Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
8Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Toleransi Dalam Masyarakat Plural

Toleransi Dalam Masyarakat Plural

Ratings: (0)|Views: 3,014|Likes:
Published by Kiki Aryaningrum

More info:

Published by: Kiki Aryaningrum on Feb 21, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

08/18/2013

pdf

text

original

 
Toleransi dalam Masyarakat Plural
Rosalina GintingKiki Aryaningrum
Abstrak  
Pada era reformasi, kemajemukan masyarakat cenderung menjadi beban daripada modal bangsaIndonesia. Hal itu terbukti dengan munculnya berbagai persoalan yang sumbernya berbaukemajemukan, terutama bidang agama. Dalam perspektif keagamaan, semua kelompok agama belumyakin bahwa nilai dasar setiap agama adalah toleransi.Akibatnya yang muncul intoleransi dan konflik.Padahal agama bisa menjadi energi positif untuk membangun nilai toleransi guna mewujudkan negarayang adil dan sejahtera. Seharusnya pada era reformasi ini, kita menjunjung tinggi demokrasi dantoleransi. Demokrasi tanpa toleransi akan melahirkan tatanan politik yang otoritarianistik, sedangkantoleransi tanpa demokrasi akan melahirkan pseudo- toleransi, yaitu toleransi yang rentan konflik-konflik komunal.Oleh sebab itu, demokrasi dan toleransi harus saling terkait, baik dalam komunitas masyarakat politik maupun masyarakat sipil. Disamping itu nilai dasar setiap agama adalah toleransi, terutamaagama Islam tidak kurang dari 300 ayat menyebut mutiara toleransi secara eksplisit. Sehubungandengan kedua hal tersebut, dipandang penting adanya toleransi dalam kehidupan masyarakat pluralyang demokratis.Permasalahannya sekarang bahwa toleransi dalam kehidupan bersama semakinlemah, dan anti toleransi serta anti pluralisme semakin menguat. Untuk itu toleransi perludikembangkan dalam masyarakat plural
Kata-kata Kunci :
Toleransi, masyarakat plural
Di era reformasi ini, kemajemukan masyarakat cenderung menjadi beban daripada modal bangsaIndonesia. Hal ini terlihat dari munculnya berbagai masalah yang sumbernya berbau kemajemukan,khususnya bidang agama.
 Rosalina Ginting dan Kiki Aryaningrum adalah dosen Progdi PPKn FPIPS IKIP PGRI Semarang 
70
Contoh:(66) Orang tua itu
dapat memahami
keinginan anak-anaknya.(67) Saya
belum yakin benar 
akan kejujurannya.(68) Setiap orang
akan mencintai
perbuatan yang baik.
Peran atau Makna Pengenal.
Terdapat dua ciri untuk menentukan bahwa predikat menyatakan peran atau makna ‘pengenal’,yaitu : (a) dapat menjawab pertanyaan
 siapa
dan
apa
dan (b) kemungkinan hadirnya kata
adalah
di antarasubjek dan predikat.Perhatikan contoh-contoh berikut.(69) Mahasiswa itu
mahasiswa perguruan tinggi negeri.
(70) Orang itu
 pegawai kedutaan besar 
.(71) Pamanku
 seorang perwira polisi.
Unsur pengisi predikat pada kalimat (69)-(71) berturut-turut adalah
mahasiswa perguruan tingginegeri, pegawai kedutaan besar,
dan
seorang perwira polisi.
Frasa-frasa pengisi predikat tersebutmemiliki makna ‘pengenal’ karena berturut-turut frasa-frasa pengisi predikat tersebut merupakan jawabandari pertanyaan
Siapa mahasiswa itu
?,
Siapa orang itu
?, dan
 Pamanku apa
?
 Nanik Setyowati, Pengisi Fungsi Predikat dalam Bahasa Indonesia: Tinjauan ....
67
 
