Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
5Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Bahan Makalah HTUN

Bahan Makalah HTUN

Ratings: (0)|Views: 370 |Likes:
Published by Zie Ramdhan

More info:

Published by: Zie Ramdhan on Mar 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/04/2013

pdf

text

original

 
http://swadiri.blogspot.com/2010/07/eksekusi-dalam-ptun.htmlEKSEKUSI DALAM PTUNPELAKSANAAN PUTUSAN (EKSEKUSI)
Dalam Pasal 115 UU PTUNdisebutkan bahwa hanya putusan pengadilan yang telahmemperoleh kekuatan hukum tetap yang dapat dilaksanakan. Putusan pengadilan yang belummemperoleh kekuatan hukum tetap tidak memiliki kekuatan eksekusi atau dengan kata lain putusan pengadilan yang masih mempunyai upaya hukum tidak dapat dimintakan eksekusinya.Pelaksanaan putusan pengadilan menurut ketentuan Pasal 116 UU PTUN-04 memiliki persamaan dan perbedaan. Perbedaan tersebut membawa implikasi hukumnya masing-masing.Untuk memahami hal itu, berikut dibawah ini akan dikemukakan pelaksanaan putusan menurutPasal 116 UU PTUN dan menurut Pasal 116 UU PTUN-04. Hal ini perlu dikemukakan agar dapat diketahui apakah perubahan tersebut menjadi lebih baik atau sebaliknya.Lebih lanjut mengenai pelaksanaan putusan pengadilan TUN dalam Pasal 116disebutkan:Salinan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, dikirimkankepada para pihak dengan surat tercatat oleh panitera pengadilan setempat atas perintahketua pengadilan yang mengadilinya dalam tingkat pertama selambat-lambatnya dalamwaktu 14 hari.Dalam hal 4 bulan setelah putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukumtetap sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dikirimkan tergugat tidak melaksanakankewajibannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 97 ayat (9) huruf a, maka KTUNyang disengketakan itu tidak mempunyai kekuatan hukum.Dalam hal tergugat ditetapkan harus melaksanakan kewajibannya sebagaimana dimaksuddalam Pasal 97 ayat (9) huruf b dan huruf c, dan kemudian setelah 3 bulan ternyatakewajiban tersebut tidak dilaksanakan, maka penggugat mengajukan permohonankepada ketua pengadilan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), agar pengadilanmemerintahkan tergugat melaksanakan putusan pengadilan tersebut.Jika tergugat masih tetap tidak mau melaksanakannya, ketua pengadilan mengajukan hal inikepada instansi atasannya menurut jenjang jabatan.Instansi atasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (4), dalam waktu 2 bulan setelahmenerima pemberitahuan dari ketua pengadilan harus sudah memerintahkan pejabatsebagaimana dimaksud dalam ayat (3) melaksanakan putusan pengadilan tersebut.Dalam hal instansi atasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (4), tidak mengindahkanketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (5), maka ketua pengadilan mengajukanhal ini kepada presiden sebagai pemegang kekuasaan pemerintah tertinggi untuk memerintahkan pejabat tersebut melaksanakan putusan pengadilan tersebut.Berdasarkan ketentuan Pasal 116 tersebut diatas, maka menurut Paulus EffendieLotulung, sesungguhnya ada dua jenis eksekusi yang kita kenal di peradilan tata usaha Negara :Eksekusi terhadap putusan pengadilan yang berisi kewajiban sebagaiman dimaksud dalamPasal 97 ayat (9) huruf a, yaitu kewajiban berupa pencabutan KTUN yang bersangkutan.Eksekusi terhadap putusan pengadilan yang berisi kewajiban sebagaimana dimaksud dalamPasal 97 (9) huruf b dan huruf c, yaitu :huruf b : pencabutan KTUN yang bersangkutan dan menerbitkan KTUN yang baru;atauhuruf c : penerbitan KTUN dalam hal gugatan didasarkan pada Pasal 3.Selanjutnya Lotulung menjelaskan bahwa apabila terdapat adanya eksekusi jenis pertama, maka diterapkanlah ketentuan Pasal 116 ayat (2), yaitu 4 bulan setelah putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap sebagaimana dimaksud dalam ayat(1) dikirimkan, tergugat tidak melaksanakan kewajibannya, maka KTUN yang disengketakan
 
