Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Liturgi dan Tata Perayaan

Liturgi dan Tata Perayaan

Ratings: (0)|Views: 352|Likes:
Published by Fidelis Harefa

More info:

Published by: Fidelis Harefa on Feb 13, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/28/2014

pdf

text

original

 
 1
LITURGI DAN TATA PERAYAAN
Ajaran konsili Vatikan II tentang arti dan tujuan perayaan ekaristi telah memacu berbagai studi yang mendalam. Begitu banyak diskusi maupun perdebatan tentang peristilahan serta nilai-nilai essensi dari liturgi. Jika kita mau melihat semua itu secara positif, tentu akan berguna sekali. Setiap orang diajak untuk kembali mengingat danmemahami secara matang berkenaan dengan pelbagai gerakan pembaharuan liturgi dalamsetiap langkah sejarah perkembangannya.Kosa kata atau isilah-istilah yang dipakai dalam liturgi ekaristi berusahamengungkapkan muatan ide yang mau di sampaikan. Karena setiap peristilah telahdipengaruhi oleh situasi perkembangan zaman, penting bagi kita untuk kembali mengkajidan mengenal secara lebih pasti dengan merujuk pada etimologinya. Seperti kata
missa,ite missa est, canon et prefatio, offertorium, collecta, secreta
dan beberapa rumusankata salam yang berlaku dalam liturgi Gereja.
Ekaristi seputar empat abat pertama:
Pada abad 17 problem-problem seputar asal-muasal doa ekaristi khususnya
DoaSyukur Agung
mulai muncul ke permukaan. Banyak metode dan studi dilakukan untuk mendalami perayaan ekaristi, dan mencari prinsip yang benar untuk suatu tata perayaanliturgi Gereja universal. Tetapi tidak semua dapat ditemukan jawaban atau suatu pemecahan yang tuntas. Atas suatu penelitian dan analisa yang akurat dipastikan bahwaliturgi kristen berasal dari zaman para rasul. Untuk selanjutnya dalam menjawab masalahtersebut prinsip dasar liturgi ekaristi harus mulai digali dan dipahami tanpa lepas dari bingkai Perjanjian Lama, khususnya kebudayaan Yahudi, yaitu
ritus liturgi Yahudi.
Perjamuan ritual Yahudi dimuat dalam
Ulangan 8:10
. Perikop ini ditulis dalam rangka perjamuan ritual. Liturgi perjamuan Yahudi bukan dimaksud sebagai doa untuk menguduskan makanan. Doa ini dipakai sebagai
ungkapan syukur atas segala pemberian Allah melalui hasil tanah
. Doa syukur ini dilihat sebagai suatu perintah ilahi. Dan dalamsejarah perjalanan budaya Yahudi, penetapan ilahi ini pada akhirnya melahirkan suatu
 
 2
teologi dan juga sekaligus dikukuhkan sebagai kewajiban yuridis. Doa ini wajibdigunakan untuk doa pada akhir setiap perjamuan. Doa ini disebut
"Birkat ha-mazon"
 (The grace after meal).Adanya unsur maupun sifat kedekatan dengan budaya Yahudi, membuat Gereja perlumengkaji lebih pasti, manakah yang dilihat sebagai perjamuan Yahudi dan manakah yangsungguh merupakan perjamuan Tuhan Yesus. Sudah barang tentu, bahwa perayaanekaristi dilatar belakangi dari perjamuan malam terakhir Kristus bersama murid-murid- Nya. Pada peristiwa itu Yesus membuat suatu tindakan: Yesus
mengambil
roti
, memuji
 Allah,
memecah
roti dan
memberikannya
kepada para murid sambil berpesan supayaroti itu diambil dan dimakan sebab itulah tubuh-Nya. Dengan cara yang sama setelahmakan Dia
mengambil
cawan (piala),
mengucap syukur
,
membagikannya
kepada paramurid sebagai cawan perjanjian dalam darah-Nya. Pada akhir kata Ia berpesan:"Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Daku". Dengan tindakan ini Yesus menganjurkan(perintahkan) agar umat dikemudian hari melaksanakan seperti apa telah Dia sendiri perbuat. Demikianlah kiranya bahwa perayaan ekaristi merupakan perayaan:
menaatiperintah Kristus dan melaksanakan apa yang telah Dia lakukan.
Gereja awal berusaha menginterpritasikan kembali kata-kata petunjuk ini dalam perintah
"Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Daku" 
. Gereja para rasul menyaring bagian- bagian mana dari perjamuan terkhir menjadi unsur essensial, normatif bagi Gereja.Penginterpretasian ini selesai ketika Perjanjian Baru direduksi. Pada perjamuan terakhir tidak diceriterakan bersama semua detail ritualnya, tetapi diceriterakan dalam prospektif liturgis, tepatnya sebagai
"contoh dan model"
yang telah ditinggalkan oleh Yesus bagiGereja supaya hal yang sama dilaksanakan Gereja . Oleh karena itu misa adalah
ketaatan
terhadap perintah Yesus dan gambaran dari perjamuan terakhir.
Doa Syukur Agung
 adalah hakekat yang menentukan lituargi ekaristi Gereja yang telah mengambil muatandari prinsip-prinsip tindakan Kristus sendiri.Dalam perkembagan selanjudnya liturgi ekaristi Gereja sungguh
berbeda
dengan ritus perjamuan terakhir. Pada perjamuan malam terakhir dilaksanakan peristiwa makanmalam bersama. Sementara itu di dalam missa sejak abad ke-2 ekaristi tidak lagidihubungkan dengan makan bersama, dan ritus ekaristi juga dipisahkan dengan ritus perjamuan. Demikian juga halnya bahwa di dalam perjamuan terdapat dua doa syukur.
 
