Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
IKIP MAKASSAR

IKIP MAKASSAR

Ratings: (0)|Views: 167 |Likes:
Published by El Muflih

More info:

Published by: El Muflih on Feb 27, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/29/2012

pdf

text

original

 
LATAR BELAKANG BERDIRINYA IKIP MAKASSAR A. Keadaan dunia pendidikan
Keadaan dunia pendidikan di Tanah Air sesudah proklamasi kemerdekaan,mengalami perkembangan yang cukup pesat. Upaya mewujudkan cita-cita proklamasisebagaimana diamanatkan dalam pembukaan Undang Undang Dasar 1945, “…memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa ..”, diusahakanlah pembangunan di segala bidang. Pembangunan membutuhkan sumber daya manusia yangterdidik, terampil, memahami kebutuhan pembangunan untuk mencapai masyarakat yangdicita-citakan, yakni masyarakat yang adil makmur.Untuk memperoleh manusia-manusia pembangunan perlu diadakan lembaga-lembaga pendidikan yang memadai, baik dalam jumlah maupun kualitas. Lembaga pendidikan membutuhkan selain prasarana berupa gedung, perpustakaan, danlaboratorium, juga sudah tentu memerlukan pengelola pendidikan, terutama guru.Dalammemenuhi kebutuhan tenaga kependidikan, khususnya guru, sejak awal kemerdekaan, pemerintah telah melakukan berbagai upaya melalui Kementerian Pendidikan,Pengajaran dan Kebudayaan (PPK) dengan mengadakan lembaga tenaga kependidikan,khususnya lembaga pendidikan guru.Sampai dengan awal tahun 1950-an, belum terasa benar tuntutan mendesak untuk  pengadaan guru dalam jumlah yang banyak. Selain karena kesibukan membela danmempertahankan kemerdekaan, juga masih tersedia guru-guru yang dihasilkan lembaga-lembaga pendidikan zaman kolonial. Dalam rangka memenuhi kebutuhan sekolah akanguru-guru baru, Pemerintah cukup dengan mengangkat guru sukarela atau mendidik gurumelalui pendidikan guru program-program singkat, seperti OVO
(Opleiding voor Ondewijzer),
yaitu pendidikan guru untuk Sekolah Rakyat lamanya setahun setamatSekolah Rakyat (SD).Karena tuntutan revolusi fisik kemerdekaan, perhatian lebih banyak ditujukan pada bagaimana membangun kembali puing prasarana yang telah rusak dan hancur akibat perang dan revolusi. Tetapi keadaan ini berangsur-angsur berubah. Segera setelah itu perhatian beralih ke pengisian kemerdekaan, apalagi setelah satu demi satu1
 
