Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
67Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Teori Dan Konsep Negara Islam

Teori Dan Konsep Negara Islam

Ratings:

4.67

(3)
|Views: 14,826|Likes:
Published by alchaidar

More info:

Published by: alchaidar on Nov 12, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/09/2013

pdf

text

original

 
 Negara Madinah:Teori dan Konsep Negara IslamDi kalangan Muslim Indonesia, diskursus tentang Piagam Madinah dan NegaraMadinah, bukan barang asing. Di era Presiden Abdurrahman Wahid saat ini, diskursustentang Negara Madinah itu kian merebak di kampus-kampus, kalangan gerakan Islamdan aktivis masjid. Tentang Negara Madinah ini, mungkin, hanya ada satu negara Islamyang paling ideal, yaitu Negara Madinah dengan Piagam Madinah-nya pada masaRasulullah. Namun, untuk kebanyakan, Negeri Madinah ini hampir-hampir bagaikan"negeri dongeng" meski ada dalam sejarah.Untuk menghindari "dongengisasi," maka ada baiknya diajukan contoh negaraIslam lain di jantung Eropa: Spanyol zaman Islam (
 Islamic Spain
). Negeri Muslim danumat Muslim di Spanyol merupakan salah satu wilayah yang paling jauh dari jantungdunia Islam, tetapi sangat toleran. Bernard Lewis menunjukkan bahwa Islam yang lebihawal itu, ternyata cenderung lebih toleran dibanding Islam yang lebih belakangan. Padamasa Islam awal itu, banyak pergaulan sosial yang berlangsung dengan lancar antarakaum Muslim, Kristen, dan Yahudi. Meskipun menganut agama-agama yang berbeda,mereka membentuk sebuah masyarakat yang tunggal, di mana perkawanan antarpribadi,kemitraan dalam bisnis, hubungan guru-murid dalam kehidupan ilmu pengetahuan, dan bentuk-bentuk lain kegiatan bersama berlangsung normal dan bahkan sangat umum.Kerja sama kultural ini tampak dalam banyak cara. Orang-orang Islam, Kristen,dan Yahudi hidup dalam suasana penuh peradaban, saling hormat, dan salingmengembangkan ilmu pengetahuan dan seni budaya. Tidak ada sedikit pun diskriminasi.Karena itu, masalah pluralisme adalah masalah bagaimana kaum Muslimmengadaptasikan diri mereka dengan dunia modern. Hal ini pasti akan melibatkanmasalah-masalah bagaimana mereka memandang dan menilai sejarah Islam, dan bagaimana mereka melihat dan menilai perubahan dan keharusan membawa masuk nilai-nilai Islam yang normatif dan universal ke dalam dialog dengan realitas ruang dan waktu.Sejarah kaum Muslim, seperti halnya sejarah komunitas umat manusia manapun,selalu memiliki potensi untuk membuat kesalahan atau berbelok dari jalan yang benar.Selain karena truisme sederhana seperti yang dikatakan penyair Inggris Alexander Pope,yakni bahwa “berbuat salah itu manusiawi,” semua sejarah jelas dengan sendirinyaadalah sejarah manusia, dan tidak ada seorang manusia biasa pun yang sakral dan suci.Singkatnya, manusia pada dasarnya baik, tetapi ia juga lemah. Berkaitan dengankelemahan ini, manusia memiliki potensi untuk mengubah dirinya menjadi seorang tiran,kapan saja ia memandang dirinya serba berkecukupan dan tidak lagi membutuhkanmanusia-manusia lain. Terhadap prinsip ini, harus juga ditambahkan ajaran Islam yangsangat terkenal bahwa pada mulanya umat manusia adalah satu dan bahwa semua orang pada dasarnya sederajat. Dalam hal ini, kaum Muslim klasik seperti di Spanyol ini telah berhasil sepenuhnya menginternalisasikan konsepsi mengenai manusia yang positif danoptimistik seperti disebutkan di atas. Sebuah konsepsi yang kemudian menjadikanmereka komunitas yang demikian kosmopolit dan universalisnya, sehingga mereka bersedia belajar dan menerima segala yang bernilai dari pengalaman-pengalamankomunitas lain.
 
