Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Konsep INSAN KAMIL Abdul Karim Al Jilli

Konsep INSAN KAMIL Abdul Karim Al Jilli

Ratings: (0)|Views: 181 |Likes:
Published by O-Men's Abramovich

More info:

Published by: O-Men's Abramovich on Mar 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/15/2013

pdf

text

original

 
>> Wednesday, 28 July 2010
ABDUL KARIM AL-JILIA. BiografiNama Al-Jili cukup dikenal dalam kalangan peminat dan peneliti tasawuf, tetapi riwayathidupnya, yang menyangkut tahun kelahiran, pendidikan, dan peranannya dalam masyarakat,sangat sedikit yang diketahui. Hai itu disebabkan Al-Jili sendiri tidak meninggalkan catatan yangmenceritakan tentang dirinya, dan murid-muridnya pun tidak ada yang menulis tentangbiografinya. Kendati demikian, kehidupan Al-Jili tidak seluruhnya berada dalam kegelapan,karena dalam beberapa tulisannya ia melengkapi uraiannya dengan mencantumkan tempat dantahun keberadaannya.Nama
lengkapnya ialah ‟Abd al
-
Karim ibn Ibrahim ibn ‟Abd al
-Karim ibn Khalifah ibn Ahmadibn Mahmud Al-
Jili. Ia mendapatkan gelar kehormatan ”syaikh” yang biasa dipakai di awalnamanya. Selain itu, ia juga mendapat gelar ”Quthb al
-
Din” (kutub/poros agama), suat
u gelartertinggi dalam hirarki sufi. Namanya dinisbatkan dengan Al-Jili karena ia berasal dari Jilan.Akan tetapi, Goldziher mengatakan, penisbatan itu bukan pada Jilan, tetapi pada nama sebuah
desa di distrik Bagdad ”jil‟.
 Ia lahir pada awal Muharam (767 H/1365-6 M) di kota Bagdad, dengan alasan bahwa
 — 
menurutpengakuannya sendiri
 —ia adalah keturunan Syeikh „Abd al
-Qadir al-Jilani (470-561 H), yakni
turunan dari cucu perempuan Syeikh tersebut. Sedangkan „Abd al
-Qadir al-Jilani berdomisili diBagdad sejak tahun 478 H sampai akhir hayatnya, tahun 561 H. Dan diduga keturunannya jugaberdomisili di Bagdad, termasuk kedua orangtua al-Jilli. Namun setelah ada penyerbuanmiliterstik bangsa Mongol ke Bagdad yang dipimpin Timur Lenk, keluarga al-Jilli berimigran kekota Yaman (kota Zabid). Di kota inilah al-Jilli mendapatkan pendidikan yang memadai sejak dini. Dalam catatannya, ia menyebutkan bahwa pada tahun 779 H ia pernah mengikuti pelajarandari Syeikh Syaraf al-Din Ismail ibn Ibrahim al-Jabarti (w. 806 H), dan salah satu teman
 
seangkatan adalah Syihab al-Din Ahmad al-Rabbad (w. 821).Pada tahun 790 H ia berada di Kusyi, India untuk mendalami kesufiannya. Ketika berkunjung keIndia ini, Al-Jili melihat tasawuf falsafi ibn Arabi dan tarekat-tarekat antara lain Syisytiyah
(didirikan oleh Mu‟in al
-Din al-Shysyti, W.623H di Asia Tengah),Suhrawardiyah (didirikan olehAbu Najib al-Suhrawardi, W.563 H,di Bagdad), Naqsyabandiyah (didirikan oleh Baha al-Din al-Naqsyaband, W.791 H.di Bukhara) berkembang denagn pesat. Sebelum sampai ke India, iaberhenti di Persia dan mempelajari bahasa Parsi. Di sanalah ia menulis karyanya Jannat-u al-
Ma‟arif wa Ghayat
-u Murid wa al-
Ma‟arif.
 Pada akhir tahun 799 H ia berkunjung ke Mekkah dalam rangka menunaikan ibadah haji, namundalam kesempatan ini ia sempat pula melakukan tukar pikiran dengan orang disana. Hal inimenandakan bahwa kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan melebihi kecintaannya terhadaphal-hal lain. Empat tahun kemudian, yakni tahun 803 H Al-Jili berkunjung ke kota Kairo. Dandisana ia sempat belajar di Univeritas al-Azhar, dan bertemu banyak para teolog, filusuf, dansufi. Di kota inilah ia menyelesaikan penulisan bukunya yang berjudul, Ghunyah Arbab al-
Sama‟
wa Kasyf al-
Qina‟ an Wujud al
-Istima.Dan dalam tahun yang sama juga ia berkunjung ke kota Gazzah, Palestina, di kota ini ia menulisbukunya dengan judul, al-Kamalat al-Ilahiyah. Namun setelah kurang lebih dua tahun kemudian,ia kembali lagi ke kota Zabid, Yaman dan bertemu kembali dengan gurunya (al-Jabarti). Makapada tahun 805 H ia kembali ke Zabit dan sempat bergaul dengan gurunya itu selama satu tahun,karena pada tahnu berikutnya gurunya meninggal.Di ketahui bahwa tahun kunjungannya ke Gazza merupakan tahun terakhir dari perjalanannya keluar Zabit. Dari itu, diketahui pula bahwa sekembalinya dari Gazzah itu ia masih hidup selamalebih kurang 21 tahun dan masih tetap terus aktif menulis sampai akhir hayatnya.B. Karya-Karya Al-JiliSebagaimana riwayat hidupnya, karya-karya Al-Jili pun tidak banyak diketahui secara pasti,sehingga kita tidak bisa memperkirakan jumlah yang tepat dari hasil karyanya itu. Iqbalmengatakan bahwa karya la-
 jili tidak banyak seperti ibn „Arabi. Iqbal hanya menyebutkan tiga
dari kitab-
kitabnya, yaitu suatu ulasan atas karya ibn „Arabi, al
-futuhat al- makkiyah, suatukomentar atas basmalah, dan karyanya yang terkenal al-Insan al-Kamil. Ada lagi penelitian yanglebih akurat ialah yang dilakukan oleh Haji Khalifah. Ia mencatat, bahwa Al-Jili telah menulisenam judul karya tulis, yaitu (1)Al-Insan Al-
Kamil Fi Ma‟rifat
-
I „L
-
Awakhir Wa „L
-
Awa‟il,(2)Al
-Durrah Al-
„Ayniyah Fi L
-Syawahid Al-Ghaybiyah,(3)Al-
Kahf Wa „L
-Raqim FiSyarh Bi Ism-
I „L
-Lah Al-Rahman Al-Rahim,(4)Lawami Al-Barq,(5)Maratib Al-Wujud,(6)Al-Namus Al-Aqdam.Penelitian Haji Khalifah
itu dilengkapi oleh Isma‟il Pasya al
-Baghdadi. Ia mencatat lima karyaAl-Jili selebihnya. Dan yang lebih banyak penemuan diantara dua peneliti sebelumnya mengenaikarya-karya al-Jilli adalah Carl Brockelmann, ia mencatat sebanyak 29 (dua puluh sembilan) judul karya al-Jilli. Namun, karya-karya yang ingin dikemukakan disini hanya berasal daripenelitian pertama yang dilakukan oleh Haji Khalifah, yang menurut kami masih mendekatioriginalitasnya, diantara enam karya al-Jilli adalah:
 
