Read without ads and support Scribd by becoming a Scribd Premium Reader.
 
Aliansi Demokrasi untuk Papua(Alliance of Democracy for Papua)
YAYASAN KERJA SAMA UNTUK DEMOKRASI DAN KEADILAN 
Laporan Akhir Tahun 2011
Simbol, Bahasa dan Peristiwa Kekerasan Ada Dimana – mana
I.
 
PENDAHULUAN :
Papua tahun 2011 masih dipenuhi dengan aksi kekerasan bahkan meningkat dibanding tahunsebelumnya. Berlangsung masif di kampung maupun di kota, terjadi secara intensif padarentang waktu yang begitu lama di wilayah atau tempat tertentu seperti kasus PTFreeport,Puncak Jaya dan Jayapura.Di ruang agama, etnis dan berbagai profesi sertakorbannya beragam yakni masyarakat sipil dan aparat keamanan.Meskipun kita mencatat banyak aksi kekerasan dan korban jiwa namun tetap sulit untuk mengetahui fakta yang sebenarnya. Aksi – aksi tersebut seolah memaksa public untuk mengidentifikasi pelaku dan motifnya, saling mencurigai dan hidup dalam ketakutan. Uangdan kekuasaan diduga masih menjadi motif yang sangat kuat untuk mengorbankan siapa saja,rakyat ataupun pihak keamanan.Pemerintah khususnya aparat hukum belum mampu mencegah ataupun mengungkapkanpelaku dan motif serta hubungan dari berbagai aksi kekerasan. Ketidakmampuan bersikapnetral dan tingginya kontestasi internal dalam institusi hukum dan aparat keamanan lainnyauntuk kepentingan uang dan kekuasaan menjadi pemicu utamanya. Hal ini menimbulkanketidakpercayaan rakyat kepada pemerintah, siapa yang akan melindungi mereka apalagipada sejumlah peristiwa, aparat keamanan menjadi juga korban.Pemerintahan sipil di daerah tidak mampu menyelenggarakan pemerintahan dan melindungirakyatnya meskipun memiliki otoritas dan sumber dana termasuk respon terhadap berbagaiaksi kekerasan disaat penyelenggaraan pemerintahan masih berstatus “Tertib Sipil”.Dominasi pemerintah pusat semakin kuat, baik dalam bentuk intervensi berbagai regulasimaupun perilaku.
 
II.
 
ISU – ISU UTAMA1.
 
Pemerintahan Sipil di Daerah Tidak Mampu Menyelenggaraan Pemerintahan danMelindungi Rakyatnya.
a.
 
Setidaknya dalam 6 bulan terakhir, pemerintahan sipil di propinsi Papua dijalankanoleh penjabat Gubernur yang tidak memiliki perspektif daerah, masih menjabatsebagai Dirjen Bina Pembangunan Daerah Kemendagri dan sangat berorientasi padakepentingan pusat. Sehingga tidak mampu menjalankan tugas dengan maksimal,gagal berkomunikasi dengan lembaga pemerintahan lainnya di daerah dan denganrakyat. Selain itu masih melihat pendekatan keamanan sebagai jurus utama untuk mengatasi masalah di Papua.b.
 
Sejalan dengan itu pada kabupaten-kabupaten yang intensitas aksi kekerasannyacukup tinggi para bupatinya ikut mencalonkan diri pada pilgub Papua. Sangat sibuk mempersiapkan kemenangannya sehingga penyelenggaraan pemerintahan di daerahmenjadi macet. Tidak ada peran yang maksimal untuk turut mengatasi permasalahandi daerahnya, justru membuka intervensi pada pusat (pendekatan keamanan).c.
 
Banyaknya dana-dana yang langsung turun ke kampung menyebabkan peranpemerintah distrik menjadi melemah sebab kampung cenderung memilihberkomunikasi langsung di kantor bupati sehingga aparat kampung juga lebih banyak di kota. Meksipun banyak dana turun ke kampung namun belum ada perubahan yangberarti terutama untuk kampung atau desa di wilayah terpencil selain perubahan polahidup yang berorientasi ke uang. Monitoring ataupun pengawasan ke kampung ataudesa jarang dilakukan.d.
 
