Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Bahan Ajar

Bahan Ajar

Ratings: (0)|Views: 5|Likes:
Published by Riza Sayank

More info:

Published by: Riza Sayank on Feb 23, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/21/2014

pdf

text

original

 
mereka, tanpa mengetahui apakah usulan-usulan tersebut bersinergi dengan kebijakan pemerintah daerah.Kondisi ini telah menciptakan kontroversi antara pejabat pemerintah daerah dengan masyarakat. Para pejabat pemerintah berpendapat bahwa masyarakat belum bisa dijadikan mitra pemerintah dalam penyusunan perencanaan pembangunan, karena mereka cenderung mengisi usulan-usulan berdasarkan daftar keinginan yangsulit dipenuhi, bukan berdasarkan kebutuuha senyatanya. Sementara, masyarakat berpendapat bahwa pemerintah cenderung memaksakan kehendaknya tanpa melihat kebutuhan masyarakat.
 j.Masalah pelembagaan partisipasi di daerah-daerah lain.
Beberapa masalah daam praktek perencanaan dan penganggaran daerah di Kabupaten Malang, dijumpai juga di daerah-daerah lain, seperti Lombok, Pare-Pare, Pati dan Solok. Forum Pengembangan PartisipasiMasyarakat (FPPM, 2006) mengidentifikasi sejumlah masalah yang dihadapi dalam pelembagaan partisipasi dibidang perencanaan dan penganggaran daerah, yaitu : (a) rendahnya keterwakilanmasyarakat, (b) rendahnya antusiasme masyarakat, (c) tingginya dominasi elit, dan (d) adanya partisipasi belas kasihan. Berikut penjelasan ringkas masalah dimaksud.
1.
Rendahnya keterwakilan masyarakat.
Kenyataan menunjukan bahwa keterwakian masyarakatdalam perencanaan terlebih lagi dalam proses penganggaran masih sangat rendahh. Hal ini dapatdilihat dari lemahnya kemampuan mengawal perencanaan yang disusun dari bawah sampai padatingkat yang lebih atas atau pengambilan keputusan. Perecanaan desa tidak mempunyai kemampuan,karena Pemkab/Pemkot tidak mempunyai strategi yang jelas bagaimana mengimplementtasikanotonomi daerah. Ketidakjelasan strategi ini membuat komunikasi antar berbagai lini pemerintahdaerah berhenti, dan ego sektoral cenderung menguat. Bahkan ada kecenderungan, ketika peluang partisipasi sedang terbuka lebar, terjadi kecenderungan menurunnya pertisipasi warga dalam proses perencanaan dan penganggaran.
2.
Rendahnya antusiasme masyarakat.
Keterwakilan masyarakat yang masih rendah diatas berhubungan makin menurunnya anuitasme masyarakat untuk terlibat dalam proses perencanaan danketidakpastian aparat pemerintah untuk mendukung perencanaan patiipatif, ketidakmengertianstakeholders atas kebijakan yang ada serta tidak adanya standar pelayanan minimal yang membuatmasyarakat kesulitan mengetahui hak-hak mereka terhadap pelayanan public. Daam hal Musrenbangmisalnya, terjadi penumpuka usulan desa dan kecamatan di tingkat Kabupaten. Masalah lainnyaadanya kelangkaan tenaga fasilitator, minimnya pengawalan terhadap setiap usulan, serta kapasitasmasyarakat desa yang masih rendah.
3.
Tingginya dominasi elit.
Penentuan alokasi anggaran masing-masing sector pembangunansampai saat ini masih menjadi hak prerogatif pihak eksekutif dan legislatif. Dominasi elit ini hamper 
 
