Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
3Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Teori-teori Sastra Bagi Guru Bahasa Dan Sastra Indonesia

Teori-teori Sastra Bagi Guru Bahasa Dan Sastra Indonesia

Ratings: (0)|Views: 556|Likes:
Published by Nurul Hamdani
Teori-teori Sastra Bagi Guru Bahasa Dan Sastra Indonesia
Teori-teori Sastra Bagi Guru Bahasa Dan Sastra Indonesia

More info:

Published by: Nurul Hamdani on Mar 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/09/2013

pdf

text

original

 
 TEORI-TEORI SASTRA BAGI GURU BAHASA DAN SASTRA INDONESIAOLEH ERWAN JUHARA *IhwalKarya sastra bersifat multiinterpretable. Oleh karena itu, penafsiran makna sebuahkarya sastra oleh para pembacanya melibatkan berbagai strategi dan pendekatanyang multiinterpretable pula sesuai latar belakang pembaca atas suatu pesandalam suatu karya sastra yang memiliki konvensi kebahasaan dan kesastraantersendiri bagi sebuah ilmu.Masalah penafsiran dalam menggeluti karya sastra adalah masalah dasar dalamkhasanah teori dan kritik sastra. Kehadiran berbagai pendekatan untukpemahaman karya sastra seperti Semiotik; Strukturalisme; Sosiologi Sastra;Estetika Resepsi; Fenomenologi; Hermeunetik, dan sebagainya dapat membantu juru tafsir untuk menelaah dan menafsirkan arti/makna karya sastra.Penafsiran merupakan bekal utama untuk apresiasi, kririk, dan pengajaran karya-karya sastra sehingga pembaca mampu menginternalisasikan nilai-nilai yangterkandung di dalamnya. Jadi, di satu sisi dituntut pemahaman tentang cara penafsiran yang cukupkomprehensif, di sisi lainnya dituntut pembacaan karya sastra sebanyak dansemendalam mungkin. Tumbuh dan berkembangnya wawasan sastra hanya bisadicapai dengan menumbuhkembangkan strategi penafsiran dan pembacaan karyasastra secara terus menerus.Berbagai teori dan pendekatan dalam upayapenafsiran sebuah karya sastra agar menjadi lebih jelas maknanya bagi pembacadalam menginternalisasikan nilai-nilai yang terkandung dalam sebuah karya sastrapernah dikembangkan oleh antara lain: T.S. Kuhn; Roman Jakobson; GeraldPrince; Edmund Huserl dan Roman Ingarden; Wolfgang Iser, Hans Robert Jauss,Stanley Fish, Riffaterre, Jonathan Culler, dll.Soal pembaca bagi sebuah Teori Ahli filsafat, T.S. Kuhn memperkuat keraguankepada teori Relativitas Einstein yang mengungkapkan bahwa pengetahuanobjektif secara sederhana adalah sebuah penumpukan fakta yang keras danprogresif. Kuhn berpendapat bahwa apa yang muncul sebagai fakta dalam ilmupengetahuan tergantung pada rangka referensi yang dibawa pengamat ilmupengetahuan terhadap objek pemahaman. Memakai analog Psikologi Gestalt danmodel komunikasi Teka-teki Bebek-Kelinci dan Komunikasi Linguistik Roman Jakobson, ia yakin bahwa pengamat adalah berperan aktif dalam rangka
 
pemahaman suatu karya sastra. Artinya, hanya pengamatlah yang mampumemutuskan dan mengambil simpulan paling tepat atas suatu teks maupunberbagai kode yang ada dalam suatu karya sastra. Ahli sastra lain, Gerald Prince,bahkan lebih rumit lagi membedakan posisi pembaca dengan naratee. Iamenginginkan sang naratee(si diceritai) berdiri secara khusus berdasarkan jeniskelamin, kelas, situasi, ras bahkan umur. Akibatnya, efek teori Prince adalahmenyoroti dimensi penceritaan yang telah dimengerti secara intuitif oleh parapembaca, tetapi masih tetap kabur dan tidak pasti. Ia menekankan pada carayang ditempuh pencerita(sang naratif) untuk menghasilkan pembaca ataupendengarnya sendiri, yang mungkin atau tidak mungkin bersamaan denganpembaca nyata.A Teeuw dalam buku Sastra dan Ilmu Sastra (1984:43) menelaaah berbagaipendekatan dalam apresiasi sastra uintuk memahami karya sastra," Sastrasebagai model semiotik tidak dapat diteliti dan dipahami secara ilmiah tanpamengikutsertakan aspek kemasyarakatannya, yakni sebagai tindak komunikasi."Ia menyebut berbagai model pendekatan dalam mengapresiasi karya sastrasehingga turut memperkuat fakta bahwa karya sastra merupakan sesuatu yangkaya akan makna, sehingga tidak mudah didekati hanya dengan satu pendekatansaja.Beberapa pendekatan yang dibutuhkan dalam apresiasi sastra seperti yangdijelaskan Teeuw untuk para pembaca di antaranya yang sudah dikembangkanUmar Junus dalam pendekatan Pragmatik adalah pendekatan Resepsi sastra dariteori Iser (pembaca implisit) dan Hans Robert Jauss (horison harapan).Jaussmenitikberatkan perhatiannya kepada bagaimana karya sastra diterima pada suatumasa tertentu berdasarkan horison penerimaan tertentu atau berdasarkan horisonyang diharapkan. Karya sastra dapat hidup jika pembaca berpartisipasi dandengan partisipasi pembaca itu, konteks sejarah terciptanya karya sastra bukanmerupakan sesuatu yang faktual, tetapi hanya merupakan rangkaian peristiwayang berdiri sendiri yang ujudnya terpisah dari embaca. Karya yang telahdipahami pembaca menjadi modal bagi resepsi. Proses resepsi menjadi perluasansemiotik yang timbul dalampengembangan dan perbaikan suatu sistem. Horison penerimaan mungkinberubah (bahkan berkali-kali).Selanjutnya Jauss menyatakan bahwa pendekatannya bersifat parsial, tidakmenyeluruh karena hanya melakukan hubungan hari ini dengan "virtue" sejarah.Resepsi hanya berklaitan dengan saat karya itu dibaca sehingga terdapatkonvergensi antara teks dan resepsi yang berupa dialog antara subjek hari inidengan subjek masa lampau. Tradisi berperan penting dalam hal ini. Tradisiyang dimaksud adalah wawasan yang mendasari resepsi yang dilakukan padasaat tertentu.Jika resepsi Jauss mementingkan sejarah pada suatu saat tertentu,
 
