/  5
 
 
Catatan Kajian
Topik: Berusaha untuk Menghamba – dari Al HikamTanggal: 16 Februari 2012Fasilitator: Bapak MuchlisinE-mail: emuchtar@gmail.comBlog: http://chippingin.wordpress.com
KAJIAN: Berusaha untuk menghamba (16/02/2012) – halaman 1 dari 5
TOPIK: BERUSAHA UNTUK MENGHAMBA – MENILIK BUKU AL HIKAM, UNTAIAN HIKMAH IBNU ‘ATHAILLAH
Kali ini, kajian menilik sebuah buku yang kerap menjadi salah satu bacaan ketika seseorang beperjalanan. Kata “hikam” merupakanbentuk jamak dari kebijaksanaan,
wisdom
. Salah satu bab di buku ini mengangkat topik “berusaha untuk menghamba.”Seperti yang dikatakan dalam QS Adz-Dzaariyat (51) ayat 56: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya merekamengabdi kepada-Ku.” Jadi satu-satunya tujuan kita sejatinya adalah untuk mengabdi, menghamba kepada-Nya. Usaha (
ikhtiar 
) kitauntuk menghamba adalah ekspresi hidup kita dan dilakukan terus menerus, 24 jam sehari, 7 hari seminggu.Kajian kali ini benar-benar mengajak saya untuk merenungkan seperti apa selama ini penghambaan diri saya kepada Tuhan. Masih jauh perjalanan yang perlu saya tempuh. Semoga dizinkan, dilindungi dan dituntun.
Insya Allah.
Amin.
(75)
Sebaik-baik yang kau minta kepada-Nya adalah apa yang Dia tuntut darimu.
Kerjakanlah apa yang mesti engkau kerjakan sesuai dengan perintah-Nya. Apa pun yang engkau minta kepada-Nya sebenarnyaadalah apa yang seharusnya engkau penuhi dari kewajibanmu kepada-Nya. Bukankah doa adalah perintah-Nya kepadamu,sedangkan permintaanmu kepada-Nya adalah bentuk kebutuhanmu. Dia telah mengabulkan semua doamu, sebelum engkauberdoa. Sebab, Dia telah menentukan kehendak-Nya untukmu. Engkau hanya dituntut belajar menghamba kepada-Nya denganbenar. Jangan sepelekan doa bilang engkau tak ingin disepelekan oleh-Nya.
Letakkan sesuatu pada tempatnya. Pemahaman saya tentang pernyataan di atas adalah ajakan untukmeletakkan sesuatu pada tempatnya. Melihat sesuatu apa adanya. Termasuk melihat permintaan yangkita ajukan kepada Tuhan dan cara kita meminta.Kita tidak akan meminta suatu hal kalau kerinduan atau kecenderungan akan hal itu tidak ada di dalamdiri kita. Kita hanya akan meminta sesuatu yang sudah ada (bakatnya, istidad-nya) dalam diri kita. Itupermintaan agar bakat itu bisa terekspresikan. Jadi kalau kita, misalnya, minta sabar, sebenarnyakecenderungan terhadap kesabaran, benih-benih kesabaran sudah ada dalam diri kita, ‘tinggal’diekspresikan. Saya jadi ingat QS Al Insyirah yang mengatakan, misalnya,”bukankah sudah Aku lapangkandadamu..”
Tense
yang digunakan di sini adalah
 perfect tense
, sudah dilakukan, bahkan sebelum diminta.Mungkin yang perlu dilakukan adalah menyadarinya.Setelah meminta melalui doa, hendaknya kita lantas menyiapkan diri kita sesuai dengan yangdipersyaratkan agar kehendak Allah (yang terkait dengan doa kita) benar layak untuk kita.Rumus berdoa ada pada QS Al Baqarah (2) ayat 186: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamutentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yangberdo'a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) danhendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”
 