tidak pembangunan dalam proses penyusunan anggaran, demikian juga dalam pelaksanaanMusrenbang yang dilakukan pada tingkat Kabupaten yang hanya mengandalkan proposal yangdiajukan desa, juga dianggap rawan masalah. Proses ini sangatt ditentukan oleh kualitas SDM Desa.Jika kualitas desa buruk, maka bisa jadi desa-desa tidak memperoleh dana ppembangunan. Persoalanlainnya, masih terjadi gap antara bupati, sekda dan jajarannya dalam komitmen terhadap perencanaan dan penganggarn partisipatif. Pada umumnya komitmen akan semakin melemah padatingkatan birokrasi yang lebih rendah. Perencanaan dann penganggaran pertisipatif juga seringkalididistorsi oleh lembaga legislative. Beberapa daerah mengambil inisiatif dengan menentukanambang batas toleransi untuk mengurangi terjadinya bias perencanaaan, misalnya denganmenentukan 2 sampai 5 persen.
4.
Partisipasi belas kasihan.
Temuan lain dibeberapa daerah menunjukan bahwa adanya partisipasi warga daam penyusunan perencanaan dan penganggaran disebabkan adanya alasankasihan. Indikasinya, produk hokum yang dibuat oleh beberapa daerah untuk memayungi pelaksanaan partisipasi hanyya dalam bentuk Keputusan Bupati atau Surat Keputuusan Walikota, bukan regulasi setingkat Peraturan Daerah (Perda). Fakta-fakta inii semakin memperkuat pembuktian bahwa partisipasi bukan menjadi urusan publik yang harus disusun melalui mekanisme perumusan dilembaga politik, tetapi masih atas dasar kepentingan kelompok untuk melindungikepentingan dengan mengatasnamakan peraturan.
3. Faktor Determian Penyebab belum terlembagakannya Partisipasi
“Tidak banyak orang awam di Indonesia yang paham bahwa anggaran Negara, baik di Indonesiaataupun sub-nasional (propinsi, kabupaten, kota, atau desa), sangat berpengaruh pada kehidupansosial, ekonomi dan politik sehari-hari. Persoalannya karena ketidakpedulian masyarakat awam,ataupun tiadanya akses untuk memperoleh informasi yang memadai bagi semua lapisanmasyarakat. Hal yang pertama dapat ditelusuri dari kurang antusiasnya reaksi atau tanggapanmasyarakat terhadap pengumuman anggaran baik ditingkat nasional, propinsi ataupunkabupaten/kota. Hal yang kedua karena ketertutupan pemerintah untuk memberikan informasiyang rinci pada masyarakat, bahkan cenderung enggan mengumumkann dann mempublikasikansecara luas. Ini adalah warisan masa lalu yang menutupi rincian anggaran sampai padainstansi/dinas yang bertanggungjawab membelanjakannya”(Fernnandez,2006)Muncunya persoalan Dallam pelembagaan partisipasi dibidang perencanaan dan penganggaran daerah, baik yang bersifat fundamental maupun teknis sebagaimana telah dijelaskan pada uraian diatas, padadasarnyya disebabkan oleh banyak factor yang saling berkaitan antara satu dengan lainnya. Oleh karenaitu, memilah dan mengurangi factor-faktor penyebab munculnya masalah pelembagaan partisipasi bukan
 
hal yang ,mudah. Penelitian ini telah berhasil mengidentifikasi beberapa factor dominan, yaitu : (1)sistem demokrasi, (2) warisan masa lalu, (3) kerangka legal, (4) sumber daya manusia, dan (5) sisteminformasi.
a.
Sistem Demokrasi :
demokrasi langsung versus perwakilan
“Ada dua mazhab filsafat yang menerangkan dua konsep demokrasi local yang agak saling bertolak belakang. Mazhab pertama, yang sejarahnya dapat dikaitkan dengan filosof PerancisJean Jacques Rousseau, memandang demokrasi sebagai keterlibatan langsung warga masyarakatdaam hamper semua urusan yang menyangkut kehidupan umum. Rousseau berkeyakinan bahwa peran serta seluruh warga masyarakat akan bisa mengungkapkan aspirasi umum mereka semua,dan bahwa cara terbaik untuk menentukan kehendak umum warga adalah melalui kekuasaan ditangan mayoritas. Namun, banyak pendapat mengatakan bahwa sistem dan bentuk pemerintahanlocal dimasa sekarang sudah terlalu “besar” untuk mengakomodasi keterlibatan langsung wargamasyarakat. Wujud demokrasi terbaik dan paling praktis yang bisa kita harapkan adaahdemokrasi perwakilan, yang di dalamnya warga memilih calon wakil mereka atau partai politik yang membuat keputusan otoritatif bagi seluruh masyarakat. Banyak pihak yang berpendapat bahwa demokrasi perwakilan paling cocok diterpkan untuk demokrasi local (Sisk, 2002)Pemaknaan partisipasi dalam konteks apapun berawal dari pemahaman tentang sistem demokrasiyang dikembangkan. Pengertian demokrasi yang paling sederhana adalah sebuah pemerintahan yang berasal “dari rakyat”, dan “untuk rakyat”. Pemahaman demokrasi dan partisipasi dapat dibagi menjadi pengertian yang bersifat normative dan pengertian yang mengacu pada sebuah entitas riil, yaitukenyataan yang ada di dalam masyarakat. Sebab, rakyat tidak memerintah, dan seringkali pula rakyatmendapat apa yang diharapkan (Mujani, 2005).Sistem demokrasi Indonesia mengacu pada pengertian normative, yang dikenal dengandemokrasi perwakilan, atau demokrasi tidak langsung, dimana rakyat dalam pemilihan umum memilihwakil-wakil mereka untuk duduk menjadi anggota DPRD dilembaga legislative. Wakil-wakil rakyat iniyang kemudian menjadi mitra pemerintah (eksekutif) dalam penyusunan dan penetapan secara legaldokumen perencanaan dan penganggaran daerah yang berlaku setiap tahun. Sistem ini membatasi partisipasi masyarakat dalam perencanaan dan penganggaran, sebab :
a.
 Secara perorangan,
setiap anggota dewan adalah representasi atau wakil masyarakatatau wakil konsituennya, baik secara pribadi mewakili Daerah Pemilihan (Dapil), maupun ketikaia bergabung dalam alat kelengkapan DPRD, seperti fraksi-fraksi, komisi-komisi, dan PanitiaAnggaran. Berdasarkan tata tertib Dewan, setiap anggota secara periodic (masa reses) maupun

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->