Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
3Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Penyakit Dalam

Penyakit Dalam

Ratings: (0)|Views: 379|Likes:
Published by Mulkan

More info:

Published by: Mulkan on Jan 24, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See More
See less

02/16/2013

 
©2003 Digitized by USU digital library
1
ANEMIA DEFISIENSI BESI PADA WANITA HAMIL DI BEBERAPA PRAKTEKBIDAN SWASTA DALAM KOTA MADYA MEDANMUHAMMAD RISWANBagian Ilmu Penyakit DalamFakultas KedokteranUniversitas Sumatera UtaraBABIPENDAHULUAN
Anemia adalah suatu keadaan adanya penurunan kadar hemoglobin,hematokrit dan jumlah eritrosit dibawah nilai normal. Anemia defisiensi besi adalahanemia yang disebabkan oleh kurangnya zat besi dalam tubuh, sehingga kebutuhanzat besi (Fe) untuk eritropoesis tidak cukup, yang ditandai dengan gambaran seldarah merah hipokrom-mikrositer, kadar besi serum (Serum iron = SI) danjenuhtransferin menurun, Kapasitas ikat besi total (Total Iron Binding Capacity = TIBC)meninggi dan cadangan besi dalam sumsum tulang serta ditempat yang lain sangatkurang atau tidak ada sama sekali.
1,2
Banyak faktor yang dapat menyebabkan timbulnya anemia defisiensi besi,antara lain, kurangnya asupan zat besi dan protein dari makanan, adanya gangguanabsorbsi diusus, perdarahan akut maupun kronis, dan meningkatnya kebutuhan zatbesi seperti pada wanita hamil, masa pertumbuhan, dan masa penyembuhan daripenyakit.
3,4
Anemia defisiensi besi pada wanita hamil merupakan problema kesehatanyang dialami oleh wanita diseluruh dunia terutama dinegara berkembang. Badankesehatan dunia (World Health Organization=WHO) melaporkan bahwa prevalensiibu-ibu hamil yang mengalami defisiensi besi sekitar 35 -75 % serta semakinmeningkat seiring dengan pertambahan usia kehamilan.
5
Kekurangan gizi dan perhatian yang kurang terhadap ibu hamil merupakanpredisposisi anemia defisiensi besi pada ibu hamil di Indonesia. Kebanyakan anemiapada kehamilan disebabkan oleh defisiensi zat besi dan perdarahan akut bahkantidak jarang keduanya saling berinteraksi.
6
Di Indonesia prevalensi anemia pada kehamilan masih tinggi yaitu sekitar63,5%. Lautan J dkk (2001) melaporkan dari 31 orang wanita hamil pada trimesterII didapati 23 (74 %) menderita anemia, dan 13 (42 %) menderita kekuranganbesi.
7
Penelitian Thanglela dkk (1994) di India dari 1040 wanita hamil didapatkan70,4% menderita anemia, dengan distribusi 23% anemia ringan, 38,2% anemiasedang dan 9,2% anemia berat
8
, Desai (1995) mendapatkan prevalensi anemiapada kehamilan 62%
9
, sedangkan Abel dkk (1998) mendapatkan anemia defisiensibesi pada kehamilan 70,3%.
5
Di Malaysia Rosline dkk (2001) melaporkan dari 52 orang wanita hamil yangmenderita anemia defisiensi besi adalah 7 orang (13,5 %) dan 11 orang (21,1 %)mengalami defesiensi besi.
10
Anemia defisiensi besi pada kehamilan mempunyai gejala klinis yangbervariasi, sehingga untuk menegakkan diagnosa diperlukan pemeriksaan darah dansumsum tulang merupakan hal yang sangat penting. Pada pemeriksaan fisik seringbelum menunjukan adanya gejala kecuali sesudah nilai hemoglobinnya sangatrendah dan telah berlangsung lama.
11
 
