Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
4Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Konflik Dalam Naskah Drama DAG DIG DUG Karya Putu Wijaya

Konflik Dalam Naskah Drama DAG DIG DUG Karya Putu Wijaya

Ratings: (0)|Views: 651 |Likes:

More info:

Published by: Rony Corniously Nhiyny on Jan 24, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/01/2013

pdf

text

original

 
BAB I PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang Naskah drama adalah salah satu genre karya sastra yang sejajar dengan prosa dan puisi.Berbeda dengan prosa maupun puisi, naskah drama memiliki bentuk sendiri yaitu ditulisdalam bentuk dialog yang didasarkan atas konflik batin dan mempunyai kemungkinandipentaskan (Waluyo, 2003: 2). Menurut Dietrich (1953:4) drama adalah cerita konflik manusia dalam bentuk dialog yang diproyeksikan dengan menggunakan percakapan danaction pada pentas di hadapan penonton (audience).Dalam sebuah penelitian pada tahun 1979 yang dilakukan di sekolah-sekolah oleh Dr. YusRusyana (dalam Waluyo, 2003:1), disimpulkan bahwa minat siswa dalam membaca karyasastra yang terbanyak adalah prosa, kemudian puisi, baru selanjutnya drama.Perbandingannya adalah: (6:3:1), terbukti bahwa naskah drama paling tidak diminati. Haltersebut dimungkinkan karena menghayati naskah drama yang berupa dialog itumembutuhkan perhatian lebih.Menurut Tambajong (1981:23) naskah drama segi-segi yang harus diperhatikan banyak (1)sekali, mulai dari menata hubungan yang luas antara pengarang dengan kehidupan, pengarang dengan naskah, naskah dengan aktor, naskah dengan sutradara, pengarang denganaktor, pengarang dengan sutradara, naskah dengan kemungkinan dipentaskan, aktor denganaktor, aktor dengan penonton, naskah dengan penonton dan seterusnya.Dipilihnya penelitian tentang konflik dalam naskah drama Dag Dig Dug karya Putu Wijayaadalah karena empat hal, antara lain:Pertama, kedudukan Putu Wijaya dalam drama kontemporer Indonesia. Abdullah (1985:65)menyebutkan bahwa sejak tahun 1976 dalam hal kepeloporan drama, Arifin C. Noer menduduki posisi pertama, namun dari segi ketahanan hingga saat ini Putu Wijayamenduduki posisinya yang utama. Hal ini terbukti dari prestasi Putu Wijaya dalam duniadrama sejak tahun 1970-an hingga 2000-an masih saja ada. Pada tahun 2004 naskah PutuWijaya yang berjudul Rat (War) di pentaskan selama 10 hari berturut-turut oleh kelompok teater dari Kota Belgrado, Yugoslavia, Putu Wijaya diundang untuk menonton langsung digedung Ateleje 212 (Suara Merdeka, 28 Juli 2004). Di tahun yang sama Putu Wijayamementaskan naskah Zoom berkeliling ke Tokyo, Kyoto, dan Hongkong (Suara Merdeka,21 Mei 2004). Putu Wijaya mendirikan Teater Mandiri (1971-sekarang) sebagai sutradara, penulis naskah, dan pemain. Sebagai sutradara, Putu Wijaya berpendapat bahwa ia dituntut(2)untuk berekspresi, karena naskah kadang-kadang tidak menyediakan plot, tema, karakter,dan patokan-patokan yang pasti. Naskah hanyalah bahan mentah yang penuh kemungkinan,yang bisa kaya luar biasa kalau sang sutradara juga seorang yang kaya, tetapi serentak bisamenjadi miskin dan serba kurang kalau sutradara berkepala kosong (Abdullah, 1985:7).Sebagai penulis naskah, di tahun 1973-1974 Putu Wijaya pernah memenangkan berturut-
 
