Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
4Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Proses Amandemen UUD 1945

Proses Amandemen UUD 1945

Ratings: (0)|Views: 3,032|Likes:
Published by Luckman D'Capricorn

More info:

Published by: Luckman D'Capricorn on Jan 24, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOCX, TXT or read online from Scribd
See More
See less

10/21/2013

pdf

text

original

 
 
Proses Amandemen UUD 1945
 
Keseluruhan proses amandemen dari 1999 s/d 2002 adalah satu rangkaian, bukan kegiatanterpisah-pisah yang
 slordeg 
, ceroboh.Materi amandemen Oktober 1999 dipersiapkan oleh Panitia Ad-Hoc (PAH) III
9
. Karena waktu persiapan yang terbatas, materi yang dapat dihasilkan tidak banyak, tetapi SU MPR 1999menetapkan untuk menyelesaikan amandemen dan cara kerja selanjutnya.Bahan kajian PAH III dilanjutkan oleh PAH I. PAH I bekerja dari November 1999 sampaidengan Oktober 2000. Materi yang dibahas selalu menyeluruh, dalam keterkaitan antara satuayat dengan ayat lainnya. Hal mana karena UUD 1945 adalah satu kesisteman. Materi yangdapat disepakati PAH I selanjutnya diselesaikan dalam SU MPR 2000. Selanjutnya bahan yang³tersisa´ dilanjutkan pembahasannya oleh PAH I dari November 2000 sampai dengan Oktober 2001 dan diselesaikan pada SI MPR 2001. Demikian pula yang tidak dapat selesai pada masa itudilanjutkan oleh PAH I dan diselesaikan pada ST MPR tahun 2002. Itulah sebabnya pada tahap permulaan hanya materi-materi yang telah ³matang´ di tengah masyarakat dan materi ³kelasringan´ yang dapat lebih dahulu diselesaikan. Materi ³kelas berat´ baru selesai pada ST MPR 2001 dan ST MPR 2002.PAH III mempunyai 25 anggota yang mewakili seluruh partai politik yang mempunyai anggotadi MPR, anggota MPR utusan golongan dan TNI/POLRI yang diangkat. PAH III bekerja selamamasa SU MPR 1999, dan berhasil memutuskan dasar-dasar perubahan UUD 1945 sebagai berikut :-
 Perubahan atas UUD 1945 dilakukan secara amandemen.
 
- Pembukaan UUD 1945 tidak diubah.- Yang diubah adalah Batang Tubuh dan Penjelasan.- Hal-hal normatif dalam Penjelasan akan dimasukkan ke dalam pasal dan ayat UUD.
 Berdasarkan hasil kerja PAH III, SU MPR tahun 1999 berhasil merampungkan beberapa perubahan pertama UUD 1945.SU MPR 1999 memutuskan untuk melanjutkan amandemen sampai selesai. Badan Pekerjaditugaskan untuk merampungkan amandemen selambat-lambatnya pada tanggal 18 Agustus2000. Untuk melanjutkan amandemen PAH III sepakat untuk melakukan pembahasan dan peninjauan atas setiap pasal dan ayat UUD dan notulasi rapat PAH III, termasuk materi yang belum selesai dan pemandangan umum fraksi-fraksi, menjadi bahan masukan bagi prosesselanjutnya.Guna melaksanakan tugas itu SU MPR 1999 membentuk BP-MPR yang pada gilirannyamembentuk panitia Ad-Hoc I (PAH I). Kemudian ternyata BP MPR tidak dapat merampungkanseluruh amandemen sesuai tenggat waktu yang ditetapkan dalam SU MPR 1999. Kemudian STMPR 2000 memutuskan untuk memperpanjang masa tugas BP-MPR sampai dengan selesaimelaksanakan amandemen.
 
