Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword or section
Like this
11Activity
×
P. 1
Pengembangan Kurikulum Dalam Konteks Globalisasi Pendidikan

Pengembangan Kurikulum Dalam Konteks Globalisasi Pendidikan

Ratings: (0)|Views: 6,228|Likes:
Published by chierasain
Pendidikan dalam konteks pembangunan nasional mempunyai tugas: (1) pemersatu bangsa, (2) penyamaan kesempatan, dan (3) pengembangan potensi diri. Pendidikan diharapkan dapat memperkuat keutuhan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), memberi kesempatan yang sama bagi setiap warga negara untuk berpartisipasi dalam pembangunan, dan memungkinkan setiap warga negara untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya secara optimal. Mutu pendidikan dipengaruhi oleh mutu proses belajar mengajar; sedangkan mutu proses belajar mengajar ditentukan oleh berbagai komponen yang saling terkait satu sama lain, yaitu input peserta didik, kurikulum, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana prasarana, dana, manajemen, dan lingkungan. Kurikulum merupakan salah satu komponen pendidikan yang sangat strategis karena merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Kurikulum sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran memberikan makna bahwa di dalam kurikulum terdapat panduan interaksi antara guru dan peserta didik. Dengan demikian, kurikulum berfungsi sebagai "nafas atau inti" dari proses pendidikan di sekolah untuk memberdayakan potensi peserta didik. Seiring dengan perubahan pengelolaan pemerintahan, yang memasuki era desentralisasi, diikuti dengan perubahan pengelolaan pendidikan berupa desentralisasi pendidikan, otonomi pendidikan, dan otonomi manajemen sekolah, maka kurikulum yang sifatnya sentralistik seperti Kurikulum 1994 dan kurikulum-kurikulum sebelumnya, sudah tidak sesuai lagi dengan era otonomi manajemen sekolah. Dengan Kurikulum 1994 yang sentralistik, di mana satu kurikulum diberlakukan untuk semua peserta didik dari Sabang sampai Merauke, berarti kemampuan seluruh peserta didik seolah-olah dianggap sama. Padahal, kenyataannya kemampuan setiap peserta didik berbeda satu sama lain, berbeda antara daerah yang satu dengan daerah yang lain, berbeda antara sekolah yang satu dengan sekolah yang lain; dan yang paling memahami kemampuan setiap peserta didik adalah guru-guru yang bersangkutan. Oleh karena itu, yang paling ideal menyusun kurikulum tingkat satuan pendidikan saat ini adalah para guru yang bersangkutan. Hal inilah antara lain yang mendasari perlunya penyempurnaan kurikulum.
Pendidikan dalam konteks pembangunan nasional mempunyai tugas: (1) pemersatu bangsa, (2) penyamaan kesempatan, dan (3) pengembangan potensi diri. Pendidikan diharapkan dapat memperkuat keutuhan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), memberi kesempatan yang sama bagi setiap warga negara untuk berpartisipasi dalam pembangunan, dan memungkinkan setiap warga negara untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya secara optimal. Mutu pendidikan dipengaruhi oleh mutu proses belajar mengajar; sedangkan mutu proses belajar mengajar ditentukan oleh berbagai komponen yang saling terkait satu sama lain, yaitu input peserta didik, kurikulum, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana prasarana, dana, manajemen, dan lingkungan. Kurikulum merupakan salah satu komponen pendidikan yang sangat strategis karena merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Kurikulum sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran memberikan makna bahwa di dalam kurikulum terdapat panduan interaksi antara guru dan peserta didik. Dengan demikian, kurikulum berfungsi sebagai "nafas atau inti" dari proses pendidikan di sekolah untuk memberdayakan potensi peserta didik. Seiring dengan perubahan pengelolaan pemerintahan, yang memasuki era desentralisasi, diikuti dengan perubahan pengelolaan pendidikan berupa desentralisasi pendidikan, otonomi pendidikan, dan otonomi manajemen sekolah, maka kurikulum yang sifatnya sentralistik seperti Kurikulum 1994 dan kurikulum-kurikulum sebelumnya, sudah tidak sesuai lagi dengan era otonomi manajemen sekolah. Dengan Kurikulum 1994 yang sentralistik, di mana satu kurikulum diberlakukan untuk semua peserta didik dari Sabang sampai Merauke, berarti kemampuan seluruh peserta didik seolah-olah dianggap sama. Padahal, kenyataannya kemampuan setiap peserta didik berbeda satu sama lain, berbeda antara daerah yang satu dengan daerah yang lain, berbeda antara sekolah yang satu dengan sekolah yang lain; dan yang paling memahami kemampuan setiap peserta didik adalah guru-guru yang bersangkutan. Oleh karena itu, yang paling ideal menyusun kurikulum tingkat satuan pendidikan saat ini adalah para guru yang bersangkutan. Hal inilah antara lain yang mendasari perlunya penyempurnaan kurikulum.