 pemberontakan dan gangguan keamanan dapat diatasi, maka mulailah terasamendesaknya tuntutan pengadaan tenaga untuk pengelolaan pemerintahan yang baik,termasuk sektor pendidikan.Keadaan ini lebih mendesak lagi karena para pemuda, generasi muda, yangtadinya aktif memanggul senjata untuk membela dan mempertahankan kemerdekaan, kini berangsur-angsur kembali ke masyarakat dan menginginkan kehidupan yang lebih baik dan sejahtera. Sementara itu, harapan masyarakat untuk memperoleh pendidikan untuk mencapai mobilitas sosial yang lebih baik juga terus meningkat. Dalam situasi demikian, penyediaan tenaga guru untuk memenuhi ekspektasi masyarakat akan pendidikan yanglebih baik terus meningkat dan makin lama makin tidak dapat dipenuhi oleh lembaga-lembaga pendidikan guru konvensional atau reguler yang ada. Pengangkatan guru-gurudengan kualifikasi seadanya untuk mengisi keadaan darurat sudah pasti tidak dapatdipertahankan. Tuntutan pendirian lembaga pendidikan tenaga kependidikan di seluruhTanah Air guna menghasilkan guru yang memenuhi kualifikasi akademik dan kompetensimakin tidak dapat ditunda-tunda, termasuk di Provinsi Sulawesi Selatan.
B. Pendidikan Guru di Sulawesi Selatan
Di Sulawesi Selatan, upaya-upaya memenuhi kekurangan guru dilakukan dengan berbagai cara, seperti mengangkat guru-guru tamatan sekolah itu sendiri secara langsungyang dikenal sebagai “Guru Angkatan”, mengerahkan tenaga mahasiswa yang sudahmencapai C1 (setaraf D1/dua semester) untuk mengajar di sekolah-sekolah menengah(PTM dan Mades), di samping mempersiapkan guru-guru melalui pendidikan gurureguler dalam Sekolah Guru B dan Sekolah Guru A.Sejak tahun 1960-an, setelah keadaan keamanan di Sulawesi Selatan berangsur-angsur pulih, makin terasa perlunya pengadaan tenaga guru dalam jumlah dan kualifikasiyang memadai. Tamatan SGB(Sekolah Guru Bawah), SGA(Sekolah Guru Atas),SGTK(Sekolah Guru Taman Kanak-Kanak), SGKP(Sekolah Guru Kepandaian Putri),dan SGPD(Sekolah Guru Pendidikan Jasmani) maupun PGA (Pendidikan Guru Agama)makin tidak memehuhi kelayakan untuk mengajar di sekolah menengah. Karena itu,2
 
mulai tahun 1950, pemerintah membuka berbagai macam lembaga pendidikan untuk menghasilkan guru-guru yang diperlukan itu.Sebelumnya, pemerintah penjajahan telah mengadakan lembaga pendidikan
 Normaalschools
dan
 Kweekschool 
untuk mendidik calon-calon guru sekolah desa dansekolah-sekolah menengah
(het middelbaar onderwijs)
. Untuk memberi kewenanganmengajar bagi calon-calon guru yang akan mengajar di sekolah menengah atas didirikankursus
 Hoofd Acte
yang setara dengan Kursus BI.
 Normaalschool 
di Makassar bertempatdi gedung yang kemudian di jadikan Markas Militer Komando TeritoriumVII/Wirabuana, dan Komando Trikora/Mandala untuk pembebasan Irian Barat, kemudian jadi Markas Komando Indonesia Timur (Koanda IT). Dewasa ini bangunan gedungtersebut telah tiada dan diganti menjadi tempat berdirinya Monumen Mandala.Sedangkan gedung
 Kweekschool 
di Jalan Amma Gappa Gappa dialihkan menjadi gedungSGA Negeri Makassar dan Sekolah Hakim dan Jaksa (SHD)Setelah keadaan keamanan di seluruh Sulawesi Selatan telah pulih, dan makin banyak didirikan sekolah menengah di daerah ini, tuntutan untuk pengadaan tenaga guruyang lebih banyak dan memiliki kewenangan mengajar yang sesuai dengan persyaratanyang ada, makin sulit dipenuhi. Demikianlah, pemerintah lalu mendirikan Kursus BI/BII,PTPG(Perguruan Tinggi Pendidikan Guru), PGSLP (Pendidikan Guru Sekolah LanjutanPertama, PGSLA (Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Atas) di berbagai daerah, termasuk di Makassar. Lembaga-lembaga pendidikan tersebut dirancang untuk menghasilkan guru-guru sekolah lanjutan yang memenuhi kualifikasi akademik yang diperlukan untuk menjalankan tugasnya pada jenjang dan satuan pendidikan yang sesuai. Pada awalnya,keadaan ini kelihatannya berjalan seperti yang diharapkan. Namun, setelah makin lamamakin beragam lembaga yang berdiri untuk tujuan pengadaan tenaga guru, keadaanmakin lama makin kacau dan tak terkendali. Hal ini membuat satuan pendidikan yangmelaksanakan program keguruan bertambah kacau, yang tidak hanya melahirkandualisme malahan pluralisme dalam penyelenggaraan pendidikan guru, yang bemuarakepada makin merosotnya kualitas pendidikan.3

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->