar on Nov 12, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/31/2012

pdf

text

original

 
Perpecahan dan Integrasi:Perkembangan Gerakan Darul Islam diIndonesia dan Jaringannya di Asia Tenggara,1962-2006
 Al Chaidar 
Dosen pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikUniversitas MalikussalehLhokseumawe, Aceh
Latar Belakang
Gerakan Darul Islam (DI) atau dikenal dengan Negara IslamIndonesia (NII) adalah sebuah gerakan politik bersenjata yang sangatberpengaruh di Indonesia dari tahun 1949 hingga sekarang. DI munculpertama kalinya di Jawa Barat dan dalam perkembangannya kemudiangerakan ini menjangkau berbagai daerah: Jawa Tengah (1950),Kalimantan Selatan (1951), Sulawesi Selatan (1952) dan Aceh (1953).Darul Islam, sebenarnya, sudah muncul semenjak tahun 1948 danbelum benar-benar berakhir hingga saat sekarang ini. Bahkan, untukkonteks kekinian, ada indikasi yang sangat kuat bahwa Darul Islammuncul lagi dalam berbagai bentuk dan nama serta dalam berbagaimodel dan metode pergerakan. Kemunculan kembali Darul Islam inimenunjukkan adanya kelanjutan (
continuity 
) dari sebuah gerakanideologi yang tak pernah mati. Kemunculan kembali DI atau NII initerutama karena banyaknya keinginan untuk melanjutkan perjuanganmenegakkan negara Islam di Indonesia, selain sebagai upaya untukmemperebutkan posisi Imam atau kepala negara. Akibatnya, keinginanideal untuk menegakkan negara Islam berubah menjadi upaya praktismemperebutkan posisi sebagai Imam di dalam struktur organisasigerakan ini sehingga beberapa tokoh yang memiliki konstituennyasendiri mengklaim diri sebagai imam dengan segala justifikasinyamasing-masing.Maka bermunculanlah berbagai faksi di dalam tubuh organisasipergerakan bawah tanah terbesar di Indonesia ini. Secara teoritis,faksionalisme adalah bentuk pergerakan yang mempunyai tujuan danakar politik dan ideologi yang sama namun muncul banyak perbedaankecil yang sebenarnya tidak signifikan.
1
Kebanyakan perbedaan ini
1
Tentang faksionalisme, lihat Tanh Ti Anh,
Politik Faksionalisme di Viet Nam,
(terj.), Jakarta: Grafiti Pers, 1987.
1
 
berkaitan dengan masalah kepemimpinan internal dan tokoh-tokohpergerakan kemudian mengambil jalan lain yang dianggap lebih tepatuntuk melanjutkan misi dan visi organisasi atau pergerakan.Sebagaimana akan dibahas di dalam tulisan ini, kelanjutan NegaraIslam Indonesia pasca S.M. Kartosoewirjo bertendensi kuat ke arahsistem politik faksionalisme. Di dalam konteks DI, faksionalisme initerjadi karena adanya peristiwa-peristiwa penting yangmenggambarkan dinamika konflik internal pergerakan selainkelanjutan resistensi politik umat Islam sebagai perjuangan untukmempertahankan eksistensi Negara Islam Indonesia pada generasipenerusnya. Tetapi di sisi lain, pada periode pasca perang (1949-1962), para tokoh utama pengikut S.M. Kartosoewirjo membuatstruktur NII yang kemudian mengalami perubahan dan perpecahan kedalam beberapa faksi dan perubahan pola pikir dan metode penafsiransejarah, ayat dan hadist. Banyaknya faksi-faksi dalam kalanganinternal pergerakan DI ini bersifat arbitrer dalam pengertian bahwasatu sama lain saling mengklaim yang paling berhak mewarisi panjikepemimpinan Negara Islam Indonesia pasca S.M. Kartosoewirjo.Kelanjutan Negara Islam Indonesia pasca S.M. Kartosoewirjoditandai oleh dua fenomena menarik: perpecahan dan integrasi; adapersatuan atau integrasi antar berbagai faksi dan terjadinya berbagaiperpecahan atau konflik suksesi keimaman atau karena efek dariberbagai peristiwa kekerasan yang muncul dalam perjalanan NII.Perpecahan bermula dari munculnya kelompok
fillah
dan kelompok
sabilillah
.
Fillah
bermakna sipil setelah kekalahan perang yang dialamioleh DI mulai tahun-tahun 1960-an, sedangkan
sabilillah
adalahkelompok yang hendak melanjutkan perang bersenjata dengan caragerilya. Kelompok fillah mengambil metode
dakwah
dan
tarbiyah
(pendidikan) sebagai jalan jihadnya. Sedangkan kelompok
sabilillah
mengambil jalan perang sebagai jihadnya. Pada tahun-tahun awal1970-an kedua kelompok ini berdebat tentang cara-cara melanjutkanperjuangan NII sepeninggal S.M. Kartosoewirjo. Kelompok pertamalebih banyak menyampaikan konsep-konsep, sementara kelompokkedua menuntut pelaksanaan dari kata-kata. Kelompok pertama padatataran wacana dan lebih mengembangkan dakwah dan keilmuan yangabstrak, sedangkan kelompok kedua lebih menekankan pada aksi fisikyang nyata. Namun, perdebatan ini lebih sering kemudian diakhiridengan tarik-menarik klaim siapa yang paling sah dan konstitusionaldalam memagang tampuk kepemimpinan pergerakan.Persoalan kepemimpinan adalah problem internal yang tidakpernah selesai di dalam setiap pergerakan Islam di manapun di duniaini. Kepemimpinan adalah isu sentral yang sangat dominan dalammenentukan apakah seseorang sudah berada pada
tanzim
(organisasi)yang benar dan bagi pengikutnya (atau sering disebut dengan istilah‘ummat’) menjadi persoalan pilihan jalan hidup. Bagi pemimpin tiap-tiap faksi menjadi dasar yang tegas dalam menetapkan setiap
2
 
