Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
4Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
LATAR BELAKANG Evo 3

LATAR BELAKANG Evo 3

Ratings: (0)|Views: 1,500|Likes:
Published by Adi Sumandiyar

More info:

Published by: Adi Sumandiyar on Feb 04, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOCX, TXT or read online from Scribd
See More
See less

11/09/2012

pdf

text

original

 
1
USULAN TOPIK PENELITIAN DESERTASI ILMU ADMINISTRASI PUBLIK
MODEL AKUNTABILITAS OTONOMI DAERAH DALAMPENYELENGGARAAN KEBIJAKAN PUBLIKDI KABUPATEN MAROS
ADI SUMANDIYARPROGRAM PASCASARJANAUNIVERSITAS HASANUDDINMAKASSAR2012
 
2
 
I. PENDAHULUANA. Latar Belakang
Kabupaten Maros merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Sulawesi-Selatan yang merupakan salah satu kabupaten yang melaksanakan otonomi daerahyang bertujuan untuk mempercepat pembangunan dan pemerataan pertumbuhanekonomi daerah, selain itu untuk mengatasi wilayah kecamatan yang masihtertinggal dalam pembangunan, perkembangan wilayah kecamatan strategis dancepat tumbuh, wilayah kecamatan perbatasan dan terpencil kondisinya masihterbelakang. Kabupaten Maros merupakan wilayah yang berbatasan langsungdengan Kota Makassar, ibukota Propinsi Sulawesi Selatan dengan jarak kedua kotatersebut berkisar 30 km dan sekaligus terintegrasi dalam pengembangan KawasanMetropolitan Mamminasata. Keberhasilan suatu kabupaten dalam melaksanakandan mengimplementasikan sistem pemerintahan otonomi daerah yang mendukungdalam penyelenggaraan kebijakan publik (
 publik policy 
) dapat ditinjau darikeberhasilan dalam menangani permasalahan yang terjadi tersebut. KabupatenMaros mempunyai 14 kecamatan yang merupakan bagian dari proses otonomidaerah yang terdiri dari Kecamatan Mandai, Kecamatan Moncongloe, KecamatanMaros Baru, Kecamatan Marusu, Kecamatan Turikale, Kecamatan Lau, KecamatanBontoa, Kecamatan Bantimurung, Kecamatan Simbang, Kecamatan Tanralili,Kecamatan Tompobulu, Kecamatan Camba, Kecamatan Mallawa. Kabupaten Marosmempunyai jumlah penduduk sebanyak 303.211 jiwa, 70.514 Kepala Keluarga (KK)dengan tingkat kepadatan penduduk sebesar 4.449 jiwa/ km
2
(Badan Pusat StatistikKabupaten Maros, Tahun 2009). Di era otonomi daerah saat ini masih terdapatbeberapa kecamatan yang mengalami ketimpangan dalam sektor pembangunanwilayah yang berdampak terhadap belum optimalnya penyelenggaraan kebijakanpublik (
 public policy 
).Dalam konsep otonomi menurut Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999tentang Pemerintahan Daerah, Pemerintah Daerah harus mendorong untukmemberdayakan masyarakat, menumbuhkan prakarsa, dan kreativitasmeningkatkan peran serta masyarakat yang bertujuan pemberian otonomi kepadadaerah, bukan semata-mata untuk mewujudkan pembangunan, dan mengejar lajupertumbuhan tetapi lebih ditekankan pada tujuan memberdayakan masyarakat.Secara umum keadaan tiap-tiap kecamatan yang ada di Kabupaten Marosyang diduga mengalami ketimpangan pembangunan wilayah meliputi; (1)Kecamatan Tanralili meliputi kondisi sumber daya manusia yang rendah,keterbatasan akses transportasi, keterbatasan informasi dan teknologi, sarana danprasarana wilayah yang rendah, jumlah penduduk rendah yaitu 24.164 Jiwa dankepadatan penduduk yaitu 270 Jiwa/ Km
2
, belum berkembangnya infrastruktur kelembagaan yang berkelanjutan, terbatasnya modal usaha terhadap petani kecildan pelaku usaha kecil, sementara potensi yang dimiliki di kecamatan ini antara lainpertanian meliputi persawahan dan pekebunan, peternakan ayam dan sapi, sumber 
 
