2
|
Kurikulum Pendidikan Jurnalistik
telan dikeluarkan Deppen. Selanjutnya pada pertengahan 1999 jumlahSIUPP baru yang dikeluarkan oleh lembaga ini menjadi 852.Dalam banyak kasus, institusi media –dengan pertarunganideologi di dalamnya- menekankan aspek ekonomi media dibandingkanaspek pelaksanaan fungsi media itu sendiri. Bahwa selain adapertimbangan-pertimbangan dasar yang menjadi acuan apakahperistiwa dapat diberitakan atau program mata acara dapat disiarkankepada khalayak, ada pertimbangan lain, yaitu faktor untung-rugi bagiinstitusi media yang bersangkutan. Persoalan yang muncul lainnyabersinggungan dengan profesionalisme pelaku media. Misalnya,wartawan yang mengabaikan kode etik jurnalistik ketika melakukanpraktek jurnalistik. Kasus Majalah Tempo dan pengusaha Tomi Winataberkaitan dengan berita keterlibatan Tomi Winata atas megaproyekPasar Tanah Abang yang tidak dilakukan proses konfirmasi dan
cover both side
sehingga berujung pada proses hukum adalah contoh kasusbagaimana wartawan tidak bekerja pada kode etik jurnalistik.
Perkembangan Media di Indonesia di Era Kebebasan Pers
Perkembangan media di Indonesia bisa dikatakan mengalamikemajuan yang cukup pesat sejak pencabutan dua Peraturan MenteriPenerangan (Permenpen), dilakukan oleh Menteri Penerangan kala itu,M Yunus Yosfiah, pada tanggal 5 juni 1998. Salah satu pasal yangmenjadi persoalan di kalangan pelaku media adalah berkaitan denganKetentuan-Ketentuan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP). Dalamperaturan yang baru tersebut ditegaskan bahwa siapa saja, baikperorangan dan atau kelompok, bebas menerbitkan media danperaturan tersebut tidak lagi mencantumkan sanksi pencabutan SIUPPatau pembredelan bagi pers yang dinilai melanggar peraturan.
Kebebasan dalam pengurusan SIUPP, bahkan tidak diperlukan lagipengurusan SIUPP dalam penerbitan, dan kelonggaran yang ada dalamPermempen yang baru tersebut mendorong berbagai badan usahamaupun perorangan untuk menerbitkan media massa, khususnya