Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
1Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
PERDA_SYARI’AH_DI_INDONESIA__Dampaknya_terhadap_Kebebasan_Sipil_dan_Minoritas_Non_Muslim

PERDA_SYARI’AH_DI_INDONESIA__Dampaknya_terhadap_Kebebasan_Sipil_dan_Minoritas_Non_Muslim

Ratings: (0)|Views: 237|Likes:
Published by Henra Jaya

More info:

Published by: Henra Jaya on Feb 06, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

02/06/2012

pdf

text

original

 
 MAKALAH
DISKUSI SERIAL TERBATASISLAM, HAM DAN GERAKAN SOSIALDI INDONESIA
PERDA SYARI’AH DI INDONESIA:Dampaknya terhadap Kebebasan Sipildan Minoritas Non Muslim
Oleh: Sukron Kamil  
 Yogyakarta, 13 – 14 Agustus 2008
 
 1 
PERDA SYARI’AH DI INDONESIA:Dampaknya terhadap Kebebasan Sipildan Minoritas Non Muslim
*
 
Oleh: Sukron Kamil
**
 
Pendahuluan
Wajah perpolitikan Indonesia pada masa Reformasi antara lain ditandai denganmaraknya penerapan syari’ah Islam di beberapa daerah. Paling tidak, di 22 kota/kabupaten,bahkan sumber lain menyebut 50.
1
Misalnya di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam; diKabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan; Bima, Nusa Tenggara Barat; Indramayu, Cianjur,dan Tasikmalaya, Jawa Barat; dan di Kota Tangerang, Banten. Fenomena ini bisa dilihat darimunculnya peraturan daerah (Perda), baik di tingkat propinsi maupun kabupaten/kota,Rencana Strategis (Renstra), Surat Keputusan, Instruksi atau Edaran Bupati/Walikota danlainnya yang berisi tentang penerapan syariah Islam, paling tidak yang bernuansa syariah,walaupun beragam. Dari kadar syari’ahnya yang paling rendah yang hanya mengaturpelacuran dan minuman keras (sebagai perda
mainstream
) yang juga diatur KUHP (KitabUU Hukum Pidana) seperti di Tangerang, yang mengatur persoalan Jum’at khusyuk,keharusan bisa baca tulis al-Qur’an, berbusana Muslim, pemberdayaan ZIS (Zakat, Infak, danSedekah), hingga penerapan sebagian hukum pidana Islam (kendati yang disebut terakhirhanya terjadi di Aceh), seperti hukum cambuk bagi penjudi dan pelaku
khalwat 
(laki-lakidan wanita dewasa berdua-duaan di tempat sepi).
2
Upaya penerapan syari’ah lewat perda di atas bisa dipahami, karena di tingkatnasional (pusat) sendiri, upaya penerapan syariah itu terjadi sejak tahun-tahun awalberdirinya Indonesia. Yang terakhir, upaya tersebut gagal dalam gerakan mengembalikanPiagam Jakarta, yang mencantumkan klausa; ...”
dengan kewajiban menjalankan syariat  Islam bagi pemeluknya”
masuk kedalam amandemen konstitusi tahun 2002. Denganmemanfaatkan UU No 22/1999 tentang otonomi daerah, upaya penerapan syariah mengambilpola baru, yaitu lewat daerah. Hal ini karena UU tersebut menyerahkan setidaknya 11kewenangan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah.
3
Meskipun dalam UU itudijelaskan ada lima bidang yang tetap menjadi wewenang pemerintah pusat,
4
antara lainurusan agama, tetapi dalam UU tersebut juga dinyatakan bahwa proses legislasi dalam bentuk perda tidak lagi harus disahkan oleh pemerintah pusat, asal tidak bertentangan dengankepentingan umum dan peraturan perundangan yang lebih tinggi. Belakangan, UU itumemang telah direvisi oleh UU No. 32/2004 yang menyatakan bahwa sebuah perda harusmendapatkan pengesahan pusat atau bagi perda di tingkat kabupaten harus mendapatkanpengesahan pemerintahan tingkat provinsi, kecuali tentu saja Nanggroe Aceh Darussalam(NAD) yang diberikan kekhususan terutama lewat UU No. 11/2006 tentang pemerintahan
*
Disampaikan dalam Diskusi Serial
Islam dan HAM 
yang Diselengarakan Pusat Studi HAM UII di HotelSantika Yogyakarta, Rabu 13 Agustus 2008
**
 
Dosen Fakutas Adab dan Humaniora dan Koordinator Pengkajian Pluralisme dan Demokrasi CSRCUIN Syarif Hidayatullah Jakarta
 
1
Majalah
Tempo
, 14 Mei 2006, h. 29
 
2
Sukron Kamil dkk.,
Syari’ah Islam dan HAM, Dampak Perda Syariah terhadap Kebebasan Sipil, Hak-Hak Perempuan, dan Non Muslim
, Jakarta, CSRC UIN Jakarta dan KAS, 2007
 
3
Yaitu bidang pertanahan, pertanian, pendidikan dan kebudayaan, tenaga kerja, kesehatan, lingkungan,pekerjaan umum, transportasi, perdagangan dan industri, investasi modal, dan koperasi.
 