Demikianlah, peran kaum Muslim yang awal sebagai salah satu di antara beberapa komunitas yang menginternasionalisasi ilmu pengetahuan. Dalam setiap peradaban, orang-orang tertentu meneliti pada alam itu sendiri sebab-sebab perubahanyang menggejala, bukan pada kemauan manusia atau luar manusia .Meskipun demikian,sebelum orang-orang Arab mewarisi filsafat alam Yunani dan alkeni Cina, kemudianmeneruskannya ke Barat, tidak ada badan tunggal ilmu pengetahuan alam yangditeruskan dari satu peradaban ke peradaban lain.Sebaliknya, dalam setiap peradaban, penelitian tentang alam mengikuti jalansendiri-sendiri. Para filsuf Yunani dan Cina memberi penjelasan yang berbeda tentangdunia fisik yang sama. Sebagian besar hasil usaha itu pertama-tama diserap oleh Islam,yang dari tahun 750 M hingga akhir Zaman Tengah terbentang dari Spanyol hinggaTurkestan. Orang-orang Arab menyatupadukan badan ilmu pengetahuan yang luas itu danmenambahnya.Dalam kesepakatan lain, hal senada yang juga dikemukakan demikian: adalahkelebihan orang-orang Arab bahwa, meskipun mereka merupakan para pemenang secaramiliter dan politik, mereka tidak memandang peradaban negeri-negeri yang merekataklukkan dengan sikap menghina, bahkan Islam menghormati pluralitas dan menghargaikultur masyarakat yang ada. Sebagai ilustrasi, segera setelah diketemukan, kekayaankebudayaan Syiria, Persia, dan Hindu mereka salin ke dalam bahasa Arab. Para khalifah,gubernur, dan tokoh-tokoh yang lain menyantuni para sarjana yang melakukan tugas penerjemahan, sehingga kumpulan ilmu bukan-Islam (
non-Islamic learning 
) yang luasdapat diperoleh dalam bahasa Arab. Semangat pluralisme dikembangkan dan toleransiditegakkan dengan kasanah intelektual yang diperkaya.Dalam konteks Indonesia ketika negara ini berada di bawah PresidenAbdurrahman Wahid, di mana berbagai kemajemukan kini mengalami pengeroposan dankerusuhan merebak, dari Ambon, Maluku, Mataram sampai kawasan lain, kita tidak perlulagi mempersoalkan pluralitas pengikut Kristen, dan Muslim serta Yahudi, tiga agamaIbrahim itu. Yang dibutuhkan adalah
leadership
(kepemimpinan) Gus Dur untuk mengatasi krisis ekonomi, sosial dan politik-ideologis, dengan mendayagunakan pluralitas (kemajemukan) itu, jangan sampai pemerintahannya mengalami
breakdown of economic, political and social-cultural policy making 
, yang justru bisa menimbulkankonflik horisontal pada tingkat menengah ke bawah. Pada aras ini, prinsip dan nilai-nilai Negara Madinah (Piagam Madinah) yang sering diartikulasikan Gus Dur (dan Cak  Nurcholish Madjid), semestinya dipraksiskan dan disosialisasikan pemerintahan Gus Dur agar salah pengertian dan
 phobia
tentang Islam di kalangan non-Muslim bisadiminimalisasikan Mudah-mudahan apa yang dikemukakan di sini bisa sedikit mereduksikengerian akan bayangan sistem Negara Madinah (Islam) di Indonesia, di mana kini paratokoh Muslim menjadi pemimpinnya yakni Gus Dur, Amien Rais (Ketua MPR) danAkbar Tanjung (Ketua DPR). Pada level wacana, Phobia Islam sebaiknya disikapi dengan pemahaman ilmu pengetahuan, akal budi dan logika. Islam menjamin pluralisme.Bukankah Islam
rahmatan lil alamin
?Di bawah era Presiden Abdurrahman Wahid, ternyata gagasan "jalan ketiga”Anthony Giddens menjadi wacana (
discourse
) memikat di kalangan kaum pro demokrasi,kalangan santri dan aktivis Islam. Politik “jalan ketigaadalah representasi dari pembaharuan demokrasi sosial. Politik “jalan ketiga”, demikian Giddens, diperlukankarena masalah-masalah yang berkaitan dengan perbedaan antara garis kiri dan garis
 