1. Al-Insan al-Kamil fi M
a‟rifat
-i al-Awakhir wa al-Awail, Buku ini adalah bukunya yang palingpoluler. Karya ini tersebar di Dar al-Kutub al-Mishriyah, Kairo, beberapa kali diterbitkanmaktabah shabihy dan mushthafa al-Babi al-Halabi di Kairo, dan Dar al-Fikr di Beirut.Buku inimengupas dengan mendalam konsep insan kamil (manusia sempurna) secara sistematis.2. Al-Durrah al-
„Ayiniyah fi al
-Syawahid al-Ghaybiyah, Buku ini merupakan antologi puisi yangmengandung 534 bait syair karya al-Jilli3. Al-Kahf wa al-Raqim fi Syarh bi Ism-i Allah al-Rahman al-Rahim, Buku ini merupakan kajianmendalam mengenai kalimat Basmalah secara panjang lebar menurut tafsir sufi. Berbeda dengankitab-kitab tafsir di luar tafsir sufi
 — 
yang berupaya menjelaskan kata demi kata dan kalimat demikalimat dari ayat-ayat al-
Qur‟an— 
al-Jilli, di dalam karya ini menjelaskan ayat pertama surat al-Fatihah, huruf demi huruf, yang menurutnya merupakan lambang-lambang/simbol-simbol yangmempunyai makna tersendiri.
4. Lawami‟ al
-Barq5. Maratib al-Wujud, Buku ini menjelaskan tentang tingkatan wujud dan disebut juga dengan
 judul Kitab Arba‟in Maratib.
 6. Al-Namus al-Aqdam, Buku ini terdiri dari 40 juz, masing-masing juz seakan-akan terlepasdari juz lainnya dan mempunyai judul tersendiri. Akan tetapi sangat disayangkan sebagian besardari buku ini tidak ditemukan lagi.C. Konsep Insan Kamil Al-JiliPengertian dan Hakikat Insan KamilInsan kamil berasal dari bahasa arab, yaitu dari dua kata insan dan kamil. Secara harfiah, insanberarti manusia, dan kamil berarti yang sempurna. Dengan demikian, insan kamil berartimanusia yang sempurna.Insan kamil Artinya adalah manusia sempurna, berasal dari kata al-insan yang berarti manusiadan al-kamil yang berarti sempurna. Konsepsi filosofi ini pertama kali muncul dari gagasantokoh sufi Ibnu Arabi. Oleh Abdul Karim bin Ibrahim Al-Jili (1365-1428), pengikutnya, gagasanini dikembangkan menjadi bagian dari renungan mistis yang bercorak tasawuf filosofis. Dan
secara etimologi kata „Insan Kamil‟ berasal dari bahasa Arab yang terdiri
dari dua kalimat; al-insan dan al-kamil. Kata insan, dipandang berasal dari turunan beberapa kata. Misalnya saja uns,yang artinya cinta. Dan ada yang memandang berasal dari turunan kata nas, yang artinya pelupa,karena manusia sendiri secara historis berasal dari suatu lupa dan akan berakhir dengan lupa.Ada
 juga yang berpendapat bahwa itu berasal dari „ain san, yang artinya „seperti mata‟. Namun dalamartian umum biasanya berarti manusia. Kata kedua, kamil, yang artinya adalah „sempurna‟, yang
menurut Murtadla Muthahhari kata ini sangat tepat sekali digunakan oleh al-Jilli, karena selainkata ini ada juga kata yang mirip artinya tetapi sangat berbeda maknanya, yaitu tamam (lengkap).Kekuatan kata kamil (sempurna), menurutnya, melebihi kata tamam (lengkap). Karena kamilmenunjukan sesuatu yang mungkin saja lengkap, namun masih ada kelengkapan lain yang lebihtinggi satu atau beberapa tingkat, dan itu lah yang disebut kamil (sempurna).

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->