©2003 Digitized by USU digital library
2
Anemia defisiensi besi pada wanita hamil mempunyai dampak yang jelek,baik pada ibunya maupun terhadap janinnya. Ibu hamil dengan anemia berat lebihmemungkinkan terjadinya partus prematur dan memiliki bayi dengan berat badanlahir rendah serta dapat meningkatkan kematian perinatal. Menurut WHO 40%kematian ibu dinegara berkembang berkaitan dengan anemia pada kehamilan dankebanyakan anemia pada kehamilan disebabkan oleh defisiensi besi dan perdarahanakut, bahkan tidak jarang keduanya saling berinteraksi. Merchan and Agarwal (1991)melaporkan bahwa hasil persalinan pada wanita hamil yang menderita anemiadefisiensi besi adalah, 12 -28 % angka kematian janin, 30 % kematian perinatal, dan7 -10 % angka kematian neonatal.
8
Mengingat besarnya dampak buruk dari anemia defisiensi zat besi padawanita hamil dan janin, oleh karena itu perlu kiranya perhatian yang cukup terhadapmasalah ini, Dengan diagnosa yang cepat serta penatalaksanaan yang tepatkomplikasi dapat diatasi serta akan mendapatkan prognosa yang lebih baik.
BAB IITINJAUAN KEPUSTAKAANI. SEJARAH.
Pada abad kedua sebelum masehi, Galenus mengemukakan bahwa besimerupakan anugerah dari Mars dan pada waktu itu dipakai sebagai obat kuat,sehingga para tabib masa purba banyak menggunakan zat besi sebagai obatterutama pada penderita anemia yang ditandai dengan badan lemas.
2,12
Pada pertengahan abad ke XVI kekurangan besi digambarkan sebagaipenyakit yang dikenal dengan nama Klorosis. Orang yang pertama sekali memakaiistilah Klorosis adalah Verandeus untuk mengantikan nama " de morbo vergineo "yang dikemukakan oleh Lange pada tahun 1554 untuk suatu penyakit dengan gejala-gejala muka pucat kehijauan, palpitasi, edem, sakit disendi, dan gangguangastrointestinal berupa obstipasi, serta nyeri tekan pada epigastrium.
2,12
 Klorosis merupakan suatu anemia kekurangan zat besi yang dijumpai padagadis-gadis berumur 14-17 tahun dan ibu-ibu muda. Gambaran klinis dari penyakittersebut ialah muka pucat berwarna kuning kehijauan sebagai akibat dari kadar zatbesi dalam darah yang tidak adekuat, disamping adanya kebutuhan zat besi yangmeningkat untuk pertumbuhan dan karena haid.
2,12
Pada tahun 1830 Hoefer, Popp, Foedrich berturut-turut membuktikan bahwaanemia hipokromik disebabkan oleh kekurangan besi.
2,12
Anemia merupakan manifestasi lebih lanjut dari adanya defisiensi besi, tetapigejala anemia ini sebenarnya dapat dimisalkan seperti puncak gunung es dalam laut,dimana sesungguhnya masalah-masalah yang berkaitan dengan adanya kekuranganzat besi jauh lebih besar.
2,12
Zat besi sangat diperlukan oleh tubuh antara lain untuk pertumbuhan,bekerjanya berbagai macam enzim dalam tubuh, menanggulangi adanya infeksi-infeksi, membantu kemampuan usus untuk menetralisir zat-zat toksit dan yangpaling penting ialah diperlukan untuk pembentukan hemoglobin. Selain itukekurangan zat besi dapat menyebabkan gangguan susunan syaraf pusat dan dapatmengurangi prestasi kerja. Dengan demikian walaupun terkadang belum jelasdidapatkan tanda-tanda anemia, kekurangan zat besi sudah bisa menyebabkanakibat-akibat yang buruk pada tubuh, maka seyogianya perlu mendeteksikekurangan zat besi sedini mungkin.
2,3,12
 
©2003 Digitized by USU digital library
3
Pengetahuan tentang metabolisme besi dalam tubuh merupakan salah satukunci penanggulangan masalah kekurangan zat besi.
II. BEBERAPA ASPEK METABOLISME BESI.
Besi merupakan unsur vital untuk pembentukan hemoglobin, juga merupakankomponen penting pada sistem enzim pemafasan seperti sitokrom-oksidase, katalasedan peroksidase. Fungsi utama zat besi adalah untuk mengantarkan oksigenkedalam jaringan-jaringan tubuh (Fungsi hemoglobin) dan berperan padamekanisme oksidase seluler (Fungsi sistem sitokro).
12-14
II.1.Bentuk zat besi dalam tubuh.
12,15,16
Terdapat empat bentuk zat besi dalam tubuh yaitu:a. Zat besi dalam hemoglobin.b. Zat besi dalam depot (cadangan) terutama sebagai feritin dan hemosiderin.c. Zat besi yang ditranspor dalam transferin.d. Zat besi parenkhim atau zat besi dalam jaringan seperti mioglobin dan beberapaenzim antara lain sitokrom, katalase, dan peroksidase.Kompartemen zat besi dalam tubuh.
12
KOPARTEMEN Jumlah Zat Besi (mg) % zat besi
Hemoglobin (
±
800 gr)Cadangan (Feritin, Hemosiderin
±
3 gr)Mioglobin (
±
40 gr)Pool labilHeme enzim yang mengandungzat besi (sitikrom/katalase
±
 5,8 gr)Transpor besi (Transferin
±
7,5gr)2000 - 25001000 – 15001308082,5 - 367273,52,20,20,08Jumlah besi
±
4000 100Dari tabel ini kelihatan bahwa sebagian besar zat besi terikat dalamhemoglobin yang berfungsi khusus, yaitu mengangkut oksigen untuk keperluanmetabolisme dalam jaringan-jaringan. Sebagian lain dari zat besi terikat dalamsistem retikuloendotelial (Reticulo Endothelial System = RES) hepar dan sumsumtulang sebagai depot besi untuk cadangan. Sebagian kecil dari zat besi dijumpaidalam transporting iron binding protein (transferin ), sedangkan sebagian kecil sekalididapati dalam enzim-enzim yang berfungsi sebagai katalisator pada prosesmetabolisme dalam tubuh. Fungsi-fungsi tersebut diatas akan terganggu padapenderita anemia defisiensi besi.
12,15,16
Proses metabolisme zat besi digunakan untuk biosintesa hemoglobin, dimanazat besi digunakan secara terus-menerus. Sebagian besar zat besi yang bebas dalamtubuh akan dimanfaatkan kembali (reutilization), dan hanya sebagian kecil sekaliyang diekresikan melalui air kemih, feses dan keringat.
2,15

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->