More info:

Published by: chierasain on Jan 31, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

03/13/2013

pdf

text

original

 
Pengembangan Kurikulum
 
Iwan Kosasih
 
PENGEMBANGAN KURIKULUM
 
DALAM KONTEKS GLOBALISASI
 
PENDIDIKAN
 
BAB I
 
Pendahuluan
 
A. Latar Belakang
 
Pendidikan dalam konteks pembangunan nasional mempunyai tugas: (1)pemersatu bangsa, (2) penyamaan kesempatan, dan (3) pengembangan potensidiri. Pendid
ikan
diharapkan dapat memperkuat keutuhan bangsa dalam NegaraKesatuan Republik Indonesia (NKRI), memberi kesempatan yang sama bagisetiap warga negara untuk 
berpartisipasi dalam pembangunan, dan memungkinkan
setiap warga negara untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya secara
optimal.
Mutu pendidikan dipengaruhi oleh mutu proses belajar mengajar;sedangkan mutu proses belajar mengajar ditentukan oleh berbagai komponenyang saling terkait satu sama lain, yaitu input peserta didik, kurikulum, pendidik 
da
n tenaga kependidikan, sarana prasarana, dana, manajemen, dan lingkungan.Kurikulum merupakan salah satu komponen pendidikan yang sangat strategis
karena
merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi,dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan
tertentu
. Kurikulum sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaranmemberikan makna bahwa di dalam kurikulum terdapat panduan interaksi antaraguru dan peserta didik. Dengan demikian, kurikulum berfungsi sebagai "nafasatau inti" dari proses pendidikan di sekolah untuk memberdayakan potensi peserta
didik.
Seiring dengan perubahan pengelolaan pemerintahan, yang memasuki eradesentralisasi, diikuti dengan perubahan pengelolaan pendidikan berupa
desentralisasi
pendidikan, otonomi pendidikan, dan otonomi manajemen sekolah,
 
Pengembangan Kurikulum
 
Iwan Kosasih
 
maka kurikulum yang sifatnya sentralistik seperti Kurikulum 1994 dan
kurikulum
-kurikulum sebelumnya, sudah tidak sesuai lagi dengan era
otonomi
manajemen sekolah. Dengan Kurikulum 1994 yang sentralistik, di mana satukurikulum diberlakukan untuk semua peserta didik dari Sabang sampai Merauke,berarti kemampuan seluruh peserta didik seolah-olah dianggap sama.
Padahal,
kenyataannya kemampuan setiap peserta didik berbeda satu sama lain, berbedaantara daerah yang satu dengan daerah yang lain, berbeda antara sekolah yangsatu dengan sekolah yang lain; dan yang paling memahami kemampuan setiappeserta didik adalah
guru
-guru yang bersangkutan. Oleh karena itu, yang palingideal menyusun kurikulum tingkat satuan pendidikan saat ini adalah para guruyang bersangkutan. Hal inilah antara lain yang mendasari perlunya
penyempurnaan kurikulum.
 Dalam TAP MPR RI Nomor IV/MPR/1999 dinyatakan bahwa arah
kebijakan
pembangunan pendidikan nasional antara lain untuk: (1) melakukanpembaharuan sistem pendidikan termasuk pembaharuan kurikulum, berupadiversifikasi kurikulum untuk melayani keberagaman peserta didik, penyusunankurikulum yang berlaku secara nasional dan lokal sesuai dengan kepentingansetempat serta jenis pendidikan secara profesional; dan (2) melakukanpembaharuan dan pemantapan sistem pendidikan nasional berdasarkan
prinsip
desentralisasi, otonomi keilmuan, dan manajemen. Selanjutnya, pada tahun 2003telah disahkan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem PendidikanNasional (UUSPN). UUSPN ini memberikan dasar hukum untuk membangunpendidikan nasional dengan menerapkan prinsip demokrasi,
desentralisasi,
otonomi, keadilan, dan menjunjung tinggi hak asasi manusia. Hal ini untuk menjawab gerakan reformasi di Indonesia yang secara umum menuntutditerapkannya prinsip demokrasi, desentralisasi, keadilan, dan menjunjung tinggihak asasi manusia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam
hubunga
nnya dengan pendidikan,
prinsip
-prinsip tersebut akan memberikandampak yang mendasar pada kandungan, proses, dan manajemen sistem
pendidikan.
Selain itu, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat dan
memunculkan
tuntutan baru dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam2
 
 
Pengembangan Kurikulum
 
Iwan Kosasih
 
sistem pendidikan. Tuntutan tersebut menyangkut pembaharuan sistempendidikan, di antaranya pembaharuan kurikulum, yaitu diversifikasi kurikulumuntuk melayani peserta didik dan potensi daerah yang beragam dan pelaksanaanmanajemen pendidikan berbasis sekolah. Pembaharuan sistem pendidikanmemerlukan strategi tertentu. Strategi pembangunan pendidikan nasional dalamUUSPN antara lain meliputi: pengembangan dan pelaksanaan kurikulum berbasiskompetensi dan pelaksanaan otonomi manajemen pendidikan. Oleh karena itu,kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan perlu dikembangkan denganprinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta
didik.
Dengan demikian, setiap satuan pendidikan perlu mengembangkan
kurikulum
tingkat satuan pendidikan, yaitu kurikulum operasional yang disusun
oleh dan
 
dilaksanakan di masing
-
masing satuan pendidikan.
 
B. Tujuan
 
Tujuan
pembuatan makalah ini adalah agar para pengambil utusan di
bidang
pendidikan maupun para pemangku kep
entingan
(stake holder)
memiliki persepsiyang sama terhadap kurikulum tingkat satuan pendidikan.
Tujuan penyusunan
kurikulum tingkat satuan pendidikan adalah sebagai pedoman
penyelenggaraankegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan pada
s
atuan
 
pendidikan
yang bersangkutan.
 3
 

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->