KAJIAN: Berusaha untuk menghamba (16/02/2012) – halaman 2 dari 5
Jadi ada lima hal: (1) ingatlah bahwa Tuhan itu dekat; (2) Dia mengabulkan bila hamba-Nya memohonkepada-Nya; (3) Hamba-Nya memenuhi (segala perintah-Ku); (4) beriman kepada Tuhan; dan (5) Selaluberada dalam kebenaran. Pada (4) penuhi perintah/petunjuk-Nya. Jadi kalau kita minta “Jadikan Allahsebagai kekasihku”, maka jadikan diri kita layak untuk menjadi kekasih-Nya. Kalau ingin sabar, ikuti rumusAllah untuk bersabar; apapun yang dituntut Allah untuk bersabar, lakukanlah. Menunjukkan kesungguhankita dalam berdoa dan meminta. Tampaknya di sini berdoa dan berupaya menjadi satu.Doa pun lantas menjadi bagian dari proses (belajar) menghamba kepada-Nya. (Kata ‘ibadah’, memilikiakar yang sama dengan ‘abdi’ (hamba), sehingga ibadah sejatinya merupakan ekspresi penghambaankepada Tuhan. Seperti halnya Nabi Ayub AS yang belajar menghamba melalui sakit yang ia alami.Doa menjadi bentuk (ekspresi) kebutuhan, karena sebagai hamba, kita membutuhkan Dia. Jadi bayangkankayak orang butuh, itulah adab kita ketika berdoa. Adab ini akan melahirkan akhlak yang senantiasamenghamba, berserah diri, menggantungkan diri kepada Tuhan. Dengan senang hati
 
(76)
 
Sedih lantaran kehilangan kesempatan berbuat ketaatan tanpa disertai upaya untuk bangkit mengerjakannya merupakan salahsatu tanda ketertipuan.
Buang sifat malasmu; jangan biasakan mencari-cari alasan pembenaran atas kemalasanmu itu. Buat apa engkau menyesali semuabentuk ketaatan yang terlewat, atau kesalahan dan dosa yang telah engkau perbuat, bila kenyataannya engkau tidak bersungguh-sungguh memperbaikinya. Menangisi kebodohanmu karena melewatkans emua kesempatan, tetapi tidak menggunakannya sebagai  pelajaran adalah bentuk keterpedayaan. Berapa kali semua kebaikan hilang tapi tetap saja terulang? Sadarlah, ajari dirimu sendiri disiplin, hukumlah bila perlu. Maka, engkau telah menjadi hamba-Nya yang cerdas.
Seringkali kita (saya?) merasa cukup dengan menyatakan penyesalan tanpa disertai dengan langkah nyatamenuju perbaikan. Misalnya, kita paham bahwa malam (baik malam dalam arti fisik—seperti sepertigamalam yang ditawarkan sebagai salah satu waktu terbaik untuk bermunajat padanya, maupun malamdalam arti kesunyian/keheningan) telah ditawarkan tetapi sering kita lewati. Kita menyesal, duh kenapagak dimanfaatkan, tapi kemudian tidak melakukan apa-apa. Besok dilewati lagi.Setiap hari seyogyanya lebih baik dari kemarin. Setiap saat yang hadir di hadapan kita merupakan tawarankebaikan, tawaran perbaikan, dan tawaran untuk menghamba. Di setiap saat, Allah hadir untukmenawarkan sesuatu yang memang kita minta, untuk perbaikan diri. Setiap saat bisa kita manfaatkanuntuk itu, namun kita penuh dengan keraguan, memiliki terlalu banyak pertimbangan yang kebanyakanbersifat normatif.
(77)
 
