Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
3Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Pengalaman

Pengalaman

Ratings: (0)|Views: 145 |Likes:
Published by Fidelis Harefa

More info:

Published by: Fidelis Harefa on Feb 13, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/12/2013

pdf

text

original

 
www.harefa.com
“PENGALAMAN”
Michael Downey (ed.),
The New Dictionary of Catholic Spirituality 
(Collegeville, Minnesota: A MichaelGlazier Book, The Liturgical Press - The Order of St. Benedict, Inc., 1993), hlm. 365-377.
1. Pengalaman
Pengalaman merupakan sesuatu hal yang penting bagi orang kristen. Berkat pengalamanorang dapat mencari Tuhan Allah dengan segala perasaan, hati, jiwa, dan dengan segala kekuatan.Sejak Yesus menjadi penguasa tunggal, manusia berusaha mencari arti pengalaman yang menunjuk pada peristiwa-peristiwa yang ada dalam Kitab suci. Pengalaman merupakan langkah seseorang untuk berhubungan dengan Tuhan, masuk dalam kehidupan yang diberikan oleh Kristus. Dari situorang sadar bahwa hidup manusia itu berasal dari Tuhan.Karl Rahner dan Bernard Lonergan memiliki suatu pengertian dalam perjalanan hidupspiritual. Mereka mengatakan tentang kebenaran keberadaan Tuhan dan tindakan atas nama Kristusdan Roh kudus. Pernyataan kebenaran itu memberikan sesuatu yang penting dalam hidup spiritual.Menurut mereka, pengalaman merupakan bagian dalam teologi antropologi, yakni suatu studitentang manusia sebagai saudara Tuhan. Pengalaman itu mempunyai dua sifat:
sifat manusia
dan
ilahi
,
 yang kelihatan
dan
 yang tidak kelihatan
.Sejak awal, Konsili Vatikan II membuat suatu penegasan tentang: apakah Yesus dan Rohkudus itu sama sebagai dasar pengalaman kristiani. Teologi antropologi menegaskan bahwa sabda Tuhan dan roh dapat mendekatkan manusia kepada Tuhan. Tuhan menyatakan kemanusiaan-Nyadalam diri manusia itu sendiri. Jadi, pengalaman merupakan suatu studi tentang spiritualitas Kristiani, yaitu pengharapanreligius atau pengalaman mistik sebagai jalan menuju Tuhan. Pengalaman manusia itu membuat Tuhan merendahkan diri seperti kita, karena itu kita mempunyai tugas untuk menguji pengalaman dimana Allah memberikan diri kepada kita melalui sabda dan roh.
2. Pengalaman merupakan prekondisi
Pengalaman mempunyai hubungan timbal-balik antara peristiwa-peristiwa
dari dalam
dan
dari luar
. Peristiwa-peristiwa dari dalam misalnya: kebutuhan-kebutuhan biologis, ketakutan-ketakutan instingtif, dan prasangka-prasangka. Peristiwa-peristiwa dari dalam ini seolah-olahmenuntut aktivitas kelima indera kita yakni: dengan melihat, mendengar, mengecap, merasa, danmencium. Sementara pengalaman dari luar tidak mudah disalurkan ke dalam pikiran kita melalui
 
www.harefa.com
kelima indera ini.Konsep ini sangat relevan bila dikaitkan dengan peristiwa sejarah, terutama peristiwa Musayang melihat semak bernyala atau Elia yang mendengar bisikan angin sepoi-sepoi. Peristiwa inimeskipun nampak secara visual, namun toh tetap tidak lepas dari peristiwa yang muncul dari dalamdiri, yakni kepercayaan, harapan, dan keinginan menuju sesuatu yang baik. Dorongan inilah yang memungkinkan Musa dan Elia melihat peristiwa yang mereka alami sebagai pengalaman kehadiran Tuhan.Musa dan Elia mau mengungkapkan kepada kita bahwa pengalaman yang kita alami (yang tertangkap dari luar) sebetulnya dipengaruhi oleh apa yang ada dalam hati kita. Kerinduan Musa danElia akan Allah, misalnya, justru memudahkan mereka melihat kehadiran Allah lewat semak bernyaladan mendengar suara-Nya lewat bisikan angin sepoi-sepoi. Demikianlah dapat dimengerti bahwapengalaman-pengalaman yang kita alami sangat dipengaruhi oleh minat-minat, kebutuhan-kebutuhanpsikologis yang ada dalam diri kita; dan kebutuhan-kebutuhan itu merupakan prasyarat menujupengalaman yang konkret.
3. Pengalaman adalah sumber pengertian
Pengalaman kita dibentuk atau ditentukan oleh jenis kelamin, usia, suku, dan kebangsaankita. Namun demikian hal ini tidak berarti bahwa pengalaman kita hanya dibentuk oleh beberapaelemen itu saja. Masih banyak unsur lain yang turut memberikan andil dalam membentuk pengalaman kita.Sadar atau tidak, orang menemukan kehadiran Allah itu dari pengalaman biasa ataupengalaman hidup sehari-hari. Orang bisa menemukan siapa diri Allah dari pelbagai pengalamanhidupnya. Dalam diri Allah orang dapat menemukan arti hidup bagi dirinya. Hal ini penting karena Yesus mensahkan pengalaman spiritualnya melalui pengalaman pengurbanan diri-Nya di kayu salib.Pengalaman salib-Nya ini merupakan bentuk pengorbanan yang bernilai sangat dalam. Kitamengalami prinsip-prinsip iman yang penting dalam perjalanan hidup religius. Iman sebetulnyamenghantar kita kepada permenungan bagaimana pengalaman kita memberikan pemahaman padapengalaman Yesus dan bagaimana pengalaman-pengalaman itu memberi arti bagi kita.Iman kita dibangun di atas pengalaman iman para murid Yesus, karena mereka belajar daripengalaman hidup Yesus yang sungguh-sungguh mengungkapkan pemberian diri-Nya secara total.Melalui sejarah kita bisa melihat tradisi iman semacam ini yang sering kehilangan artinya karenaorang mulai lupa pada iman yang nyata. Mereka hanya melihat tradisi sebagai pengulangan kata-katadan rutinitas ritus yang dibentuk dan dimuat dalam rubrik. Ada indikasi penting lainnya yakni pengalaman merupakan pemahaman karena pengalamanitu sendiri merupakan pengalaman asli seseorang. Seseorang yang memperoleh pengalaman akan Allah dapat menjadi tempat untuk berkonsultasi tentang spiritual bagi orang lain. Dalam tulisan
 
