Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
18Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
resensi antropologi kesehatan

resensi antropologi kesehatan

Ratings: (0)|Views: 2,086|Likes:
Published by Dedy Syahrizal

More info:

Published by: Dedy Syahrizal on Feb 16, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOCX, TXT or read online from Scribd
See More
See less

11/28/2013

pdf

text

original

 
RESENSI BUKU ANTROPOLOGI KESEHATAN
DEDY SYAHRIZAL
 S3 ILMU KEDOKTERAN/ 091170111 
Buku Antropologi Kesehatan terdiri dari enam belas bab. Pada umumnya pembahasandalam buku ini lebih ditekankan pada hubungan antara sistem kesehatan dengan aspek  budaya yang kesemuanya bermuara pada rumusan yang disebut Antropologi Kesehatan.Antropologi kesehatan mengkaji masalah-masalah kesehatan dari dua aspek yaitu aspek  biologi dan aspek sosial budaya. Dari aspek biologi masalah yang dikemukakan lebihditekankan pada pertumbuhan dan perkembangan manusia, peranan penyakit dalam evolusimanusia, dan studi tentang penyakit-penyakit purba. Sedangkan dari aspek sosial budayadibahas mengenai sistem medis tradisional (etnomedisin), perkembangan profesionalitas petugas kesehatan dalam menjalankan tugasnya, hubungan antara dokter dan pasien, tingkahlaku sakit dan usaha memperkenalkan sistem pelayanan kesehatan terhadap masyarakattradisional.Adapun yang menjadi langkah awal pembahasan dalam buku ini adalah persoalanmengenai sistem medis. Sistem medis yang terjadi pada masyarakat pada dasarnyamerupakan suatu adaptasi sosial budaya yang melahirkan suatu bentuk perilaku dan bentuk kepercayaan yang berlandaskan budaya yang timbul sebagai respon terhadap ancaman-ancaman yang disebabkan oleh penyakit Secara singkat sistem medis ini merupakanorganisasi yang kompleks yang sangat penting dan berperan dalam menilai danmembangunan suatu pola pikir dan perilaku sehat dan sakit pada masyarakat. Hanya denganmelihat dari konteks yang lebih luas dalam suatu lingkungan sosial budaya yang menyeluruh barulah sistem medis dari suatu kelompok masyarakat ini dapat dipahami sepenuhnya.Salah satu hal utama dalam sistem kesehatan adalah aspek penyakit dan pengobatanterhadap penyakit. Etnomedisin adalah cabang antropologi medis yang membahas tentangasal mula penyakit, sebab-sebab, dan cara pengobatan menurut kelompok masyarakattertentu. Aspek etnomedisin merupakan aspek yang muncul seiring perkembangankebudayaan manusia. Di bidang antropologi medis, etnomedisin memunculkan termonologiyang beragam. Cabang ini sering disebut pengobatan tradisionil, pengobatan primitif, tetapietnomedisin terasa lebih manusiawi. Menurut kerangka etnomedisin, penyakit dapatdisebabkan oleh dua faktorà yatu personalistik dan naturalistik. Walaupun istilah-istilahtersebut merujuk secara khusus pada konsep-konsep kausalitasà keduanya dapat juga dipakaiuntuk menyebut seluruh sistem-sistem medis (yakni tidak hanya kausalÃmelainkan jugaseluruh tingkah laku yang berhubunganà yang bersumber pada pandangan-pandangantersebut). Pertamaà penyakit yang disebabkan oleh agen (tokoh) sepertidewa,lelembut, makhluk halus, manusia, dan sebagainya. Pandangan ini disebut pandangan personalistik. Orang yang sait adalah korbannya atau objek dari agresi atauhukuman yang ditujukan khusus kepadanya untuk alasan-alasanyang khusus menyangkutdirinya saja. Penyakit juga dapat disebabkan karena terganggunya keseimbangan tubuhkarena unsur-unsur tetap dalam tubuh seperti panas dingin dan sebagainya. Kajian tentang inidisebut kajian natural atau nonsupranatural. Didalam realitas, kedua prinsip tersebut salingtumpang tindih, tetapi sangat berguna untuk mengenali konsep-konsep dalam etnomedisin.Salah satu bahasan dalam etnomedisin adalah mengenai pandangan masyarakattradisional terhadap masalah psikiatri dan cara-cara mereka menanganinya. Hal ini dikenaldengan nama etnopsikiatri. Perhatian awal dari ahli antropologi terhadap penyakit mentalmulanya sangatlah jauh dari bidang etnomedisin. Awal perhatiannya mulai dari pemahamanatas hubungan antara kepribadian (faktor psikis) dengan kekuatan-
 