KAJIAN: Berusaha untuk menghamba (16/02/2012) – halaman 3 dari 5
Tidak disebut arif orang yang bila memberikan isyarat ia merasa Allah lebih dekat daripada isyaratnya. Namun, orang arif adalahyang tidak mempunyai isyarat lantaran telah fana dalam wujud-Nya dan lenyap dalam penyaksian terhadap-Nya.
Bukanlah sikap yang pantas bila engkau sengaja mengungkapkan banyak kiasan agar engkau dianggap orang yang arif dan dekat dengan Allah. Sebab, meskipun bahasa kiasan sering kali digunakan oleh orang-orang yang arif, tetapi bukan itu tujuannya. Bilaengkau benar dekat dengan-Nya, engkau tidak perlu menunjukkan itu dengan ungkapan kiasan apa pun. Menyelamlah lebih dalamke dasar samudera-Nya. Diamlah dalam kedekatan dengan-Nya. Biarkan perilakumu yang membicarakannya kepada orang-orang di sekitarmu. Karena mereka yang telah hidup bersama-Nya, tidak membutuhkan “tanda pengenal” saat bersama makhluk-Nya. Jadilah hamba-Nya, jangan jadi hamba makhluk-Nya.
Maksudnya simbol-simbol keagamaan yang kadang kita (sadari atau tidak) tunjukkan untuk‘membuktikan’ kedekatan kita dengan Tuhan. Kalau secara natural, simbol/bukti itu ada sebenarnya sihtidak apa. Yang perlu kita perhatikan, jangan sampai simbol-simbol itu menjadi tuhan kita, kebanggaanyang malah dapat menimbulkan kesombongan (merasa lebih baik dari orang lain), dan lebih kitapentingkan daripada kedekatan kita kepada Tuhan itu sendiri.Semakin lama, hendaknya semakin tidak perlu kita terhadap tanda-tanda dunia yang menunjukkankedekatan kita terhadap Tuhan. Pada saat seorang hamba sudah sangat dekat dengan Tuhan, maka dialebur, sudah tak ada lagi. Dikatakan, tidak mungkin kita bisa sampai matahari apabila kita masih utuh.Tanda-tanda kedekatan bisa dilihat dari akhlak seseorang. Santun. Ihsan (baik, dalam arti
good and  proper 
). Bukan fisik tandanya. Ini pun menurut saya, kalau kita merasa bertemu orang seperti ini,disimpan saja dalam hati. Bukan porsi kita untuk menilai (
 judge
) seseorang. Tidak pada tempatnya, danmemang tidak mampu. Atau bisa juga, jadikan pertemuan kita dengan orang-orang seperti itu sebagaiajakan Tuhan untuk menjadi sesantun, seihsan itu.Di Surat Al Kahfi (18) ayat 110 dikatakan “Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu,yang diwahyukan kepadaku: ‘Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa’. Barangsiapamengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". Di sini, Rasulullahdiperintahkan oleh Tuhan untuk menegaskan bahwa “Saya ini secara fisik seperti kalian.”Tanda pengenal bila tidak berhati-hati, bisa menjadi tuhan kalau kita kenakan. Fokus kita bisa jadi ketanda-tanda itu ketimbang kepada Tuhan-nya sendiri. Jadi ajakan di sini sangatlah fokus, menghambakepada dan hanya kepada tuhan. Merasa bahagia bila dikenal oleh Tuhan. Hanya orang-orang sepertiinilah yang bisa menyapa alam dengan Cinta. Biarlah akhlak/integritas kita yang menjadi tanda pengenal.Perbanyak silaturahmi (menyambung kasih), menyapa alam dengan Cinta.Di pernyataan di atas, juga terdapat ajakan untuk “menyelamlah lebih dalam”, guna mengenal (
ma’rifat 
)-Nya lebih baik lagi. Bila sudah demikian, dikenal atau tidak dikenal oleh makhluk sudah bukan hal pentinglagi. Hidup menjadi tulus dan apa adanya. Otomatis, hidup akan lebih mengalir dan insya Allahbermanfaat buat yang lain. Jadi, perjalanan dimulai dengan pengenalan (
ma’rifat 
), untuk menjadi orangyang tahu (
arif 
). Pengetahuan itu kemudian diamalkan, diekspresikan melalui akhlak dan tindak-tandukkeseharian. Sehingga segala yang kita pikirkan/katakan/lakukan menjadi bersih, tak ada
riya’ 
atau pamrih.
(78)
Harapan itu disertai amal. Jika tidak, itu hanyalah angan-angan.

Share & Embed

More from this user

Add a Comment

Characters: ...