Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
20Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Reformasi Adm Membangun Perspektif Resource Based

Reformasi Adm Membangun Perspektif Resource Based

Ratings:

4.67

(3)
|Views: 1,880 |Likes:
Published by purwagarlaky

More info:

Published by: purwagarlaky on Nov 17, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/24/2012

pdf

text

original

 
Reformasi Administrasi Publik Untuk Membangun Daya Saing Daerah:
Kajian Perspektif Resource Based 
Oleh
: Sasli Rais
1
dan Dance Y. Flassy
2
 A.
 
Pendahuluan
Reformasi administrasi publik sebagai salah satu bidang kajianadministrasi yang selalu menarik untuk dikritisi. Secara teoritis, lahirnya gejalaini sebagai akibat logis dari adanya kecenderungan pergeseranperkembangan ilmu administrasi publik yang beralih dari
normative science 
 ke pendekatan
behavioral–ekologis 
. Secara empiris, gejala perkembanganmasyarakat sebagai akibat dari adanya globalisasi, memaksa semua pihak,terutama birokrasi pemerintah melakukan revisi, perbaikan, dan mencarialternatif baru tentang sistem administrasi yang lebih cocok denganperkembangan masyarakat dan perkembangan zaman.
There is not thbest, but the better 
.Begitu juga dengan adanya kebijakan otonomi daerah, yang otomatismasing-masing daerah harus pandai-pandai mencari
setiap potensi dan peluang yang terdapat di daerahnya 
. Meskipun istilah
’daya saing daerah 
seringkali digunakan dalam konteks ekonomi dan diartikan sebagai
kemampuan bersaing, sehingga berkonotasi negati
’. Kecenderungan lebihlanjut, pengambil kebijakan yang
over protective 
dan keengganan bekerjasama (Abdullah, 2002). Namun reformasi administrasi juga secara tidaklangsung akan berpengaruh terhadap para pelaku ekonomi (investor), baikdari daerah itu sendiri maupun investor nasional dalam rencana investasinyadi dalam suatu daerah tertentu. Misalnya para pelaku ekonomi mungkinakan berinvestasi di daerah A saja karena administrasi pemerintah daerahtersebut cukup baik, dibandingkan apabila harus berinvestasi di daerah B, C,D, dan seterusnya disebabkan administrasi pemerintah daerahnya yangkurang menguntungkan, bahkan sangat amburadul yang boleh jadi akanmenjadikan adanya
high cost economi
di kemudian hari.Selain itu, daya saing daerah juga lebih banyak diartikan sebagai suatupotensi yang bersifat tunggal, sehingga dengan demikian tidak ada upayapemahaman bagaimana kompleksitas faktor-faktor yang membentuk dayasaing daerah tersebut. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan apabiladidalam pembicaraan mengenai daya saing daerah, opini yangberkembang dapat menjadi sangat beragam dikarenakan masing-masingpihak, baik individu atau pun lembaga melihatnya dari perspektif atau faktoryang berbeda.Karenanya dalam tulisan ini mencoba untuk memberikan perspektifyang berbeda, yaitu dengan menguraikan daya saing daerah tersebutdengan pendekatan reformasi administrasi dari perspektif
resource based 
 yang jarang ada individu atau pun lembaga yang menggunakannya.
1
 
Tenaga Teknis Pengembangan Sektor Swasta/ Penanganan P2DTK NAD-Nias PMU P2DTK-Bappenas 
Kandidat Doktor Administrasi Univeritas Indonesia 
 
 
 
2
B.
 
Reformasi Administrasi: Pengertian dan Ruang Lingkup
Akhir-akhir ini tampak adanya pandangan yang mendua terhadapsosok dan cara kerja aparatur pemerintah di beberapa negara dan daerah.
Pandangan 
 
pertama,
menganggap bahwa birokrasi pemerintah ibaratsebuah perahu besar yang dapat menyelamatkan seluruh warga dari‘bencana’ banjir ekonomi maupun politik. Dengan dilengkapi militer danpartai politik yang kuat, organisasi pemerintah sebagai dewa penyelamatdan satu-satunya organ yang dikagumi masyarakat. Pandangan inididasarkan atas asumsi bahwa didalam mengolah sumberdaya yang dimiliki,organisasi ini mengerahkan para intelektual dari beragam latar belakangpendidikan, sehingga keberhasilannya lebih dapat terjamin. Oleh karena itu,mereka berkesimpulan bahwa
birokrasi pemerintah memegang peran utama 
, bahkan peran tunggal, dalam pembangunan suatu negara maupundaerah.
Pandangan kedua,
menganggap birokrasi pemerintah seringmenunjukkan gejala yang kurang menyenangkan. Sering, bahkan hampirselalu, birokrasi pemerintah bertindak canggung, kurang terorganisir dan jelek koordinasinya, menyeleweng, otokritik, bahkan sering bertindak korup.Para aparatnya kurang dapat menyesuaikan diri dengan modernisasiorientasi pembangunan dan perilakunya kurang inovatif, serta tidak dinamis.Keadaan semacam ini akan menyebabkan birokrasi pemerintahmendominasi seluruh organ politik dan menjauhkan diri dari masyarakat.
Pandangan pertama 
mungkin diilhami suatu pengharapan yangberlebihan, yang dewasa ini mungkin sudah sangat jarang ditemukan,sedangkan
pandangan kedua 
mungkin merupakan pandangan yangberlebihan, yang didasarkan pada prasangka buruk. Bisa juga terjadi keduapandangan yang secara diametral bertentangan satu sama lain itu sama-sama didasarkan pada pengamatan yang mendalam, dan evaluasiterhadap kondisi nyata aparatur pemerintah. Sudah barang tentu kritik danketidakpuasan yang berlebih terhadap peran birokrasi dalampambangunan sangatlah tidak adil. Selalu saja kalau terjadi kegagalandalam usaha pembangunan, birokrasi dipandang sebagai biang keladinya.Kegagalan pembangunan, memang sebagian merupakan tanggung jawabbirokrasi, namun bukanlah semuanya. Bahkan di beberapa negara dandaerah,
kekurangefisienan administrasi 
tidak dianggap sebagai ‘dosa besar’terhadap ketidakmampuan pemerintah, baik daerah maupun pusatdidalam memenuhi harapan pembangunan ataupun realisasi tujuansebagaimana telah ditetapkan didalam rencana pembangunan. Pentingdiperhatikan, bagaimana caranya agar ketidaksempurnaan administrasi itudapat dikurangi, kalau tidak bisa dihilangkan sama sekali.Ketidaksempurnaan administrasi ini tidak akan dipandang sebagaisituasi yang suram, jika seandainya kondisi kesemrawutan administrasi initidak merebak ke seluruh pelosok negeri, baik pada arah regional maupunarah nasional. Kondisinya dipersuram lagi dengan adanya keinginan daribirokrasi pemerintah untuk mempertahankan
status quo 
dan menerapkanpola otokratik dan otoriter. Peran pemerintah yang amat dominan dalampembangunan sosial dan ekonomi, membuat semuanya menjadi lebihparah.
 