www.harefa.com
Lukas, Petrus dan Kisah para rasul, para murid mempunyai kuasa untuk berkhotbah dan mengajarkarena pengalaman hidup mereka bersama Yesus.Menurut Paulus, seseorang dikatakan
rasul
apabila ia mendasarkan pengalamannya padakebangkitan Kristus. Yohanes dalam injilnya menggambarkan Maria Magdalena dan murid-murid Yesus yang dikasihi-Nya sebagai pemimpin spiritual yang mempunyai kuasa dalam Gereja karenapengalaman mereka bersama Yesus. Kuasa itu sangat bergantung kepada pengalaman cinta dankesetiaan mereka pada Yesus. Secara prinsipial, kuasa itu bukanlah sekedar menerima suatu jabatan,jubah, atau cincin, tetapi lebih kepada pengalaman untuk meneladani Yesus dan hidup-Nya.Banyak orang membuat permenungan hanya sampai pada tingkat konsep belaka. Sementara Yesus dengan jelas telah menunjukkan kebenaran kemanusiaan-Nya, sehingga Ia dapat berbicaradengan wanita Samaria di sumur Yakub. Yesus menentang hal-hal yang dianggap tabu oleh bangsa Yahudi waktu itu, di mana orang dilarang berbicara dengan wanita Samaria.Di samping itu kita juga diajak untuk merenungkan kisah Yudit dan Yeremia yang menanggapi undangan Allah. Hal ini mengajak kita untuk patut bertanya pada diri sendiri,“Bagaimana orang ini dapat berhadapan dengan otoritas religius?” Lewat permenungan ini kita akandapat membawa tradisi atau kebiasaan hidup orang kudus ke dalam Gereja dan dunia yang penuhdengan kuasa.
1.
 
Pengalaman itu bersifat mendua (ambigu)
Sangat penting mencari makna atau arti pengalaman. Namun tidaklah gampang mencari artisebenarnya dari pengalaman itu, karena dari dirinya sendiri pengalaman itu bersifat mendua.Pengalaman tidak secara langsung menunjuk arti yang sebenarnya, karena pengalaman dipengaruhikejadian
dari luar
dan
dari dalam
diri. Hal itu terjadi baik pada sisi perasaan/kejiwaan maupundalam sejarah hidup kita. Pada sisi sejarah hidup, tertemukan kebiasaan orang-orang lain, artipercakapan harian yang sukar dipahami, cara-cara kita memecahkan persoalan yang biasa. Pada sisikejiwaan, terkadang kita menolak arti pengalaman. Misalnya:
situasi neurosis 
, satu komunitas kadang-kadang mudah untuk menunjukkan “kekayaan” mereka, tetapi tidak mudah mengakui kelebihankomunitas lain. Yang kemudian terjadi adalah adanya kemalasan intelektual: orang tidak berusahamencari suatu makna yang lebih dalam kalau suatu pertanyaan dapat dijawab secara singkat.Kemenduaan pengalaman dapat ditemukan pada pengalaman religius, pemikiran religius sertapengalaman mistik.
 
Pengalaman religius
sendiri perlu diklarifikasikan, karena
sifatnya
yang 
mendua
. Misalnya:suatu rasa terpesona akan Allah, harus diuji apakah hal itu benar. Konsolasi intens yang dialamioleh Ignatius dari Loyola dan Theresia dari Avilla membawa mereka kepada perasaan tidak layak.Mutu dari unsur liturgi tidak tergantung dari kekuatan perasaan yang dibangkitkan, tetapi sering 

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->