keputusan yang
syar’i
(sah secara hukum Islam). Untuk menganalisisisu kepemimpinan ini, ada beberapa jejak untuk dijadikan rujukantentang estafet kepemimpinan perjuangan NII, yaitu rujukan kepadaklausal peraturan pemerintah (Maklumat Komandemen Tertinggi No.11) di mana memuat azas
Sapta Palagan
2
dengan KPSI
3
yang berlakusecara otomatis garis kepemimpinan tersebut. MKT 11 ini juga memuattentang azas
Purba Wisesa
(kekuasaan otomatis), yang berarti bahwakepemimpinan akan diakui oleh orang-orang yang terdekat denganS.M. Kartosoewirjo. Tetapi azas yang menjadi acuan ini padaprakteknya tidak begitu diketahui oleh sebagian pengikut NII karenaminimnya pemahaman para anggota jamaah (yang dalam diskursusmereka disebut sebagai ‘warga’) maupun
mas’ul
(aparat) tentangketatanegaraan NII dan mekanismenya, sehingga tidak dapat dengancepat mengadakan konsolidasi pada tingkat KPSI khususnya dalampengaturan perumusan strategi.
4
 Perencanaan strategis pergerakan DI dimulai ketika terjadikontak antara Hasan Anwar
5
dengan Abu Hasan
6
di Sulawesi. HasanAnwar memulai dialog sensitif ini dengan mengambil pengandaianbahwa shalat sendirian memang sah, namun lebih baik kalau dalamsebuah jamaah, setiap jamaah shalat mestilah ada imamnya, dandalam doktrin politik Islam, setiap ada imam mestilah ada
bai’at 
(sumpah setia). Pertemuan di Sulawesi ini berkoinsidensi denganperistiwa penting lainnya yang bersifat rahasia, Forum Majlis Syuro NIIdi Makassar. Dengan kehadiran Hasan Anwar ini bersamaan dengansedang berlangsungnya Forum Majelis Syura NII di Sulawesimenjadikan pembicaraan isu kelanjutan kepemimpinan sebagai temayang sangat penting dan kontroversial. Segera saja seluruh pesertamemikirkan persoalan estafet kepemimpinan DI yang belum tuntas.Ibarat kereta api, DI bagaikan gerbong tanpa lokomotif; bagaikan anakayam yang kehilangan induknya. Pembicaraan kepemimpinan inimenjadi topik pembahasan utama dalam agenda elit politik untukperencanaan strategis kelanjutan perjuangan DI/TII.Kehadiran Hasan Anwar dalam Forum Majelis Syura itu jugamenyampaikan amanah S.M. Kartosoewirjo sebagai Imam pada saat-saat terakhir di penjara sebelum menjalani eksekusi tahun 1962.Amanah itu berisikan ajakan kepada setiap
mujahid 
7
untuk tetap
2
 
Sapta Palagan
adalah Tujuh Wilayah Perang, sebuah struktur pemerintahan NII yanglebih bersifat militeristik daripada sipil.
3
KPSI adalah singkatan dari Komandemen Perang Seluruh Indonesia.
4
Wawancara Bapak Toni dengan Abu Hasan di Jakarta, 18 Oktober 1999.
5
Hasan Anwar, seorang Petugas KUKT Sulawesi-Jawa Barat. Semasa DI/TII “turungunung” Hasan Anwar ditawan bersama Imam Kartosoewirjo, ia berhasil lolos.
6
Abu Hasan, seorang Petugas KUKT Aceh – Sulawesi.
7
 
 Mujahid
adalah orang yang ber-
 jihad
di jalan Allah. Dalam konteks DI, setiap anggota,aparat dan pemimpinnya adalah mujahid.
3

Activity (16)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Dewi Purwati liked this
CeEmot Coollz liked this
eckxszo liked this
Imanuela Perez liked this
Tatang Apendi liked this
fatsoen liked this
boncelnet liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->