Read without ads and support Scribd by becoming a Scribd Premium Reader.
 
 
LAPANGAN PEKERJAAN PEMUDA: PERSPEKTIF PEMUDA DALAMMENGEJAR PEKERJAAN LAYAK DI MASA PERUBAHAN
JURANG MELEBAR DALAM LAPANGAN PEKERJAAN UNTUK PEMUDA
Laporan Kepemudaan Dunia (World Youth Report) terbaru mengeksplorasi transisi kaum pemuda dari sekolahdan institusi pelatihan menuju pasar tenaga kerja, sebuah fase yang merupakan periode kritis dalam siklushidup. Skenario lapangan kerja yang saat ini tersedia bagi kaum muda, yang diperburuk oleh krisis ekonomiglobal, merupakan tantangan mendesak dengan implikasi jangka panjang baik bagi kaum pemuda maupunmasyarakat secara keseluruhan. Kaum pemuda itu sendiri merupakan pemangku kepentingan yang krusialdalam upaya mencapai pekerjaan yang layak dan produktif bagi semua orang. Tetapi, seringkali, suara merekatidak terdengar, pandangan serta pengalaman positif dan negatif mereka tidak tersiar, terutama kepada parapembuat keputusan. Oleh karena itu,
World Youth Report 
bertujuan terutama untuk mengeksplorasi masalahlapangan kerja pemuda di seluruh dunia melalui kata-kata mereka sendiri.Dengan pengalaman yang terbatas dan keahlian yang lebih sedikit dari orang dewasa pada umumnya, kaumpemuda seringkali menemui kesulitan tertentu dalam mengakses pekerjaan. Angka pengangguran pemudaglobal, yang sejak dahulu melebihi kelompok usia lainnya, mengalami peningkatan terbesar dalam sejarah pada2009; pada puncaknya, 75.8 juta pemuda menganggur. Pada masa krisis ekonomi, kaum pemuda seringkalimenjadi yang “pertama masuk” dan yang “terakhir keluar” –yang terakhir diperkerjakan, yang pertama dipecat.Pada 2010, angka pengangguran pemuda global adalah 12.6 persen, secara dramatis mengalahkan angkapengangguran global pada orang dewasa di tingkat 4.8 persen. Bahkan setelah mendapat pekerjaan, pekerjamuda tetap menghadapi ketidakstabilan pekerjaan, kesempatan terbatas untuk peningkatan dan pengembanganpengetahuan, dan pengangguran. Mereka cenderung melakukan pekerjaan yang rentan, yang dapat lebih lanjutmempengaruhi kehidupan di masa depan dan prospek penghasilan. Bahkan, kaum pemuda merupakan bagianyang disproporsional dari kelompok penduduk miskin yang bekerja di dunia. Data mengenai penduduk miskinyang bekerja, yang sebagian besar bekerja di sektor ekonomi informal, terbatas. Bagaimanapun, dalam datayang ada, kaum pemuda mewakili 23.5 persen dari keseluruhan penduduk miskin yang bekerja, dibandingkandengan hanya 18.6 persen dari pekerja yang tidak miskin.Tidak diragukan lagi bahwa salah satu faktor penyebab Revolusi Arab yang terjadi belakangan ini adalahtingginya angka pengangguran kaum pemuda di Timur Tengah dan Afrika Utara. Angka total penganggurankaum pemuda pada 2010 adalah 25.5 persen di Timur Tengah dan 23.8 persen di Afrika Utara. Pengangguran dikalangan perempuan muda di kawasan tersebut sangat mengejutkan, dengan 39.4 persen di Timur Tengah dan34.1 persen di Afrika Utara.Walaupun terjadi peningkatan partisipasi pendidikan terhadap perempuan muda, kesempatan kerja yang merekamiliki masih jauh tertinggal dari laki-laki. Secara global, pada 2010, 56.3 persen laki-laki muda berpartisipasidalam bursa kerja, sedangkan perempuan muda hanya 40.8 persen saja. Di tempat dimana perempuan mudadapat berpartisipasi dalam lapangan kerja, mereka biasanya menghadapi tantangan lebih besar dalammengakses pekerjaan, seperti tingkat pengangguran yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki muda. Kalaupunmereka mendapat pekerjaan, biasanya berkisar antara pekerjaan yang secara tradisional dilakukan olehperempuan, yang tidak stabil, bersifat paruh waktu, dan berbayaran rendah.
TREN DAN PANDANGAN KAUM PEMUDA
Dalam sebuah diskusi online mengenai lapangan pekerjaan pemuda, banyak peserta yang mengemukakankekhawatiran utama dalam masalah lapangan pekerjaan yang serupa. Kaum pemuda mempertanyakan kualitaspendidikan yang telah mereka terima: apakah masih relevan dengan pekerjaan yang ada, bagaimanapengetahuan dan keahlian mereka dapat menolong di jangka panjang, serta sejauh apa para pembuat
 