kekuatan budaya yang
 
RESENSI BUKU ANTROPOLOGI KESEHATAN
DEDY SYAHRIZAL
 S3 ILMU KEDOKTERAN/ 091170111 
 berpengaruh dan membentuk kepribadian walaupun dalam perjalanan selanjutnya mengalamikemajuan. Faktor keturunan (organis), faktor fisiologis (psikis), dan faktor psikososial- budaya, semua menjalankan peranan dalam menjelaskan timbulnya penyakit jiwa. Tujuandari penelitian antropologi bukanlah untuk menegakkan dominasi dari satu kausa penyebab,tetapi untuk mempelajari hubungannya antara faktor-faktor tersebut yang saling berkaitanAda beberapa perhatian khusus yang ditangani oleh para ahli antropologi sepertidefinisi budaya tentang ³normal´ dan ³abnormal´ serta bagaimana penyakit jiwa diakui dandidefenisikan dalam masyarakat lain diluar masyarakat modern, penjelasan non-moderntentang penyakit jiwa, cara-cara dari segi budaya untuk menangani tingkah laku menyimpangyang didefenisikan sebagai abnormal,terjadinya penyakit jiwa dalam masyarakat-masyarakatdengan kompleksitas yang berbeda dan demografi penyakit jiwa, yang meliputi : frekuensi,sebab-sebab, dan kondisi-kondisi pencetusnya. Adapun cara-cara budaya dalam menangani penyakit jiwa juga bervariasi, walaupun banyak bentuk tingkah laku menyimpangnampaknya bersifat universal, cara-cara untuk menanganinya, nilai-nilai sosial yangdiberikan kepada tingkah laku menyimpang, dan cara-cara pengobatannya sangat bervariasi.Setelah mengetahui sekelumit hal mengenai penyakit, maka pembahasan dalam buku inimulai mengupas mengenai proses yang dilakukan oleh masyarakat untuk mendapatkankesembuhan. Pada bab ini diperkenalkan istilah Shaman, dukun sihir dan penyembuh- penyembuh lain. Di sini dapat disimpulkan walaupun tingkah laku para penyembuh di berbagai tempat dan dalam era yang berbeda memiliki berbagai perbedaan dalammenjalankan peranan profesional mereka namun mereka mempunyai persamaan dalam halwawancara pengobatan. Dimana dalam wawancara pengobatan tersebut terkandung essensisebagai berikut : arti hubungan antara peranan, norma tingkah laku, harapan yang diketahuiyang memberi ciri pada kedua aktor (dokter-pasien). Apresiasi yang sepenuhnya dari setiapwawancara pengobatan memerlukan pengetahuan tentang latar belakang kebudayaan dimanaia tertanam dan harapan yang diberikan oleh masing-masing aktor.Dalam menjalankan proses pengobatan, masalah komunikasi merupakan salah satu hal penting yang harus dikuasai. Shaman maupun dukun sihir jarang menanyakan pasien secaramendetail, mereka dapat memperolehnya melalui ramalan. Oleh karena itu proses pengobatanini lebih sering ditemukan pada masyarakat tradisional yang tidak memiliki tuntutan yang berlebihan. Sedangkan hubungan dokter-pasien, keduanya mengharapkan penyelesaianmasalah secara ilmiah, sehingga wawancara kepada pasien, akan lebih mendetail untuk menemukan riwayat penyakitnya. Hubungan dokter-pasien dapat dianalisis dalam empat pasang dimensi sebagai berikut : terbatas-universal, permanen-temporer, atasan-bawahan dansukarela-non sukarela.Pada pengobatan tradisional (non barat) terbukti dapat memberikan sumbangan dalam pengobatan modern dan mempunyai peranan kesehatan pada masyarakat. Pengobatantradisional berperanan dalam fungsi religi, hukum, sosial dan psikologis sebagai pranata budaya yang adaptif untuk mendorong kesejahteraan masyarakat dan merupakan pengobatranyang mendukung psikosoial krn penyakit dalam masyrakat tradisional berhubungan denganmasyarakat atau disfungsi dalam masyarakat itu sendiri. Namun bila ditinjau secara ilmiah, pengobatan tradisional masih memiliki kelamahan seperti belum ada yang shahih, sumbangan pengobatan timur untuk patologi organik masih sangat sedikit dan farmakopea (obat-obatan
 