maka Resepsi Iser bertitik tolak pada kesan(sebenarnya pada tahap akhir teori Jauss juga disebut-sebut tentang kesan). Iser mempermasalahkan konkretisasikarya sastra, yakni reaksi pembaca terhadap teks yang diresepsi. Dalam resepsiIser, terdapat dinamika pembaca. Ia akan memilih satu di antara berbagaikemungkinan realisasi, sehingga tugas kritikus dalam pandangan Iser bukanmenerangkan teks sebagai objek, tetapi menerapkan efeknya kepada pembaca.Kodrat teks itulah yang mengizinkan beraneka ragam kemungkinan pembacaan,sehingga lahir pembaca implisit(pembaca yang diciptakan sendiri oleh teks dirinyadan menjadi jaringan kerja struktur yang mengundang jawaban, yangmempengaruhi kita untuk membaca dalam cara tertentu) dan pembaca nyata(yang menerima citra mental tertentu dalam proses pembacaan yang diwarnai olehpersediaan pengalaman yang ada). Dalam resepsi Iser, ada hubungan teks danpembaca. Hubungan itu melalui tiga langkah, yakni 1. sketsa tentang suatu teksyang membedakan dengan teks-teks sebelumnya; 2. pengenalan dan analisisterhadap kesan dasar teks; dan 3. mencari kemungkinan yang ada tentangmakna karya satra. Karya sastra selanjutnya memberi kesan kepada pembaca,sehingga teori Resepsi sastra Jauss dan Iser tampaknya mendapat pengaruhHermeunetika dari Schleiermacher dan Gadamer. Jika Jauss dan Iser berperan dalam resepsi sastra yang memberi kesan kepadapembaca, Edmund Husserl, seorang ahli filsafat modern terkenal dengan teoriFenomenologi-nya dalam kaitan antara karya sastra dengan pembacanya. Teorifenomenologi menuntut untuk menunjukkan kepada kita alam yangmengarisbawahi, baik kesadaran manusia maupun kesadaran fenomena.Teori iniadalah usaha untuk menghidupkan ide(setelah zaman Romantik) bahwa pikiranmanusia individual adalah pusat dan asal semua arti. Teori ini tidak mendorongketerlibatan subjektif secara murni untuk struktur mental kritikus karenamenggunakan berbagai lapis norma karya, tetapi tipe kritik sastra yang mencobamasuk ke dalam dunia karya seorang penulis dan sampai pada suatu pengertiantentang alam dasar atau intisari tulisan sebagaimanatampak dalam kesadarankritikus.Ahli satra lain, kritikus Amerika yang bernama Stanley Fish menyodorkanteori Stilistika Efektif yang memusatkan penyesuaian harapan yang dibuatpembaca ketika membaca teks, tetapi ia lebih menekankan pada rangkaiankalimatnya. Fish berpendapat bahwa pembaca adalah seseorang yang memilikikompetensi linguistik yang telah memasukan pengetahuan sintaktik dan semantikyang diperlukan untuk membaca selain penguasaan kompetensi sastra secarakhusus(konvensi bahasa dan konvensi sastra). Namun,Jonathan Culler, salahseorang murid Fish justru selain mendukung juga memberikan kritik ataspendapat Fish karena ia dianggap gagal meneorikan konvensi-jkonvensipembacaan, yaitu ia gagal mengajukan pertanyaan,"konvensi-konvensi apa yangdiikuti pembaca?" Selain itu, ia dianggap gagal pada tuntutannya atas pembacakalimat perkataan demi perkataan dalam suatu pengurutan waktu itu

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->