Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Peran Alkitab Di Dalam Spiritualitas

Peran Alkitab Di Dalam Spiritualitas

Ratings: (0)|Views: 270 |Likes:
Published by Otniol Seba

More info:

Published by: Otniol Seba on Feb 10, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/22/2014

pdf

text

original

 
1
Peran Alkitab Di Dalam SpiritualitasPada Tradisi Reformasi
Oleh: Ev. Otniol Seba, S.Th
1
 I.
 
Pendahuluan
Reformasi meninggalkan warisan yang bernilai bagi kehidupan kekristenan sampaidengan hari ini, baik itu berkaitan dengan dengan gereja maupun dengan negara. Hampirsemua bidang dari kehidupan manusia mendapat warisan dan pengaruh yang kuat dariperistiwa reformasi. Mulai dari bidang pendidikan, etika, pemerintahan, politik, ekonomi,percetakan dan sampai kepada persoalan yang berkaitan dengan musik serta nyanyianmazmur, semua mendapatkan “sentuhan” yang bernilai, khususnya dari Calvin
2
. Tidak terkecuali persolan spiritualitas mendapat perhatian penting dari para reformator,[termasuk Calvin] yang pada akhirnya menuntun kepada pembaharuan hidup pribadikhususnya, dan pembaharuan masyarakat secara umumnya.Persoalannya adalah “apakah yang menyebabkan perubahan yang besar terjadi(Reformasi) di dalam kehidupan kekristenan pada waktu itu yang mempengaruhi hinggamasa sekarang ini? Hal itu terjadi karena para reformator, baik Luther dan Calvin berusahauntuk menekankan kembali “otoritas Firman Allah” yang telah hilang di dalam gereja.Firman Allah telah diselewengkan oleh para pemimpin agam pada waktu itu. Jemaatdilarang untuk membaca Alkitab. Alkitab hanya bisa dibaca dan dinikmati oleh parapemimpin agama pada waktu itu. Oleh sebab itu melalui perjuangan yang panjang paratokoh reformasi berjuang menegakkan kembali “otoritas Firman Allah” di dalam gereja,kehidupan dan pelayanan mereka. Hal ini ternyata membawa perubahan yang terjadi didalam kehidupan jemaat-jemaat Kristen pada waktu itu. Perubahan yang terjadi padawaktu itu ternyata memberikan pengaruh pada zaman ini di mana kita dapat dilihathasilnya sampai masa kini
3
.Di dalam paper ini kita akan membahas secara singkat mengenai “Peran Alkitab DiDalam Spiritualitas yang berhubungan dengan tradisi Reformasi.” Ada beberapa halpenting yang akan dijelaskan di dalam paper ini: Pandangan Alkitab menurut tradisiReformasi; penggunaan Alkitab berkaitan dengan spiritualitas kekristenan; Dampak spiritualitas di dalam kekristenan; dan aplikasinya pada masa kini.
1
 
Penulis Sedang Menyelesaikan Program Studi, MACE dan M.Div di STT-AletheiaLawang. Pernah menjabat koordinator kerohanian di SMA Kristen Gloria 1 Surabaya dan wakilsekretaris umum BPH Majelis Umum GKA Gloria, periode 2009-2011. Mulai Januari 2012melayani di GKA Gloria Pos PI Rungkut Surabaya
 
2
Penjelasan yang panjang mengenai hal ini dapat dilihat dalam karya: David W. Hall,
 Legacy of John Calvin: His Influence on the Modern World 
. (New Jersey: P & R PublishingCompany, 2008). Buku ini diterbitkan untuk memperingati 500 tahun John Calvin.
3
Harus diakui bahwa warisan yang ditinggalkan dari tradisi reformasi dapat dilihat di dalamberbagai bidang kehidupan, namun di sisi yang lain kehidupan kekristenan setelah masa reformasi,khususnya abad 19-20 setelah mendapat pengaruh dari “pencerahan” dengan munculnyaLiberalisme di Amerika dan kemudian menyebar sampai Eropa, kekristenan mengalamikemerosotan di dalam kehidupannya. Kemerosotan ini berdampak negative terhadap moral,intelektual dan spiritualitasnya. Hal ini dapat dilihat di dalam karya: David Wells,
 Losing Our Virtue: Why the Church Must Recover Its Moral Vision
. (Michigan: Wm. B. Eerdmans PublishingCompany, 1998); Mark A Noll.
The Scandal of the Evangelical Mind 
. (Michigan: Wm. B.Eerdmans Publishing House, 1994); Alister McGrath.
 Evangelicalism & the Future of Christianity
.(Illinois: InterVarsity Press, 1995); Ronald J. Sider.
The Scandal Of The Evangelical Conscience
.(Michigan: Baker Books, 2005).
 