kanan dalam politik sudah begitu besar. Saat ini pandangan (mengenai dunia) dari elitekiri yang lama sudah tidak bisa dipakai lagi. Sementara pandangan kanan yang baru jugatidak memadai karena mengandung banyak kontradiksi.Pandangan politik aliran tengah sendiri juga telah menjadi begitu radikal hinggatidak lagi mampu menampung politik kiri maupun kanan. Diperlukan sebuah wahana baru untuk menampung kiri moderat (hasil pembaruan kanan) dan kiri tengah (hasil pembaruan kiri) agar politik emansipatoris dan keadilan sosial tetap menjadi pusat perhatian. Menanggapi gagasan brilian Giddens dalam konteks masyarakat Barat itu,Profesor Chibli Mallat, ahli politik Lebanon, mengatakan konsepsi "jalan ketiga"Anthony Giddens sebagai konsepsi politik yang baru. Namun Giddens dinilai telahmengabaikan negara-negara non-Barat, khususnya negara-negara Muslim. Sejak dasawarsa 1970-an dan 1980-an, slogan "jalan ketiga" Giddens itu sudah berkumandangdi negara-negara Muslim. Revolusi Iran-lah yang mencanangkannya dengan menegaskan bahwa "jalan ketiga" adalah Islam, yang sistem kemasyarakatan bukan model Barat(kanan) atau model Soviet (kiri), tidak Blok Barat maupun Blok Timur (
laa syarqiyahwa laa gharbiyah
).Profesor Mallat mencatat, dalam sejarah abad ke-XX, "jalan ketiga" adalah namalain dari Nazisme Jerman dan Fasisme Italia, yang mencoba memberi alternatif baruterhadap ideologi komunisme (Uni Soviet) dan kapitalisme (AS). Mallat kemudianmengusulkan agar para penganut "jalan ketiga" lebih menekankan nilai-nilai peradabanyang mampu menghilangkan berbagai ketimpangan struktural. Dengan menyimak gagasan Giddens dan tanggapan Mallat itu, saya kira, ada baiknya para inteligensiaMuslim kini harus mencermati “jalan ketiga” yang kontekstual dengan Indonesia, dimana pluralitas (kemajemukan) sangatlah sarat kompleksitas.Tentang Islam dalam hubungannya dengan “jalan ketiga” Giddens itu, saya inginmeminjam diskursus Bernard Lewis yang menyatakan bahwa Islam yang lebih awal diera Cordova Spanyol, sangatlah toleran. Saya kira, di Indonesia Islam yang lebih awalitu datang dengan jalan damai melalui perdagangan. Dan sebagaimana di zaman IslamCordova Spanyol, di Indonesia pun Islam awal ini ternyata cenderung lebih tolerandibanding Islam yang lebih belakangan. Pada masa Islam awal itu, banyak pergaulansosial yang berlangsung dengan lancar antara kaum Muslim, Kristen, Hindu, Buddha danCina. Meskipun menganut agama-agama yang berbeda, mereka membentuk sebuahmasyarakat yang beradab, di mana perkawanan antarpribadi, kemitraan dalam bisnis,hubungan guru-murid dalam kehidupan ilmu pengetahuan, dan bentuk-bentuk lainkegiatan bersama berlangsung normal dan bahkan sangat umum.Kerja sama kultural ini, seperti dicatat Anthony Reid, tampak dalam banyak caraorang-orang Islam, Hindu-Budha dan Kristen menjalankan kehidupan dan kebudayaan.Bahkan di era pergerakan nasional untuk mewujudkan kemerdekaan, kaum pluralis ini berjuang dalam spirit Sumpah Pemuda. Dan sampai era demokrasi parlementer BungKarno pada 1950-an, kaum Muslim dan non-Muslim itu hidup dalam suasana penuh peradaban, saling hormat, dan saling mengembangkan ilmu pengetahuan dan seni budaya. Tidak ada sedikit pun diskriminasi, karena pembangunan bangsa dan karakternya(
nation and character building 
) berjalan wajar. Karena itu, masalah pluralisme adalahmasalah bagaimana kaum Muslim mengadaptasikan diri mereka dengan dunia modern,yang sampai kurun 1950-an itu dijamin oleh konstitusi. Pada kurun waktu itu Islammenghormati pluralitas dan menghargai kultur masyarakat yang ada. Semangat

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->