keputusan bersedia berinvestasi dalam mengembangkan potensi kaum muda. Mereka sangat terganggu dengantingginya angka pengangguran. Terutama perempuan-perempuan muda yang harus menghadapi hambatanberupa segregasi dan diskriminasi gaji. Ketika kaum pemuda memperoleh pekerjaan, seringkali gaji yang merekaterima kecil, dengan kondisi yang memprihatinkan, meliputi jam kerja yang panjang, ketidakamanan, sertakurangnya tunjangan kesehatan, yang tidak memungkinkan mereka untuk mandiri dan menghidupi keluargamereka. Selain itu, walaupun beberapa pemuda memiliki pandangan yang positif mengenai mencari pekerjaanmelalui migrasi, banyak diantara mereka yang mengemukakan kekhawatiran bahwa untuk mendapatkanpekerjaan bergaji kecil sekalipun, mereka harus meninggalkan tanah air dan keluarga. Peserta diskusimengungkapkan rasa prihatin terhadap kurangnya perhatian negara untuk memprioritaskan masalah-masalahmereka, serta tidak adanya kapasitas institusional untuk mengatasinya. Kaum pemuda mendapat kesan bahwamereka harus mengatasi masalah mereka sendiri.
“Pelatihan akademik saya tidak mempersiapkan saya untuk lapangan kerja” 
Young people view many higher educational systems and institutions as inadequately tailored to the actualdynamic needs of the labour market. They reported that formal education curricula are often overly theoretical,leaving students feeling ill-prepared and lacking the necessary practical skills for the labour force. Some studentsconsequently delay their entry into the job market to continue their studies or seek out low-level jobs. More andbetter linkages are therefore needed between learning institutions and employers. Young people further pointedout a gap in quality between private and public educational institutions that provides graduates of private schoolswith a competitive advantage in the labour market. More positive views were shared of non-formal education,which youth believe can both complement formal education with important distinct skills and also serve as animportant resource for youth without access to formal education. Participants further attached value to vocationaleducation as a means for job preparedness, though found inadequate opportunities to access it and expressedconcern about how likely it is to lead to decent work. On the whole, young people additionally felt that internshipsand volunteerism can offer opportunities to develop life skills and improve employment prospects, including inentrepreneurship.Kaum pemuda melihat banyak sistem pendidikan yang lebih tinggi dan institusi tidak menyesuaikan dengankebutuhan pasar tenaga kerja yang dinamis. Mereka melaporkan bahwa kurikulum pendidikan formal seringkaliterlalu teoritis, membiarkan siswanya merasa tidak siap dan kurang keterampilan praktis yang diperlukan sebagaitenaga kerja. Akibatnya beberapa siswa menunda masuk ke bursa lapangan pekerjaan untuk melanjutkan studimereka atau mencari pekerjaan dengan tingkat akademik rendah. Maka hubungan yang lebih banyak dan lebihbaik dibutuhkan diantara institusi pendidikan dan pemilik usaha. Kaum pemuda juga menunjukkan adanya jurangkualitas antara lembaga pendidikan swasta dan negeri yang memberikan lulusan dari sekolah swasta dengankeuntungan yang kompetitif di bursa tenaga kerja. Lebih banyak pandangan positif yang diberikan olehpendidikan non-formal, dimana kaum pemuda percaya dapat melengkapi baik pendidikan formal denganketerampilan penting yang berbeda dan juga berfungsi sebagai sumber daya yang penting bagi kaum pemudayang tidak mempunyai akses ke pendidikan formal. Partisipasi selanjutnya berkaitan dengan nilai pendidikankejuruan yang berarti kesiapan bekerja, walaupun ditemukan kesempatan yang tidak sesuai untukmengaksesnya dan menunjukkan keprihatinan mengenai kemungkinan menghasilkan karya yang layak. Secarakeseluruhan, kaum pemuda selain itu merasa bahwa magang dan kesukarelawanan dapat menawarkankesempatan untuk mengembangkan keterampilan hidup dan mengubah prospek lapangan kerja, termasukkewirausahaan.
“Ada obsesi berlebihan untuk kualifikasi dan sertifikasi” 
Pemuda menemukan dan menggunakan berbagai alat, yang tersedia, untuk membantu mereka menemukanpekerjaan, dengan bisnis formal dan informal dan jejaring sosial membuktikan sebagai sumber informasi karirdan petunjuk yang paling bernilai. Sebuah titik yang muncul dengan kuatnya dari diskusi
online 
yaitu bahwakaum pemuda lebih memilih untuk aktif daripada “duduk diam”; mereka menahan kondisi di bawah lapangankerja dengan kepercayaan bahwa ketekunan, pengalaman dan antusiasme mereka akan terbayarkan di masadepan. Peserta mengidentifikasi peluang yang muncul bagi ketenagakerjaaan pemuda dalam berbagai jenispekerjaan baru dalam bidang teknologi komunikasi dan informasi (ICTs), jejaring sosial dan kelestarianlingkungan (“
green jobs” 
). Ada kesepakatan yang luas bahwa motivasi diri, dedikasi, kesabaran dan pandanganpositif adalah unsur utama akan suksesnya mencari pekerjaan
.
“Pekerjaan saya sepertinya tidak aman sama sekali” 
Peserta menunjukkan kekhawatiran terkait ketidakamanan pekerjaan, mengutip kontrak dalam jangka pendekyang sering terjadi, penghasilan rendah, di tengah-tengah meningkatnya biaya hidup; kesulitan dalam mencapaipengalaman kerja praktis yang memadai, dengan beberapa pemuda menyerukan persyaratan dalam lembaga
Search History:
Searching...
Result 00 of 00
00 results for result for
  • p.
  • More From This User

    Notes
    Load more