Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword or section
Like this
3Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Monotone

Monotone

Ratings: (0)|Views: 473 |Likes:
Published by boedhimargono

More info:

Published by: boedhimargono on Nov 19, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/16/2011

pdf

text

original

 
1
Percakapanku Dengan Seorang Bartender
Sejenak ia menatapku penuh perhatian, lalu berkata:“Aku sudah lama disini, bang, dan aku kenal dengan banyak orang. Kebanyakan yangdatang kesini adalah bajingan.Ya ini kerja di bar. Seks berkeliaran di mana-mana, dan juganarkoba, you know? Apa lagi yang diharapkan oleh orang datang kesini selain itu?”Aku amati wajahnya yang lelah. Masih saja penuh senyum.“Mau minum apa?”“Anggur putih, tanpa es.” aku berkata cepat. Kutatap pipi bersih dan mulus itu. Wajahnyacukup ganteng. Aku menjilat bibir membayangkan betapa nikmat minuman itu sambil ditemaniolehnya.“Anggur?” ia bertanya. Ia menatapku dalam-dalam, dan kemudian tersenyum lagi. “Kautahu, bang. Aku membedakan orang berdasarkan apa yang mereka minum.”“Seperti apa itu?” kutatap gerakan tangannya yang terampil dan cepat menggelegakkancairan putih bening dari botol, menyodorkannya sempurna padaku.“Orang yang terbaik, tentu minum anggur. Yang kedua peminum teh, dan yang terburukadalah peminum sirop. Tentu saja diantaranya banyak sekali antara. Peminum kopi termasukyang terburuk. Saya lebih suka orang yang suka minum bir.”“So. Kau adalah peminum anggur mestinya?” aku tersenyum melihat wajahnya berkejap-kejab diantara lampu-lampu bar yang melintas dalam kegelapan. Terus terang aku tersanjung ataspujiannya. Membuat jantungku berdesir halus.“Dan aku benci beberapa hal, bang. Polisi, orang fanatik agama. Ya kira-kira orang-orangseperti mereka lah. Abang tahu khan?”“Yep.”“Yang jelas saya bukan pemabuk atau pengguna narkoba. Tetapi di bisnis ini, kita akanselalu saja kena stigma.”“Begitu?” tanyaku tersenyum simpul menikmati semburat merah kemarahan yang meluapdari pipinya yang hitam manis itu.“Ya.” mereka cuma tahu aturan-aturan anjing itu. Abang tahu orang-orang yang ditangkapdisini. Mereka yang terjerat itu, saya tahu mereka semua, orang-orang baik.” katanya, sambilmenggeser tangannya dan perlahan meletakkannya ke meja. Tangannya berbulu.Aku diam dan tersenyum. Tangannya tadi berdekatan dengan tanganku yang sedangmenggenggam gelas sloki yang tergeletak di meja. Hatiku berdesir. Tapi aku tak beranimemegangnya. Kini ia sibuk melayani pembeli di sampingku. Wajahnya tampan. Nampaknyasebuah modal yang amat penting bagi bartender.“Saya benci jika ada fanatik-fanatik agama saat musim puasa. Mereka bikin kisruh. Kita takpernah kisruh, itu kerjaan mereka. Saya sebut mereka bajingan, dan juga tak bisa berfikir. Merekatak tahu apa-apa.”“Menurutmu apa yang tak mereka tahu?’“Abang tahu? Bahwa hukum selalu memojokkan orang-orang seperti kami. Kami takpernah merugikan orang lain, hanya ingin fun.”“Tapi kalian khan ada juga yang menjual narkoba, menyebarkan virus HIV, dan juga hal-hal buruk lainnya untuk anak-anak muda. Apa salah mereka jika menggerebeg kalian jika begitu?”Ia menatap wajahku heran. Wow. Matanya besar dan berbulu panjang melengkung lentik.Aduh tampannya!!Namun ia nampak sangat terkejut dengan kata-kataku dan merasa terpukul. Ia berkatapelan, sedikit bergetar, ”Abang kok bilang gitu?”“Aku?” aku menunjuk diriku sendiri dengan gelasku itu, dan berkata pelan kepadanyasetelah menyeruput sedikit anggurku. “Aku? Aku sih ikut saja suara orang banyak.”Aku pun tertawa terbahak-bahak.
 