Institusi MRP telah dilumpuhkan dalam hal regulasi maupun personal dapat dilihatmulai dari proses pemilihan dan penetapan anggota MRP, pemilihan pimpinan dankedudukan MRP semua dikendalikan oleh Jakarta. Pimpinan Daerah dan paraanggota MRP sendiri tidak mampu bersikap konsisten dan dengan mudahmeninggalkan komitmen yang sudah dibuat. Terbentuknya MRP dan MRPBmenyebabkan munculnya persoalan internal seperti perubahan Tata Tertib, pemilihanpimpinan MRP yang baru dan ketegangan diantara anggota. Demikian jugapendanaannya sebab ketika terpilih dan mulai bekerja MRP dan MRPB belummemiliki pos tersendiri di dalam APBD sehingga masih bergantung pada pembiayaandari Sekretariat Daerah.e.
 
Peran DPRP hanya berkembang pada focus isu tertentu yang dilakukan ataudimobilisasi oleh orang – orang tertentu sedangkan peran dari anggota yang lain sulitdipantau. Akibatnya tidak adanya koordinasi dan berakibat pada buruknyamekanisme pengambilan keputusan dan proses adminitrasi. Fokus pembahasanregulasi daerah tahun 2011 hanya pada PERDASUS Pemilihan Gubernur dan
 
Holding Company,menunjukkan bahwa orientasi peraturan mengarah padakepentingan kekuasaan dan sumber pendanaan bagi pemerintah daerah bukan padakepentingan rakyat.f.
 
Upaya – upaya konstitusional yang dilakukan oleh berbagi pihak menuju pilgub,misalnya mengenai periodesasi jabatan gubernur dan hak konstitusional warganegara diduga masih sarat dengan kepentingan politik. Sementara itu berbagaiinstrument hukum yang berbeda masih tetap diberlakukan sehingga pendidikandemokrasi dan politik di tingkat rakyat belum berkembang bahkan makinmembingungkan sebab hanya dimainkan untuk kepentingan actor- actor politik.g.
 
Kini isu-isu gerakan separatis ikut dikaitkan dalam pemerintahan daerah, misalnyasaat pilkada,penyelenggaraan pemerintahan ataupun pada proyek infrastruktur. Adadugaan bahwa scenario melibatkan TPN/OPM pada batalnya proyek inftrastrukturyang bernilai milyaran rupiah sengaja dilakukan agar dananya dapat diselewengkansekaligus keterlibatan TPN/OPM dapat menimbulkan ketakutan bagi pihak – pihak yang akan memeriksa atau mendatangi tempat proyek infrastruktur tersebut.Isuseparatis juga makin kuat sebagai alat justifikasi untuk pengerahan aparat keamanandi sejumlah areal perusahaan(besar atau kecil) dan alat pertarungan eksistensi dariaparat keamanan.
2.
 
Sepuluh Tahun Otonomi Khusus(Otsus) : Gagal Memenuhi Hak – hak DasarRakyat Papua
a.
 
Setelah tuntutan pengembalian Otsus di tahun 2010,tahun 2011 lebih didominasioleh berita – berita mengenai evaluasi Otsus setidaknya berita evaluasi yangdilakukan oleh DPD RI, DPRP dan Kemendagri namun belum ada laporan dantindaklanjut dari proses evaluasi tersebut. Hingga kini pemerintah masihmempertahankan Otsus sebagai kebijakan yang dinilai mampu mengatasi berbagaipersoalan Papua, setidaknya belum ada pilihan lain.
b.
 
Pelaksanaan Otsus masih difokuskan pada penyelesaian permasalahan kesejahteraansedangkan pemenuhan hak sipil dan politik terutama dengan institusionalisasiinstrument Hak Asasi Manusia yang tercantum di dalam Otsus termasuk hak – hak berdemokrasi dan kebebasan berekpresi justru di represif. Meningkatnya kasus-kasus sipol dan ekosob di tahun 2011 semakin menunjukkan gagalnya Otsus sebagaisolusi buat Papua.
c.
 
Otsus bukan saja membuat banyak uang masuk ke Papua, Otsus juga membuatbanyak uang yang ditarik ke luar dari Papua mulai dari praktek pencairan dana Otsuspada lembaga pemerintahan di pusat dengan praktek”uang kecil beli uang besar’,
Search History:
Searching...
Result 00 of 00
00 results for result for
  • p.
  • Notes
    Load more