RESENSI BUKU ANTROPOLOGI KESEHATAN
DEDY SYAHRIZAL
 S3 ILMU KEDOKTERAN/ 091170111 
timur) relatif tidak efektif bila dibandingkan dengan antibiotika dan obat-obatan lainnya ygmudah didapat oleh dokter.Ahli antropologi maupun ahli sosiologi memandang perjalan penyakit sebagi sesuatuyang secara analitik ditentukan oleh tahap tahap yang dapat dibedakan. Ada lima tahap yangdigunakan sebagai dasar untuk melukis tentang cara-cara bagaimana para ahli antropolgi danahli sosiologi memandang urutan dari penyakit, yaitu: tahap pengalaman gejala-gejala(keputusan bahwa ada yang tidak beres), asumsi dari keadaan peranan sakit (keputusan bahwa sesorang sakit dan membutuhkan perawatan profesional), tahap kontak perawatanmedis (keputusan untuk mencari perawatan medis profesional), tahap peranan ketergantungan pasien (keputusan untuk mengalihkan pengawasan kepada dokter dan menerima sertamengikuti pengobatan yang ditetapkan) dan kesembuhan atau keadaan rehabilitasi (keputusanuntuk mengakhiri peranan pasien).Balint menunjukkan bahwa pasien dapat menawarkan atau menyarankan berbagai jenis penyakit untuk mengesahkan haknya atas waktu sang dokter dan berharap untuk mendapatkan orang yang bersimpati dan mau mendengarkan keluhannya. Para ilmuwan perilaku yang mempelajari tingkah laku sakit , peranan sakit serta peranan pasien menyadari bukan hanya faktor sosial suku bangsa atau budaya, melainkan juga harus ingat bahwa walautak disadari para pasien mungkin menggunakan kondisi mereka sebagai sarana manipulasi , bahwa penyakit itu mempunyai nilai , baik positif mapun negatif.Rumah Sakit selain sebagai tempat pengobatan ternyata merupakan suatu komunitasyang tidak terlepas dari pengaruh sosial budaya. Awalnya rumah sakit dipandang sebagaisuatu rumah amal tempat perawatan orang miskin yang sakit gawat, bahkan dipandangsebagai suatu tempat dimana orang datang untuk mati. Sementara orang kaya dirawat dirumah dokter dan perawat dipanggil kerumah dan bertugas penuh sepanjang hari.KemudianRumah sakit mengalami revolusi setelah abad ke-20, dimana rumah sakit berfungsi sebagaitempat untuk menjalankan berbagai prosedur pengobatan tertentu yang komplek sepertioperasi yang tidak mungkin dikerjakan di rumah dan hanya bisa dikerjakan di rumah sakit.Rumah sakit selanjutnya lebih berkembang terutama karena pemanfaatan waktu yang lebihefektif oleh dokter. Dengan waktu yang sama dengan waktu yang dimasa lalu digunakanhanya untuk mengunjungi seorang yang sakit dirumah, seorang dokter dapat menangani lebih banyak orang sakit di rumah sakit.Seorang pasien seringkali mengalami stress karena harus menghadapi bahasa rumahsakit atau istilah-istilah kesehatan yang tidak biasa didengarkan serta budaya rumah sakityang membingungkan. Pasien harus mempelajari pola interaksi baru dengan orang-orangdisekitarnya di ruangan dimana dia dirawat. Masuk rumah sakit adalah proses ³pengulitan´ pasien karena pasien akan kehilangan selapis demi selapis identitasnya. Pasien biasanya harustunduk pada otoritas rumah sakit 24 jam sehari. Rumah sakit menghilangkan perbedaandiantara pasien untuk lebih mudah menangani pasien dalam jumlah besar. Dalam kontekskehidupan rumah sakit terlalu sering tersirat rasa takut yang non verbal, dan disorientasi,sehingga perlu menenangkan pasien dan keluarganya. Oleh karena itu perlu kiranya untuk melakukan perubahan paradigm mengenai hal ini.Para ahli sosiologi terutama menaruh perhatian pada dokter sebagai contoh dari suatukategori sosial, yaitu golongan profesional; meskipun ada beberapa orang ahli sosiologi

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->