Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
8Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Terapi Latihan Pada Hemiplegi Dextra Karena Stroke Non Haemoragic Stadium Flaccid

Terapi Latihan Pada Hemiplegi Dextra Karena Stroke Non Haemoragic Stadium Flaccid

Ratings: (0)|Views: 443 |Likes:
Published by Estu Mahendra

More info:

Published by: Estu Mahendra on Jan 29, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/21/2013

pdf

text

original

 
PENATALAKSANAAN TERAPI LATIHAN PADA HEMIPARESEDEXTRA KARENA STROKE NON HAEMORAGIC FASE FLACCID
OLEH : YOLARIAN AYU NINOLTANIM. 30609010
KARYA TULIS ILMIAH
Diajukan Guna Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat Untuk Menyelesaikan Program Pendidikan Diploma III Fisioterapi
INSTITUT ILMU KESEHATANBHAKTI WIYATAKEDIRI2011
 
BAB IPENDAHULUAN
Pembangunan nasional pada hakekatnya adalah pembangunan manusia Indonesiaseutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia, menuju masyarakat maju, adilmakmur berdasarkan pancasila. Pembanguna kesehatan merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang bertujuan mencapai kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal, untuk itu diperlukan tenaga-tenaga kesehatan termasuk fisioterapi yang berkualitas dan berkepribadian.Berdasarkan SK Menteri RI No. 1363/MENKES/XII/2001, fisioterapi diartikansebagai suatu bentuk pelayanan kepada individu atau kelompok untuk mengembangkan,memelihara, dan menggunakan penanganan secara manual, peningkatan gerak, peralatan (fisik,elektro terapeutis, dan mekanik) pelatih dan komunikasi (www.phsyko.com, 2006)
A.
 
Latar Belakang
Meningkatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi membawa dampak  perbaikan dalam rangka harapan hidup. Sejalan dengan meningkatnya usia, banyak timbul penyakit pembuluh darah otak yang bias mengakibatkan stroke (Soetiyem, 1996, yang dikutipdari Karya Tulis Ilmiah Dwi Wahono, 2004).Stroke atau juga dikenal dengan nama CVA (Cerebro Vascular Accident) atau GPDO(Gangguan Pembuluh darah Otak) adalah suatu penyakit yang sangat ditakuti manusia olehkarena secara medis stroke merupakan kondisi medis besar (mayor) yang menyebabkanterganggunya hampir semua fungsi kehidupan manusia. Stroke akan menyebabkan terganggunyafungsi-fungsi biologis ± psikologis ± social ± kultural dan spiritual bagi penderitanya (Seminar Stroke Universitas Airlangga Surabaya, 2010).
 
Stroke merupakan masalah dibidang medis yang utama, diperkirakan 1 dari 3 orangakan mengalami stroke dan 1 dari 7 orang akan meninggal karena stroke, dan hampir tidak adakemungkinan untuk dapat bekerja kembali setelah serangannya berlalu (Iskandar J, 2003).Dikatakan bahwa angka kejadian (insiden) stroke adalah 200 per 100.000 penduduk. Artinyadalam satu tahun, diantara 100.000 penduduk, maka 200 orang akan mengidap stroke.Bila menurut usia maka angka ini menjadi sebagai berikut : Pada kelompok usia 35-44tahun, insidennya ialah 0,2 per seribu. Pada kelompok usia 45-64 : 0,7 per seribu, kelompok usia55-64 : 1,8 per seribu, 65-75 tahun : 2,7 perseribu, 75-84 tahun : 10,4 per seribu, dan usia 85tahun ke atas 13,9 per seribu (Iskandar J, 2003).Dilihat dari aspek fisioterapi, penderita stroke pada stadium awal menimbulkan berbagai tingkat gangguan yaitu
impairment 
yaitu berupa adanya abnormalitas tonus otot(flaccid), hilangnya sensibilitas pada separo badan dan
 fungsional limitation
seperti menurunnyakemampuan untuk menggerakkan anggota tubuh yang sakit bahkan tingkat
disability
yaituketidak mampuan dalam hal melakukan aktivitas tertentu sampai dengan kecacatan.Upaya perbaikan kualitas gerak dan fungsi dapat dicapai dengan pemberian latihan.Pemberian terapi latihan dilakukan secra bertahap, terpadu sesuai dengan kemampuan penderita.Pada stadium flaccid, latihan yang diberikan bertujuan untuk (1) mencegah komplikasi, (2)memberikan stimulasi dan mendidik rasa gerak, (3) melatih beberapa aktivitas di tempat tidur misalnya latihan miring ke sisi yang sehat maupun ke sisi yang sakit, (4) menanamkan polagerak yang normal, perbaikan koordinasi gerak dan rasa gerak, (5) melatih kemampuan transver dan ambulasi. Untuk mencapai tuujuan tersebut maka pemberian stimulasi taktil, propioseptif serta penanaman pola gerak diagonal spiral sangat penting dilakukan pada fase ini.

Activity (8)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
Novia Diba liked this
Merri Pebriyanti liked this
Adi Sucipto liked this
Ichiro San liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->