Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
4Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kliping UU Minerba

Kliping UU Minerba

Ratings: (0)|Views: 163 |Likes:
Published by Eko Suryanto

More info:

Published by: Eko Suryanto on Feb 28, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/07/2012

pdf

text

original

 
Kliping UU Minerba
RUU MINERBA PERPARAH PEMISKINAN &KERUSAKAN LINGKUNGAN AKIBAT PERTAMBANGAN
Siaran Pers JATAM - WALHI - ICEL - HuMA, 5 Desember 2008Pemerintah dan DPR RI rupanya tutup mata terhadap praktek-praktek pertambangan lewatUU No 11/1967, yang telah berlaku lebih 4 dekade. Terakhir, mereka akan menuntaskanRancangan UU Mineral & Batubara, disingkat RUU Minerba dan segera disahkan di rapatparipurna DPR RI minggu depan. Semangat RUU ini tak banyak berubah, Keruk cepat, jualmurah. Bisa dipastikan, konflik dan pemiskinan masyarakat serta kerusakan lingkungan disekitar pertambangan akan naik.Pertambangan skala besar telah melahirkan banyak masalah, tak hanya kepada masyarakatsekitar, tapi juga kerugian bagi negara. Mulai PT Freeport Indonesia di Papua hinggaLaverton Gold di Sumatera. Demikian pula tambang-tambang rakyat di Bangka Belitunghingga tepian sungai-sungai di pulau Kalimantan. Perusahaan asing pertambangandiperlakukan istimewa, sepanjang bahan tambang hanya dipandang sebagai komoditasdagang penghasil devisa, yang tak punya daya rusak. Sejak dulu, Industri tambang Indonesiatak naik kelas, hanya menjadi penyedia bahan mentah, yang mensubsidi ekonomi negara-negara maju lewat ekspor, dan menjadi pasar raksasa produk olahannya di negara lain,kemudian. Sementara di lingkungan sekitar tambang rusak berat dan warganya makinmiskin.Celakanya, RUU Minerba tidak tanggap. Lagi-lagi, isinya abai terhadap posisi masyarakat,baik saat menentukan Wilayah Pertambangan hingga saat tambang beroperasi. Ia akanmelanggengkan perebutan paksa ruang hidup dan sumber-sumber pengidupan rakyat olehperusahaan tambang,dibantu pemerintah. Mengikuti UU lama, rancangan inimengkriminalkan rakyat yang menolak wilayah kelolanya ditambang.Saat carut marut perijinan tambang terus berlangsung dan makin tak terkontrol di masaotonomi. RUU Minerba justru mengatur keluarnya ijin-ijin baru. Bukan cara jitu mengkajiulang perijinan yang sudah ada, yang tumpang tindih, melanggar hukum dan jumlahnya tidak masuk akal ,untuk negara kepulauan berpenduduk sekitar 240 juta jiwa ini.”Anehnya, tak satupun fraksi di DPR RI yang kritis dan menyerukan masalah kaji ulang.Ironisnya, partai penguasa, Golkar dan Demokrat justru terus memaksa memberikanperlakukan istimewa bagi perusahan asing, melalui Perijinan Usaha Pertambangan. RUUMinerba tak menawarkan perubahan mendasar bagi pengelolan sektor tambang yang mandiri,berkeadilan bagi rakyat dan lingkungan sekitar”, ujar Siti Maemunah, koordinator nasionalJATAM.Semangat RUU Minerba, masih keruk cepat, jual murah. Ruang hidup rakyat, maupunkawasan lindung, yang dilarang untuk kegiatan Pertambangan bisa saja ditambang, jikamendapatkan izin Pemerintah sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Sungguh,nasib bangsa akan terpuruk jika RUU Minerba ini tak diperbaiki.Berry Nahdian Forqan, Direktur Eksekutif WALHI menyatakan, ”Posisi rakyat dan kawasanlindung terancam dengan ketentuan ini ditengah keberadaan budaya korupsi yang marak di
 