 3
Doa syukur pertama dimaksudkan untuk roti dan yang satunya lagi untuk doa syukur atascawan. Sementara dalam missa hanya ada satu doa yakni
Doa Syukur Agung atauAnafora.
Sejarah ringkas perayaan ekaristi di Barat:
Menulis sejarah Romawi abad-abad pertama dilihat sebagai hal yang penting, namundisadari sebagai pekerjaan yang tidak mudah. Kenyataan tidak tersedia atau tidak ditemukan suatu dokumen yang sudah diredaksi untuk studi sejarah missa Romawi dalamtujuh abad pertama. Usaha untuk melacak situasi perkembangan kegiatan liturgi Gerejaawal di Yerusalem atau di Antiokia pada masa itu tidak munkin. Dokumen yang tersediadi saat itu yaitu
Ordines
yang melukiskan perayaan Ekaristi mulai abad VII.Kita sadari bahwa pengetahuan sejarah dapat menjadi refleksi penghayatan atas perayaan ekaristi Gereja yang lebih aktual. Dalam kesempatan ini kita bermaksudmengetengahkan pilar-pilar sejarah yang senantiasa mesti dilegkapi.Dokumentasi sejarah perihal perayaan ekaristi di Roma dari abad V sampai abad VIII perlu dipakai secara cermat. Sejak adanya
Ordo Romanus
(
OR I
) yang muncul padaabad VIII, diceritakan tentang kegiatan liturgi jemaat saat melaksanakan misa paskah di
statio
. Namun belum diuraikan secara jelas, terperinci dan sistematik tentang liturgi perayaan ekaristi di statio itu. Memang ditemukan beberapa catatan dan surat dari paraPaus (yaitu jawaban-jawaban paus terhadap masalah-masalah yang mereka hadapi).Tetapi muatan penjelasannya hanya mampu memberi indikasi-indikasi secara parsial., belum terinci dan jelas. Titik cerah mulai muncul antara abad VII dan abad VIII.Beberapa sumber yang diketemukan memuat lebih kaya literatur-literatur liturgi.Beberapa kumpulan teks liturgi memuat literatur yang merefleksikan kebiasaan-kebiasaan liturgi pada zaman itu. Selain dari sumber Ordo Romanus, beberapa kesaksian buku-buku liturgi asal Romawi sedikit banyak telah menginformasikan perkembanganliteratur liturgi. Unsur atau bagian baru yang dimunculkan antara lain: Kyrerie eleison, bacaan-bacaan dan pelaksanaan homili, mazmur pada saat bacaan-bacaan, oratio fideliumsampai deprecatio, antifon, unsur-unsur dalam Doa Syukur Agung (pater noster dan ciumdamai). Dan pemakaian barang-barang suci untuk perayaan ekaristi yang di simpandalam sakristi.

Activity (2)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->