Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
8Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
72 Renungan tentang Berguru

72 Renungan tentang Berguru

Ratings: (0)|Views: 2,036|Likes:
Published by Mochammad Haikal

More info:

Published by: Mochammad Haikal on Feb 02, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

01/17/2013

pdf

text

original

 
72 RENUNGAN TENTANG BERGURU
OlehIr. Triwidodo Djokorahardjo, M.Engtriwidodo.wordpress.com
 
Antara Hati Nurani dan Guru RuhaniRenungan Pertama Tentang Berguru
Sepasang suami istri setengah baya sedang membuka catatan-catatan tentang berguru.Mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan pengingat diri. Mereka paham bahwa pengetahuan tak berharga bila tidak dilakoni. Buku
Shri Sai Satcharita
karya Sai das, hamba Sai mereka jadikan referensi. Bagi mereka buku-buku adalahSurat Cinta dari Gusti, yang perlu dibaca dan dipelajari berulang-kali.
Sang istri:
Kita sering membaca pernyataan bahwa untuk mempelajari caramasak-memasak, kita butuh guru. Untuk mempelajari pengetahuan ilmiah kita butuhguru, bahkan seorang guru besar. Untuk mempelajari seni kita butuh mereka yangmenguasai seni. Untuk membaca dan menulis di sekolah dasar pun kita memerlukanguru. Bukankah anak-anak yang dibesarkan hewan sejak bayi di hutan tidak bisamembaca dan menulis? Akan tetapi ketika berbicara tentang kesadaran banyak yangragu, apakah membutuhkan guru juga? Setelah otak berkembang apakah kita jugamasih memerlukan seorang guru? Bukankah buku-buku dan artikel di internet sudahtersebar, mudah diperoleh, dan secara otodidak seseorang bisa belajar sendiri?
Sang Suami:
Pengetahuan bisa dipelajari sendiri, akan tetapi pengetahuan diperolehuntuk menyempurnakan ego, sedangkan kesadaran untuk mengendalikan ego. Ego juga membuat seseorang merasa dirinya sudah mampu belajar sendiri, tidak perlu belajar dari orang lain? Dalam buku “
Shri Sai Satcharita
” disampaikan…….. Kita juga bisa memperoleh panduan lewat kitab-kitab suci, ceramah-ceramah para suci danlain sebagainya. Kendati demikian, kehadiran seorang Guru Pribadi dalam hidup tak tertandingi oleh panduan lain jenis mana pun jua. Kitab-kitab suci pun menjadi lebih bermakna, ketika seorang Guru menjelaskan kepada kita bukan secara lisan, tetapilewat tindakan nyata, perbuatan, dan kehidupannya sendiri. Ya, kehidupan seorangGuru merupakan tafsir yang paling jelas terhadap ajaran-ajaran suci tersebut……..
Sang Istri:
Suamiku, sebagian besar orang mengatakan bahwa mereka mempunyaihati nurani, dan mereka merasa bisa berkonsultasi dan mendengarkan suara hatinurani, guru yang sudah
built in
di dalam diri. Alam yang serba terbatas ini hanyalah proyeksi dari “Sang Aku”, proyeksi dari Ia yang meliputi Segalanya. Oleh karena ituGuru yang berada di dalam diri dan Guru yang ada di luar diri adalah proyeksi “SangAku” yang berkenan memandu kita.
Sang Suami:
Istriku, memang ada beberapa orang yang berkata: kita dapatmengetahui bajik dan jahat, benar dan salah, asli dan palsu, dengan berkonsultasi hatinurani kita. Mereka bilang tidak membutuhkan guru di luar diri……. Bagaimana punharus diingat bahwa hati nurani tidak akan membantu perbaikan pemahaman kecualihati nurani tersebut telah mencapai tingkat pemurnian yang tinggi. Tingkat kesadarankita akan mempengaruhi “suara hati nurani” kita.
Mind 
kita yang belum jernih akanmempengaruhi “suara hati nurani”. Hati nurani memang tempat Gusti bersemayam,tetapi suara yang terdengar oleh kita akan dipengaruhi oleh “
 semrawut 
”-nya
mind 
kita.
 