3
 
daya alam yang dimiliki yaitu tambang pasir; (2) Kecamatan Tompobulu kondisisumber daya manusia yang rendah, keterbatasan akses transportasi, keterbatasaninformasi dan teknologi, sarana dan prasarana wilayah yang rendah, jumlahpenduduk rendah yaitu 13.885 Jiwa dan kepadatan penduduk yaitu 48 Jiwa/ Km
2
,belum berkembangnya infrastruktur kelembagaan yang berkelanjutan, terbatasnyamodal usaha terhadap petani kecil dan pelaku usaha kecil, sementara potensi yangdimiliki di kecamatan ini antara lain adanya pabrik cipping, pabrik pakan ternak,kondisi lahan yang subur, peternakan ayam dan sapi, karena kondisi topografinyaberada daerah daratan tinggi maka dimungkinkan untuk membuat industri air mineral; (3) Kecamatan Moncongloe kondisi sumber daya manusia yang rendah,keterbatasan akses transportasi, keterbatasan informasi dan teknologi, sarana danprasarana wilayah yang rendah, jumlah penduduk rendah yaitu 11.623 dankepadatan penduduk yaitu 248 Jiwa/ Km
2
, belum berkembangnya infrastruktur kelembagaan yang berkelanjutan, terbatasnya modal usaha terhadap petani kecildan pelaku usaha kecil, sementara potensi yang dimiliki di kecamatan ini antara lainadanya lahan pertanian yang subur, peternakan ayam dan sapi, karena kecamatanini merupakan berbatasan dengan Kabupaten Gowa dan adanya programMAMMINASATA maka dimungkinkan untuk pembangunan perumahan; (4)Kecamatan Simbang kondisi sumber daya manusia yang rendah, keterbatasanakses transportasi, keterbatasan informasi dan teknologi, sarana dan prasaranawilayah yang rendah, jumlah penduduk rendah yaitu 22.220 Jiwa dan kepadatanpenduduk yaitu 211 Jiwa/ Km
2
, belum berkembangnya infrastruktur kelembagaanyang berkelanjutan, terbatasnya modal usaha terhadap petani kecil dan pelakuusaha kecil, sementara potensi yang di miliki adalah pertanian meliputi persawahandan perkebunan, peternakan ayam dan sapi, dan perumahan rakyat; (5) KecamatanBantimurung kondisi sumber daya manusia yang rendah, keterbatasan aksestransportasi, keterbatasan informasi dan teknologi, sarana dan prasarana wilayahyang rendah, jumlah penduduk rendah yaitu 28.358 Jiwa dan kepadatan pendudukyaitu 163 Jiwa/ Km
2
, belum berkembangnya infrastruktur kelembagaan yangberkelanjutan, terbatasnya modal usaha terhadap petani kecil dan pelaku usahakecil, sementara potensi yang dimiliki adalah panorama alam yang indah sehinggadapat dijadikan sebagai objek wisata, taman prasejarah, adanya pusat industripabrik semen, daerah penangkaran kupu-kupu, kondisi lahan yang subur sehinggadapat dijadikan sebagai kawasan pertanian, kondisi wilayah memungkinkan untukdaerah peternakan; (6) Kecamatan Cenrana keterbatasan informasi dan teknologi,sarana dan prasarana wilayah yang rendah, jumlah penduduk rendah yaitu 14.339Jiwa dan kepadatan penduduk yaitu 79 Jiwa/ Km
2
, belum berkembangnyainfrastruktur kelembagaan yang berkelanjutan, terbatasnya modal usaha terhadappetani kecil dan pelaku usaha kecil terletak berada didaratan tinggi yang beradadidaerah pegunungan, lahan yang subur sehingga dapat dijadikan sebagai kawasanperkebunan; (7) Kecamatan Camba keterbatasan informasi dan teknologi, saranadan prasarana wilayah yang rendah, jumlah penduduk rendah yaitu 14.315 Jiwa dankepadatan penduduk yaitu 98 Jiwa/ Km
2
, belum berkembangnya infrastruktur kelembagaan yang berkelanjutan, terbatasnya modal usaha terhadap petani kecil

Activity (4)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
Arief Wicaksono liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->