2
“Ah, jangan begitu bang.”“Sudah-sudah. Sekarang aku minta anggur lagi.”“Baiklah bang” ia mengangkat botol anggurnya dan mengucurkannya lagi ke gelasku.“Penuh.” kataku.“Penuh?“Ya. Penuh.”“Baik” katanya. Ia mengucurkan penuh ke dalam gelasku.Kuseruput anggur dalam gelasku, dan menikmati rasa manis pahitnya. Kutatap semuaorang yang bergembira ria malam ini. Tercenung. Mungkin aku melamun.Bartender itu nampak cemas atas wajahku yang pasti nampak tertekuk jelek.“Ada apa, bang? Nggak enak anggurnya? Atau ada sesuatu yang tak memuaskan?”“Nggak... enak kok.”Selama beberapa waktu kami berdiam. Aku menikmati anggur itu dalam-dalam,menyeruputnya pelan. “Disini orang datang menikmati suasana, bukan untuk membeli minumanmurah.” batinku ironis.Tapi entah kenapa, tiba-tiba kini aku melihat petugas bar nampak sibuk bergegas kesanakemari. Mereka nampak membisiki para pelanggan, membuat para pelanggan nampak pucat.Musik dihentikan. Lampu dihidupkan. Mataku jadi beerkejab-kerjab silau.“Lho ada apa ini?”“Nampaknya malam ini ada kejadian. Abang perlu deh pulang cepat.”“Apa??”“Semestinya FPI menyerbu malam ini.”“Hah??? Dapat info dari mana?” tanyaku agak panik.“Orang dalam. Dari orang FPI sendiri dan polisi. Kita punya tangan disana. So, we have toget out of here, Sir. As soon as possible.”“Secepat itu?”“Ya. ya... Dan kami akan padamkan lampunya. Malam ini saya nampaknya bisa tidurnyenyak.”“Kesempatan yang amat genting. Harus segera dimanfaatkan. Jika tidak aku akankehilangan dia!!!” pikirku. Campuran senang tapi juga panik.“Santai saja. Kalau begitu ikut saja denganku. Aku punya bar sendiri di rumahku. Kau maumampir?” kataku dengan hati berdesir.“Benarkah?”“Tak ada gunanya aku berbohong.”“Tetapi abang bukan pemakai kan?” dia bertanya dengan penuh kecurigaan.Aku tergelak dengan cepat. “ tidak-tidak. Tak ada narkoba. Aman. Hanya anggur, danminuman reguler yang lain. Teh jika kau mau. Juga ada teman-temanku yang datang. Kukenalkannanti.”“Tak ada ganja?”“Tidak”Ia nampak merenung agak lama, menimbang-nimbang. Aku tahu bahwa dunia dugemseperti ini adalah dunia yang berbahaya. Dan tentunya ia sudah terbiasa dengannya, dan aku takyakin bahwa ia pun tidak menyukai sebuah eksperimentasi, seksual misalnya. Aku berharap. Akumenunggu dengan sabar, sambil menghabiskan isi gelasku.“Bolehkah aku aku membayar billnya sekarang?” tanyaku tak membiarkan waktu sempit ituterbuang percuma. Tapi aku tak mau kelihatan menggegas kegiatan dia memberesi barnya.“Tentu saja. Silakan.” katanya datar.“Tentu saja.” Aku pun melangkah meninggalkan dia menuju konter kasir dekat pintu keluar.Nampak wajah cewek penjaga kasir yang kelelahan dan khawatir. Kubayarkan berapa yangtertera dalam bill-ku, dan segera aku beranjak menuju bar lagi. Nampak bartender itu tersenyumpadaku.
 