“Hati nurani yang belum murni” tidak dapat memberikan saran yang tepat. Seseorangyang masih belum dapat mengendalikan insting hewani sulit mendengarkan suara hatinurani yang membawanya kepada kesadaran. Keyakinan intelektual sangatdipengaruhi oleh pikiran sadar dan pikiran bawah sadar. Intelektualitas, dalam banyak kasus hanya sebagai alat hanya bagi naluri dan keinginan terpendam. Kesadaranseseorang berbicara sesuai dengan kecenderungan, pendidikan, kebiasaan, nafsu danmasyarakat lingkungannya.
Sang Istri:
Suamiku, saya ingat tulisan seorang bijak yang menyatakan bahwa hanyaada dua cara untuk menggapai Gusti. Pertama membesarkan diri, sehingga dapatmerangkul Gusti.Atau, kedua memperkecil diri sehingga larut di dalam Gusti.
Sang Suami:
Mereka yang memakai cara pertama berketetapan, lebih baik akumenggali diri, mencari jati-diri, untuk apa mencari Tuhan segala? Bukankah telahdikatakan bahwa ia yang menemukan dirinya telah menemukan Tuhan-Nya? Ini yangdisebut
The Way of Gyaana
, Jalur Pengetahuan, jalur yang banyak menggunakan otak dan
reasoning 
. Seorang intelektual tersebut harus mengikis ego dan keangkuhannyalewat diskriminasi dan instropeksi diri. Itulah tuntutan
Gyana
…….. Diskriminasiantara Preya dengan Shreya, antara yang menyenangkan indra dan pikiran denganyang memuliakan serta meditasi.
Sang Istri:
Konon inilah jalur Arjuna….. untuk apa menyembah? Siapa yang patutkusembah? Krishna hanyalah seorang sahabat. Ia pun sama seperti diriku. Ia pun berdarah dan berdaging. Untuk apa berserah diri segala…….. Tetapi akhirnya Arjunamembenturkan kepalanya dengan tembok ego, dan akhirnya ia pun menundukkankepalanya, “Katakan Krishna, katakan apa yang harus kulakukan….” Namun bilaseorang Arjuna belum juga terbentur kepalanya, ia akan tetap mengagung-agungkan jalurnya dan menganggap jalur itu sebagai satu-satunya jalur yang dapat mengantar dia kepada-Nya.
Sang Suami:
Benar istriku, dalam tulisan bijak tersebut juga disampaikan……… jalur kedua adalah Jalur Pengabdian,
The Way of Devotion
– 
Bhakti Maarg 
.Penyerahan diri. Mereka yang berada pada jalur kedua memahami betul hal itu, dansama sekali tidak terpengaruh oleh apa pun yang dikatakan oleh para Arjuna. Merekaadalah para Gopi, para Gopal, yang mabuk cinta. Para leluhur menyebut merekasebagai Cantrik yang berarti orang yang selalu “mengikuti” Guru.
Sang Istri:
Tetapi nampaknya banyak juga yang telah berguru bertahun-tahun tetapi belum nampak adanya rasa kepasrahan, atau manembah dalam diri mereka. Egomereka hanya memilih dan mengambil apa yang di rasa baik dari seorang Guru.Mereka masih manembah pada egonya. Di situlah titik kritisnya, karena mereka lebihmempercayai ego mereka sendiri.
Sang Suami:
Dalam buku “
Shri Sai Satcharita
” hal tersebut mendapat penjelasansebagai berikut…….. Panembahan berarti penyerahan diri. Umumnya kita belum siap

Activity (8)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Irzon Jalil liked this
romidees liked this
dewa anom liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->