 PAH I juga beranggotakan 25 anggota MPR dari seluruh fraksi melanjutkan tugas melakukan pembahasan materi amandemen
10
.Untuk membantu pelaksanaan tugasnya PAH I membentuk beberapa Tim Ahli, yang terdiri dariTim Ahli Politik, Hukum, Ekonomi, Sosial-Budaya, dan Tim Ahli Bahasa Indonesia. Tim Ahlitelah menunjukkan komitmen dan dedikasinya terhadap penyelesaian amandemen dengan baik.Baik PAH I maupun Tim Ahli telah bekerja sama dengan baik, sesuai dengan tugas dantanggung jawabnya. PAH I menerima banyak masukan dan pertimbangan dari Tim Ahli, dimintaataupun tidak diminta. Walaupun demikian, keputusan ada di tangan anggota MPR dan tidak semua pendapat Tim Ahli dapat diterima.Di samping itu, bekerja sama dengan asosiasi keilmuan, seperti asosiasi ahli ilmu politik, asosiasiilmu hukum, PAH I menyelenggarakan seminar di berbagai perguruan tinggi di Indonesia,seperti Universitas Gajah Mada, Universitas Mataram, Universitas Riau, dan sebagainya. Padakesempatan itu berbagai rancangan perubahan pasal dan ayat diuji kesahihannya.Dalam rangka menyerap pendapat umum dan sekaligus memasyarakatkan proses dan hasilsementara amandemen, tim-tim kecil PAH I berkunjung ke semua ibukota propinsi dan jugamengunjungi hampir semua ibukota kabupaten/kotamadya dan menggelar rapat dengar pendapatumum (RDPU-
 public hearing 
). Peserta RDPU terdiri dari pimpinan daerah, tokoh partai dan pemuka lainnya termasuk alim ulama, unsur perguruan tinggi dan para aktivis. Banyak masukandan aspirasi yang disampaikan kepada dan ditampung oleh PAH I.Di Jakarta juga dilaksanakan RDPU serupa dengan mengundang perorangan maupun kelompok-kelompok.Dari berbagai pihak, PAH I memperoleh banyak literatur dan naskah konstitusi berbagai negarasebagai bahan perbandingan. PAH I melakukan studi banding keluar negeri, seperti ke AfrikaSelatan, Jerman, Inggris, Perancis, Amerika Serikat, Korea Selatan, Austria, Australia, dansebagainya. Kunjungan studi ini memberikan banyak masukan berguna kepada anggota PAH Idan melengkapi studi literatur yang dilakukan. Ternyata banyak hal yang digambarkan olehliteratur, yang baik atau yang kurang baik, berbeda dengan kenyataan prakteknya dilapanganatau terasa janggal. Penempatan Mahkamah Konstitusi (MK) sebagai lembaga peradilan yang berada di atas MA di Afrika Selatan ternyata membawa banyak kerumitan dalam menegakkansupremasi hukum di negara itu. Keputusan kasasi mengenai hukuman mati oleh MA telahdianulir oleh MK berdasarkan HAM. Anggota Hakim Agung MA Amerika Serikat, lembagayang berhak melakukan
 judicial review
atas UU terhadap Konstitusi, masa jabatannya seumur hidup.Rapat-rapat PAH I pada dasarnya bersifat terbuka. Selalu ramai dihadiri oleh para wartawandalam dan luar negeri, para peninjau, termasuk mahasiswa (pasca sarjana)
11
, namun padaawalnya berita liputan media atas proses reformasi UUD tidak memadai.PAH I sering dikritik dari berbagai pihak tentang cara kerja MPR yang dianggap tidak demokratis karena MPR tidak menampung seluruh aspirasi. Kritik itu tidak seluruhnya keliru.
 