itu tidak mempunyai kekuatan hukum lagi. Dengan demikian tidak perlu lagi ada tindakan-tindakan ataupun upaya-upaya lain dari pengadilan, misalnya surat peringatan dan sebagainya.Sebab KTUN itu dengan sendirinya akan hilang kekuatan hukumnya. Cara eksekusi seperti inidisebut dengan eksekusi otomatis.Sebaliknya apabila terdapat adanya eksekusi jenis kedua, maka diterapkanlah ketentuanPasal 116 ayat (3) sampai dengan ayat (6), yaitu dengan cara adanya surat perintah dari ketua pengadilan yang ditujukan kepada pejabat TUN yang berssangkutan untuk melaksanakaneksekusi putusan pengadilan tersebut, dan apabila tidak ditaati, maka ketua pengadilanmengajukan hal ini kepada instansi atasan pejabat TUN tersebut menurut jenjang jabatan, yangdapat diteruskan sampai ke Presiden sebagai pemegang kekuasaan pemerintahan tertinggiuntuk memerintahkna pejabat TUN tersebut melaksanakan putusan pengadilan itu. Caraeksekusi seperti ini disebut dengan eksekusi hierarkis.Lebih lanjut lagi Lotulung menjelaskan bahwa pada dasarnya eksekusi di PTUNmenekankan pada asas self respect dan kesadaran hukum dari pejabat TUN terhadap isi putusanhakim untuk melaksanakannya dengan sukarela tanpa adanya upaya pemaksaan yang langsungdapat dirasakan dan dikenakan oleh pihak pengadilan terhadap pejabat TUN yang bersangkutan.Meskipun dikatakan bahwa proses eksekusi yang ditempuh menurut cara tersebut diatasmerupakan orisinal buah fikiran pembuat undang-undang di Indonesia, sebab sistem seperti itutidak dikenal di luar negeri. Namun ketentuan tersebut sekaligus merupakan suatu kekurangan,kalau tidak boleh dikatakan justru sebagai suatu kesalahan. Karena, normativisasi hukum tidak cukup hanya sekedar memuat perintah dan larangan. Dibalik larangan, terutamanya harus adaketentuan sanksi atas ketidakpatuhan. sanksi hukum sampai saat ini masih merupakan alat yang paling ampuh untuk menjaga wibawa hukum atau dengan kata lain agar setiap orang patuhterhadap hukum. Ketidakpatuhan badan atau pejabat TUN untuk melaksanakan putusan pengadilan TUN sedikit banyak dapat mempengaruhi kewibawaan pengadilan, pelecehanterhadap peradilan, dan bukan mustahil jika ketidakpatuhan itu terjadi berulang-ulang, makamasyarakat semakin tidak percaya kepada pengadilan, dan apabila masyarakat cenderung mainhakim sendiri bukanlah merupakan perbuatan yang beridiri sendiri.Dalam Pasal 17 PP 43/1991 jo Pasal 5 ayat (1) Keputusan Menteri Keuangan1129/1991, memang mengatur dapat diberikannya sanksi administrative terhadap badan atau pejabat TUN yang bersangkutan, tetapi penjatuhan sanksi administrative itu limitative hanya berkaitan dengan kelalaiannya mengakibatkan Negara membayar ganti kerugian. Jadi tidak adakaitannya dengan perbuatan yang tidak mau melaksanakan putusan pengadilan yang telahmempunyai keuatan hukum tetap tersebut.Pelaksanaan putusan pengadilan dibidang kepegawaian yang berkaitan dengankewajiban tergugat untuk melakukan rehabilitasi dan membayar sejumlah uang ataukompensasi lain, apabila tergugat tidak dapat atau tidak dapat dengan sempurna melaksanakan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap disebabkan oleh berubahnyakeadaan dalam Pasal 117 UU PTUN. Dalam ketentuan Pasal tersebut, jelas bahwa pemberiankompensasi berkaitan dengan sengketa kepegawaian. kompensasi diberikan, sebagaikonsekuensi badan atau pejabat TUN yang bersangkutan tidak dapat atau tidak dapat dengansempurna melaksanakan putusan PTUN. Kompensasi itu berbentuk sejumlah uang yang besarnya berdasarkan Pasal 14 PP No. 43/1991 adalah paling sedikit Rp. 100.000,00 (seratusribu rupiah) dan paling banyak Rp. 2.000.000,00 (dua juta rupiah), dengan memperhatikankeadaan nyata.Besarnya jumlah minimal dan maksimal kompensasi tersebut sangat tidak memadaidibandingkan dengan kerugian yang mungkin dapat menimpa pegawai yang bersangkutan.Kelemahan lain dari ketentuan pasal tersebut adalah tidak tersedianya upaya pemaksa agar  badan atau pejabat TUN agar membayar kompensasi, dan sanksi yang dapat diberikan kepada
 
