Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword or section
Like this
7Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
1 - 53 Bab I dan II

1 - 53 Bab I dan II

Ratings: (0)|Views: 496 |Likes:
Published by Stefsmp8
Skripsi tentang Pendidikan Religiositas Bab I dan II
Skripsi tentang Pendidikan Religiositas Bab I dan II

More info:

Published by: Stefsmp8 on Feb 29, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/09/2013

pdf

text

original

 
BAB IPENDAHULUANPendahuluan ini merupakan kerangka orientasi penulis maka pada bagianini akan dipaparkan tentang latar belakang, penjelasan judul, rumusan masalahdan pembatasan masalah, tujuan penulisan dan kegunaan penulisan, metodologi penelitian dan sistematika penulisannya.
A.Latar Belakang
Pendidikan merupakan hal pokok yang melekat dalam proseskehidupan manusia sehari-hari dari segala jaman. Pendidikan adalah gejalayang universal dan merupakan suatu proses dalam usaha memanusiakan ataumembudayakan manusia. Menurut kodratnya manusia dapat dididik dan sejak semula pendidikan berlangsung dengan sendirinya, sesuai dengan perkembangan jaman. Demikianpun cara-cara mendidik juga berkembangsesuai dengan jamannya.Pendidikan dewasa ini menjadi isu sentral yang selalu menarik untuk diperbincangkan dan dikaji serta diupayakan untuk selalu ditingkatkankwalitasnya. Selain itu dari berbagai mass media baik media elektronik maupun media cetak, para pemerhati masalah pendidikan merasakan bahwa pendidikan kita belum mampu mengembangkan manusia Indonesiaseutuhnya. Kekurangan yang sangat dirasakan ialah soal pembentukan watak  peserta didik. Salah satu kurikulum yang lebih menjawab kebutuhan akan pembentukan watak peserta didik yakni kurikulum Pendidikan Agama Katolik (PAK).Pada tahun pelajaran 2000 – 2001 pada SMP dan SMA Katolik diwilayah Keuskupan Agung Semarang (KAS) mulai mengadakan revisi1
 
terhadap kurikulum PAK untuk menjawab masalah pluralisme peserta didik di sekolah-sekolah Katolik dengan mengadakan Kurikulum PendidikanReligiositas yang lebih menjawab persoalan tersebut (Kompas, Jumat 06Agustus 2004).Realitas PAK berdasarkan pandangan orang tua (masyarakat), PAK disekolah menjadi harapan untuk mendidik peserta didik menjadi orang yang beragama, yang tekun, suci dan berkelakuan baik, sehingga masyarakatumumnya menyerahkan PAK bagi putra-putrinya pada sekolah. Maka apabilaada siswa yang berkelakuan tidak baik, yang sering dituding sebagai penyebabnya adalah guru agama atau sering kali nilai PAK jelek diidentikkandengan kelakuan siswa yang bersangkutan jelek pula. Pihak Pemerintah berpandangan bahwa Pendidikan Agama bertujuan demi pembangunan moral bangsa dalam rangka
nation building 
(pembangunan bangsa)
.
SedangkanGereja sendiri berpandangan bahwa PAK di sekolah merupakan ciri khassekolah Katolik yang mau membantu orang tua untuk mengembangkan imananak atau peserta didik, sebab PAK tidak bertujuan “mengkatolikkan pesertadidik non Katolik”. PAK di sekolah lebih merupakan “pengajaran” yang bisadipelajari siapa pun tanpa orang yang bersangkutan harus menjadi Katolik.Pelaksanan PAK di sekolah-sekolah Katolik khususnya di KabupatenMerauke, pada umumnya ada kesepakatan bersama antara yayasan, KepalaSekolah dan guru PAK mengenai visi-misi serta pendekatan dalam PAK.Alasannya adalah pembelajaran PAK masih tergantung “selera-selera” guruyang bersangkutan dan pada umumnya berbentuk pelajaran saja sesuai dengan buku panduan dari Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) maupunKurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang dikeluarkan oleh KWI.Sampai dengan tahun pelajaran 2009-2010 siswa-siswi yang beragama non2
 
Katolik mengikuti PAK karena di sekolah Katolik mengharuskan hanya pelajaran agama Katolik yang sesuai dengan kekhasan sekolah tersebut. Darihasil observasi penulis di SD YPPK St. Theresia Buti - Merauke, pada saatmengadakan Misa sekolah setiap bulan, misa wajib diikuti peserta didik nonKatolik. Kegiatan semacam ini di Kabupaten Merauke belum menimbulkanmasalah yang krusial seperti yang terjadi di tempat lain di luar propinsi Papua.Dari hasil observasi siswa/i Katolik yang ada di SD YPPK St.Theresia Buti – Merauke, yang memiliki peserta didik majemuk, mereka yang beragama non Katolik belum mengungkapkan bahwa PAK dirasa sebagai“beban”, karena umumnya PAK menekankan pengetahuan dan hafalan, yangsebenarnya tidak seluruhnya berguna. Sementara itu penghayatan iman, sikapmoral dan praktek hukum kasih kurang mendapat tempat. Bahkan seringkaliguru PAK merasa “tidak aman” jika tidak mengutamakan “bahan ujianagama” pada peserta didiknya. Dilihat dari efektifitas dan aktifitas siswadalam pembelajaran PAK, terungkap bahwa hasil belajar dan keaktifan siswakurang maksimal. Dalam pengamatan (observasi) penulis mendapati beberapa peserta didik non Katolik tidak konsentrasi dalam mengikuti PAK. Ada yang bergurau dengan teman sebangku, bahkan ada yang mengganggu temanlainnya yang sedang belajar. Hal ini terutama disebabkan karena pembelajaranagama lebih terpusat pada ajaran/pengetahuan iman Katolik (eksklusif).Pembelajaran agama menjadi kurang bermakna terutama bagi siswa/i nonKatolik.Bertitik tolak dari keprihatinan tersebut di atas, penulis yang adalahseorang guru PAK berpikir dan tertarik untuk menyumbangkan gagasansebagai solusi atas keprihatinan yang diuraikan pada latar belakang di atasdengan menulis skripsi dengan judul: ”UPAYA PENINGKATAN3

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->