LITERASI SAINSoleh: Herman S. WattimenaNIM: 1007139A.Pendahuluan
Sains sebagai salah satu mata pelajaran dalam kurikulum sekolah, memiliki sejarahyang relatif panjang. Matthews (Sarkim 2005) memperkirakan bahwa sains telah menjadi bagian dari kurikulum sekolah sejak pertengahan abad ke-18 di Eropa. Keberadaan sainsdalam kurikulum sekolah semakin diperkuat setelah kehadiran para ahli pendidikanseperti Thomas Huxley dari Inggris dan John Dewey dari Amerika Serikat pada abad ke-19. Dalam sejarah perkembangannya, pendidikan sains telah mengalami berbagai pem- baharuan baik dalam aspek tujuan, isi maupun metode pengajarannya. Inisiatif pembaha-ruan itu muncul dari para pendidik, ahli pendidikan atau para ilmuwan, seperti bidang- bidang Fisika, Biologi dan Kimia dan sebagainya.Shamos (Sarkim, 2005) mencatat bahwa tujuan dari
scientific literacy
hampir si-nonim dengan tujuan pengajaran sains dewasa ini. Pembahasan konsep
scientific literacy
dapat dikatakan telah menjadi tanda reformasi pendidikan sains di banyak negara dalamdua dekade terakhir. Para pendidik sepakat bahwa tujuan penting dari pengajaran sainsadalah membantu para murid mencapai tingkat literasi sains yang lebih tinggi. Meskipunide literasi sains bukan ide yang baru, namun nampaknya belum ada konsensus tentangapa yang dimaksud dengan literasi sains. Dalam tulisan ini pembahasannya akandiarahkan pada pengertian-pengertian literasi sains, karakteristik dari orang yang
scien-tifically literate
, sikap lembaga sains terhadap literasi sains serta rasional yang menopangmuncul dan berkembangnya konsep literasi sains.
B.Pengertian Literasi Sains
Literasi sains menurut
the Programme for International Student Assessment
atauPISA (Rustaman, 2003) dipertimbangkan menjadi suatu hasil kunci dari pendidikan anak usia 15 tahun, baik bagi yang melanjutkan belajar sains maupun yang tidak. Berpikir ilmiah atau
scientific
dituntut dari warga dunia, warga negara atau warga masyarakat, bukan hanya dari ilmuwan atau pakar sains. Cakupan literasi sains sebagai kompetensi1