lembaga pemerintahan dan perwakilan rakyat, sebagaimana tampak dalam beberapa kasusalih kawasan lindung yang beberapa diantaranya sekarang sedang dalam proses pengadilan.”Jika tak mau menjerumuskan bangsa ini melalui kebijakan yang buruk, Pemerintah dan DPRRI harus segera memperbaiki subtansi RUU Minerba. Rancangan ini harus memasukkanmandat dilakukannya kaji ulang perijinan yang telah ada melalui upaya moratorium bertahap,mensyaratkan penghitungan daya dukung lingkungan dan veto rakyat sekitar pertambangandan menegaskan arah pembangunan indusutri tambang yang bertanggung jawab, adil, mandiridan hanya memenuhi kebutuhan domestik. [ ]Kontrak Media :Berry Nahdian Forqan (Direktur Eksekutif WALHI) : 08125110979Siti Maimunah (Kordinator JATAM): 0811920462Asep Yunan Firdaus (Koordinator HuMA):08158791019Rino Subagio (Direktur Eksekutif ICEL):08129508335+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
RUU Minerba Lindungi Asing, Miskinkan Pribumi
Jumat, 5 Desember 2008 | 13:01 WIBJAKARTA | SURYA Online - Pemerintah dan DPR dianggap tidak mau tahu terhadapdampak buruk praktek pertambangan yang dilegalkan lewat UU Nomor 11 Tahun 1967 sejak empat dekade silam. Kini, pemerintah dan DPR justru akan mengesahkan Rancangan UUtentang Mineral & Batubara, disingkat RUU Minerba, pekan depan.Koalisi LSM peduli lingkungan di Jakarta menilai, semangat RUU itu tak lebih dari prinsipkeruk cepat, jual murah. Koalisi LSM meyakini, jika Rancangan UU itu disahkan, konflik danpemiskinan masyarakat serta kerusakan lingkungan di sekitar pertambangan akan naik.“Pertambangan skala besar telah melahirkan banyak masalah, tak hanya kepada masyarakatsekitar, tapi juga kerugian bagi negara. Mulai PT Freeport Indonesia di Papua hinggaLaverton Gold di Sumatera,” kata Siti Maimunah, Koordinator LSM Jaringan Tambang(JATAM) dalam siaran persnya, Jumat (5/12/2008). JATAM berjaringan dengan LSM lain,mulai dari WALHI, ICEL dan HuMA.Menurut Maimunah, perusahaan asing pertambangan diperlakukan istimewa, sepanjang bahantambang hanya dipandang sebagai komoditas dagang penghasil devisa yang tak punya dayarusak. Sejak dulu, Industri tambang Indonesia tak naik kelas, hanya menjadi penyedia bahanmentah, yang menyubsidi ekonomi negara-negara maju lewat ekspor dan menjadi pasarraksasa produk olahannya di negara lain. Sementara, lingkungan di sekitar tambang rusak berat dan warganya makin miskin.Ia menilai, RUU Minerba juga mengabaikan posisi masyarakat, baik saat menentukan wilayahpertambangan maupun saat tambang beroperasi. Mengikuti UU lama, Rancangan UUMinerba ini juga siap-siap memidanakan rakyat yang menolak wilayah kelolanya ditambang.”Anehnya, tak satupun fraksi di DPR yang kritis dan menyerukan masalah kaji ulang.Ironisnya, partai penguasa, Golkar dan Demokrat, justru terus memaksa memberikan
 
perlakuan istimewa bagi perusahan asing, melalui Perizinan Usaha Pertambangan,” ujar SitiMaemunah.Berry Nahdian Forqan, Direktur Eksekutif WALHI, menambahkan, Rancangan UU ini harusmemasukkan mandat dilakukannya kaji ulang perizinan yang telah ada melalui upayamoratorium bertahap, mensyaratkan penghitungan daya dukung lingkungan dan veto rakyatsekitar pertambangan. Yul+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
RUU Minerba Dinilai Berpihak pada Kepentingan Pengusaha
KOMPAS.COM, Jumat, 5 Desember 2008 | 12:45 WIBJAKARTA, JUMAT - Rancangan Undang-undang Mineral dan Batubara (Minerba), kabarnyaakan segera diketok palu pada sidang paripurna, paling lambat akhir bulan ini. Namun, setelah4 tahun pembahasan yang hampir berujung, rumusan RUU tersebut dinilai masih belumberpihak pada masyarakat, utamanya di sekitar area pertambangan.Dalam jumpa pers bersama yang diadakan Jaringan Advokasi Tambang (Jatam), Walhi, ICELdan HuMa, disebutkan bahwa RUU tersebut sama sekali tak memberikan perlindungankepada masyarakat. Melainkan, hanya mengakomodir kepentingan pengusaha pertambangan."RUU Minerba ini tak ada signifikasinya karena tidak berpihak pada kepentingan lingkungandan masyarakat, tapi lebih ke kepentingan modal dan eksplorasi sumber daya alam," kataDirektur Eksekutif Walhi, Berry Nahdian Furqon, Jumat (5/12).RUU Minerba juga dinilai tidak melihat kondisi riil pertambangan di Indonesia yang carutmarut, ditambah dengan tidak adanya daya dukung lingkungan untuk terus ditambang.Seharusnya, menurut Berry, RUU yang akan menggantikan UU No 11 tahun 1967 tentangPokok-pokok Pertambangan ini, dibuat setelah dilakukan kaji ulang terhadap sektorpertambangan.Koordinator Eksekutif HuMa, Asep Yunan Firdaus mengatakan, dengan tidak adanyaperlindungan masyarakat, yang paling rentan adalah masyarakat pedalaman dimana areatempat tinggalnya menjadi lokasi pertambangan. Tidak adanya perlindungan, terlihat padarumusan pertimbangan RUU yang tidak memasukkan konflik antara masyarakat adat denganperusahaan pertambangan. Padahal, konflik ini kerap terjadi."Tidak ada pertimbangan yang mengatakan bahwa banyak konflik dimana berdampak padamasyarakat yang menjadi korbannya. Selain itu, dalam RUU ini masyarakat dijadikan objek pemberdayaan," ujar Asep.Bentuk perlindungan masyarakat yang seharusnya diakomodir, misalnya melibatkanmasyarakat dalam perencanaan pembangunan pertambangan hingga ke monitoring. "Karenamasyarakat adat sebagian besar berada di area pertambangan. Mereka seharusnya dilibatkanuntuk turut menentukan setuju atau tidak wilayahnya dijadikan area pertambangan," lanjutAsep.+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->