turut juara pertama dan kedua dalam Sayembara Penulisan Naskah Lakon yang diadakanoleh DKJ. Masing-masing lakon yang dimenangkan adalah Aduh, Dag Dig Dug, dan Anu.Sejak saat itu karya-karya drama Putu Wijaya seakan-akan menjadi ukuran bagi mereka yangakan menulis naskah drama kontemporer. Ciri khas karyanya yaitu cenderung menggunakangaya atau metode obyektif dalam pusat pengisahan dan gaya stream of consciousness dalam pengungkapannya. Maksudnya, cara mendekati tokoh, Putu seperti tidak pernahmenyentuhnya. Seolah-olah tokoh dibiarkan bergerak dengan tindakan dan pikiran- pikirannya, tak ubahnya seperti orang yang mengamati gerak-gerik ikan di dalam akuarium(Abdullah, 1985:9). Menurut Sumardjo (dalam Atmaja, 1987:9), ide yang mendasari perubahan karya-karya Putu Wijaya adalah konsep psikoanalisis dan absurdisme. PutuWijaya sendiri mengaku bahwa konsep kepengarangannya adalah “teror mental”, usahauntuk memberikan pencerahan dengan kejutan, dengan pematahan atau pembalikan yangtiba-tiba (Wijaya, 2003:213). Sebagai pemain, Putu Wijaya sejak tahun 1991 bersama Teater (3)Mandiri memainkan pertunjukkan tidak lagi menggunakan dialog tetapi gerak, bunyi danseni rupa (Wijaya, 2003:218).Kedua, kelebihan naskah drama Dag Dig Dug dibanding dengan naskah-naskah drama PutuWijaya yang lain. Naskah-naskah drama Putu Wijaya biasa berdurasi antara 90 sampai 120menit. Tak pernah lebih panjang dari itu, kecuali Dag Dig Dug. Teater Mandiri sampaisekarang belum pernah memainkan naskah itu (Wijaya, 2003:218). Lakon Dag Dig Dugtidak pernah dimainkan, karena Putu Wijaya tidak punya aktor kuat di dalam kelompok teaternya (Teater Mandiri). Naskah tersebut memerlukan minimal dua pemain yang hebat,agar mampu mengangkat peristiwanya (Email: Wijaya, 2005).Ketiga, konflik sebagai dasar drama dalam naskah Dag Dig Dug memiliki peranan yangsangat kuat. Dengan asumsi bahwa naskah drama Dag Dig Dug berdurasi lebih dari 120menit namun tokoh utama sebenarnya hanyalah terdiri dari dua tokoh (Suami dan Istri).Diperlukan jalinan antarkonflik yang jeli dan penciptaan konflik-konflik yang kuat dalammerangkai alur agar mampu membangun suasana pementasan Dag Dig Dug, agar penontontidak merasa bosan dan meninggalkan gedung pertunjukkan, sebab dalam penulisan naskahdrama diperhitungkan keterlibatan penonton dalam naskah drama tersebut, karena itu hampir (4) pada tiap adegan naskah drama Dag Dig Dug terjadi konflik berupa pertengkaran antaratokoh Suami dan tokoh Istri.Keempat, dalam penelitian-penelitian karya sastra sebelumnya, penelitian tentang naskahdrama terbilang sedikit jika dibandingkan dengan penelitian tentang prosa dan puisi,khususnya penelitian yang membahas secara lebih dalam tentang konflik dalam naskahdrama. Penelitian-penelitian tentang naskah drama sebelumnya antara lain adalah: potensidramatik dalam naskah drama, ciri atavisme dalam naskah drama, dan hubungan tema dalamnaskah drama.1.2 Batasan MasalahDrama merupakan sebuah karya sastra atau sebuah komposisi yang melukiskan kehidupandan perilaku manusia dalam bentuk dialog untuk dipentaskan. Sementara kaidah dasar drama
 
sebagai karya sastra sebagai berikut: (1) dasar drama adalah koflik atau pertentangan antaratokoh/unsur lain yang memiliki kekuatan, konflik tersebut akan mewarnai setiap bagianyang ada dalam sebuah cerita drama, (2) dasar dari konflik adalah motif, motif adalah alasandan penyebab munculnya konflik terjadi, (3) apa yang menggerakkan konflik, bagaimana konflik  bergerak, dan bagaimana efek-efek dari konflik bergantung pada jenis dan fungsi setiap unitmotivasional, (4) Petunjuk mengenai teknik dan maksud penulis naskah dapat(5)selalu ditemukan dengan menganalisis unit motivasional, (5) setiap unit motivasionaldipengaruhi oleh unit yang hadir sebelumnya dan sesudahnya, (6) menafsirkan satu unit iasmempengaruhi makna keseluruhan permainan, (7) jika sejak awal unit motivasional ditafsirkandengan jelas, hasil dari tafsiran ini akan mempengaruhi permainan secara keseluruhan.Pembahasan mengenai konflik dalam naskah drama adalah: (1) mengidentifikasi jenis unitmotivasional sebagai indikasi sebab munculnya konflik, (2) mengidentifikasi fungsi unitmotivasional sebagai indikasi bergeraknya dan efek dari konflik, (3) mengidentifikasi hubunganantarunit motivasional untuk mendapatkan kandungan makna dan maksud pengarang yangmengacu pada permasalahan kemanusian yang bersumber pada tabiat kehidupan manusia(konflik).Dari beberapa uraian tersebut, peneliti akan membatasi masalah yang akan diteliti. Penelitian iniakan membahas tentang konflik sebagai dasar atau esensi dalam sebuah naskah drama, melaluianalisis unit motivasional, karena motif merupakan dasar dari konflik.1.3 Rumusan MasalahBerdasarkan latar belakang masalah, terdapat beberapa rumusan masalah sebagai berikut:a. Apa saja unit konflik dan unit pendukung konflik yang terdapat dalam naskah drama Dag DigDug karya Putu Wijaya? b. Apa saja fungsi unit konflik dan unit pendukung konflik dalam setiap adegan yang terdapatdalam naskah drama Dag Dig Dug karya Putu Wijaya?c. Bagaimana hubungan antara unit konflik dan unit pendukung konflik yang terdapat dalamnaskah drama Dag Dig Dug karya Putu Wijaya dalam membangun plot?(6)1.4 Tujuan PenelitianSecara umum penelitian ini bertujuan untuk memperoleh deskripsi tentang konflik yangterdapat dalam naskah drama Dag Dig Dug karya Putu Wijaya. Sedangkan secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk memperoleh deskripsi tentang:a. unit konflik dan unit pendukung konflik yang terdapat dalam naskah drama Dag DigDug karya Putu Wijaya, b. fungsi unit konflik dan unit pendukung konflik dalam setiap adegan yang terdapatdalam naskah drama Dag Dig Dug karya Putu Wijaya, danc. hubungan antara unit konflik dan unit pendukung konflik yang terdapat dalam naskahdrama Dag Dig Dug karya Putu Wijaya dalam membangun plot.1.5 Manfaat PenelitianManfaat TeoritisHasil penelitian tentang konflik dalam naskah drama Dag Dig Dug karya Putu Wijayadiharapkan bisa memperkaya dan menambah wawasan bagi pengembangan ilmu dalam bidang sastra terutama naskah drama

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->