 
3
Keadaan di negara sedang berkembang sudah demikian takmemungkinkan untuk melakukan reformasi administrasi dengan baik. Daerahbekas jajahan diperintah dengan tangan besi dan kurang fleksibel,meminjam istilah
Leemans
(1971), yang kebanyakan struktur politiknya diisidengan orang-orang yang mempunyai latar belakang pendidikan hukumdengan pendekatan yang sangat legalistik. Negara-negara yang barumemperoleh kemerdekaan di daerah Asia dan Afrika, didalam konteks yangagak berbeda juga di Amerika Latin, sangat menderita dibawah rezim yangotokratik dan yang berorientasi pada hukum dan ketertiban. Di daerahbekas negara jajahan ini, terjadi perubahan yang menggebu atau
turbulent 
,menurut istilah
Waldo
. Pada masa perubahan yang demikian gencar ini, lahirharapan masyarakat yang muluk-muluk, suatu harapan yang tak dijumpaidalam masyarakat maju. Kemerdekaan yang diperoleh negara-negarabekas jajahan itu, menyebabkan keberadaan administrasi asing sangatmengganggu cara kerja aparatur pemerintah. Hal ini selain disebabkan taksesuainya administrasi asing dengan sistem administrasi lokal,membengkaknya tugas-tugas menyebabkan sistem administrasi kolonial takmampu menyelesaikan persoalan yang muncul dalam masyarakat. Olehkarena itu, yang diperlukan bukan hanya ekspansi, tetapi juga reorientasiyang komplit. Perubahan sosial yang fundamental menyebabkan lahirnyatuntutan dan tekanan baru. Menjalarnya urbanisasi dan sekularisasi yangcepat, serta kebutuhan akan demokratisasi pemerintahan dan administrasi,menyebabkan beban aparatur pemerintah bertambah besar, dan mautidak mau adpatabilitas menjadi sangat penting dan menjadi kebutuhan.Semua perubahan dan transformasi ini menyebabkan timbulnyapertentangan antara nilai lama dan baru, antara nilai yang tradisional danyang modern. Tekanan dan pertentangan ini tidak hanya terbatas padatubuh birokrasi, melainkan juga dikalangan masyarakat. Di kalanganintelektual, yang diharapkan mampu melakukan perbaikan terhadapkebobrokan birokrasi, malah mereka, utamanya yang konservatif, menjadistigma birokrasi, sehingga sifat birokrasi yang elitis, terlalu menyenangi sikapotoriter dan kurang komunikasi dengan masyarakat semakin hari semakinparah keadaannya.Dengan latar belakang dan kondisi demikian, maka kebutuhan akanperubahan dan adaptasi aparatur pemerintah sangatlah mendesak,walaupun masalah yang mengitarinya terlalu kompleks dan rumit. Sebagaikonsekuensi logisnya, maka reformasi administrasi di negara sedangberkembang menjadi keharusan (
condition sine quanon)
dan menjadiperhatian utama pemerintah negara sedang berkembang, termasukpemerintahan daerah di Indonesia. Reformasi administrasi merupakanbagian yang sangat penting dalam pembangunan di negara berkembang,terlepas dari tingkat perkembangan, arah, dan tujuannya. Semata hanyakarena kemampuan administratif dipandang semakin penting artinya bagiterlaksananya kebijaksanaan dan rencana pembangunan. Penyempurnaankemampuan administratif, meliputi usaha-usaha untuk mengatasi masalahlingkungan, perubahan struktural, dan institusi tradisional atau perubahantingkah laku individu dan atau kelompok, ataupun kombinasi dari keduanya.

Activity (20)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Enagoyoka Pigai liked this
AniTa Kaneshiro liked this
Goen Pribadi liked this
Goen Pribadi liked this
Adisa Maulita liked this
Taufik Budi Awan liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->