Ketiga kalimat di atas yaitu kalimat (69)-(71), selain dapat menjawab pertanyaan
 siapa
dan
apa
; juga dapat diubah dengan menghadirkan kata
adalah
di antara subjek dan predikat menjadi:(69a) Mahasiswa itu
adalah mahasiswa perguruan tinggi negeri.
(70a) Orang itu
adalah pegawai kedutaan besar 
.(71a) Pamanku
adalah
 
 seorang perwira polisi.
Peran atau Makna Jumlah.
Peran atau makna ‘jumlah’ yang dimiliki oleh unsur predikat ditentukan oleh keberadaannya dapatmenjawab pertanyaan
berapa
.Perhatikan contoh-contoh berikut.(72) Anak Pak Rizal
dua orang 
.(73) Kerbau yang dimiliki saudagar kaya itu
130 ekor.
(74) Rumah Bu Surti
tiga buah
.Unsur pengisi predikat pada ketiga kalimat di atas berturut-turut adalah frasa
dua orang, 130 ekor 
,dan
tiga buah
. Ketiga frasa tersebut
72
 MAJALAH ILMIAH LONTAR, DESEMBER 2009, VOLUME 23, NOMOR 4
secara menyeluruh.Beberapa cuplikan yang telah dikemukakan di atas, menunjukkan bahwa rasakebangsaan telah berkembang. sebaliknya rasa kebersamaan semakin pudar, menguatnya ikatan primordial dan anti toleransi.Maka toleransi perlu dibina dan dikembangkan dalam kehidupanmasyarakat plural/majemuk.
KERANGKA KONSEPTUAL
Alangkah indahnya jika keragaman suku, agama, ras, dan antara golongan yang biasa disingkatdengan “SARA” dapat dijadikan modal bersama untuk membangun Indonesia. Semua elemen bangsaditempatkan sebagai kekayaan sosial yang berharga,diperlakukan adil, serta punya kesempatan berkembang dan berperan membangun negeri. Namun pada kenyataannya kerusuhan yang sering terjadidi Indonesia berlatar belakang SARA, sehingga kemajemukan bukan dijadikan modal dasar pembangunanIndonesia, tetapi seolah-olah menjadi beban. Hal ini mencerminkan bahwa bangsa kita sedangmengalami disorientasi nilai solidaritas menyangkut kepedulian sosial dan penghargaan atas potensiindividu dan kelompok lain. Tidak ada lagi nilai kebersamaan yang mengikat kehidupan bersama.Padahal tanpa nilai itu, masyarakat rentan menjadi kumpulan kami-kami yang miskin semangatkekitaan.Dibyorini (2005:158-162) mengutip pendapat Nasikun, Nort, Geertz, dan Magnis Nasikunmengatakan masyarakat Indonesia sebagai sesuatu yang unik. Secara horizontal masyarakat Indonesiaditandai dengan kenyataan adanya kesatuan-kesatuan sosial berdasarkan perbedaan suku bangsa, perbedaan agama, adat, perbedaan kedaerahan, dan sebagainya. Sedangkan secara vertikal, struktur masyarakat Indonesia ditandai dengan adanya perbedaan antara lapisan atas dan lapisan bawah yangcukup tajam. Kemudian Magnis Suseno menyatakan jika seseorang atau sekelompok orang dalam suatumasyarakat menghayati kebudayaan lokalnya secara sempit dan seluruh identitasnya berdasarkankelompok kecilnya sendiri, maka hal ini dapat menjadi suatu ancaman bagi integrasi nasional. Demikian juga bila agama tidak terintegrasi kedalam kebudayaan bangsa seluruhnya, bila agama mengisolasikandiri dan tidak merasa terlibat secara positif dalam kebudayaannya, maka masyarakat akan terpecah belah menjadi kelompok-kelompok dengan ikatan-ikatan primordial yang semakin menguat. Untuk membangun solidaritas sosial antara masyarakat, Nasikunmengatakan paling tidak ada dua pendekatan atau perspektif yang dapat digunakan, yaitu: perspektif sistem sosial dan sistem budaya. Perspektif sistem sosial, yaitu melalui
inter-group relation,
yangdimaksudkan sebagai hubungan antara anggota-angota dari berbagai kelompok.Makin intensif hubunganantar kelompok, makin tinggi pula tingkat integrasi diantara mereka. Dengan adanya
inter-group
 Rosalina Ginting, Toleransi dalam Masyarakat Plural .......
73
 