Sebenarnya MPR mendengarkan seluruh aspirasi masyarakat, baik aspirasi mereka yang inginagar UUD 1945 tetap dipertahankan sebagaimana aslinya atau mereka yang menginginkan agar amandemen segera diselesaikan, jangan diulur-ulur. Juga mendengarkan aspirasi mereka yangingin memasukkan kembali ³7 kata´ ke dalam Pembukaan. PAH I juga mendengarkan aspirasiagar NKRI diubah menjadi negara serikat dan agar sistem perwakilan politik menggunakansistem bi-kameral yang setara. Demikian pula mendengarkan ³ancaman´ daerah yang akanmemisahkan diri dari Republik Indonesia apabila ³7 kata´ itu dimasukkan atau bila NKRI berubah menjadi negara serikat. Tentu ada juga aspirasi yang menghendaki agar Pembukaandipertahankan, NKRI dipertahankan dan sebagainya. Anggota PAH I mendengar dan merekamsemua aspirasi-aspirasi itu. Tetapi pada akhirnya PAH I harus mengambil keputusan dan tentusaja tidak semua aspirasi yang dicatat itu dapat disetujui. Kekuatan-kekuatan politik di Indonesiamempunyai landasan dasar perjuangan yang memberi arah dan koridor terhadap langkah-langkahdan keputusan-keputusan politik yang dapat diambil.Secara bertahap PAH I berhasil merampungkan rancangan perubahan UUD 1945. Hasil PAH Ikemudian dilaporkan pada sidang pleno Badan Pekerja. Selanjutnya BP melaporkan materi itukepada sidang paripurna MPR untuk diputuskan. Seluruh materi perubahan UUD 1945 melaluiamandemen dapat diselesaikan pada Sidang Tahunan MPR tahun 2002. ST MPR tahun 2003 danSU MPR 2004, tidak lagi membahas mengenai materi amandemen UUD 1945.
B
eberapa Pokok Perubahan UUD 1945 dan Catatan Atas Pelaksanaannya
 Sebagaimana telah ditulis di muka, MPR sepakat untuk mempertahankan Pembukaan, bukanhanya dalam arti formal keberadaannya di dalam UUD, tetapi juga posisinya sebagai nilai-nilai pokok keberadaan, cita-cita dan arah bangsa Indonesia merdeka. Pancasila yang termaktub didalamnya adalah dasar kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pembukaan dengandemikian mengandung muatan ideologis yang memberi arah dan sebagai
lightstar 
perjalanan bangsa. Di tengah perubahan lingkungan strategis dunia yang demikian mendasar bangsaIndonesia telah mempunyai pedoman bagi langkah perjalanannya, yaitu Pancasila.Di lain pihak, pasal dan ayat seyogianya merupakan perangkat yang mengatur pokok-pokok carauntuk mewujudkan nilai-nilai pokok Pembukaan. Oleh karena itu pasal dan ayat, apalagiPenjelasan, tidak boleh memuat perangkat dan cara yang menyimpang dari nilai-nilai pokok.Perubahan terjadi atas pasal dan ayat dan amat fundamental. Pembukaan disepakati untuk dipertahankan dan dinyatakan berada di luar jangkauan perubahan UUD. Aturan perubahanUUD hanya menyangkut pasal dan ayat, tidak dapat menjangkau Pembukaan
12
. Bentuk negarakesatuan dinyatakan dengan tegas sebagai tidak dapat diubah (
non-amendable
). Sistem MPR telah diganti dengan sistem politik 
check and balance
, dimana Presiden dipilih langsung olehrakyat untuk masa jabatan 5 tahun. Seseorang hanya boleh menjadi Presiden berturut-turut untuk 2 masa jabatan @ 5 tahun.Amandemen menegaskan Presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan (sistem presidentil). Pemilihan presiden dilakukan langsung oleh rakyat dimana calon presidendicalonkan dalam 1 paket berpasangan dengan calon wakil presiden oleh partai atau gabungan partai peserta pemilu. Pemenang adalah pasangan yang memperoleh suara 50% + 1 secaranasional dan suara yang diperoleh itu tersebar sebagai mayoritas di paling tidak 2/3 provinsi.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->