 badan atau pejabat TUN yang bersangkutan, apabila tidak mematuhi putusan pengadilan atauMahkamah Agung tentang pembayaran kompensasi tersebut.Memang ada yang mengatakan bahwa penentuan jumlah kompensasi itu dikaitkandengan anggaran Negara atau keuangan Negara yang sangat terbatas, sehingga apabila tidak dibatasi Negara dikhawatirkan tidak mampu untuk membayarnya. Pendapat ini sepenuhnyatidak dapat diterima, dengan perhitungan ganti rugi atau kompensasi “dengan memperhatikankeadaan nyata”, setiap badan atau pejabat TUN akan bertindak lebih hati-hati.Setelah berlakunya UU PTUN-04, maka ketentuan Pasal 116 menjadi berbunyi sebagai berikut :(1) Salinan putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, dikirimkankepada para pihak dengan surat tercatat oleh Panitera Pengadilan setempat atas perintah KetuaPengadilan yang mengadilinya dalam tingkat pertama selambat-lambatnya dalam waktu 14(empat belas) hari.(2) Dalam hal 4 (empat) bulan setelah putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatanhukum tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikirimkan, tergugat tidak melaksanakankewajibannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 97 ayat (9) huruf a, Keputusan Tata Usaha Negara yang disengketakan itu tidak mempunyai kekuatan hukum lagi.(3) Dalam hal tergugat ditetapkan harus melaksanakan kewajibannya sebagaimana dimaksuddalam Pasal 97 ayat (9) huruf b dan huruf c, dan kemudian setelah 3 (tiga) bulan ternyatakewajiban tersebut tidak dilaksanakannya, penggugat mengajukan permohonan kepada KetuaPengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) agar Pengadilan memerintahkan tergugatmelaksanakan putusan Pengadilan tersebut.(4) Dalam hal tergugat tidak bersedia melaksanakan putusan Pengadilan yang telahmemperoleh kekuatan hukum tetap, terhadap pejabat yang bersangkutan dikenakan upaya paksa berupa pembayaran sejumlah uang paksa dan/atau sanksi administratif.(5) Pejabat yang tidak melaksanakan putusan pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (4)diumumkan pada media massa cetak setempat oleh Panitera sejak tidak terpenuhinya ketentuansebagaimana dimaksud pada ayat (3).”Dari ketentuan Pasal 116 UU PTUN-04 tersebut diatas, dapat diketahui bahwa perbedaan antara ketentuan Pasal 116 UU PTUN dan ketentuan Pasal 116 UU PTUN-04 ada pada ayat (4) dan ayat (5), aedangkan ketentuan ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) antara ketentuanPasal 116 UU PTUN dan Pasal 116 UU PTUN-04 sama sekali tidak ada perbedaan.sebagaimana yang tlah dikemukakan ketentuan Pasal 116 UU PTUN, dikenal adanyaistilah eksekusi otomatis sebagaimana yang terkandung dalam ayat (2) dan eksekusi hirarkissebagaimana yang terkandung dalam ayat (4), ayat (5), dan ayat (6). Maka apabila diperhatikanketentuan Pasl 116 UU PTUN-04 dapat disimpulkan bahwa ketentuan ayat (2) masihmengandung eksekusi otomatis. Sedangkan ketentuan ayat (4) dan ayat (5) tidak mengandungeksekusi hirarkis. Tetapi, pada ayat (4) memuat sanksi yang dapat dijatuhkan oleh hakimkepada badan atau pejabat TUN yang tidak mau melaksanakan putusan pengadilan yang telahmempunyai kekuatan hukum tetap yang berupa uang paksa. Yakni berupa pembayaransejumlah uang yang ditetapkan oleh hakim yang dicantumkan dalam amar putusan pada saatmengabulkan gugatan penggugat. Namun sayangnya pasal ini maupun penjelasannya tidak ada penjelasan bagaimana caraatau pedoman yang digunakan oleh hakim untuk menentukan besarnya uang paksa itu.Bagaimana pula kalau besarnya uang paksa yang ditetapkan oleh hakim itu menurut penggugatsangat kecil atau tidak sebanding dengan nilai tuntutan pokok dari gugatan yang diajukannya.Disamping itu, digantinya tuntutan pokok (tuntutan agar KTUN yang dikeluarkan oleh tergugattidak sah atau tuntutan agar KTUN yang dimohonkan oleh penggugat dikabulkan oleh tergugat)dengan sejumlah uang sebagaimana disebutkan dalam ayat (4) tersebut tidak masuk akal dancenderung tidak menyelesaikan masalah. Karena, yang menjadi obyek sengketa adalah KTUN

Activity (5)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
bernadethag liked this
Zou QuikSilver liked this
Yuda Praja liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->