keputusan bersedia berinvestasi dalam mengembangkan potensi kaum muda. Mereka sangat terganggu dengantingginya angka pengangguran. Terutama perempuan-perempuan muda yang harus menghadapi hambatanberupa segregasi dan diskriminasi gaji. Ketika kaum pemuda memperoleh pekerjaan, seringkali gaji yang merekaterima kecil, dengan kondisi yang memprihatinkan, meliputi jam kerja yang panjang, ketidakamanan, sertakurangnya tunjangan kesehatan, yang tidak memungkinkan mereka untuk mandiri dan menghidupi keluargamereka. Selain itu, walaupun beberapa pemuda memiliki pandangan yang positif mengenai mencari pekerjaanmelalui migrasi, banyak diantara mereka yang mengemukakan kekhawatiran bahwa untuk mendapatkanpekerjaan bergaji kecil sekalipun, mereka harus meninggalkan tanah air dan keluarga. Peserta diskusimengungkapkan rasa prihatin terhadap kurangnya perhatian negara untuk memprioritaskan masalah-masalahmereka, serta tidak adanya kapasitas institusional untuk mengatasinya. Kaum pemuda mendapat kesan bahwamereka harus mengatasi masalah mereka sendiri.
“Pelatihan akademik saya tidak mempersiapkan saya untuk lapangan kerja”
Young people view many higher educational systems and institutions as inadequately tailored to the actualdynamic needs of the labour market. They reported that formal education curricula are often overly theoretical,leaving students feeling ill-prepared and lacking the necessary practical skills for the labour force. Some studentsconsequently delay their entry into the job market to continue their studies or seek out low-level jobs. More andbetter linkages are therefore needed between learning institutions and employers. Young people further pointedout a gap in quality between private and public educational institutions that provides graduates of private schoolswith a competitive advantage in the labour market. More positive views were shared of non-formal education,which youth believe can both complement formal education with important distinct skills and also serve as animportant resource for youth without access to formal education. Participants further attached value to vocationaleducation as a means for job preparedness, though found inadequate opportunities to access it and expressedconcern about how likely it is to lead to decent work. On the whole, young people additionally felt that internshipsand volunteerism can offer opportunities to develop life skills and improve employment prospects, including inentrepreneurship.Kaum pemuda melihat banyak sistem pendidikan yang lebih tinggi dan institusi tidak menyesuaikan dengankebutuhan pasar tenaga kerja yang dinamis. Mereka melaporkan bahwa kurikulum pendidikan formal seringkaliterlalu teoritis, membiarkan siswanya merasa tidak siap dan kurang keterampilan praktis yang diperlukan sebagaitenaga kerja. Akibatnya beberapa siswa menunda masuk ke bursa lapangan pekerjaan untuk melanjutkan studimereka atau mencari pekerjaan dengan tingkat akademik rendah. Maka hubungan yang lebih banyak dan lebihbaik dibutuhkan diantara institusi pendidikan dan pemilik usaha. Kaum pemuda juga menunjukkan adanya jurangkualitas antara lembaga pendidikan swasta dan negeri yang memberikan lulusan dari sekolah swasta dengankeuntungan yang kompetitif di bursa tenaga kerja. Lebih banyak pandangan positif yang diberikan olehpendidikan non-formal, dimana kaum pemuda percaya dapat melengkapi baik pendidikan formal denganketerampilan penting yang berbeda dan juga berfungsi sebagai sumber daya yang penting bagi kaum pemudayang tidak mempunyai akses ke pendidikan formal. Partisipasi selanjutnya berkaitan dengan nilai pendidikankejuruan yang berarti kesiapan bekerja, walaupun ditemukan kesempatan yang tidak sesuai untukmengaksesnya dan menunjukkan keprihatinan mengenai kemungkinan menghasilkan karya yang layak. Secarakeseluruhan, kaum pemuda selain itu merasa bahwa magang dan kesukarelawanan dapat menawarkankesempatan untuk mengembangkan keterampilan hidup dan mengubah prospek lapangan kerja, termasukkewirausahaan.
“Ada obsesi berlebihan untuk kualifikasi dan sertifikasi”
Pemuda menemukan dan menggunakan berbagai alat, yang tersedia, untuk membantu mereka menemukanpekerjaan, dengan bisnis formal dan informal dan jejaring sosial membuktikan sebagai sumber informasi karirdan petunjuk yang paling bernilai. Sebuah titik yang muncul dengan kuatnya dari diskusi
online
yaitu bahwakaum pemuda lebih memilih untuk aktif daripada “duduk diam”; mereka menahan kondisi di bawah lapangankerja dengan kepercayaan bahwa ketekunan, pengalaman dan antusiasme mereka akan terbayarkan di masadepan. Peserta mengidentifikasi peluang yang muncul bagi ketenagakerjaaan pemuda dalam berbagai jenispekerjaan baru dalam bidang teknologi komunikasi dan informasi (ICTs), jejaring sosial dan kelestarianlingkungan (“
green jobs”
). Ada kesepakatan yang luas bahwa motivasi diri, dedikasi, kesabaran dan pandanganpositif adalah unsur utama akan suksesnya mencari pekerjaan
.
“Pekerjaan saya sepertinya tidak aman sama sekali”
Peserta menunjukkan kekhawatiran terkait ketidakamanan pekerjaan, mengutip kontrak dalam jangka pendekyang sering terjadi, penghasilan rendah, di tengah-tengah meningkatnya biaya hidup; kesulitan dalam mencapaipengalaman kerja praktis yang memadai, dengan beberapa pemuda menyerukan persyaratan dalam lembaga