4
Bidang politik luar negeri, pertahanan dan keamanan, peradilan, kebijakan moneter dan fiskal, sertaagama
 
 
 2 Aceh. Namun, hingga kini, karena agaknya faktor pertimbangan politik, perda-perda syariahdibiarkan berjalan, tidak disentuh sama sekali oleh Pemerintah Pusat.Tulisan ini ingin mengkaji level formalisasi syari’ah lewat Perda; bagaimana prosessyari’ah atau sesuatu yang bernuansa syari’ah dijadikan perda di berbagai daerah, apakahmasyarakat ikut berpartisipasi di dalamnya; apa respon masyarakat; dan terutama apaimplikasinya terhadap kebebasan Sipil dan hak-hak minoritas Non Muslim
Tingkat Formalisasi Syari’ah dalam Perda
Berdasarkan kriteria Daniel E. Price,
5
syari’ah Islam yang diterapkan di berbagaidaerah dalam bentuk perda-perda syari’ah atau perda bernuansa syari’ah baru sampai di levelketiga, yaitu pengaturan ritual keagamaan (ibadah). Pengaturan ritual tersebut bentuknyabervariasi. Dari pengaturan Jumat khusyuk dengan menutup jalan utama saat Jum’atberlangsung seperti di Bima atau saat salatnya saja seperti di Bireun Nangroe AcehDarussalam (NAD); syarat bisa baca tulis al-Qur’an bagi calon mempelai dan calon pejabatdi Bulukumba, Sulawesi Selatan; hingga keharusan menutup warung/toko saat salatberlangsung, terutama Salat Magrib dan Jum’at seperti di Bireun, NAD. Umumnya,penerapan syariah Islam dalam bentuk perda yang berjalan hanyalah pada level pertama(hukum keluarga) dan level kedua (hukum ekonomi), yaitu berpakaian Muslim, pengelolaanzakat, infak, dan sedekah (walaupun ini juga bisa disebut sebagai level pertama), perda wajibbelajar sekolah diniyah, dan perda pelajaran ekonomi syariah seperti di Tasikmalaya.
6
 Dari sekian perda-perda syari’ah atau bernuansa syari’ah itu, perda yang berisilarangan atau penertiban minuman keras, pelacuran, dan perjudian merupakan perda
mainstream
. Hanya saja, kandungan yang memuat ketiga isu tersebut sama sekali tidak mencerminkan syariah. Bentuk hukuman atau sanksi dalam perda tersebut, misalnya, tidak sesuai dengan bentuk hukuman seperti yang diatur syariah, kecuali Bireun atau kabupatenlainnya di Aceh. Dilihat dari sisi ini, untuk perda yang memuat 3 hal tersebut, penamaannyadengan perda syari’ah tampaknya merupakan simplikasi, bahkan keliru. Hal ini sebagaimanadikatakan pula oleh Prof Dr. Jan Michiel Otto, Direktur
van Vollernance Institute for Law,Governance, and Development 
, Universitas Leiden, Belanda. Baginya, sepanjang perda yangdisebut-sebut syariah itu mengandung larangan perjudian, pelacuran, dan minuman keras,sebetulnya tidak ada bedanya dengan KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana), karena3 hal ini sudah diatur KUHP sejak pemerintahan Orde Baru.
7
Karenanya, perda yang memuat3 isu tersebut bisa saja dikatakan sebagai perda penguatan KUHP dan bisa juga disebutperda yang menjadikan
living norm
sebagai
living law.
Argumennya karena nilai-nilai lokal(adat) di masyarakat juga menganggap bahwa perbuatan judi, meminum minuman keras, danprostitusi adalah perbuatan tercela secara moralitas adat.Namun, untuk Bireun dan juga kabupaten lainnya di Aceh, syariah Islam yangditerapkan sudah samapai pada tarap level keempat
(jinâyah
 /pidana Islam
).
Hanya levelnegara Islam saja yang belum ditempuh Aceh. Meski demikian, pidana Islam yangditerapkan di Aceh masih terbatas pada aspek tertentu saja yang umumnya berbasis
ta’zir 
 (hukuman yang ditentukan oleh
ijtihâd 
hakim), bukan
hudud 
(yang ditentukan langsung olehQur’an atau hadis secara harfiah). Yaitu: (1) Lewat Qanun No. 13/2003, Aceh telah
5
Arskal Salim dan Azyumardi Azra,
Syari’a and Politics in Modern Indonesia
, Pasir Panjang: ISEAS,2003, h.11
6
Sukron Kamil dkk.,
Syari’ah Islam dan HAM, Dampak Perda Syariah terhadap Kebebasan Sipil, Hak-Hak Perempuan, dan Non Muslim
, Jakarta, CSRC UIN Jakarta dan KAS, 2007
 
7
Koran
Kompas
, 16 Agustus 2007, h. 45
 

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->