relation
ini dapat pula menetralisir konflik-konflik diantara kelompok, karena setiap anggota kelompok tidak akan memiliki loyalitas tunggal dalam suatu kelompok tertentu, namun sebaliknya loyalitas merekaganda berdasarkan kelompok-kelompok yang mereka masuki. Dengan demikian kekhawatiran akanterjadinya fanatisme sempit, sentimen-sentimen primordial juga akan dapat dinetralisir karena kegandaanloyalitas yang dimiliki oleh masing-masing anggota kelompok. Perspektif sistem budaya, dikatakan bahwa masyarakat majemuk dapat bersatu melalui penganutan nilai-nilai umum yang berlaku bagi semuaanggota masyarakat. Nilai-nilai umum yang berlaku bagi semua anggota masyarakat ini sebagai perekat bagi kelompok-kelompok dalam masyarakat. Semakin kuat nilai-nilai umum itu berlaku bagi kelompok-kelompok dalam masyarakat, akan semakin kuat pula perekat bagi mereka. Nilai-nilai umum itu bersumber pada budaya dominan masyarakat multi etnik yang menjadi acuan perilaku yang terpola.Yang penting dalam kehidupan pada masyarakat majemuk adanya pengakuan dan penerimaan akan perbedaan. Dengan adanya pengakuan dan penerimaan justru berdampak positif bagi kehidupankeagamaan kita. Oleh sebab itu,demokrasi dan toleransi harus terkait dalam komunitas masyarakat politik maupun masyarakat sipil (Misrawi,2008).Sehubungan dengan kedua hal tersebut, dipandang penting adanya toleransi dalam kehidupan masyarakat plural yang demokratis.
PENGERTIAN TOLERANSI
Toleransi merupakan salah satu bentuk akomodasi tanpa persetujuan yang formil. Kadang-kadangtoleransi timbul secara tidak sadar dan tanpa direncanakan, hal mana disebabkan karena adanya watak orang perorangan atau kelompok kelompok manusia, untuk sedapat mungkin menghindarkan
74
 MAJALAH ILMIAH LONTAR, DESEMBER 2009, VOLUME 23, NOMOR 4
diri dari suatu perselisihan (Soekanto,1982:71).Dari sejarah dikenal bangsa Indonesia adalah bangsayang toleran yang sedapat mungkin menghindarkan diri dari perselisihan-perselisihan.Halim (2008)dalam arikel yang berjudul “Menggali Oase Toleransi”, menyatakan “Toleransi berasal dari bahasaLatin, yaitu
tolerantia,
 berarti kelonggaran, kelembutan hati, keringanan, dan kesabaran”. Secara umum,istilah ini mengacu pada sikap terbuka, lapang dada, sukarela, dan kelembutan.
United Nations Educational,Scientific and Cultural Organization
(UNESCO) mengartikan toleransi sebagai sikap “salingmenghormati, saling menerima, dan saling menghargai di tengah keragaman budaya, kebebasan berekspresi, dan karekter manusia”. Untuk itu, toleransi harus didukung oleh cakrawala pengetahuanyang luas, bersikap terbuka, dialog, kebebasan berfikir dan beragama. Singkatnya toleransi setara dengan bersikap positif dan menghargai orang lain dalam rangka menggunakan kebebasan asasi sebagaimanusia. Ada dua model toleransi, yaitu :
Pertama,
toleransi pasif, yakni sikap menerima perbedaansebagai sesuatu yang bersifat faktual.
Kedua
, toleransi aktif, melibatkan diri dengan yang lain ditengah perbedaan dan keragaman. Toleransi aktif merupakan ajaran semua agama. Hakikat toleransi adalahhidup berdampingan secara damai dan saling menghargai di antara keragaman.Di Indonesia, praktik toleransi mengalami pasang surut. Pasang surut ini dipicu oleh pemahaman
distingtif 
yang bertumpu padarelasi “mereka” dan “kita”. Tak pelak, dalam berbagai kontemporer, sering dikemukakan bahwa,radikalisme, ekstremisme, dan fundamentalisme merupakan baju kekerasan yang ditimbulkan oleh pola pemahaman yang eksklusif dan antidialog atas teks-teks keagamaan. Seluruh agama harus bertanggung jawab untuk mewujudkan keadilan dan kedamaian. Hal ini tidak akan tercapai hanya denganmengandalkan teologi eksklusif yang hanya berhenti pada klaim kebenaran, tetapi membutuhkan teologi pluralisme yang berorientasi pada pembebasan. Toleransi yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah:sikap saling menghormati, saling menghargai, dan saling menerima ditengah keragaman budaya, suku,agama dan kebebasan berekspresi. Dengan adanya sikap toleransi, warga suatu komunitas dapat hidup berdampingan secara damai, rukun, dan bekerja sama dalam mengatasi berbagai permasalahan yangterjadi di lingkungannya.

Activity (8)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Yee Xien liked this
Yee Xien liked this
vismaker69 liked this
Irma Sukmawati liked this
Idin R liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->