2
II.
 
Pandangan Alkitab Menurut Tradisi Reformasi
Di dalam tradisi Reformasi Alkitab dipandang sebagai hal yang penting, karenamemiliki otoritas di dalam kehidupan setiap orang percaya. Alkitab menjadi standar bagikehidupan moralitas setiap orang Kristen. Hal ini sangat menonjol di dalam kehidupanpara reformator, khususnya pada pemikiran Calvin.Bagi Calvin Alkitab adalah Firman Allah, yang mana Allah menyatakan seluruhkehendak-Nya bagi manusia. Allah tidak hanya menyatakan diri-Nya sebagai penciptadunia ini, melainkan juga sebagai penebus di dalam hidup manusia. Melalui Alkitablahkita dapat mengenal Allah lebih dekat
4
. Selanjutnya Calvin menegaskan bahwa Allah telahmenyediakan sarana melalui Alkitab bagi mereka yang ingin belajar ajaran yang bergunauntuk menemukan tempat tujuan yang benar. Jikalau kita menyimpang dari jalan ini, kitahanya akan menemukan kerumitan-kerumitan di dalam kehidupan kita, kecuali jikaberpedoman kepada Firman
5
.Calvin menyatakan bahwa Alkitab yang adalah Firman Allah memiliki otoritas yangtidak bergantung kepada manusia. Sebaliknya Alkitab memiliki otoritas penuh di antaraorang-orang percaya hanya ketika mereka memandangnya firman yang diturunkan darisorga, sebagaimana telah diperdengarkan Allah. Calvin menuliskan:
 Hence the Scriptureobtain fully authority among believers only when men regard them as having sprung fromheaven, as if there the living words of God were heard 
6
.Lebih lanjut Calvin menyatakan bahwa gereja juga harus mengakui otoritas dariAlkitab yang adalah Firman Allah. Hal itu terjadi bukan untuk menyatakan bahwa semulaAlkitab itu tidak memiliki otoritas, sehingga gereja harus meneguhkannya. Melainkangereja harus menerima otoritas Alkitab sebagai Firman Allah, karena itu merupakankebenaran Tuhan dan gereja harus menghormati-Nya
7
. Hal yang penting untuk diketahuibahwa otoritas Alkitab yang adalah Firman Allah atas hidup orang-orang percayabukanlah merupakan pembuktian dari pemikiran manusia, tetapi merupakan kesaksianinternal oleh Roh Kudus di dalam hati orang-orang percaya tersebut. Kesaksian RohKudus itulah yang menyebabkan kita menerima Alkitab yang adalah Firman Allah itu didalam hati kita. Calvin menuliskan:If we desire to provide in the best way for our conscience-that they may notbe perpetually beset the instability of doubt or vacillation, and that they maynot also boggle at the smallest quibbles-we ought to seek our conviction in ahigher place than human reason, judgement, or conjectures, that is, in thesecret testimony of the spirit
8
…But I reply: the testimony of the spirit ismore excellent than all reason. For God aloneis a fit witness of himself in
4
J.T. McNeill (Edits),
Calvin – Intitutes of The Christian Religion
, Volume I. (Louisville:Westminster John Knox Press, 2006), p. 69-70. (I.6.1)
5
Ibid, p. 72-73, (I.6.3), It is writes, “
 Hence, we must strive onward by this straight path if weseriously aspire to the pure contemplation of God. We must come, I say, to the Word, where God istruly vividly described to us from his works, while these very works are appraised not by our depraved jugdement but by the rule of eternal truth. If we turn aside from the Word, as I have just now said, though we may strive with strenuous haste, yet since we have got off the track, we shallnever reach the goal. For we should so reason that the splendor of the divine countenance, whicheven the apostle call “unapproachable” [I Tim.6:16], is for us like an inexplicable labyrinthunless we are conducted into it by the thread of the Word 
.”
6
Ibid, p. 74. (I.7.1)
7
McNeill, Calvin, p. 76. (I.7.2).
8
Ibid, p. 78. (I.7.4).
 