3
“Disini saya jarang sekali bisa minum. Abang tahu khan disiplin seorang bartender? Kamihanya bisa minum saat tamu semua telah pulang. Seperti ritual bunuhdiri terakhir saja.”“Dan kau akan minum dulu disini...” kataku.“Tidak lah. Waktunya sangat genting.”“So kita bisa minum-minum di rumahku saja. Ya kan?” kataku agak memaksa dia.Ia diam saja. Ia segera menutup barnya dengan cepat, menyelamatkan botol-botolminuman terbaiknya ke dalam ceruk terlindung besi yang tersembunyi di lantai bar, ia menumpuk-numpukkan botol-botol dan peralatan bartender dengan cepat, dan setelah itu menguncinyadengan palang besi. Nampak sangat rata dengan lantai ubin yang kemilau di sekelilingnya. Iakemudian menutupnya dengan karpet. Banyak orang sibuk dalam kegiatan itu. Ia dibantubeberapa pekerja yang lain meringkas semua benda yang lain. Aku menatap peristiwa itu dengantakjub, juga saat semua tamu berhamburan keluar dengan cepat dan tergesa-gesa menghilangdalam kegelapan malam.Dalam hitungan menit semuanya telah selesai. Kini aku tinggal bersama hanya beberapaorang pekerja yang tersisa, juga dengan beberapa pelanggan yang nampaknya hendak menyertaipara pekerja pulang.Aku beranjak dari tempat duduk di bar, dan kemudian menarik lengannya. “Ayo.”Ia kelihatan menurut saja seperti terhipnotis. Mengikuti langkahku. Kami pergi dalampandangan acuh-tak acuh dari teman-temannya yang lain. Beberapa orang sempatmenyampaikan salam seperti biasa dan segera berlalu.Kami berdua berjalan cepat dalam kegelapan malam menuju tempat parkir. Aku membukapintu mobilku dan berkata, ”Jangan takut. Sekali lagi aku tak suka memaksamu melakukan apayang kau tak biasa lakukan. Dan juga tak ada narkoba di rumahku. Aku bersih.”“Thanks God.”“Masuklah.”“Baiklah bang”Maka ia pun masuk ke dalam mobilku, dan aku pun segera duduk di belakang kemudi.Tanpa sadar aku pun bersiul. Wajahku pasti nampak demikian gembira terlihat dari kaca spion.Nampak ia sedikit curiga.Mobilku mulai kulajukan kencang. Ia nampak terdiam di sampingku. Ia menyulut rokoknya,dan kemudian menghisapnya pelan. Aku pun tersenyum simpul melihat sikap itu. aku menangkapsebuah ketakutan dan kecurigaan, dan kerja kerasnya untuk bersikap santai. Tetapi aku punselalu harus kerja keras untuk bisa menyantaian diriku. Tentu saja.“Mobil abang bagus. Abang orang kaya, pasti.”“Lumayan.”“Kerja apa?’”Ah kerja biasa saja.”“Tidak. Asal bukan seorang polisi saja. Tetapi saya tahu semua polisi disini.”“Hah. Jangan menghina. Aku bukan polisi.”“Lantas?”“Tebak coba.”“Paling bisnismen atau kalau tidak, ya pejabat. Seperti semua orang yang lain yangkutemui.”“Dosen. Aku seorang profesor.”Aku menikmati sekali wajah tertegun dan terkejutnya. Nampak sangat tampan.Tapi...tapi...Tubuhnya mencondong menjauh. Menempel ke pintu mobilku, memegangi kenopbukaan pintu. Ia nampak pucat pasi. “Pasti anda gay. Pasti. Anda menjebakku kan?” kini kata-katanya berubah agak kasar, tak lagi sopan seperti biasanya. Aku mulai berdebar. Setiap saatkegagalan bisa menghadangku untuk bisa membawa dia ke rumah.“Tidak, lah.”

Activity (3)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Wilyanto Yang liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->