KAJIAN: Berusaha untuk menghamba (16/02/2012) – halaman 3 dari 5
Tidak disebut arif orang yang bila memberikan isyarat ia merasa Allah lebih dekat daripada isyaratnya. Namun, orang arif adalahyang tidak mempunyai isyarat lantaran telah fana dalam wujud-Nya dan lenyap dalam penyaksian terhadap-Nya.
Bukanlah sikap yang pantas bila engkau sengaja mengungkapkan banyak kiasan agar engkau dianggap orang yang arif dan dekat dengan Allah. Sebab, meskipun bahasa kiasan sering kali digunakan oleh orang-orang yang arif, tetapi bukan itu tujuannya. Bilaengkau benar dekat dengan-Nya, engkau tidak perlu menunjukkan itu dengan ungkapan kiasan apa pun. Menyelamlah lebih dalamke dasar samudera-Nya. Diamlah dalam kedekatan dengan-Nya. Biarkan perilakumu yang membicarakannya kepada orang-orang di sekitarmu. Karena mereka yang telah hidup bersama-Nya, tidak membutuhkan “tanda pengenal” saat bersama makhluk-Nya. Jadilah hamba-Nya, jangan jadi hamba makhluk-Nya.
Maksudnya simbol-simbol keagamaan yang kadang kita (sadari atau tidak) tunjukkan untuk‘membuktikan’ kedekatan kita dengan Tuhan. Kalau secara natural, simbol/bukti itu ada sebenarnya sihtidak apa. Yang perlu kita perhatikan, jangan sampai simbol-simbol itu menjadi tuhan kita, kebanggaanyang malah dapat menimbulkan kesombongan (merasa lebih baik dari orang lain), dan lebih kitapentingkan daripada kedekatan kita kepada Tuhan itu sendiri.Semakin lama, hendaknya semakin tidak perlu kita terhadap tanda-tanda dunia yang menunjukkankedekatan kita terhadap Tuhan. Pada saat seorang hamba sudah sangat dekat dengan Tuhan, maka dialebur, sudah tak ada lagi. Dikatakan, tidak mungkin kita bisa sampai matahari apabila kita masih utuh.Tanda-tanda kedekatan bisa dilihat dari akhlak seseorang. Santun. Ihsan (baik, dalam arti
good and proper
). Bukan fisik tandanya. Ini pun menurut saya, kalau kita merasa bertemu orang seperti ini,disimpan saja dalam hati. Bukan porsi kita untuk menilai (
judge
) seseorang. Tidak pada tempatnya, danmemang tidak mampu. Atau bisa juga, jadikan pertemuan kita dengan orang-orang seperti itu sebagaiajakan Tuhan untuk menjadi sesantun, seihsan itu.Di Surat Al Kahfi (18) ayat 110 dikatakan “Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu,yang diwahyukan kepadaku: ‘Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa’. Barangsiapamengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". Di sini, Rasulullahdiperintahkan oleh Tuhan untuk menegaskan bahwa “Saya ini secara fisik seperti kalian.”Tanda pengenal bila tidak berhati-hati, bisa menjadi tuhan kalau kita kenakan. Fokus kita bisa jadi ketanda-tanda itu ketimbang kepada Tuhan-nya sendiri. Jadi ajakan di sini sangatlah fokus, menghambakepada dan hanya kepada tuhan. Merasa bahagia bila dikenal oleh Tuhan. Hanya orang-orang sepertiinilah yang bisa menyapa alam dengan Cinta. Biarlah akhlak/integritas kita yang menjadi tanda pengenal.Perbanyak silaturahmi (menyambung kasih), menyapa alam dengan Cinta.Di pernyataan di atas, juga terdapat ajakan untuk “menyelamlah lebih dalam”, guna mengenal (
ma’rifat
)-Nya lebih baik lagi. Bila sudah demikian, dikenal atau tidak dikenal oleh makhluk sudah bukan hal pentinglagi. Hidup menjadi tulus dan apa adanya. Otomatis, hidup akan lebih mengalir dan insya Allahbermanfaat buat yang lain. Jadi, perjalanan dimulai dengan pengenalan (
ma’rifat
), untuk menjadi orangyang tahu (
arif
). Pengetahuan itu kemudian diamalkan, diekspresikan melalui akhlak dan tindak-tandukkeseharian. Sehingga segala yang kita pikirkan/katakan/lakukan menjadi bersih, tak ada
riya’
atau pamrih.
(78)
Harapan itu disertai amal. Jika tidak, itu hanyalah angan-angan.
Add a Comment