3his Word, so also the Word will not find acceptance in men’s hearts beforeit is sealed by the inward testimony of the spirit
9
.Selain dari kesaksian internal Roh Kudus bahwa Alkitab adalah Firman Allah, Calvinsangat memahami bahwa Alkitab dapat membuktikan keasliannya sendiri
10
. KeaslianAlkitab adalah Firman Allah sekali lagi bukan merupakan kesimpulan dari argumentasirasional, melainkan kesaksian internal yang meneguhkan dari karya Roh Kudus di dalamhati orang percaya.Secara ringkas pemikiran Calvin mengenai kitab suci dapat dijelaskan sebagaiberikut: Kita dapat mengenal Allah sebagai pencipta dan penebus hidup manusia melaluiAlkitab yang adalah Firman Allah. Alkitab yang adalah Firman Allah ini memiliki otoritasdi dalam kehidupan orang percaya, jikalau mereka memandang Alkitab adalah FirmanAllah yang turun dari sorga. Gereja mengakui otoritas Alkitab adalah Firman Allahdikarenakan Alkitab memiliki dan menyatakan kebenaran Tuhan. Wibawa dan OtoritasAlkitab atas hidup orang percaya bukan merupakan hasil pemikiran manusia, melainkanadalah karya Roh Kudus yang memberikan kesaksian internal di dalam hati setiap orangpercaya, sehingga mereka mengakui bahwa Alkitab, sesungguhnya adalah Firman Allahyang hidup.Pemikiran Calvin mengenai peran Alkitab di dalam Institutionya mempengaruhikehidupan orang-orang Kristen pada masa itu, untuk berpegang kepada keyakinan bahwaAlkitab menjadi standar kehidupan moral dan spiritual bagi mereka. Keyakinan yang kuatini tercermin di dalam beberapa usaha untuk kembali memurnikan ajaran gereja dengankehidupan orang percaya pada masa itu. Hal ini dapat dilihat di dalam tradisi Puritan
11
, dimana salah satu keyakinan mereka sangat menekankan pengajaran Alkitab yang solid danmenjadi penuntun bagi kehidupan orang percaya. Tidak heran sejarahwan dan teologWilliam Haller menuliskan bahwa Puritan adalah pengikut Calvinis
12
. Secara umumkeyakinan kaum Puritan dapat dijabarkan di dalam 4 hal berikut: (1) keyakinan bahwakeselamatan pribadi seluruhnya berasal dari Allah; (2) Alkitab menyediakan sarana yangdiperlukan untuk menuntun kehidupan orang percaya; (3) Gereja harus mengekspresikanpengajaran Alkitab; (4) bahwa masyarakat merupakan suatu kesatuan yang utuh
13
.Tidak hanya kaum Puritan yang mewarisi pemikiran Calvin mengenai peran Alkitabdi dalam kehidupan orang percaya, tetapi juga para pengkhotbah dan pengajar di dalamgereja, baik yang ada di Belanda, maupun di Amerika. Di Belanda pemikiran dan teologiCalvin dibawa di dalam arus “Nadere Reformatie”. Sementara di Amerika pemikiran danteologi Calvin di bawa oleh kaum Puritan yang mengungsi dan membentuk koloni baru diwilayah tersebut.
9
Ibdi, p. 79. (I.7.4)
10
Ibid, p. 80. (I.7.5), It is writes,
 Let this point therefore stand: that those whom the HolySpirit has inwardly taught truly rest upon Scripture, and that Scripture indeed is self-authenticated 
 
11
Istilah Puritan menunjuk kepada suatu gerakan untuk memurnikan gereja yang dilakukanoleh sejumlah orang. Pada waktu itu walaupun gereja sudah mengalami reformasi, namun Gerejadi Inggris dinilai belum sempurna menerapkan reformasi. Oleh karena itu dimulailah gerakanPuritan untuk memurnikan gereja dan jemaatnya. Lihat dalam I.S. Renne,
Puritanism
in
 Evangelical Dictionary of the Theology
, Second Edition. Welter A Elwell (Edits.). (Michigan:Baker Books, 2001), p. 972.
12
Lihat dalam William Haller,
The Rise of Puritanism
(Philadelphia: University of Pennsylvania Press, 1972), p. 8. Haller writes, “
The Puritans were Calvinists . . . Calvinismsupplied a current formulation of historic doctrine in lucid, trenchant terms, strikingly supported by the success of the state which Calvin’s genius has called into being in Geneva
.”
13
I.S. Renne,
Puritanism,
p. 973.

Activity (2)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->